Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA YANG TERKUAK.
Pagi itu terasa tenang bagi Aurel yang biasanya selalu tegang. Namun, rutinitas pekerjaan sebagai CEO AA Cosmetic tidak bisa menunggu. Setelah sarapan yang menghangatkan hati itu, Aurel kembali mengenakan topeng profesionalnya. Ia bersiap menuju kantor untuk rapat pemegang saham yang krusial.
"Adam, hari ini jadwal saya sangat padat. Setelah rapat, saya harus mengunjungi gudang baru di pinggiran kota untuk memastikan stok aman setelah insiden kebakaran kemarin," ucap Aurel sambil merapikan jam tangan Rolex-nya.
Adam, yang kini sudah mengenakan kemeja rapi bukan lagi seragam magangnya yang kusam mengangguk patuh. "Saya akan mengantar Anda. Tapi, jika Anda mengizinkan, setelah dari gudang, saya ingin meminta waktu Anda satu jam saja."
Aurel menaikkan sebelah alisnya. "Satu jam? Untuk apa?"
"Ada seseorang yang ingin saya temui di dekat area tersebut. Seseorang yang mungkin bisa membantu kita memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan sistem keamanan gudang yang terbakar tempo hari," jawab Adam tenang.
Aurel terdiam sejenak. Ia masih merasa ragu apakah ia harus mempercayai insting Adam sepenuhnya, namun melihat bagaimana Adam menjaga martabatnya kemarin, ia akhirnya mengangguk. "Baik. Satu jam. Tidak lebih."
Perjalanan menuju gudang baru memakan waktu cukup lama. Sepanjang jalan, Aurel lebih banyak terdiam, menatap keluar jendela. Ia masih terbayang sujudnya tadi subuh. Ada kedamaian yang asing, namun ia juga merasa takut. Takut jika kedamaian ini hanyalah semu sebelum badai besar datang menghantam.
Setelah menyelesaikan urusan di gudang baru, Adam mengarahkan mobil menuju sebuah kawasan pemukiman padat penduduk yang agak kumuh, tak jauh dari pelabuhan. Aurel mengerutkan kening saat mobil mewah mereka melewati jalanan sempit.
"Kita mau ke mana, Adam? Ini bukan tempat untuk bisnis," protes Aurel.
"Kita akan menemui Pak Widodo. Dia adalah mantan kepala teknisi listrik di perusahaan Ayah Anda sepuluh tahun lalu. Dia dipecat secara tidak hormat tepat setelah kasus... kasus itu terjadi," jelas Adam.
Adam menghentikan mobil di depan sebuah rumah kecil dengan cat yang sudah mengelupas. Di sana, seorang pria tua duduk di kursi roda, menatap kosong ke arah jalanan. Saat melihat Adam turun, mata pria itu sedikit berbinar, namun saat melihat Aurel, ia tampak ketakutan.
"Jangan takut, Pak Widodo. Ini saya, putra Bramasta. Dan ini... ini istri saya, Adelia," ucap Adam lembut sambil berjongkok di depan pria tua itu.
Aurel terpaku mendengarnya. Putra Bramasta. Kalimat itu terasa seperti sengatan listrik. Namun, ia memilih untuk tetap diam dan mengamati.
"Bramasta..." suara Pak Widodo parau. "Anakku, maafkan aku. Aku tidak punya keberanian sepuluh tahun lalu. Mereka mengancam keluargaku."
Adam memegang tangan keriput itu. "Siapa yang mengancam Anda, Pak? Apakah Pak Firman?"
Pak Widodo menggeleng cepat. "Bukan Pak Firman. Beliau juga dibohongi. Orang itu... orang yang selalu tersenyum di balik punggung Pak Firman. Pak Hendra Subandi. Dia yang memerintahkanku untuk merusak sistem pencatatan arus kas digital dan menyalahkan aksesnya pada akun Pak Bramasta."
Aurel menutup mulutnya dengan tangan. Jantungnya berdegup kencang. Selama ini, ayahnya selalu meyakini bahwa Bramasta lah yang mengkhianatinya. Ayahnya bahkan membangun narasi kebencian itu selama sepuluh tahun, yang juga membentuk karakter Aurel menjadi wanita dingin dan penuh curiga.
"Apa Anda punya bukti, Pak?" tanya Aurel dengan suara bergetar, memberanikan diri mendekat.
Pak Widodo menatap Aurel dengan penuh penyesalan. "Di bawah ubin ketiga di bawah tempat tidurku, ada sebuah flashdisk tua. Isinya adalah rekaman pembicaraan saya dengan anak buah Pak Hendra Subandi saat mereka memberikan uang tutup mulut. Saya menyimpannya sebagai jaminan jika suatu saat mereka ingin melenyapkan saya."
Adam segera masuk ke dalam rumah dan mengambil benda yang dimaksud. Setelah berterima kasih dan memberikan sejumlah uang bantuan untuk pengobatan Pak Widodo, mereka kembali ke mobil. Suasana di dalam mobil kini jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Aurel memegang flashdisk itu dengan tangan gemetar. "Jika ini benar... berarti Papa sudah menghancurkan hidup sahabatnya sendiri karena fitnah orang lain."
"Dan Ayah saya meninggal dalam kesedihan karena dituduh sebagai pencuri oleh orang yang paling dia percayai," tambah Adam dengan nada yang datar, namun sarat akan kepedihan.
Aurel yang kini duduk di kursi samping kursi kemudi, menoleh ke arah Adam. Ia melihat rahang suaminya mengeras. Untuk pertama kalinya, Aurel menyadari betapa besarnya beban yang dipikul Adam. Menikahinya bukan hanya soal membantu Aurel lepas dari perjodohan, tapi merupakan misi bunuh diri untuk masuk ke kandang singa demi nama baik ayahnya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal?" tanya Aurel lirih.
"Karena jika saya mengatakannya saat saya masih menjadi anak magang, Anda tidak akan pernah mendengarkan saya. Anda hanya akan melihat saya sebagai musuh," jawab Adam. "Saya butuh posisi yang membuat Anda mau melihat saya sebagai manusia, bukan sebagai angka di laporan perusaha..." lanjutnya tapi belum lagi kalimat terakhir selesai..
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam besar melaju kencang dan mencoba memepet mobil mereka. Adam bereaksi cepat, memutar kemudi dengan lihai.
"Pakai sabuk pengamanmu, Aurel! Sepertinya kita diikuti!" seru Adam.
Mobil itu terus mencoba menabrak bagian belakang mobil mereka. Tampak dari kaca spion, beberapa pria berwajah sangar memberi isyarat agar mereka menepi. Sepertinya pertemuan mereka dengan Pak Widodo sudah tercium oleh pihak lawan.
"Apa yang mereka inginkan?" teriak Aurel ketakutan.
"Mereka menginginkan flashdisk itu. Pegang erat-erat!" Adam menginjak pedal gas dalam-dalam. Di tengah kemacetan pinggiran kota, Adam melakukan manuver-manuver berbahaya yang membuat jantung Aurel nyaris copot.
Setelah pengejaran yang menegangkan selama lima belas menit, Adam berhasil masuk ke area perkantoran yang ramai dan kehilangan jejak SUV tersebut. Ia memarkir mobil di area parkir sebuah mall besar yang padat.
Di dalam mobil yang masih menyala, Aurel menangis hebat. Ketakutan akan kecelakaan tadi dan kenyataan pahit tentang fitnah ayahnya pecah seketika. Tubuhnya gemetar hebat.
Tanpa berkata-kata, Adam melepas sabuk pengamannya dan menarik Aurel ke dalam pelukannya. Ia tidak melakukan apa-apa selain membiarkan kepala Aurel bersandar di bahunya.
"Sudah aman. Jangan takut," bisik Adam.
Aurel mencengkeram kemeja Adam, menumpahkan segala tangisnya di sana. Ia merasa begitu rapuh, namun di saat yang sama, ia merasa sangat terlindungi. Adam yang sepuluh tahun lebih muda darinya, justru menjadi satu-satunya pilar yang menopangnya saat dunianya runtuh.
"Maafkan keluargaku, Adam... maafkan Papa," isak Aurel.
Adam mengusap punggung Aurel dengan lembut. "Kita akan perbaiki ini bersama, Aurel. Tapi sekarang, kita harus waspada. Pak Hendra sudah tahu kita bergerak. Pernikahan kita bukan lagi sekadar kontrak, tapi ini adalah garis depan peperangan mereka."
Aurel mendongak, menatap mata Adam yang tajam namun menenangkan. Di momen itu, Aurel menyadari bahwa ia tidak hanya terkesan pada sisi religius atau kemampuan masak Adam, tapi ia mulai benar-benar jatuh hati pada jiwa besar pria di hadapannya ini.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Aurel, mulai mengusap air matanya.
Adam menatap flashdisk di tangan Aurel. "Kita tidak bisa langsung ke Papa Anda. Beliau terlalu keras kepala. Kita harus mencari satu bukti lagi yang menghubungkan aliran dana itu langsung ke rekening pribadi Denis Subandi. Dan untuk itu, saya butuh Anda untuk tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di depan Denis."
Aurel mengangguk mantap. "Aku akan melakukannya. Demi kamu, dan demi nama baik Paman Bramasta."
Panggilan "Paman Bramasta" membuat Adam tersenyum tipis. Sebuah ikatan baru telah terbentuk di antara mereka bukan lagi sekadar kontrak CEO dan anak magang, melainkan sekutu yang mulai dipersatukan oleh rasa simpatik yang tumbuh di tengah bara konflik.