"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Suara dari Dunia yang Berbeda
Hari-hari di mansion Edward terasa seperti musim dingin yang tak berujung. Victor menghabiskan waktunya dengan bekerja hingga larut, hanya agar ia tidak perlu menghadapi kesunyian di setiap sudut rumahnya. Hingga suatu sore, Jake datang ke kediaman Victor untuk berpamitan.
"Aku harus kembali ke negaraku, Vic. Ada beberapa proyek dermaga yang terbengkalai dan butuh pengawasanku langsung," ucap Jake sambil menyesap kopi terakhirnya di ruang tamu Victor yang dingin.
Victor tertegun. Ia merasa dunia kecilnya semakin menyusut. "Kau juga akan pergi, Jake? Bisakah kau menunda keberangkatanmu barang satu atau dua minggu?"
Jake menatap sahabat masa kecilnya itu. Ia melihat kehancuran di balik setelan jas mahal Victor. Meskipun Jake marah besar atas apa yang terjadi pada Achell, ia tidak bisa membuang persahabatan puluhan tahun begitu saja. Jake adalah pria yang lembut; ia tidak menyimpan dendam, meski ia tetap tegas pada prinsipnya.
"Aku akan sering berkunjung ke sini untuk menemuimu, kawan," ujar Jake sambil menepuk bahu Victor. "Kau harus baik-baik saja di sini. Jangan biarkan dirimu hancur hanya karena penyesalan."
"Hati-hati, Jake. Semoga cepat kembali," balas Victor lirih. Namun, tepat saat Jake hendak melangkah menuju pintu, Victor menahan lengannya. Matanya tampak memohon. "Jake... bisakah kau membantuku menghubungi Achell? Nomornya sudah tidak aktif lagi. Aku hanya ingin tahu kabarnya. Sekali saja."
Jake terdiam cukup lama. Ia melihat kesedihan yang begitu nyata di mata Victor—sebuah tatapan yang belum pernah ia lihat selama mereka berteman. Akhirnya, dengan berat hati, Jake mengeluarkan ponselnya. "Aku akan meneleponnya, tapi jangan berharap banyak."
Jake mendial nomor internasional. Tak lama, nada sambung itu berubah menjadi suara ceria yang sangat dirindukan Victor.
"Uncle Jake! Wah, tumben sekali menelepon jam segini?" suara Achell terdengar begitu ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya. Ia bercerita dengan sangat gembira tentang kesehariannya di sana, tentang betapa indahnya kampus barunya, dan betapa ia menikmati pelajaran anatomi yang sulit.
Jake menyalakan mode loudspeaker agar Victor bisa mendengar. Victor membeku. Mendengar suara tawa Achell dari jauh rasanya seperti mendapatkan napas buatan, namun sekaligus seperti sayatan sembilu karena tawa itu tidak disebabkan olehnya.
"Oh ya, apakah kamu merindukan Uncle Victor, Princess?" tanya Jake hati-hati, memancing reaksi untuk sahabatnya.
Hening sejenak. Suara ceria itu mendadak mendingin. "Uncle... bukankah kita sudah berjanji tidak akan membahas tentangnya lagi?"
Victor tidak bisa menahan diri lagi. Ia mendekatkan wajahnya ke ponsel Jake. "Hai Achell... ini Uncle. Aku mendengarmu. Kamu... apa kabar di sana?"
Hening kembali terjadi. Cukup lama sampai Victor mengira sambungan itu terputus.
"Oh... hai, Uncle Victor," sahut Achell, nadanya kini sangat formal dan datar. "Aku sehat dan aman di sini. Teman-temanku sangat baik. Hidupku jauh lebih aman dan damai dari sebelumnya."
Victor tersentak. Kata "aman" dan "damai" yang ditekankan Achell terasa seperti sindiran telak bahwa selama ini bersamanya, Achell merasa terancam dan menderita. Sebelum Victor sempat menjawab, Achell melanjutkan kalimatnya.
"Oh ya, Uncle... apakah sekarang kau sedang dekat dengan seorang wanita?"
Hati Victor berdesir. Ia mengira Achell masih memiliki rasa cemburu, ia mengira Achell masih peduli. Ia hampir saja menjawab bahwa ia telah memutuskan hubungan dengan siapa pun, termasuk Clara. Namun, kalimat Achell berikutnya menghancurkan ekspetasi itu.
"Aku melihat beritanya. Aku sangat senang akhirnya Uncle bertemu dengan pujaan hati yang setara. Aku sangat berharap bisa datang jika kalian menikah nanti. Bukankah kalian sudah bertunangan? Itu artinya tidak lama lagi, kan?"
Achell menghela napas di seberang sana, suaranya terdengar sangat tulus mendoakan—hal yang justru menyakitkan bagi Victor. "Huft, sayangnya aku tidak bisa hadir, Uncle. Impianku menjadi dokter lebih penting dari itu semua. Aku hanya berharap... kali ini Uncle bisa menyayanginya dengan benar. Tidak seperti dulu lagi."
Victor ingin bersuara, namun lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya tercekat oleh air mata yang tertahan.
"Bye, Uncle. Aku punya banyak tugas. Terima kasih sudah menanyakan kabarku. Semoga Uncle bahagia dengan kehidupan baru Uncle. Tit."
Sambungan diputus sepihak.
Victor menatap ponsel Jake yang sudah gelap. Kata-kata Achell barusan bukan sebuah kemarahan, melainkan sebuah "pelepasan". Achell sudah benar-benar merelakannya. Ia mendoakan Victor bahagia dengan orang lain agar Victor tidak perlu lagi mengganggunya.
Mata Victor berkaca-kaca. Ia menyadari bahwa dicintai dengan tulus adalah anugerah, namun didoakan agar bahagia dengan orang lain oleh orang yang pernah kita sakiti adalah hukuman yang paling menyiksa.
Jake menatap Victor dengan iba. Ia menepuk bahu sahabatnya itu untuk terakhir kalinya. "Dia sudah dewasa, Vic. Dan dia sudah memilih jalannya sendiri."
Jake kemudian berbalik dan pergi, meninggalkan Victor yang berdiri mematung di tengah ruang tamunya yang megah, memegang dadanya yang terasa sangat kosong. Ia punya segalanya—harta, kekuasaan, dan popularitas—tapi ia baru saja kehilangan satu-satunya doa yang tulus untuknya.