NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Ningning

Setelah Kakek Zhou akhirnya menyetujui permintaannya, Wu Zetian tak membuang waktu. Ia masuk ke rumah kecil yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh lelaki tua itu. Rumah itu sederhana, nyaris kosong, namun tetap terawat sebisanya. Zetian membuka lemari kayu tua yang berderit pelan saat dibuka. Di dalamnya, tergantung beberapa helai pakaian lama. Warna-warnanya telah memudar, namun masih bersih dan rapi.

Dengan teliti, Zetian memilih beberapa potong yang masih layak dipakai. Ia melipatnya dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang berharga, lalu membungkusnya menggunakan kain panjang yang ia temukan di sudut lemari.

“Kita tidak perlu membawa banyak barang, Kek,” ucap Zetian lembut sambil tersenyum kecil. “Yang penting kakek nyaman.”

Kakek Zhou mengangguk perlahan.

“Benar juga. Kakek ini sudah tua, tak butuh banyak hal lagi.”

Nada suaranya tenang, namun Zetian bisa merasakan kelegaan yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Ia tahu, menerima bantuan bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang sepanjang hidupnya terbiasa berdiri sendiri.

Setelah semuanya siap, mereka pun melangkah keluar. Zetian menutup pintu rumah kecil itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa haru, ada pula sedikit kesedihan. Namun lebih dari itu, ada keyakinan bahwa keputusan ini adalah yang terbaik.

Mereka kembali ke kediaman Wu Zetian dengan langkah pelan. Sesampainya di sana, Zetian langsung menuju kamar kosong di sisi rumah. Kamar itu tak ia gunakan, namun ukurannya cukup luas dan mendapat cahaya matahari pagi.

Ia menyingsingkan lengan baju dan mulai bekerja. Sapu kayu bergerak perlahan menyusuri lantai, mengangkat debu yang telah lama mengendap. Sarang laba-laba di sudut ruangan ia bersihkan satu per satu. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, namun ia tetap telaten.

Ranjang kayu sederhana ia lap hingga bersih. Seprai lama ia lepaskan dan dijemur di halaman, membiarkan angin dan matahari membersihkannya. Bantal ia tepuk-tepuk hingga kembali mengembang, meski tidak sempurna.

Kakek Zhou berdiri di ambang pintu, memperhatikan semua itu dengan mata berkaca-kaca.

“Kau tidak perlu bersusah payah seperti ini, Nak,” katanya pelan.

Zetian menoleh dan tersenyum.

“Aku ingin kakek merasa betah.”

Hari itu berlalu dengan tenteram. Tidak ada suara bentakan. Tidak ada tatapan penuh perhitungan. Hanya suara angin yang menyusup lewat jendela, langkah kaki pelan di lantai kayu, dan sesekali tawa kecil yang nyaris tak terdengar.

Malamnya, Wu Zetian tidur dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya sejak datang ke tempat ini, rumah itu tidak terasa kosong.

---

Keesokan harinya, ketenangan pagi mendadak pecah.

“KEEEK—!!”

Teriakan nyaring disertai tangisan histeris terdengar dari arah rumah sebelah. Suara itu penuh kepanikan, menggema di udara pagi yang masih dingin.

Wu Zetian yang tengah menuang air di dapur langsung menoleh tajam. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Itu pasti suara cucu Kakek Zhou.” ucap Wu Zetian.

Kakek Zhou yang duduk di kursi kayu pun membeku sejenak. Sedetik tatapannya membeku dan kemudian merasa bahagia.

“Sepertinya Ningning telah sampai.”

Tanpa ragu, Zetian menghampiri Kakek Zhou dan memapah lengannya.

“Ayo, Kek. Kita ke sana.”

Mereka berjalan pelan menuju rumah kecil di sebelah. Begitu sampai, pemandangan di depan mereka membuat hati Zetian tercekat.

Seorang gadis muda berdiri di depan pintu. Rambutnya sedikit berantakan, matanya merah dan bengkak karena menangis. Bahunya naik turun menahan isak, napasnya tersengal-sengal.

Begitu ia melihat Kakek Zhou,

“Kakek!!”

Gadis itu langsung berlari dan memeluknya erat. Tubuhnya gemetar, tangannya mencengkeram baju kakeknya seolah takut kehilangan.

“Kakek ke mana saja?” isaknya. “Ningning mencarimu ke mana-mana! Ningning kira kakek… kakek kenapa-kenapa…”

Kakek Zhou mengelus punggung cucunya dengan lembut.

“Kakek baik-baik saja, Nak. Jangan menangis.”

“Kenapa kakek tidak ada di rumah?” tanya Ningning dengan suara bergetar.

“Kakek…” jawab Kakek Zhou pelan, “…tinggal di rumah sebelah.”

Ningning terdiam. Ia mengusap air matanya, lalu baru menyadari keberadaan orang lain di sana. Tatapannya beralih ke arah Wu Zetian dengan raut bingung dan waspada.

“Kek… siapa dia?”

Kakek Zhou tersenyum kecil.

“Ini Wu Zetian. Dialah yang menolong kakek. Sekarang kakek tinggal di rumahnya.”

Ia menoleh ke Zetian.

“Zetian, ini cucu kakek. Namanya Ningning.”

Zetian membungkuk sopan.

“Salam kenal.”

Ningning terdiam sejenak, lalu membalas dengan cepat.

“Terima kasih… terima kasih sudah menjaga kakekku.”

Zetian mengangguk kecil.

“Aku hanya melakukan yang seharusnya.”

Percakapan berlanjut dengan suasana yang perlahan mencair. Ningning tampak ramah dan tulus. Dari caranya berbicara dan memperhatikan Kakek Zhou, Zetian bisa merasakan betapa gadis itu sangat menyayangi kakeknya.

Merasa cukup nyaman, Zetian akhirnya memperkenalkan dirinya lebih jauh.

“Aku sebenarnya nona kedua dari perdana menteri Wu Zheng,” katanya tenang. “Saat ini… aku diasingkan ke sini.”

Ningning terkejut.

“Nona kedua…?”

Matanya berkaca-kaca.

“Itu pasti berat sekali…”

Zetian tersenyum tipis.

“Aku sudah terbiasa. Tidak apa-apa.”

Tak ada kepahitan dalam suaranya, hanya penerimaan yang tenang. Itu justru membuat Ningning semakin merasa kasihan.

Setelah cukup lama berbincang, Zetian akhirnya mengutarakan satu hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya.

“Ningning,” katanya, “bolehkah aku meminta bantuanmu?”

“Tentu,” jawab Ningning cepat tanpa ragu.

“Aku ingin ke pasar,” lanjut Zetian. “Tapi aku tidak tahu jalan. Sejak di sini, yang kulihat hanyalah hutan.”

Ningning tersenyum kecil.

“Aku tahu jalannya. Aku bisa mengantarmu.”

“Terima kasih,” ucap Zetian tulus.

Mereka pun kembali ke kediaman Zetian bersama-sama. Wu Zetian membantu mengangkat beberapa bungkusan oleh-oleh yang dibawa Ningning dari kota. Di antaranya ada kain sederhana, sedikit makanan kering, dan beberapa barang kecil. Sementara itu, Ningning memastikan Kakek Zhou berjalan dengan aman dan nyaman.

Sore itu, Wu Zetian dan Ningning bersiap menuju ke pasar.

Zetian berdiri sejenak di tengah rumah, menatap sekeliling. Matanya tertuju pada beberapa barang yang masih layak digunakan. Beberapa di antaranya ada perabot kecil dan benda-benda yang tak terlalu ia perlukan.

"Aku tidak punya uang sepeser pun" ucapnya tenang.

"Kalau ingin bertahan… aku harus memulainya sendiri."

Dengan keputusan yang mantap, Wu Zetian berniat menjual barang-barang itu di pasar.

---

Perjalanan menuju pasar pun dimulai.

Wu Zetian dan Ningning melangkah menyusuri jalan setapak yang memanjang, dikelilingi pepohonan tinggi dan semak belukar. Jarak sepuluh kilometer bukan perjalanan singkat, namun langkah mereka tetap mantap.

Selama perjalanan, Ningning beberapa kali berhenti dan menunjuk tanaman-tanaman liar di tepi jalan.

“Itu daun qinghao,” ujarnya sambil berjongkok. “Bagus untuk demam.”

Zetian ikut memperhatikan.

“Dan yang ini?”

“Itu akar huangqi. Bisa menambah tenaga.”

Ningning tersenyum. “Kalau dibiarkan, nanti hanya dimakan rusa.”

Zetian mengangguk pelan.

“Kalau begitu, lebih baik kita ambil dan bawa saja.”

Mereka pun memetik beberapa tanaman obat dan memasukkannya ke dalam keranjang. Sepanjang jalan, sesekali terdengar tawa kecil dan obrolan ringan di antara mereka. Sesuatu yang jarang Zetian rasakan sejak pengasingannya.

Dan tanpa mereka sadari, perjalanan itu bukan hanya membawa mereka lebih dekat ke pasar,

tetapi juga membuka jalan bagi perubahan besar yang akan datang.

---

Yuhuuuu~

Jangan lupa like, komen, vote, dan subscribe 💖

Sampai jumpa besok 🌙

1
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!