Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Harga Sebuah Sentuhan
Li Shen berdiri membeku di ambang pintu Selendang Merah. Tubuhnya yang tegap tampak seperti siluet statis di bawah temaram cahaya lentera yang berayun. Bagi siapa pun yang lewat, ia hanyalah seorang penjaga; sosok diam yang baru saja menghabiskan siang dengan memanggul peti-peti berat dari karavan gelap. Namun di balik diamnya, mata Li Shen merekam setiap detail tamu yang melintas dengan ketajaman yang tak terbaca.
Larut malam itu, atmosfer berubah saat seorang pria melangkah masuk dengan gaya yang dipaksakan.
Mengenakan jubah biru berbahan sutra mewah, pria bertubuh tambun itu melangkah dengan sisa-sisa wibawa yang nyaris runtuh oleh pengaruh arak. Langkahnya sempoyongan, namun sepasang pengawal berotot di sisinya memastikan tidak ada yang berani menertawakannya.
Madam Luo, dengan senyum yang telah terasah bertahun-tahun, menyambut mereka dengan bungkukan khidmat. “Selamat datang, Tuan Wei,” suaranya lembut namun penuh penekanan. “Meja Anda telah siap, seperti biasa.”
Ia adalah Wei Guojin, pengawas distrik Hongluo. Namanya disegani sekaligus dibenci. Sambil tertawa pongah, ia mengempaskan tubuh di meja tengah ruang utama. Dalam sekejap, aroma arak murahan dan parfum wanita memenuhi udara. Para wanita penghibur segera mengerumuninya, menuangkan cairan dari kendi porselen sembari melontarkan pujian-pujian palsu tentang ketampanan dan kejayaannya. Ruangan itu seketika riuh oleh suara tawa parau dan bualan tentang kekuasaan.
Namun, pemandangan paling kontras berada tepat di sisi Wei Guojin.
Seorang wanita duduk di sana dengan keanggunan yang janggal bagi tempat seperti ini. Rambut hitamnya tergerai lurus sehalus sutra, membingkai wajah pucat dengan bibir merah alami yang kontras. Meski ia terlihat malas saat menuangkan arak, ada kewaspadaan dingin yang bersembunyi di balik kelopak matanya yang sayu. Setiap gerakannya terkontrol, presisi, dan menyimpan misteri yang jauh lebih dalam daripada sekadar pemanis di meja sang pengawas.
“Hua’er.”
Nama itu meluncur di antara kebisingan, menarik perhatian Li Shen sejenak. Tatapannya sempat tertambat pada wanita itu sebelum kembali terlempar ke arah pintu. Ia tidak punya niat untuk menjadi pahlawan, selama koin perak masih mengalir ke kantongnya dan kekacauan tidak pecah, urusan para tamu bukanlah prioritasnya.
Namun, arak adalah katalisator yang berbahaya. Satu kendi penuh telah berpindah ke perut Wei Guojin, mengubah wajah pria itu menjadi merah padam. Dengan satu hantaman kasar ke atas meja, ia memecah ketenangan.
“Hua’er! Sudah kubilang, malam ini kau harus melayaniku di kamar!” geramnya.
Hua’er hanya menyunggingkan senyum tipis, sebuah topeng yang sempurna karena matanya tetap sedingin es. “Tuan Wei sudah terlalu banyak minum,” sahutnya lembut sembari menuangkan kembali arak ke cawan, sebuah isyarat halus agar pria itu tenang. “Istirahatlah dulu.”
Kesabaran Wei Guojin runtuh. Ia meraih pergelangan tangan Hua’er kasar, menarik wanita itu ke pangkuannya. “Jangan berlagak suci,” bisiknya. “Aku akan bayar berapa pun kamu mau.” Ia berusaha mencium lehernya paksa, sedang tangannya merayap ke pinggang.
Beberapa tamu hanya tertawa, menganggap itu tontonan murahan. Namun, suasana seketika membeku saat sebuah bayangan tegap memotong cahaya lentera. Li Shen telah berdiri di sana. Suaranya datar, tanpa emosi, namun mengiris ruangan.
“Tuan Wei. Ini tempat umum. Jangan membuat keributan.”
Wei Guojin menoleh, matanya liar dan penuh penghinaan. “Memangnya kau siapa? Penjaga pintu baru?”
Li Shen tidak bergeming. “Bersenang-senanglah sesukamu. Tapi jangan menyentuh orang lain dengan paksa. Dia jelas tidak menginginkanmu.”
Keheningan jatuh menyelimuti ruangan. Hua’er memperhatikan sosok di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di sisi lain, harga diri Wei Guojin meledak. Ia bangkit dengan susah payah, menunjuk wajah Li Shen. “Kau berani menasehatiku?! Aku pengawas distrik! Mandat ada di tanganku, sementara kau hanya sampah!”
Sebuah dorongan kasar mendarat di dada Li Shen. Namun, pria itu berdiri sekokoh karang.
Dua pengawal Wei maju, menurunkan ujung tombak mereka. “Pergilah,” ancam salah satu dari mereka, “atau kami akan memastikan kau tidak bangun lagi.”
Li Shen menghela napas panjang, sebuah napas yang menandakan habisnya toleransi. “Setidaknya, aku sudah mengingatkan.”
“Hajar dia!” seru Wei Guojin.
Gerakannya terjadi dalam sekejap mata. Li Shen menyambar pergelangan tangan Wei yang mencoba mendorongnya, lalu memuntirnya dengan satu sentakan kuat hingga bunyi tulang berderak memecah udara. Tubuh tambun itu tersungkur hebat menghantam meja.
Prang! Kendi porselen dan cawan-cawan hancur berhamburan, aroma arak yang tumpah seketika menyesaki ruangan. Dua pengawal maju menyerang serentak, namun Li Shen jauh lebih sigap. Satu pukulan pendek menghujam perut, disusul tendangan telak tepat di dagu. Keduanya terhempas ke lantai, terkapar tak berdaya sambil terengah-engah menahan nyeri yang hebat.
Wei Guojin mencoba bangkit sembari mendekap lengannya yang patah. Namun, saat matanya bertemu dengan tatapan Li Shen yang kosong dan sedingin maut, nyalinya seketika ciut. Rasa mabuknya menguap, berganti ketakutan yang mencekat dada.
“Si… siapa kau sebenarnya?” Wei merangkak mundur, dibantu kedua pengawalnya yang sempoyongan. “Masalah ini belum selesai. Ingat itu!”
Setelah pembuat onar itu pergi, Madam Luo segera memberi isyarat dengan bertepuk tangan sedikit lebih tinggi dari wajahnya, seperti ini adalah rutinitas di Selendang Merah.
“Bersihkan,” perintahnya singkat.
Dalam hitungan menit, kekacauan itu sirna. Pecahan porselen disapu, meja ditegakkan, dan lantai dipel hingga mengilap kembali. Madam Luo mendekati Li Shen dengan senyum puas. “Kerja bagus, Tampan. Kau tahu cara bertindak tanpa membuatku harus mengurus mayat. Ini hari keberuntunganku.”
“Aku hanya melakukan apa yang kau bayar, Madam,” jawab Li Shen.
Di saat yang sama, Hua’er mendekat. Ia mengusap pergelangan tangannya yang memerah, matanya kini menatap Li Shen dengan intensitas yang berbeda. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Kau tidak harus melakukannya. Aku sudah terbiasa dengan pria seperti itu.”
Li Shen menoleh. “Aku hanya tidak suka melihat seseorang bertindak semena-mena.”
Hua’er terdiam sejenak, seolah sedang membedah isi kepala pria di depannya. “Siapa namamu?”
“Li Shen.”
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya yang waspada. “Aku Hua’er.”
Setelah menerima beberapa kue kacang merah sebagai bentuk “bonus” dari Madam Luo, Li Shen kembali ke posisinya di depan pintu. Sambil mengunyah pelan, ia mematung kembali seperti bayangan. Namun, pikirannya tidak lagi tenang.
Instingnya berbisik bahwa wanita bernama Hua’er itu bukanlah sekadar penghibur biasa. Di balik keanggunan dan wajah tenang itu, ada kekuatan besar yang tersimpan rapat. Kini, Li Shen punya tugas baru di kepalanya, mencari tahu di pihak mana wanita itu berdiri, sebelum Hua’er sempat menikam punggungnya.