NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Catur di Balik Kelambu

Lampu neon di kantor desa berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang di wajah Arum yang nampak tenang. Di depannya, Pak Heru, sang camat yang biasanya ramah, kini duduk dengan raut muka tegang. Di sampingnya, Pak Broto sang mantan kades tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki oleh serigala yang merasa sudah menyudutkan mangsanya.

"Jeng Arum," Pak Heru memulai, suaranya berat. "Laporan dari warga dan Pak Broto ini cukup serius. Ada selisih dana renovasi pasar yang masuk ke rekening pribadi Pak Kades. Jika ini benar, saya tidak punya pilihan selain menonaktifkan Baskara sementara waktu."

Baskara yang duduk di samping Arum hendak protes, namun Arum menyentuh punggung tangan suaminya. Sebuah kode: Biarkan aku yang bicara.

"Selisih dana?" Arum mengangkat alisnya, wajahnya menunjukkan rasa heran yang dibuat-buat dengan sangat rapi. "Boleh saya lihat rincian nomor rekening dan bukti transfernya, Pak Camat?"

Pak Broto dengan sigap menyodorkan selembar kertas hasil cetak rekening koran yang nampak meyakinkan. "Ini, Jeng. Jelas sekali ada aliran dana masuk sebesar lima ratus juta rupiah dua hari lalu. Nama pemilik rekeningnya: Baskara Adi. Jangan bilang ini hanya kebetulan nama yang sama."

Arum mengambil kertas itu. Ia tidak melihat angkanya, melainkan detail kecil di pojok bawah kertas: kode cabang bank dan waktu pencetakan. Bibirnya menyunggingkan senyum yang membuat Pak Broto mendadak merasa tidak nyaman.

"Pak Broto, Anda luar biasa teliti," puji Arum tulus, yang justru terdengar seperti ancaman. "Tapi sayang, Anda kurang teliti dalam satu hal. Rekening suami saya ini adalah rekening gaji yang dikelola secara kolektif oleh sistem bank daerah. Untuk transfer di atas seratus juta, sistem akan otomatis mengirimkan notifikasi dua faktor ke ponsel saya sebagai wali keuangan."

Arum mengeluarkan ponselnya, meletakkannya di atas meja. "Dan ponsel saya sunyi senyap dua hari lalu."

"Bisa saja kau mematikan notifikasinya!" sergah Pak Broto mulai emosi.

"Mungkin. Tapi Pak Broto, apakah Anda tahu kalau bank daerah kita baru saja memperbarui sistem keamanan mereka per tanggal satu kemarin?" Arum memajukan tubuhnya, suaranya merendah namun tajam. "Setiap cetakan rekening koran yang sah sekarang harus memiliki QR Code terenkripsi di pojok kanan atas. Dan di kertas yang Anda bawa ini... kosong."

Wajah Pak Broto berubah pucat pasi. Ia melirik kertas di tangan Arum.

"Ini artinya, kertas ini diproduksi di percetakan biasa, bukan di bank," sambung Arum. "Dan jika saya melaporkan pemalsuan dokumen perbankan ini ke polisi, ancaman hukumannya adalah delapan tahun penjara. Apakah Pak Broto ingin saya menelepon polisi sekarang? Atau kita mau bicara jujur tentang siapa yang sebenarnya mengambil uang lima ratus juta itu?"

Pak Heru terperangah. Ia segera mengambil kertas itu dan memeriksanya kembali. "Broto! Benar apa yang dikatakan Jeng Arum? Kau mencoba memfitnah Kadesmu sendiri?"

"Saya... saya hanya menerima laporan dari staf keuangan!" Pak Broto mulai terbata-bata, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Arum berdiri perlahan. "Staf keuangan yang Anda maksud adalah sepupu Anda sendiri, kan? Yang kemarin saya dapati sedang mencoba menghapus entri data di komputer kantor desa saat listrik padam?"

Ruangan itu hening seketika. Baskara menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan. Ia baru sadar bahwa sejak listrik padam kemarin malam, Arum sudah bergerak tiga langkah di depan musuh-musuh mereka.

"Pak Camat," Arum menoleh pada Pak Heru. "Saya punya data asli di flashdisk ini. Selisih dana itu sebenarnya tidak pernah ada. Pak Broto hanya memindahkan angka-angka itu di atas kertas untuk membuat skenario seolah-olah suami saya korupsi, sementara uang aslinya masih ada di kas desa yang kuncinya diam-diam digandakan oleh orang suruhan Pak Broto."

Tepat saat itu, pintu kantor desa terbuka. Marno masuk sambil membawa sebuah tas kain hitam yang masih basah terkena air hujan.

"Ibu Kades! Saya menemukan ini di bawah jembatan dekat rumah Pak Broto, sesuai dugaan Ibu!" Marno membuka tas itu, memperlihatkan tumpukan uang tunai yang masih terikat rapi dengan segel bank.

Pak Broto lemas, terduduk di kursinya seolah seluruh tulang di tubuhnya baru saja dicabut.

"Permainan catur Anda sudah selesai, Pak Broto," ujar Arum dingin. "Langkah Anda terlalu kasar. Di kota, kami menyebut ini amatiran."

Arum kemudian berbalik pada Baskara, memberikan senyum manis yang hangat. "Mas, urusan administrasinya sudah selesai. Sekarang, kita punya urusan yang lebih penting di rumah."

"Urusan apa, Arum?" tanya Baskara bingung.

Arum mendekat ke telinga Baskara dan berbisik pelan, "Mas lupa? Malam ini giliran Mas yang mencuci piring. Aku sudah lelah jadi detektif seharian ini."

Baskara tertawa lepas, menarik Arum ke dalam rangkulannya di hadapan Pak Camat yang masih terheran-heran dan Pak Broto yang kini harus bersiap menghadapi petugas berwajib.

Suasana di kantor desa yang tadinya tegang kini berubah menjadi sunyi yang menyesakkan bagi Pak Broto. Arum masih berdiri, tangannya terlipat di depan dada, memperhatikan Pak Broto yang gemetar hebat. Namun, insting Arum mengatakan bahwa kemenangan ini terlalu mudah. Ada sesuatu yang tidak sinkron antara ketakutan Pak Broto dan rencana besar yang biasanya dirancang oleh Siska.

"Pak Camat," Arum memecah keheningan. "Uang yang ditemukan Marno memang bukti kuat. Tapi saya yakin Pak Broto tidak bekerja sendirian. Seseorang memberikan akses kode enkripsi bank daerah kepada 'orang dalam' di desa kita. Pak Broto hanyalah pion yang dikorbankan."

Pak Heru mengusap wajahnya, bingung. "Maksudmu, Jeng?"

"Artinya, musuh kita yang sebenarnya belum tertangkap," Arum menatap ke arah jendela yang gelap. "Dan saya yakin, mereka sedang menonton kita sekarang."

Tepat saat kalimat itu selesai, lampu kantor desa tiba-tiba mati total. Bukan hanya di dalam ruangan, tapi seluruh penerangan jalan di depan balai desa padam serentak. Kegelapan pekat menyergap mereka.

"Arum! Jangan menjauh dari aku!" Baskara berseru, mencoba meraih tangan istrinya dalam kegelapan.

"Marno! Amankan uangnya!" teriak Arum.

Dari kejauhan, terdengar deru mesin mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi mendekati balai desa. Cahaya lampu high-beam yang sangat terang menyambar dari kaca jendela, menyilaukan mata siapa pun yang ada di dalam. Suara decitan ban terdengar nyaring di aspal basah tepat di depan pintu masuk.

"Keluar! Bawa tas itu!" Sebuah suara berat dan asing berteriak dari luar melalui pengeras suara.

Baskara segera menarik Arum ke belakang meja kayu yang tebal. "Mereka bukan polisi, Arum. Polisi tidak akan bertindak kasar seperti ini."

"Itu orang-orang Siska," bisik Arum, napasnya mulai memburu. "Mereka tidak mau uang itu sampai ke tangan hukum sebagai barang bukti. Mereka ingin menghapusnya bersama kita."

Arum meraba sakunya, memastikan flashdisk berisi data asli masih ada di sana. Di tengah kegelapan dan ancaman senjata dari luar, otak analisnya bekerja seribu kali lebih cepat. Ia melirik ke arah panel listrik darurat di pojok ruangan.

"Mas, aku butuh Mas untuk mengalihkan perhatian mereka selama tiga puluh detik," ujar Arum tegas.

"Apa yang mau kamu lakukan?"

"Aku akan menyalakan sistem alarm darurat desa. Alarm itu terhubung langsung dengan pengeras suara di masjid dan rumah-rumah warga. Begitu alarm itu bunyi, seluruh warga desa akan keluar membawa senter dan kentongan. Mereka tidak akan berani menembak di depan ratusan saksi mata."

Baskara menatap istrinya dengan cemas. "Itu berbahaya, Arum. Mereka punya senjata!"

"Dan kita punya warga, Mas. Di desa ini, massa adalah hukum tertinggi."

Arum merangkak dalam gelap menuju panel listrik, mengabaikan suara pintu depan yang mulai didobrak paksa dari luar. Setiap detiknya terasa seperti selamanya. Tangan Arum gemetar saat mencoba menyambungkan dua kabel tembaga secara manual.

Ctek!

Tiba-tiba, sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangan Arum. Bukan tangan Baskara.

"Mau lari ke mana, Jeng Cantik?" Suara Pak Broto berbisik di telinganya. Rupanya, dalam kegelapan tadi, pria itu berhasil lepas dari kursinya dan mencoba melakukan serangan terakhir. Pak Broto memegang pecahan gelas porselen yang tadi ia jatuhkan, mengarahkannya ke leher Arum.

"Lepaskan dia, Broto!" Baskara berteriak, mencoba mendekat namun terhalang kursi-kursi yang berantakan.

Arum tidak berteriak. Ia justru memberikan senyum kecil yang tidak terlihat dalam gelap. "Pak Broto, Anda lupa satu hal. Saya tidak hanya ahli di depan laptop, saya juga ahli dalam kalkulasi risiko."

Arum menghantamkan sikunya ke ulu hati Pak Broto dengan telak, lalu menggunakan kaki kanannya untuk menendang panel listrik yang sudah ia sambungkan tadi.

TEEET! TEEET! TEEET!

Suara alarm raksasa meraung memecah malam Navasari. Cahaya lampu sorot di menara desa mulai berputar liar. Suara riuh kentongan mulai terdengar dari segala penjuru dusun, sahut-menyahut bagai ombak yang menerjang.

Orang-orang di dalam mobil di luar sana tampak panik. Mereka melihat puluhan cahaya senter warga mulai berlarian menuju balai desa. Tanpa menunggu lama, mobil itu langsung tancap gas, meninggalkan Pak Broto yang tersungkur di lantai.

Arum berdiri, merapikan kebayanya yang sedikit berdebu. Baskara segera memeluknya, tubuhnya gemetar karena takut kehilangan istrinya.

"Kamu gila, Arum. Benar-benar gila," gumam Baskara di bahu istrinya.

"Aku hanya melakukan audit lapangan, Mas," jawab Arum pelan. Namun, matanya tetap tertuju pada ponsel Pak Broto yang terjatuh di lantai. Sebuah pesan singkat baru saja masuk di layar yang masih menyala:

"Gagal. Eksekusi rencana B di rumah dinas malam ini."

Arum membeku. Rencana B? Rumah dinas? Itu artinya serangan ini hanyalah pengalih perhatian agar rumah mereka kosong.

"Mas... kita harus pulang sekarang. Mereka mengincar sesuatu di rumah kita!"

1
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!