Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Cemburu.
Calvin kembali ke mobil yang terparkir dekat gerai es krim. Helga sudah menunggu dari tadi sambil menekuk wajah.
"Darimana saja, kamu? Aku menunggu sejak lama?" tanya Helga dengan wajah cemberut sulit untuk disembunyikan.
"Masuklah dahulu. Kita bicara di dalam mobil!" tukas Calvin sambil bergegas membuka pintu kemudi.
Dengan enggan, Helga mengikuti suaminya, ke dalam mobil.
"Nah! Cerita!" tanya Helga serius sambil melipat tangan di dada.
"Aku melihat seorang gadis wajahnya berbeda tapi kebiasaannya sama persis dengan Rembulan. Jadi aku mengikuti dia yang sedang menaiki taksi online!"
"Apaaaaa! Kok bisa!? Bukankah .... ."
Helga menghentikan pertanyaan begitu Calvin memotong kalimatnya.
"Itu dia yang menjadi pertanyaanku! Maka itu aku ikuti. Maksud hati ingin menyapa dan memastikan, dia keburu pergi. Sepertinya dia menyadari, aku membuntutinya!" tegas Calvin
"Mengapa kamu bisa berkeyakinan itu Rembulan. Sepertinya kamu mengenal betul anak itu. Katanya enggak suka, bukan tipemu!?" tanya Helga dengan nada cemburu ysng mulai menguasai hatinya.
"Jangan cemburu dulu! Tentu saja aku mengenalnya dengan baik!"
"Kami bersama sejak kecil, satu atap pula. Bukan berarti suka atau cinta. Kami bersama lebih lama daripada denganmu karena kamu ke luar negeri. Walaupun sebentar, aku pun hafal kebiasaanmu begitu pun aku dengannya!" ucapnya dongkol sambil melirik sang isteri ysng masih memasang
"Mau ku lanjutkan atau berhenti sampai disini ceritanya?" kesal Calvin karena isterinya itu memotong pembicaraan karena faktor cemburu.
"Ya, sudah. Lanjut!?" ucap Helga masih mode cemberut.
Calvin pun menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya.
"Rembulan kalau kesal karena mengantri panjang, suka meniupkan anak rambut di keningnya dan gadis itu melakukannya!"
"Aku kaget karena sebelumnya hanya menerka, ternyata dia lakukan!"
"Dan terakhir, kalau naik kendaraan, tidak suka ada banyak barang menumpuk di jok tengah. Dia akan menghentakan kaki lalu memasukan barang ke bagasi. Aku pun menerka lagi. Aku pikir tidak akan terjadi. Tetapi dia melakukannya sama persis dengan kelakuan si Bulan!" ucapnya dengan menggebu.
"Maka aku simpulkan, fix itu Rembulan!" ucap Calvin begitu yakin.
"Tapi bisa saja asumsimu salah. Mungkin ada juga yang kebetulan kelakuannya seperti anak itu!" ucap Helga berusaha mengesampingkan rasa cemburu dan menepis dugaan yang diyakini suaminya.
"Sayang! Tidak ada di dunia ini kebetulan yang sama. Lah, wong kembar identik macam Ericka dan Erina pun berbeda kesukaan dan kebiasaan!" ucap Calvin berusaha mempertahankan asumsinya.
"Contoh kecil, Ericka kalau di dalam rumah, tidak suka memakai sandal rumahan dengan alasan kakinya panas lebih adem menginjak lantai dan sembrono menaruh barang. Erina tidak pernah lepas sendal dan lebih rapi serta teratur dalam menyimpan barang!" jelas Calvin panjang lebar merinci perbedaan walau kembar dengan wajah sama tapi tetap memiliki perbedaan.
"Setahuku, Rembulan itu ketika diadopsi, adalah anak yatim piatu, tinggal di kampung. Ditemukan seorang diri oleh ibu panti. Kalau kembar pasti dibuang dua-duanya!"
"Dan yang lebih mencengangkan, kalau itu Rembulan, dia memegang Black Card. Tahu sendiri itu artinya apa!"
"Seriusan? Yah, kalau itu benar anak itu. Kalau bukan!?" tanggapan Helga merasa terancam keberadaannya.
"Wajahnya pun berubah banyak. Ehmmm! Sangat cantik, sih! Ini sudah tiga tahun berlalu sejak peristiwa itu. Berarti dia selama ini masih hidup dan tinggal di Jakarta. Aku berfikir bahwa dia bekerja sebagai apa, apakah asisten pribadi di perusahaan dan tinggal di Jakarta selama ini!" asumsi Calvin menggiring ke arah positif tentang mantan isterinya.
"Oh ya, aku punya fotonya. Aku melihat sesuatu jatuh dari saku celananya!"
Lantas dia mengeluarkan dompet. Dia keluarkan pas foto ukuran 4x6 dan menyerahkan pada Helga.
"Foto? Milik anak itu!? " tanya Helga dan diangguki Calvin.
"Begitu melihat sosok dalam foto itu, hati Helga lumayan tercekat.
"Cantik sekali! Dan imut seperti boneka Barbie!" ucapnya tak ragu mengakui kecantikan paras pada pas foto.
Wajah dalam gambar itu, sangat berbeda dengan rupa Rembulan yang masih tersimpan jelas dalam ingatannya.
"Sangat berbeda sekali dengan wajah Rembulan. Bagaikan bumi dan langit! Wajah foto ini cantik sekali. Apa dengan uang yang diperoleh dia operasi plastik!?" tanyanya heran.
"Benar menurutmu, bagaimana mungkin dia punya uang banyak secepat itu, tidak mungkin menjadi asisten di perusahaan, kalau bukan menjadi Sugar Baby!" ungkap Helga lumayan cemburu.
"Marak, kan!? Gadis belia ingin banyak uang tapi secara instan, yah bekerja menjajakan diri dan menjadi simpanan orang kaya!" ucapnya menggiring asumsi ke arah negatif berharap pikiran Calvin agar terhasut dan tak memuji mantannya.
Benar saja! Dia memperhatikan suaminya terdiam.
"Pasti dia berfikir sama seperti dugaanku!" batinnya sambil tersenyum puas.
"Kalau benar gadis itu dia, maka aku takkan tinggal diam!" batinnya meradang.
"Hemmm, begitu! Mengapa dia tidak kembali ke mansion dan mencari oma opa!? Bukankah dia cucu kesayangan mereka?" ungkap Helga mencoba memperkeruh suasana.
"Itu dia yang menjadi pertanyaanku. Maka itu aku penasaran dan ingin memastikan dengan menemuinya!" ucap Calvin dengan tercenung.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Apa sebaiknya kita beritahukan hal ini pada daddy Damian agar diusut tuntas!?" tanya Helga.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah dan menceritakan kepada daddy!" ucap Helga.
Calvin pun mengangguk setuju dan melanjutkan perjalanan mereka ke mansion Ambrosia.
Rembulan sudah sampai ke apartemennya. Setelah sejam setengah perjalanan akhirnya dia sampai di rumah sementaranya. Sebenarnya, jarak aslinya kalau lengang hanya 30 menit (berhubung macet jadi sejam setengah). Walaupun kabin mobil ber-AC, tetap saja peluh menetes di sekujur tubuhnya.
Suasana begitu sepi dan lengang. Belum terlihat batang hidung kedua asistennya. Ternyata, selama tiga tahun bersama keduanya, hari ini tak ada, dia merasa kehilangan.
Sejujurnya, selama hidupnya selalu dikelilingi banyak orang dan tak merasa kesepian. Walaupun orang sekelilingnya begitu jahat padanya. Setelah hidup bersama kedua makhluk astral yang menjadi bestie dan asistennya, barulah dia merasa hidup semakin hidup dan menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki serta tujuan hidup.
Dirinya menyimpan semua barang belanjaannya di meja. Rasanya terlalu malas untuk membereskan ke dalam lemari pakaian ditambah suasana hatinya dalam keadaan tidak baik karena bertemu dua durjana yang malas dilihat.
Dia berjalan ke arah kulkas dan membukanya. Dan mengambil minuman bersoda instan dalam kemasan botol plastik warna hijau dari dalam dan membuka tutupnya.
Krekkk!
Cesssss!
Busa soda meluap dan merembes dari botol. Sebelum menetes ke lantai, segera dia meneguknya sampai setengah botol karena merasa tenggorokannya sangat kering akibat emosi dan cuaca kota Jakarta di siang hari cukup menguras keringat.
Kemudian merebahkan dirinya di sofa berbahan suede yang cukup nyaman di tubuhnya. Pikirannya pun melayang pada kejadian tadi.
"Huhhh! Sungguh membuat kesal. Maksud hati ingin bersenang-senang dengan mengelilingi kota ini, jadi urung!" dengusnya mengutuk keduanya.
"Ternyata dunia ini begitu sempit. Dari jutaan manusia di kota ini, mengapa harus bertemu dengan keduanya!?" rutuknya.
"Pasti saat ini keduanya sudah bertindak cepat dengan menemui si tua bangka itu dan bercerita panjang lebar tentang seseorang yang mirip dirinya dan menyangka itu aku, diselingi provokasi yang keluar dari mulut siluman betina macam si Helga! Ratu drama dan ratu Playing Victim. Harusnya aktingnya diberi piala Citra atau Oscar!" rungutnya lagi.
"Semoga Iskandar percaya dan mau mematuhi peringatanku untuk keluar dari pekerjaannya saat ini dan menjauh dari kota ini!" ucapnya pada diri sendiri.
Setelah sekian lama berdiam di flat tetapi dia merasa kurang nyaman, akhirnya dirinya memutuskan memasuki Ruang Dimensi seorang diri, untuk berendam di kolam, soalnya badannya terasa gerah dan hatinya pun panas membara karena bertemu dengan orang yang amat sangat menyebalkan!
Beralih ke pangkalan taksi di tengah kota ...
Iskandar, sopir dari taksi yang ditumpangi Rembulan, memarkirkan kendaraannya dan bergegas ke dalam gedung kantor yang ada satu lokasi dengan parkiran kendaraan.
Dia segera menghadap atasannya. Kemudian secara lisan, mengajukan pengunduran diri dengan alasan masalah keluarga yang memerlukan dirinya untuk mengatasi (tanpa merinci masalah).
Akhirnya, tanpa memerlukan prosedur yang lama dan beribet, permintaan mundur disetujui oleh atasannya (sebab banyak sopir pengganti). Iskandar, sifatnya pendiam dan tidak pernah banyak mengumbar tentang dirinya dan keluarganya kepada atasan maupun teman sejawatnya serta berperangai santun, dermawan dan rajin bekerja, di lingkungan kerja.
Atasan dan rekan sejawatnya sangat menyayangkan keputusannya apalagi secara mendadak. Tanpa berlama-lama, setelah mengucapkan salam perpisahan, dengan berat hati dia segera meninggalkan tempat mencari nafkahnya selama 10 tahun.
Sebelumnya selama di perjalanan, dia sudah menghubungi isteri, mertua dan kedua orangtuanya untuk bersiap diri meninggalkan kota kelahiran dan kota yang ditempatinya lebih dari 40 tahun (bagi orangtua dan mertuanya) dan detailnya akan diceritakan saat bertemu di kediaman salah satunya.
Satu jam kemudian, dia sampai di rumah mertuanya, sudah ada isteri dan kedua orangtuanya. Lantas menceritakan duduk perkara. Keduanya pun menurut dan mematuhi instruksi Iskandar (karena kedua keluarganya ditopang pria berusia 30 tahun tersebut).
Dia dan isterinya bersama kedua anak lelakinya, orangtua dan kedua adiknya, begitupun mertua dan seorang adik sang isteri, total ada 11 orang, menuju bandara. Mereka akan pergi ke pulau yang ada pesisir pantai sebab mertua dan kedua orangtuanya buruh panggul merangkap nelayan di pesisir Jakarta.
Nantinya, ketika berada di tempat baru dekat pantai memudahkan mereka untuk bekerja. Walaupun memiliki uang banyak, dirinya, isteri, orangtua dan mertuanya adalah pekerja keras sejak muda dan tak betah duduk berdiam diri dan berpangku tangan di rumah seharian. Sebisa mungkin badannya digerakkan, itu pikir mereka.
Dan pilihannya, Pulau Lombok!
Saat ini, Iskandar dan keluarga sudah memiliki tiket dan bersiap terbang meninggalkan kota kelahirannya!