NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dekapan suami

Beberapa minggu telah berlalu sejak malam yang mencekam di rumah sakit. Kediaman keluarga Hendrawan kini dipenuhi dengan aroma masakan rumahan yang menggugah selera dan tawa ringan yang sudah lama tidak terdengar. Ayah Alana, Tuan Hendrawan, sudah diizinkan pulang. Meskipun langkahnya masih pelan dan wajahnya sedikit lebih tirus, binar di matanya telah kembali.

Siang itu, sebuah syukuran kecil diadakan di halaman belakang rumah orang tua Alana. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, hanya keluarga inti dan beberapa kerabat dekat. Brixton hadir di sana, bukan sebagai pengusaha dingin yang angkuh, melainkan sebagai seorang menantu yang penuh perhatian. Ia mengenakan kemeja linen berwarna putih yang santai, lengannya digulung, dan ia tidak ragu untuk membantu menata kursi atau sekadar berbincang hangat dengan ayah mertuanya.

Alana duduk di sebuah kursi empuk di bawah naungan pohon rindang. Ia mengenakan gaun hamil berbahan katun lembut berwarna kuning pucat yang membuatnya tampak seperti bunga matahari yang sedang mekar. Usia kehamilannya yang sudah menginjak bulan kesembilan membuat perutnya terlihat sangat besar, dan setiap gerakannya kini memerlukan usaha ekstra.

“Kau tampak sangat cantik hari ini,” bisik Brixton yang tiba-tiba muncul di belakangnya, meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Alana.

Alana mendongak dan tersenyum. “Terima kasih. Aku hanya senang melihat Ayah bisa tertawa lagi.”

“Aku juga,” sahut Brixton tulus. Ia membungkuk, mencium puncak kepala Alana dengan durasi yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Bagaimana perasaanmu? Si kecil tidak membuatmu repot?”

“Dia sangat aktif hari ini. Sepertinya dia juga ikut senang dengan syukuran ini,” jawab Alana sambil mengusap perutnya.

Acara berlangsung dengan sangat manis. Namun, seiring berjalannya waktu, cuaca yang tadinya cerah mulai terasa sedikit menyengat. Meskipun berada di bawah bayangan pohon, kelembapan udara dan kebisingan suara obrolan kerabat mulai membuat Alana merasa tidak nyaman.

Awalnya, itu hanya rasa tidak enak badan yang samar. Namun, tiba-tiba saja, pandangan Alana sedikit mengabur. Kepalanya terasa sangat ringan, dan suara musik di latar belakang terdengar seperti gema yang jauh. Jantungnya berdegup lebih kencang, dan rasa mual yang sudah lama tidak ia rasakan kembali menyerang ulu hatinya.

Alana mencoba menarik napas dalam, namun dadanya terasa sesak. Ia memegang pinggiran meja dengan tangan yang mulai gemetar.

Brixton, yang meskipun sedang berbicara dengan paman Alana, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari istrinya. Ia menyadari perubahan raut wajah Alana yang seketika berubah pucat dan matanya yang mulai terpejam rapat sambil memijat pelipis.

Tanpa menyelesaikan kalimatnya kepada paman Alana, Brixton segera melangkah lebar menghampiri Alana.

“Alana? Sayang, kau kenapa?” suara Brixton penuh dengan kecemasan yang nyata.

“Aku... aku hanya merasa sedikit pusing, Brixton. Pandanganku... agak gelap,” bisik Alana lemah. Tubuhnya sedikit terhuyung ke samping.

Dengan sigap, Brixton menangkap tubuh Alana sebelum wanita itu terjatuh. Ia berlutut di depan Alana, memegang kedua tangan istrinya yang dingin. “Bernapaslah, pelan-pelan. Lihat aku, Alana.”

Melihat kondisi Alana, para tamu mulai memperhatikan dengan cemas. Ibu Alana segera mendekat, namun Brixton dengan cepat mengambil kendali.

“Ibu, Ayah, mohon maaf. Sepertinya Alana kelelahan dan darah rendahnya kumat. Saya akan membawanya masuk ke kamar untuk beristirahat. Mohon lanjutkan acaranya, jangan khawatir,” ucap Brixton dengan suara yang tegas namun tenang, mencoba menenangkan para tamu agar tidak terjadi kepanikan.

Tanpa menunggu jawaban, Brixton mengangkat tubuh Alana ke dalam gendongannya. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, memastikan perut besar Alana tidak tertekan. Alana menyandarkan kepalanya di dada Brixton, menghirup aroma maskulin suaminya yang entah mengapa selalu berhasil membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

Brixton membawa Alana ke kamar lama Alana di lantai atas. Ia merebahkan istrinya di atas tempat tidur dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang memegang porselen yang sangat rapuh. Ia segera menyalakan pendingin ruangan ke suhu yang nyaman dan menarik gorden agar cahaya matahari tidak terlalu silau mengenai mata Alana.

“Tunggu di sini, aku akan ambilkan air hangat dan obatmu,” ucap Brixton.

Beberapa saat kemudian, Brixton kembali dengan segelas air hangat dan obat penguat yang biasa Alana minum. Ia duduk di tepi tempat tidur, membantu Alana untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal.

“Minumlah sedikit demi sedikit,” Brixton memegang gelas itu di bibir Alana, membantunya minum dengan penuh kesabaran.

Setelah Alana meminum obatnya, Brixton tidak langsung pergi. Ia meletakkan gelas itu di nakas, lalu kembali fokus pada istrinya. Ia mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air dingin dan mulai mengusap leher serta kening Alana untuk menurunkan suhu tubuh istrinya yang terasa sedikit panas.

“Maafkan aku, Brixton. Aku merusak acaranya,” gumam Alana dengan mata yang masih setengah tertutup.

“Jangan bicara omong kosong,” potong Brixton lembut. Ia menggenggam tangan Alana dan mencium punggung tangannya berkali-kali. “Tidak ada yang lebih penting daripada kesehatanmu dan bayi kita. Persetan dengan acara itu. Aku hanya ingin kau merasa lebih baik.”

Brixton kemudian naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Alana dan menarik kepala istrinya agar bersandar di bahunya. Ia mulai memijat pelan tengkuk Alana, mencoba menghilangkan ketegangan di sana. Sisi hangat dan romantis Brixton yang selama ini tersembunyi di balik topeng keangkuhannya kini terpancar sepenuhnya.

“Masih pusing?” tanya Brixton pelan, bibirnya berada tepat di dekat telinga Alana.

“Sedikit berkurang. Terima kasih, Brixton. Kau benar-benar... sangat perhatian.”

Brixton menghentikan pijatannya sejenak, lalu memutar tubuh Alana agar menghadapnya. Ia menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya yang besar. Matanya menatap Alana dengan pancaran cinta yang begitu dalam, sebuah tatapan yang dulunya Alana pikir tidak akan pernah ia dapatkan.

“Aku sangat mencintaimu, Alana. Aku tidak sanggup melihatmu kesakitan sedikit pun,” ucap Brixton parau. Ia kemudian mendaratkan ciuman lembut di dahi Alana, lalu turun ke kedua kelopak matanya, dan terakhir, ia mencium bibir Alana dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Bukan ciuman yang dipenuhi nafsu seperti dulu, melainkan ciuman yang merupakan sebuah janji pelindungan.

Alana merasakan air mata haru mengalir di pipinya. “Aku juga mencintaimu, Brixton.”

Brixton menghapus air mata itu dengan ibu jarinya, lalu ia turun untuk mencium perut buncit Alana. “Kau juga, jagoan kecil. Jangan buat Ibumu pusing lagi, ya? Ayah sudah sangat tidak sabar ingin bertemu denganmu.”

Selama satu jam berikutnya, Brixton tidak membiarkan Alana melakukan apa pun. Ia tetap di sana, memeluk Alana, sesekali membisikkan kata-kata romantis yang membuat pipi Alana memerah. Ia bahkan membacakan beberapa halaman dari buku yang ada di nakas agar Alana bisa lebih rileks.

“Kau tahu,” bisik Alana di tengah pelukan mereka. “Dulu aku sering membayangkan saat-saat seperti ini. Di mana kita bisa duduk tenang tanpa ada kemarahan.”

Brixton mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di kepala Alana. “Aku minta maaf karena butuh waktu yang sangat lama bagiku untuk sadar, Alana. Aku telah membuang banyak waktu dengan kebencian yang tidak berguna. Aku berjanji, mulai sekarang, setiap detik hidupku adalah untuk menebus kesalahan itu dan membuatmu bahagia.”

“Kau sudah melakukannya, Brixton. Kau sudah menebusnya,” balas Alana tulus.

Suasana di dalam kamar itu terasa sangat magis. Di luar, suara tawa kerabat masih terdengar samar, namun di dalam sini, hanya ada detak jantung dua orang yang akhirnya menemukan jalan pulang menuju satu sama lain. Brixton terus menghujani wajah Alana dengan ciuman-ciuman kecil, seolah ia tidak bisa berhenti menunjukkan betapa ia sangat memuja wanita di depannya ini.

Kekhawatiran Brixton benar-benar terlihat dari bagaimana ia tidak berhenti memeriksa denyut nadi Alana atau sekadar memastikan tangan Alana tetap hangat. Ia menjadi pria yang sangat protektif, namun dengan cara yang paling romantis yang bisa dibayangkan.

“Tidurlah sebentar lagi. Aku akan di sini menjagamu,” perintah Brixton lembut.

“Kau tidak akan kembali ke bawah?”

“Tidak. Tempatku ada di sini, bersamamu.”

Alana akhirnya memejamkan mata dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ia merasa aman. Ia merasa dicintai sepenuhnya. Rasa pusingnya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa tenang yang luar biasa. Brixton tetap terjaga, memandangi wajah tidur Alana dengan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan karena masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

Malam mulai turun menyelimuti rumah itu. Syukuran telah berakhir, namun sebuah kehidupan baru yang jauh lebih harmonis baru saja dimulai bagi mereka. Sumpah di atas luka itu kini telah berubah menjadi sumpah di atas cinta yang abadi. Brixton menyadari bahwa Alana bukan hanya istrinya, tapi adalah cahaya yang menyelamatkannya dari kegelapan masa lalu. Dan malam itu, di dalam kamar lama Alana, mereka merayakan kemenangan cinta mereka dalam keheningan yang paling indah.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!