NovelToon NovelToon
Falling In Love Again After Divorce

Falling In Love Again After Divorce

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Cerai / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Demar

Sean Montgomery Anak tunggal dan pewaris satu-satunya dari pasangan Florence Montgomery dan mendiang James Montgomery yang terpaksa menikahi Ariana atas perintah ayahnya. Tiga tahun membina rumah tangga tidak juga menumbuhkan benih-benih cinta di hati Sean ditambah Florence yang semakin menunjukkan ketidak sukaannya pada Ariana setelah kematian suaminya. Kehadiran sosok Clarissa dalam keluarga Montgomery semakin menguatkan tekat Florence untuk menyingkirkan Ariana yang dianggap tidak setara dan tidak layak menjadi anggota keluarga Montgomery. Bagaimana Ariana akan menemukan dirinya kembali setelah Sean sudah bulat menceraikannya? Di tengah badai itu Ariana menemukan dirinya sedang mengandung, namun bayi dalam kandungannya juga tidak membuat Sean menahannya untuk tidak pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Tiga Tahun

Ariana melirik arlojinya, sudah pukul 19.30 Wib. Ariana sudah menyiapkan dua cangkir teh hangat, satu diletakkan di sisi kiri miliknya dan satu lagi di kursi sebelah kanan yang biasa diduduki oleh Sean Montgomery, suaminya. Meski ia sendiri tahu Sean tidak akan meminumnya. Namun bodohnya Ariana terus mengulanginya selama tiga tahun ini.

Tak lama, Sean memasuki rumah dengan jas hitam pekat dan dasi yang sudah dilonggarkan.

Ariana berdiri, tangannya menyentuh sisi gaunnya seolah hendak merapikan sesuatu yang sebenarnya tidak berantakan.

“Kamu sudah pulang? Saya sudah buatkan teh.” kata Ariana pelan.

Sean mengangguk. “Hmmm.” jawabnya datar.

Pria itu berjalan melewatinya, sedikit melirik ke arah teh yang masih mengepul. “Terima kasih.”

Tidak ada pembicaraan lanjutan. Ariana juga sudah tidak berharap lagi. Mereka bukan suami dan istri yang saling mencintai di drama Korea yang biasa ia tonton.

Ariana menyesap tehnya perlahan. Sedangkan Sean membuka laptop miliknya lalu mulai sibuk mengerjakan sesuatu. Entahlah, Ariana tidak mengerti huruf dan angka itu. Ariana menoleh menatap wajah Sean yang seperti biasa selalu tajam, tenang, tanpa cela, tanpa celah. Ia tidak tahu bagaimana cara menyusup ke dalam pikiran suaminya. Yang Ia tahu Sean tidak akan mengizinkannya begitu tahu yang masuk adalah dirinya. Seseorang yang sudah menunggu selama tiga tahun. Ariana mencintainya sendirian.

Teh di cangkir Sean mulai mendingin, pria itu sama sekali tidak berniat untuk mencicipinya. Ariana tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap uap dari cangkirnya sendiri, menyaksikannya hilang sedikit demi sedikit.

Makan malam sudah tersedia di atas meja makan. Hanya mereka berdua yang makan di sana. Ariana duduk dalam diam, memotong kentang kecil-kecil dengan hati-hati. Hal yang ia pelajari selama tinggal di rumah ini.

Meja makan mereka panjang, cukup untuk delapan orang, tapi hanya dua kursi di ujung yang dipakai setiap malam.

“Kamu masih mau tambah?” Ariana bertanya dengan suara yang lembut.

Sean menggeleng. “Tidak.”

Ia menyuap sepotong wortel panggang, mengunyah pelan. “Mama Florence menelepon tadi siang,” ucapnya kemudian. Sean tidak mengangkat wajahnya meski yang Ariana bicarakan adalah ibunya sendiri.

Dengan pelan Ariana berkata “Katanya dia akan datang besok tapi tidak bilang datang di jam berapa.”

“Terserah padanya.” Ucap Sean lalu kembali fokus ke makanan miliknya.

Itu saja.

Setelah itu keheningan mulai menyapa. Ariana sudah terbiasa dengan suasana ini.

“Kamu mau teh setelah makan?” Lagi-lagi Ariana mencoba mencari topik pembicaraan.

Sean menggeleng. “Terima kasih.”

Ariana mengangguk lalu membalik garpunya, ia sudah selesai. Ia ingin bertanya hal lain, namun Ariana mengurungkan niatnya. Ia tahu pria ini, suaminya, tidak ingin berbicara lebih jauh dengannya.

Selesai makan, Sean berdiri lebih dulu. Ia pergi tanpa meninggalkan suara. Ariana menatap tempat duduk yang ditinggalkannya. Selalu seperti ini. Wanita itu berdiri, membereskan piring lalu melipat serbet linen milik Sean dengan presisi. Pria itu suka kesempurnaan.

Ariana membiarkan air mengalir ke atas piring-piring di wastafel, namun tangannya hanya diam tidak langsung mencucinya. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan bunyi air menjadi satu-satunya suara yang hidup dalam rumah yang terlalu senyap untuk disebut rumah. Sampai kapan Ariana harus berada di dalam situasi ini. Ia sudah sangat lelah sekali.

Bel terdengar dari luar pintu rumah. Ariana tahu siapa yang berdiri di balik pintu bahkan sebelum ia membukanya. Tidak banyak orang yang datang ke rumah itu tanpa memberi tahu lebih dulu. Saat pintu dibuka, Florence Montgomery berdiri di ambang pintu seperti ialah pemilik rumah yang sebenarnya. Memang benar, dia dan Seanlah pemilik rumah ini. Bukan Ariana, ia bukan siapa-siapa di sini.

“Mama,” ucap Ariana lembut, membuka space mempersilahkan mama mertuanya masuk. “Silahkan masuk, saya akan ambilkan teh untuk Mama.”

Florence mengenakan mantel wol biru tua, rapi dan mewah, tidak akan ada setitik pun debu yang berani menghiasi bulu mantelnya. Di pundaknya tergantung tas kulit mengilap senilai ratusan juta dan di lehernya tergantung kalung mutiara yang dapat membeli satu rumah mewah di kawasan elit kota ini.

“Teh hangat, tidak terlalu manis. Dan Ariana…” Florence memindai tubuh Ariana dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Gunakan perhiasanmu, jangan menunjukkan kelas rendahanmu di dalam keluarga kami!”

Ariana mengangguk, tidak melawan atau sekedar memberi pernyataan. Ia mempersilakan mama mertuanya masuk, lalu berjalan ke dapur.

Ketika Ariana kembali dengan teh, Florence sudah duduk di kursi favorit mendiang suaminya yang kini jarang dipakai siapa pun. Ariana meletakkan cangkir di atas meja kecil dengan alas renda. Florence mengangkatnya, mencicip sedikit, lalu meletakkannya kembali di tempat sebelumnya.

“Sean di kantor?” tanyanya.

“Di lantai atas, masih bekerja Ma.”

Florence menaruh cangkirnya, lalu memandang Ariana dengan ekspresi manis yang Ariana tahu beracun. “Saya telah bertemu seseorang di acara makan malam keluarga teman lama. Seorang gadis muda dengan latar belakang keluarga jelas. Ayahnya mantan duta besar, sejak kecil dia bersekolah di luar negeri. Dia cantik, sopan dan berpendidikan tinggi.”

Ariana tidak merespon. Ia hanya duduk tenang, dengan jemari yang saling memilin bergantian. Ariana tidak kaget dan tidak pula merasa harus mempertahankan posisi. Ariana sudah tahu suatu saat hal ini pasti akan terjadi. Dan ya… mungkin inilah waktunya.

Florence mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Sean juga menyukainya. Saya bisa melihat… ketertarikan di dalam dirinya.” Ucapnya dengan penuh penekanan seolah menunjukkan Ariana tidak ada apa-apanya dibanding gadis itu.

“Saya tahu kamu perempuan yang baik. Tapi kita tidak bisa menipu nasib terlalu lama. Kamu dan Sean… kalian seperti dua orang yang duduk di sisi berbeda dari jendela yang sama. Sampai kapanpun tidak akan layak jika disatukan. Cih… Saya bahkan tidak mengetahui dari bibit busuk mana kamu tumbuh.”

Hening

Ariana tidak berniat menyanggah sedikit pun pernyataan itu.

Florence menegakkan duduknya. “Saya tahu kamu sangat ingin menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi sesuatu yang tidak cocok harus segera dilepaskan sebelum menjadi terlalu rusak.”

Manis namun licik. Ariana mengenal iblis yang sesungguhnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di dalam keluarga ini.

Ariana berdiri perlahan, mengambil cangkir Florence. “Mau saya buatkan teh lagi Ma?”

Florence berdiri juga. “Tidak perlu. Saya sudah cukup lama di sini. Waktu saya terlalu berharga hanya untuk mengunjungi kamu.”

Saat Florence berjalan menuju pintu, Ariana mengikutinya tanpa suara. Florence berhenti sebentar di ambang pintu, lalu menoleh.

“Nama perempuan itu Clarissa, dia tahu cara berdiri di keluarga Montgomery,” katanya, “Dia tidak seperti kamu yang bersikap seperti orang dungu saat berhadapan dengan partner bisnis Sean. Saya tidak menyalahkannya, faktanya kamu memang tumbuh di jalanan. Saya pergi…”

Ariana membuka pintu, pandangannya tetap tenang. “Sampai jumpa Ma.” Nesa bersandar di pintu setelah tertutup.

Jangan tanyakan apakah hatinya sakit atau tidak, Ia sudah lupa bagaimana rasanya ‘sakit hati’

1
Sherly Vi
👍👍👍
Irma Luthfah
hmmm... terkadang orang jahat berasal dari orang baikk.. seperti florence ini. dia asal nya baikkkk tapi sayang dapat suami speak iblis kaya james. dan yah florence sekarang mengimbangi james yg iblis itu dengan menjadi Ratu nya Iblisss
Sri Widjiastuti
si Robert cerita fakta terbalik ke Brian... sdhlah.. 👍👍
Sri Widjiastuti
blm tau ibunya diculik??
Sri Widjiastuti
yg punya nama juga alm suaminya tuh, sampe segitunya si Florence
Sherly Vi
👍👍👍👍
Sri Widjiastuti
sok2 an ini bocil pingin tau markas🤣🤣dikira markas nya tahu bulat??
Sri Widjiastuti
ibu tp otaknya sengkleh nii
Ra~~~~~
Selingkuh Ajlh Kau Pak Faisal Dari Bu Ajeng Si Wanita Jalang Upik Abu Ituu, Gamalu Apa Nikah Sm Jalang? Ap Mgkin Pak Faisal Pun Sm Sm Puny Dosa Cem Si Bu Ajeng Wanita Jalang Upik Abu Ituu 🤣
Ra~~~~~
Cihh Emg Wanita Jalang Kau Ajeng PGN Kuludahi Mukakny Ituuu, Bnyk X Dosa Kau Itu Ajeng Gada Otakmu Untuk Bertobat Ya
Sri Widjiastuti
pdhal yg buat Montgomery berjaya juga sean, si ibu tinggal duduk manis tinggi hati
Sherly Vi
👍👍👍
Sri Widjiastuti
waduhhh
Sri Widjiastuti
duh ibu Florence dr kelas atas jd sakit jiwa ni
Sri Widjiastuti
ikut pindah bu ajeng mungkin ya??
Sri Widjiastuti
tambeng ni ariana
Sri Widjiastuti
aduh punya HP g dipake?? tlp bu ajeng dong. mintol
Sri Widjiastuti
g mikir kamu Sean. klo bisa bikin celaka ariana, Clarissa sdh gila🤣🤣
Sri Widjiastuti
bahaya emang sendiri klo hamil besar... diganggu ulet model clarissa🤭
Sri Widjiastuti
semangat2 u ibu hamil ariana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!