Tabib Wi Lu mendapati dirinya dituduh meracuni Kaisar dan dipaksa menikahi Putri Yu Ming, pewaris tahta yang penuh dendam. Dengan reputasi tercoreng dan pengawasan ketat, Wei Lu harus melawan intrik licik Pangeran De, paman Kaisar, yang sebenarnya merencanakan kudeta dengan memanipulasi ilmu farmasi. Saat Yu Ming menjadikannya musuh, Wei Lu diam-diam menggunakan kejeniusan medisnya untuk membongkar konspirasi Pangeran De, menyelamatkan Kekaisaran dari wabah buatan, dan akhirnya mengungkap kebenaran di balik kematian Kaisar. Perjalanan ini memaksa Yu Ming menghadapi prasangkanya dan secara bertahap belajar mempercayai Wei Lu , mengubah pernikahan politik mereka menjadi pernikahan sejati yang di dasari cinta, kejujuran, dan penyembuhan bagi seluruh kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inspeksi Bahan Baku
Takutnya itu?”
Yu Ming berdiri di ambang pintu, jubah putihnya seolah memantulkan cahaya suram dari lampu minyak. Ia menuntut kejelasan, tatapannya menyapu ruangan—dari ajudannya yang lumpuh sementara, ke tumpukan arsip yang menggunung, hingga Wei Lu yang masih terengah-engah karena adrenalin.
Wei Lu menyadari bahwa ia tidak bisa berbohong tentang Pangeran De yang mengambil alih gudang. Yu Ming sendiri yang menandatangani dekretnya.
“Yang Mulia, saya tidak panik,” jawab Wei Lu, suaranya kembali datar, masker ketenangan yang selalu ia pakai terpasang kembali. Ia berjalan ke tengah ruangan, mengambil piala anggur yang tadi ia minum.
“Saya hanya menyadari bahwa kita baru saja menyerahkan kunci gudang senjata kita kepada musuh kita.”
Yu Ming mengerutkan kening.
“Pangeran De bukan musuh, Wei Lu. Dia adalah Paman Kaisar yang loyal, yang kini membantu saya membersihkan institusi yang Anda kelola. Inventarisasi mendadak ini adalah ide yang sangat bagus, untuk memastikan tidak ada lagi ‘aditif berbahaya’ di sana, seperti yang ia jelaskan pada jamuan malam.”
“Dia menjelaskan dengan sangat baik, Ratu. Terlalu baik,” balas Wei Lu, meletakkan piala itu kembali.
“Gudang utama Kamar Obat itu bukan hanya tempat penyimpanan. Itu adalah pusat kendali suplai farmasi seluruh istana. Di sana tersimpan bahan baku untuk semua tonik, ramuan darurat, dan, yang paling penting, stok jangka panjang untuk obat-obatan umum yang dibagikan kepada bangsawan dan rakyat miskin.”
Wei Lu melangkah mendekati Yu Ming, memaksanya untuk mendengarkan logika medis yang dingin.
“Jika Pangeran De benar-benar ingin menemukan racun, dia akan mengirimnya untuk dianalisis. Dia tidak akan mengirim timnya untuk ‘mengamankan’ bahan mentah. Tugas ini memberi dia dua hal yang fatal: Akses tanpa batas, dan waktu yang cukup untuk beroperasi tanpa pengawasan.”
“Dia memiliki dekret saya,” potong Yu Ming.
“Dan Anda yang berada di bawah pengawasan. Kenapa Anda begitu khawatir dengan apa yang ia temukan?”
Wei Lu menatap mata Ratu itu. Ia tahu ia harus menanamkan ketakutan yang benar.
“Ratu, Pangeran De telah menanam bukti palsu di kantor saya. Dia menuduh saya menggunakan ‘racun aditif’ yang meniru penyakit Kaisar. Sekarang, bayangkan. Jika dia memiliki kendali penuh atas semua bahan baku mentah, apa yang akan dia lakukan?”
Yu Ming terdiam, memikirkan implikasinya.
“Dia tidak akan mencari racun yang sudah ada,” lanjut Wei Lu, suaranya berbisik, tetapi setiap kata terasa berat.
“Dia akan menciptakannya. Dia akan menanam zat yang tampak tidak berbahaya, seperti yang ia jelaskan, ke dalam stok umum. Lalu, ketika wabah atau penyakit yang direkayasa itu muncul, audit akan menunjukkan bahwa racun itu berasal dari stok yang saya siapkan, yang kemudian ia ‘temukan’ setelah ia melakukan inventarisasi.”
Yu Ming mundur selangkah, terkejut oleh kecerdasan dari skenario itu. Dia telah memfasilitasi musuhnya sendiri.
“Anda hanya berspekulasi, Wei Lu,” katanya, meskipun suaranya tidak setegas sebelumnya.
“Spekulasi saya didasarkan pada pengetahuan farmasi yang sama persis dengan yang Pangeran De gunakan untuk menjebak saya, Ratu,” desak Wei Lu.
“Dia tahu cara kerja pikiran saya. Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membersihkan nama saya adalah dengan membongkar konspirasi logistiknya. Dan sekarang, dia mengacaukan logistik itu. Saya tidak bisa campur tangan. Saya tidak bisa pergi ke gudang itu tanpa dicap sebagai penghambat penyelidikan. Saya terjebak di sini, dan dia tahu itu.”
Yu Ming mengencangkan pegangannya pada diagram palsu yang masih ada di tangannya.
“Jika Anda benar, Pangeran De telah memainkan permainan yang jauh lebih keji dari yang saya bayangkan. Tapi saya tidak bisa menarik kembali dekret ini sekarang. Itu akan terlihat seperti pengakuan bahwa saya salah.”
“Tentu saja tidak bisa ditarik, Ratu,” kata Wei Lu.
“Itu akan membuat Pangeran De segera bertindak. Yang bisa kita lakukan adalah mengawasinya dari sini, sambil saya menyelesaikan audit yang Anda minta.”
Yu Ming mengangguk perlahan.
“Selesaikan audit itu, Wei Lu. Begitu Anda selesai, saya akan tahu seberapa jauh ia memalsukan catatan. Dan, Anda harus tetap di sini. Setiap gerakan Anda diawasi. Jangan kirim pesan rahasia lagi.”
Setelah memberikan perintah itu, Yu Ming pergi, membawa diagram palsu Pangeran De dan meninggalkan Wei Lu di antara tumpukan arsip yang telah menjadi benteng dan penjara baginya.
***
Tiga hari berikutnya adalah penyiksaan yang lambat. Wei Lu, yang kini terperangkap di kantornya di bawah pengawasan ketat, menyelesaikan auditnya sambil mendengarkan laporan samar tentang aktivitas Tuan Bao dan anak buahnya di Kamar Obat.
Juru tulis Yu Ming di kantor sebelah terus mencatat, pena mereka bergesekan, menjadi pengingat bahwa Wei Lu tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Wei Lu duduk di mejanya, berkonsentrasi pada tumpukan arsip yang kini sudah berkurang. Dia harus menemukan anomali logistik Pangeran De di masa lalu, sementara dia tahu Pangeran De sedang menanam anomali yang lebih besar di masa kini.
Pikirannya melayang ke Gudang Utama. Dia membayangkan Pangeran De atau Tuan Bao, berdiri di antara barisan botol tonik yang sudah diracik.
Racun aditif.
Itu bukan tentang mencampur Ekstrak Daun Pagi secara terang-terangan. Itu lebih halus. Dia tahu Pangeran De akan memilih zat yang secara kimiawi mirip dengan tonik umum, yang akan memicu reaksi mematikan hanya ketika bersentuhan dengan elemen tertentu dalam tubuh manusia, seperti yang ia lakukan pada Kaisar.
Wei Lu membayangkan Tuan Bao, mengenakan sarung tangan sutra, meneteskan sejenis cairan berminyak yang tidak berwarna ke dalam botol-botol besar yang berisi tonik vitalitas yang sangat populer. Cairan itu akan larut dengan sempurna, tidak meninggalkan residu, dan audit farmasi standar tidak akan mendeteksinya.
Frustrasi itu menghancurkan, pikir Wei Lu.
Saya tahu persis apa yang dia lakukan, saya tahu cara mendeteksinya, tapi saya tidak bisa bergerak. Pengetahuan saya adalah penjara saya.
Dia harus tetap fokus pada arsip masa lalu untuk membuktikan bahwa Pangeran De telah mencuri bahan baku, agar ia memiliki amunisi politik untuk menyerang balik di masa depan. Serangan balik atas sabotase saat ini harus menunggu sampai racun itu aktif.
Wei Lu membandingkan satu lagi set tanda tangan pengadaan kapur barus. Tanda tangan yang sah. Dia harus tetap bekerja, bekerja, bekerja, menciptakan ilusi kepatuhan.
Ia menyentuh dokumen yang baru saja ia selesaikan, yang berisi kode rahasia yang ia tulis dengan tinta tak terlihat, yang memerintahkan jaringannya untuk memantau pergerakan orang yang tidak dikenal di sekitar gudang bahan baku.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Kali ini, bukan langkah cepat Yu Ming yang penuh amarah, atau langkah Tuan Bao yang mengancam. Langkah ini adalah langkah seorang pelayan istana, ringan dan formal.
Pintu kantornya diketuk pelan.
“Masuk,” perintah Wei Lu, segera menyembunyikan kuas dan pena.
Seorang pelayan muda, mengenakan pakaian istana yang bersih, membungkuk dalam-dalam.
"Yang Mulia Perdana Menteri. Ratu Yu Ming memanggil Anda. Sekarang."
Wei Lu menegang. Audit telah selesai, tetapi ia tidak ingin memberikan laporannya di tengah malam.
"Untuk urusan apa, Pelayan?" tanya Wei Lu, nadanya waspada. Ia harus tahu apakah ini adalah perangkap politik baru.
Pelayan itu, tampak sedikit bingung, menjawab,
"Bukan urusan negara, Yang Mulia. Ratu hanya meminta kehadiran Anda di kediaman pribadinya. Dia bilang... dia ingin Anda menjelaskan tentang makanan."
Wei Lu bingung. Makanan?
"Makanan apa?"
"Makanan yang Ratu siapkan secara pribadi empat hari yang lalu, Yang Mulia," bisik pelayan itu, matanya penuh rasa ingin tahu yang tak berani ia tunjukkan.
"Ratu ingin tahu mengapa Anda tidak pernah menyentuh hidangan yang ia kirimkan ke kamar Anda."
Wei Lu merasakan jantungnya berdebar. Dari semua tuduhan yang bisa Yu Ming lemparkan—pembunuhan, konspirasi, pengkhianatan—ia memilih topik yang paling pribadi dan konyol: makanan yang tidak dimakan.
Yu Ming tidak memanggilnya untuk politik. Yu Ming memanggilnya untuk masalah pribadi, masalah yang secara eksplisit berhubungan dengan kecurigaan Yu Ming bahwa Wei Lu takut diracun olehnya.
Wei Lu berdiri.
Ia merapikan jubahnya, menarik napas dalam-dalam. Ini adalah arena yang sama berbahayanya dengan gudang racun Pangeran De.
"Baik," kata Wei Lu, kepada pelayan itu.
"Bawa saya ke Ratu."
Wei Lu berjalan keluar dari kantornya, meninggalkan tumpukan arsip yang telah menyelamatkan nyawanya, tetapi kini membawanya ke konfrontasi yang jauh lebih intim dan berbahaya. Ia berjalan melewati juru tulis yang mencatat setiap detail, menuju kediaman Yu Ming.
Ketika ia mencapai kediaman Yu Ming, ia dibawa ke ruang makan pribadi Ratu—tempat yang belum pernah ia masuki sejak pernikahan mereka.
Yu Ming berdiri di sana, di samping sebuah meja kecil yang dihiasi lilin. Di atas meja, ada piring hidangan yang tampaknya masih utuh, tetapi sudah dingin. Itu adalah hidangan sup jamur yang sederhana, tetapi aromanya, bahkan setelah beberapa hari, masih samar-samar tercium.
Yu Ming menoleh, tatapannya dingin, tetapi ada sedikit luka di matanya yang belum pernah Wei Lu lihat sebelumnya.
"Perdana Menteri Wei Lu," sapa Yu Ming, menggunakan gelar resmi.
"Silakan duduk. Kita tidak akan membahas audit. Kita akan membahas masalah yang lebih mendesak."
Wei Lu duduk, tetap waspada.
"Saya ingin tahu," tuntut Yu Ming, menunjuk ke piring sup itu dengan ujung jarinya.
"Mengapa Anda menolak makanan yang saya siapkan secara pribadi untuk Anda, Wei Lu? Apakah Anda takut bahwa saya akan—"
Yu Ming berhenti, tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi implikasinya jelas, sejelas racun aditif yang ditanam Pangeran De di gudang obat.
"—bahwa saya akan meracuni Anda?" tantang Yu Ming, suaranya kini rendah, menuntut kejujuran yang tak terbantahkan.
"Jawab saya. Apakah Anda berpikir saya, Ratu Anda, akan menggunakan makanan untuk membunuh Anda, di istana yang seharusnya saya lindungi?"