NovelToon NovelToon
Happiness

Happiness

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Konflik etika / Nikah Kontrak / Trauma masa lalu / Antagonis
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Kim Umai

Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.

mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Awal mula

Malam ini Alicia akan melakukan sholat magrib di masjid bersama sepupunya, tidak ada yang berbeda darinya hari ini, seperti biasa Emma selalu ada di sampingnya walaupun gak ikut sholat tadi dia akan tetap menjalankan tugasnya.

"Iya nanti kita kesana yuk." Ucap Riska sepupu Alicia, mereka sedang membicarakan acara yang sedang di adakan di istana Maimun dan membuat janji akan kesana bersama.

"Iya aku mau ikut, kita pergi bareng naik motor seru tuh."

"Iya, tar aku jemput kamu."

"Okay." Mereka tetap melanjutkan jalannya sambil mengobrol hingga tepat dekat jalan raya mereka berhenti, melihat ke kanan dan kirinya aman barulah mereka berjalan, tapi tiba-tiba dari kanan Alicia terdapat motor dengan kecepatan tinggi.

Bruk!

Srek!

Grak!

Suara tubuh Alicia terbanting kuat tak sampai disitu tubuh Alicia juga terseret dan kepalanya menghantam kuat trotoar jalan.

Pada saat tertabrak tadi Alicia terlempar bersama Emma yang sempat memeluknya untuk menghindari, tapi terlepas ketika mereka terguling dan tubuh Alicia terlempar jauh lalu kepalanya mengenai trotoar jalan sebab motor itu melaju sangat kencang.

"Alice!."

Sayup-sayup Alicia mendengar suara yang memanggil namanya, tapi suaranya tidak mau keluar bahkan anggota tubuhnya tidak sanggup untuk di gerakkannya.

"Alice bangun, aku mohon bangun plis." Ucap Riska dengan wajah panik dan air matanya mulai menetes ketika melihat darah yang keluar dari kepala Alicia.

"Bu Alicia bangun, tolong. tetap terjaga Bu." Ucap Emma lalu mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang. Tak lama orang yang di hubungi nya datang dengan mobil ambulance, tubuh Alicia langsung di masukkan kedalam ambulance dan langsung di tangani oleh dokter.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terdekat, Riska terus menggenggam tangan Alicia dan berzikir tanpa putus.

"Aargh." Suara Alicia membuat Riska menghentikan zikir nya.

"Alice bertahan yah, aku mohon."

"Kepala ku sakit Ris." Suara Alicia mengatakan itu sangat pelan dan lirih.

"Kamu yang kuat, dokter lagi tangani kamu hiks."

"Jangan nangis."

"Siapa yang nangis, hiks mana ada." Ucap Riska menghapus airmata nya yang tak henti keluar dan sesekali menarik ingusnya.

"Aku minta maaf udah repotin kalian."

"Udah diem dulu, simpen tenaga mu, tapi jangan tutup matamu yah."

"Aku ngantuk."

"Bu Alicia harus tetap tersadar, temannya tolong ajak bicara terus, Bu Alicia tidak boleh tertidur ataupun menutup matanya, bisa membahayakan nyawanya." Jelas dokter yang sibuk menghentikan pendarahan di kepala Alicia.

"Cepat siapkan ruang operasi untuk kecelakaan, waktu sampai dua menit. Segera siapkan, kita tidak ada waktu lagi."

Terlihat sudah ada cairan infus dan kantung darah yang tergantung dan masuk ke tubuh Alicia, terdengar juga Emma berulangkali menyuruh supir ambulance untuk mengebut.

"Cepat dikit bisa gak!." Ucap Emma dengan nada tinggi, mengingat ambulance nya berjalan seperti siput.

Tapi itu hanya pikiran Emma, nyatanya mobil ambulance ini sedang berjalan kencang hingga kendaraan lain menepi dan berhenti hanya untuk memberi jalan.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, Alicia di bawa langsung masuk ke ruangan operasi, saat memulai operasi ada kendala dimana perlengkapan medis mereka tidak lengkap.

"Maaf Bu kami tidak bisa mengoperasi pasien setelah melihat kondisi nya, peralatan medis kami belum lengkap dan alat yang di butuhkan pasien kami tidak punya."

"Brengsek emang, kenapa gak ngomong daritadi hah!!." Suara amarah Emma menggelegar di ruangan tunggu.

"Rumah sakit apa ini, alat gitu aja kalian tidak punya!." Ucap Riska yang ikutan marah.

"Cepat masukkan Bu Alicia ke ambulance sekarang, kita ke bandara sekarang!." Mendengar itu orang yang di hubungi Emma tadi ada dua orang dan langsung membawa Alicia masuk kembali ke ambulance, mereka langsung tancap gas ke bandara untuk terbang ke Penang.

"Bu Riska tolong hubungin keluarga Bu Alicia untuk menyiapkan berkas penting Bu Alicia ke Penang sekarang."

"Iya." Kemudian Riska menghubungi orang tua Alicia dan dengan penjelasan pendek yang di berikan Riska, sementara Emma menelpon orang yang ada di rumah sakit sana.

"Hallo, siapkan ruang operasi untuk Bu Alicia sekarang, beliau mengalami tabrakan, kondisi kepala beliau pecah dan kondisi kesadaran 50%, jadi cepat siapkan ruang operasi dan dokter spesialis."

"Baik."

Panggilan terputus dan mereka sudah sampai di bandara yang ternyata sudah ada orang tua Alicia, kemudian mereka ke bandara Soekarno-Hatta sudah ada orang tua Agha yang ternyata di hubungi oleh mamak Alicia.

Dalam perjalanan menuju sana, dokter yang ada di ambulance tadi sudah memberi penanganan pertama untuk Alicia. Sampai rumah sakit, Alicia langsung di bawa ke ruang operasi.

"Umah udah hubungi Erlan?." Tanya Abah.

"Astaghfirullah belum bah."

"Hubungi sekarang umah, dia berhak tau kondisi tunangannya." Umah langsung menghubungi Agha, di dering pertama langsung di angkat Agha.

Sementara di lain tempat, Agha kembali aktifitas seperti biasanya sama halnya dengan Alicia. Jadwal Agha hari ini adalah ke Han-guk karena ada meeting penting jadi dia ada di sini. Sebelum berangkat tadi Agha sudah kirim pesan ke Alicia bahwa dia akan lama di luar negeri sekitaran dua Minggu karna setelah ke Han-guk, Agha akan ke Jepang untuk memantau perusahaan nya disana.

Saat meeting berlangsung, tiba-tiba handphone Agha berdering pas di lihat nama umah, gak biasanya umah telpon saat tau kalau Agha lagi meeting.

"Assalamu'alaikum Erlan, nak ya Allah nak hiks." Ucap umah sambil nangis di sebrang sana.

"죄송합니다." (Maaf) ucap Agha sambil menunjukkan handphone nya ke arah mereka, melihat itu mereka menganggukkan kepalanya dan Agha langsung keluar dari ruangan itu.

"Umah kenapa, ada apa umah, kenapa nangis?."

"Hiks nak Alice, kecelakaan nak." Mendengar itu Agha terpaku diam.

"Erlan, kamu masih di sana kan?."

"Umah bercanda?." Tanya Agha dengan nada lirih dan air mata yang turun dengan deras.

"Siapa yang bercanda, kamu pulang sekarang tapi ke Malaysia, Alice di larikan ke Penang karena rumah sakit sini angkat tangan, kamu ke sini sekarang." Ucap umah setelah itu sambungan telepon terputus.

"Gak, gak mungkin, Alice hiks." Gumam Agha dengan tatapan kosong dan air mata yang mengalir sambil jalan ke arah ruang meeting di kantornya.

"선생님. 왜 울고 있어요?." (Pak direktur kenapa anda menangis?). Tanya Lee.

"Hah, meeting kita tunda." Ucap Agha yang malah menggunakan bahasa Indonesia, karena kejadian tadi membuat konsentrasi Agha beneran pecah sampai dia lupa kalau lagi di Han-guk.

"네?." (Iya?). Tanya mereka semua tak mengerti bahasa Agha.

"죄송하지만, 이 회의는 연기해야 할 것 같습니다." (maaf meeting kali ini harus di undur.) Ucap Agha sambil membereskan laptopnya dan di masukkan kedalam tas.

"안녕하세요, 선생님?." (Ada apa pak direktur?.) Tanya Kim Joon selaku client yang akan investasi di perusahaan milik Agha.

"제 약혼자가 사고를 당했어요." (Tunangan saya kecelakaan.) Ucap Agha dengan lirih dan semua orang yang ada di situ langsung terdiam dan langsung menyuruh Agha untuk pergi menemui tunangannya.

"당신은 가장 빠른 시일 내에 항공권을 예약하세요." (Kamu pesankan tiket pesawat di jam terdekat.) Ucap Agha dengan ekspresi frustasi.

"네, 선생님." (Iya pak direktur.) Ucap Lee dan langsung mengotak-atik handphone nya.

Sambil menunggu Lee memesan tiket pesawat, I-jun salah satu karyawan Agha datang dengan mobil perusahaan.

"선생님, 빨리 들어오세요. 제가 안내해 드릴게요." (Cepat naik pak direktur biar saya antar.)

"먼저 내 아파트로 가세요." (Ke apartemen saya lebih dulu.)

"네." (Iya.) I-jun langsung ke arah apartemen Agha, tak butuh waktu lama Agha mengambil barangnya mengingat baru saja dirinya sampai jadi isi tas ranselnya belum di keluarkan, setelah itu Agha keluar dan mereka melanjutkan jalan. I-jun dengan kesadaran penuh mengemudi dengan kecepatan sedikit tinggi dan menghidupkan lampu hazard.

Tak lama kemudian mereka sampai di bandara internasional Incheon (ICN). Lee langsung ke arah bagian pembelian tiket dan langsung berlari menghampiri Agha kemudian menyerahkan tiket pesawat.

"감독님, 이것이 비행기표입니다만, premium economy class 이것은 " (Ini tiket pesawatnya pak direktur, tapi ini kelas ekonomi premium."

"괜찮아요, 감사합니다." (Tidak apa, terimakasih.) Ucap Agha menerima tiket pesawat sambil jalan kemudian menyerahkan tiket pesawat dan pasport untuk di periksa.

Butuh waktu lama untuk bisa sampai di Malaysia, selama perjalanan Agha tidak putus doa sambil berzikir untuk keselamatan Alicia, bahkan untuk makan dan minum yang di sediakan pramugari di tolak Agha, saat ini yang ada di pikirannya hanya Alicia. 6 jam kemudian pesawat yang Agha naiki tiba juga di bandara internasional Penang (PEN), Agha langsung buru-buru turun sampai beberapa kali menyenggol orang yang sedang lewat dan Agha terus ngucap maaf karena mengganggu kenyamanan orang lain.

Agha langsung menghubungi umah tapi gak diangkat, di telpon Abah tetap sama, di telpon nomor Dafa langsung di angkat.

"Hallo Erlan, kamu dimana?."

"Di bandara bang baru turun dari pesawat, gimana keadaan Alice bang?."

"Di ruang ICU, baru keluar dari ruang operasi, kamu tunggu sana Abang jemput."

"Iya bang."

Agah duduk di pinggir jalan bandara tepat pintu keluar, Agha memandang ke arah handphone nya lebih tepatnya foto Alicia yang tertawa lepas yanga dia ambil saat acara tunangannya waktu itu, dengan tatapan kosong, pikirannya benar-benar kacau.

"Kamu bertahan yah, aku mohon sama kamu, aku akan habiskan dalang dari kecelakaan kamu." Gumam Agha dengan lirih, tak lama terdengar telepon dan di lihat nama Emma.

"Iya."

"Maaf pak Agha saya tidak bisa menggantikan posisi Bu Alicia." Ucap Emma penuh sesal, kenapa bukan dirinya saja yang tertabrak.

"Kondisi kamu gimana?."

"Hanya luka ringan pak."

"Udah di obati?."

"Sudah pak."

"Baik, kamu tetap di posisi kamu jaga terus Alicia, pastikan tidak ada orang yang membahayakan."

"Baik pak." Telepon putus kemudian masuk telepon dari Harding.

"Ya."

"I have taken care of this case, it turns out that it was really the child's fault, not Tom's, I am currently interrogating him." (Aku sudah menangani kasus ini, ternyata itu memang kesalahan anak tersebut, bukan Tom. Saat ini aku sedang menginterogasinya.)

"Are you sure it's not Tom's fault?." (Apakah kamu yakin ini bukan salah Tom?.)

"That's right, right now he's almost dead in the hands of me and my bodyguards." (Benar, saat ini dia hampir mati di tangan ku dan para pengawal ku.)

"Okay, thank you, I will take care of that person and send the data to me now." (Baiklah, terima kasih, aku akan mengurus orang itu dan kirimkan datanya kepada ku sekarang.) Telepon putus dan tak lama pesan masuk dari Harding yang mengirim data orang yang membuat Alicia menjadi seperti ini.

Agha menelpon orang kepercayaannya untuk mengusut kasus ini. "Aku mau kamu tangkap bocah itu, sekap dan hukum mereka tapi ingat jangan sampai mati, aku mau mereka mati dengan perlahan."

"Baik, laksanakan pak." Ucap orang kepercayaan Agha, dan telepon putus.

"Emang brengsek, bocah seperti kau tidak akan lolos dengan mudah di tangan ku." Ucap pelan Agha sambil menangis ketika mengingat Alicia.

Tes...

Tes...

Air matanya tanpa di komando terus keluar membasahi pipinya, banyak orang yang ada di pintu keluar bandara melihat ke arah Agha tapi Agha tidak peduli dirinya menunggu jemputan, tak lama telepon masuk di handphone nya.

"Erlan kamu pakai baju warna apa dan lagi di mana?." Tanya Dafa yang berjalan ke arah pintu keluar bandara.

"Pakai jas hitam bang, aku berdiri nih dekat tiang."

Kemudian suara telepon putus karena Dafa langsung dapat melihat Agha disana setelah mencari-cari, langsung Dafa samperin Agha dan mereka langsung ke arah rumah sakit.

"Apa kata dokternya bang?." Sebelum jawab Dafa melihat sekilas Agha lalu kembali fokus ke jalan.

"Tengkorak kepalanya, hiks pecah dan pecahan tulangna nyucuk pembuluh darah hiks, terus pembuluh darah di jantungnya juga pecah, dan kondisi Alice koma makanya masuk ke ruang ICU." Ucap Dafa sambil nangis dan suaranya pun tercekat sampai sakit lehernya.

"Hiks ini salah aku bang, maaf yah, aku janji usut kasus ini."

"Udah dapat siapa orangnya berkat Abah kamu dan sekarang berkas kasusnya lagi di urus sama Andra."

"Aku udah tau bang, dan aku juga udah suruh orangku untuk mengurusnya."

Tak lama mereka sampai di rumah sakit, Agha langsung berjalan cepat mendahului Dafa sampai Agha melewatkan lift dan di tarik lengannya oleh Dafa dan mereka masuk kedalam lift sampai di lantai ruang ICU berada.

"Umah." Ucap Agha lirih sambil berjalan ke arah ruang ICU.

"Nak, Alhamdulillah kamu sampai." Ucap umah sambil memeluk tubuh Agha sambil menangis.

"Umah ini mimpi kan, tolong bangunkan Erlan umah, Erlan mohon

umah." Ucap Agha sambil menangis sampai kakinya terasa lemas dan tubuhnya terasa berat, pandangannya mulai menghitam.

1
Desi Ramadhani
dikira uang bisa menggantikan nyawa hilang, gila sih
Desi Ramadhani
ceritanya bangus thor, semangat terus buat karyanya👍💕
Kim Umai
makasih juga sudah mampir☺️
Renjana Senja
aku mampir Thor. jangan lupa mampir di karya aku ya. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!