Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang Hitam Tanpa Mata
Paviliun Harta Karun Sekte Dalam adalah gedung lima lantai yang memancarkan aura kemewahan. Di sini, segala jenis senjata, baju zirah, dan jimat dijual kepada murid yang memiliki cukup Batu Roh atau Poin Kontribusi.
Li Tian melangkah masuk dengan percaya diri. Kantong uang di pinggangnya terasa berat dan menyenangkan.
"Selamat datang, Adik Junior," sapa seorang pelayan wanita cantik dengan senyum ramah yang terlatih. "Apa yang kau cari? Pedang terbang? Jubah sutra awan? Atau mungkin..."
"Aku butuh pedang," potong Li Tian. "Tapi bukan pedang biasa. Aku butuh yang berat."
"Berat?" Pelayan itu mengerjapkan mata. "Kami punya Pedang Pemecah Gunung di lantai dua. Beratnya 100 jin."
Li Tian menggeleng. "Terlalu ringan. Aku butuh yang setidaknya 1.000 jin."
Senyum pelayan itu kaku. "1.000 jin? Adik Junior, itu berat seekor banteng dewasa. Bahkan murid Bangkit Jiwa Tingkat 5 pun akan kesulitan mengayunkannya. Kau yakin tidak salah bicara?"
"Aku yakin. Apa kalian punya atau tidak?"
Pelayan itu tampak ragu. "Ehm... senjata seberat itu biasanya ada di gudang belakang, tempat barang-barang... kurang populer."
"Tunjukkan padaku."
Pelayan itu mengantar Li Tian melewati rak-rak senjata berkilau yang dipenuhi murid-murid lain, menuju sebuah pintu besi di bagian belakang lantai satu.
Begitu pintu dibuka, hawa panas dari tungku penempaan menyembur keluar. Di dalam ruangan itu, seorang pria tua bertubuh kekar dengan satu mata tertutup penutup mata sedang memukul besi di atas landasan.
"Master Tie!" panggil pelayan itu. "Ada murid aneh yang mencari pedang seberat 1.000 jin."
Pria tua itu, Master Tie, menghentikan pukulannya. Dia menoleh, menatap Li Tian dengan mata satunya yang tajam.
"1.000 jin?" suaranya berat seperti parutan besi. "Kau pikir kau siapa? Raksasa?"
Li Tian tidak gentar. Dia melangkah maju. "Saya hanya seorang murid yang lelah mematahkan pedang ringan."
Master Tie mendengus. Dia melempar palunya ke meja.
"Menarik. Ikut aku."
Master Tie membawa Li Tian ke sudut ruangan yang gelap dan berdebu. Di sana, bersandar di dinding, terdapat sebuah benda raksasa yang tertutup kain terpal usang.
Master Tie menarik terpal itu.
BRUK.
Debu beterbangan.
Di balik kain itu, berdiri sebuah lempengan logam hitam raksasa. Bentuknya menyerupai pedang besar (Greatsword), panjangnya hampir dua meter, dan lebarnya selebar punggung orang dewasa. Namun, pedang ini tidak memiliki mata pisau. Sisinya tumpul, ujungnya tidak runcing.
Lebih terlihat seperti balok besi berbentuk pedang daripada senjata.
"Ini adalah Pedang Hitam Tanpa Mata," kata Master Tie. "Aku menempa ini lima tahun lalu dari sisa Baja Laut Dalam yang sangat padat. Niat awalnya adalah membuat pedang terberat di dunia."
"Tapi?" tanya Li Tian.
"Tapi aku gagal," aku Master Tie. "Bahan ini terlalu keras. Aku tidak bisa mengasahnya. Tidak ada batu asah yang mempan. Jadi, ini hanyalah tongkat pemukul berbentuk pedang. Beratnya 1.200 jin. Tidak ada yang mau membelinya karena terlalu berat dan tidak tajam."
Mata Li Tian berbinar. Dia mendekati pedang itu.
"Tidak tajam?" Li Tian tersenyum. "Guru Zu-Long pernah bilang: Jika kau cukup kuat, sebatang rumput pun bisa menjadi pedang. Dan jika senjatamu cukup berat, kau tidak perlu ketajaman untuk membelah musuh."
"Siapa Zu-Long itu? Terdengar sombong," komentar Master Tie.
Li Tian tidak menjawab. Dia meletakkan tangan kanannya di gagang pedang itu. Gagangnya kasar, dililit kulit hiu purba agar tidak licin.
"Naiklah," bisik Li Tian.
Dia tidak menggunakan Gandakan. Dia ingin menguji kekuatan aslinya. Otot punggung dan lengannya menegang. Tulang Emas-nya bersinar samar di bawah kulit.
"HAA!"
Kreeet...
Pedang raksasa itu bergeser. Lantai batu di bawahnya retak. Perlahan tapi pasti, Li Tian mengangkat pedang itu dari tanah. Dia memegangnya dengan satu tangan, meski urat-urat di lehernya menonjol.
Dia mengayunkannya sekali.
WOOSH!
Suara angin yang dihasilkan ayunan itu begitu kuat hingga menerbangkan kertas-kertas di meja Master Tie.
"Bagus," kata Li Tian, matanya menyala puas. "Rasanya pas."
Master Tie ternganga. "Kau... kau mengangkatnya dengan satu tangan? Tanpa Qi Bangkit Jiwa tingkat tinggi? Tubuhmu terbuat dari apa, Nak?"
"Rahasia," canda Li Tian. Dia menurunkan pedang itu (dengan hati-hati agar tidak menghancurkan lantai). "Berapa harganya?"
"Benda itu sudah berdebu di sini selama lima tahun," kata Master Tie, masih takjub. "Bahannya mahal, tapi karena produk gagal... berikan aku 500 Batu Roh. Itu harga modal."
"Sepakat."
Li Tian langsung menyerahkan kantong uangnya.
Dia kemudian mengambil kain tebal untuk membungkus pedang itu dan menggendongnya di punggung menggunakan tali kulit yang kuat.
Saat Li Tian berjalan keluar dari Paviliun Harta Karun dengan "peti mati" hitam di punggungnya, semua orang menatapnya dengan aneh.
"Apa yang dia bawa?" "Lihat jejak kakinya... lantai kayunya retak setiap dia melangkah!"
Li Tian tidak peduli. Dia tersenyum lebar.
"Dengan ini," batin Li Tian. "Teknik Tebasan Naga Jatuh akan menjadi mimpi buruk bagi siapa saja yang mencoba menangkisnya."
"Pilihan bagus," puji Zu-Long. "Pedang tanpa mata memiliki kelebihan: dia tidak akan tumpul. Kau bisa menghantamkannya ke kepala naga sekalipun tanpa khawatir bilahnya rusak. Sekarang, kau punya pertahanan mutlak di tangan kanan, dan penghancur mutlak di punggungmu."
Li Tian kembali ke Puncak Pedang Patah dengan hati gembira. Namun, kegembiraannya tidak berlangsung lama.
Sesampainya di kaki gunung, dia melihat Tetua Mabuk sedang berdiri tegak di depan gerbang, menatap langit dengan wajah serius.
"Tetua?" sapa Li Tian.
Tetua Mabuk menoleh. Tatapannya tajam, tidak ada tanda-tanda mabuk.
"Li Tian. Kemasi barangmu. Kita kedatangan tamu tak diundang."
"Tamu?"
Tetua Mabuk menunjuk ke arah langit.
Di kejauhan, sebuah kapal terbang raksasa dengan lambang Sekte Guntur Ungu (Sekte tetangga yang merupakan rival abadi) sedang mendekat, menembus awan pelindung sekte.
"Turnamen Dua Sekte dimajukan tahun ini," kata Tetua Mabuk. "Dan mereka datang dengan niat pamer kekuatan. Sebagai Juara Ujian Baru, kau pasti akan menjadi target pertama mereka untuk 'diuji'."
Li Tian menyeringai, menurunkan pedang hitamnya ke tanah dengan suara dentuman berat.
"Bagus. Aku baru saja ingin mencoba mainan baru ini."