NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Suasana ruang makan itu terasa hangat dan tenang. Cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela membuat kesan hangat . Adam baru saja menghabiskan suapan terakhir makanannya, lalu menyeka sudut bibirnya dengan tisu sebelum akhirnya membuka pembicaraan.

“Besok siang aku akan ke Jerman untuk melakukan perjalanan bisnis,” ucap Adam santai, seolah itu hanyalah agenda biasa. “Mungkin lumayan lama aku di sana, karena ada beberapa kerja sama yang harus aku diskusikan dengan klien.”

Kalimat itu membuat tangan Kiandra terhenti di udara. Sendok yang sedari tadi bergerak kini perlahan ia turunkan, disusul garpu yang ia letakkan rapi di atas piring. Kiandra mengangkat wajahnya, menatap Adam dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Berapa lama?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar tenang meski hatinya mulai terusik.

Adam menoleh, menatap istrinya sekilas sebelum menjawab, “Mungkin sekitar dua minggu.”

Kiandra terdiam. Dua minggu, bukan waktu yang bisa di bilang singkat. Dadanya terasa sedikit sesak, meski ia sendiri tak tahu pasti penyebabnya. Ingatannya melayang ke masa lalu, saat Adam pernah pergi ke Belanda selama satu bulan penuh. Waktu itu ia baik-baik saja, bahkan mampu mengatur rumah dan kehidupannya tanpa banyak keluhan.

Namun entah mengapa kali ini berbeda. Ada perasaan asing yang menyelinap, seperti bayangan samar yang menggantung di sudut hatinya. Ia berusaha menepisnya, meyakinkan diri bahwa mungkin ia hanya lelah atau terlalu sensitif.

Adam yang menyadari perubahan raut wajah Kiandra segera angkat bicara, mencoba mencairkan suasana. “Kamu tenang aja, Aku hanya pergi berdua sama Pandu kok. Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan.” ucapnya lembut, berusaha meyakinkan sang istri.

Kiandra mengangguk pelan. Ia memaksa senyum kecil tersungging di bibirnya, meski perasaan ganjil itu belum sepenuhnya pergi. “Ya sudah kalau begitu, nanti aku akan menyiapkan semua keperluanmu.”

Adam tersenyum lega. Ia berdiri dari kursinya, lalu mendekat ke arah Kiandra. Dengan penuh kasih sayang, Adam mengecup pipi istrinya, lalu memberikan ciuman singkat di bibirnya.

“Terima kasih, sayang,” ucapnya. “Sekarang aku harus berangkat ke kantor dulu.” pamitnya.

Kiandra menatap punggung Adam yang menjauh, langkahnya mantap meninggalkan ruang makan. Saat suara pintu tertutup terdengar samar dari kejauhan, Kiandra menarik napas panjang.

Tangannya mengepal perlahan di atas meja.

Ia tak tahu mengapa, tetapi firasatnya tidak enak. Perjalanan kali ini mungkin tidak akan sesederhana yang ia bayangkan.

******

“Mana uang untuk mama, Nay? Bulan ini kamu belum memberikannya untuk mama,” pinta Aria tanpa basa-basi. Nada suaranya terdengar datar, seolah kewajiban itu adalah hal yang wajar dan tak perlu dipertanyakan.

Nayla yang hendak berangkat kerja menahan napas panjang. Kepalanya terasa berdenyut. Bahkan sebelum ia sempat sarapan, kalimat itu sudah lebih dulu meluncur. Seperti biasa, yang ada di pikiran mamanya hanya satu hal, uang.

Nayla berdecak kesal. Raut wajahnya mengeras, namun ia tetap memberikan apa yang mamanya mau.

Nayla meraih ponselnya dari dalam tas, lalu membuka aplikasi perbankan dengan gerakan yang sudah terlalu sering ia lakukan.Tangannya sedikit bergetar saat memasukkan nominal yang diminta, nominal yang lagi-lagi menggerus tabungannya sendiri.

Tanpa berkata apa pun, Nayla menekan tombol transfer.

“Sudah aku transfer,” ucapnya singkat, suaranya terdengar lelah.

Aria hanya melirik sekilas, lalu wajahnya kembali datar, seolah uang itu memang sudah seharusnya ada. Belum sempat Nayla menarik napas lega, suara lain menyela dari arah ruang tamu.

“Untuk papa mana, Nay? Papa mau pergi golf sama teman-teman papa.” pinta Deri sambil melipat korannya yang dia baca.

Nayla menoleh cepat. Dadanya terasa sesak, amarah dan kecewa bercampur menjadi satu. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata dingin, lalu menjawab tanpa berpikir panjang, “Minta sama mama.”

Kalimat itu terdengar tajam, namun Nayla sudah tak peduli. Ia meraih tasnya kembali, melangkah cepat menuju pintu. Ia tak sanggup berlama-lama berada di rumah itu, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, bukan tempat menagih uang.

Nayla membuka pintu mobilnya, dia masuk kedalam mobil lalu menutupnya kembali, dia duduk bersandar sambil menghela nafas berat. Kepalanya terasa penuh. Selama ini, ia selalu dijadikan tulang punggung keluarga, seolah hidup dan kebahagiaannya sendiri tak pernah menjadi prioritas. Setiap gaji yang ia dapatkan seakan sudah memiliki tujuan sebelum dia sempat menikmatinya.

Namun di tengah semua kelelahan itu, ada satu hal yang membuat Nayla masih bisa bertahan. Bayangan Adam terlintas di benaknya, pria yang selama ini membantunya, menopangnya saat ia hampir jatuh, dan menjadi satu-satunya tempat ia merasa tidak dimanfaatkan.

Namun caranya yang dia lakukan salah, karena telah merusak kebahagiaan orang lain. Tapi Nayla tidak perduli akan hal itu.

Nayla melangkah pergi dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, berjanji dalam hati bahwa suatu hari nanti, ia harus berani memikirkan dirinya sendiri.

******

Nayla tiba di perusahaan Adam tepat waktu. Gedung tinggi menjulang dengan kaca-kaca bening yang memantulkan cahaya pagi, membuat langkah Nayla terasa semakin berat meski wajahnya tetap profesional. Hari ini ia memiliki jadwal pemotretan untuk salah satu proyek besar perusahaan Adam, dia menjadi salah satu menjadi model yang bekerja sama dengan perusahaan Adam, karena laki-laki itu.

Tanpa banyak menoleh ke sekitar, Nayla langsung melangkah menuju ruang ganti yang telah disiapkan khusus untuknya. Ia membuka pintu dengan gerakan cepat, berniat segera berganti pakaian sebelum kru pemotretan datang.

Namun langkahnya terhenti seketika.

Di dalam ruangan itu, Adam sudah berdiri seolah sedang menunggunya. Pria itu bersandar santai di dekat meja rias, setelan jasnya masih rapi, sorot matanya langsung tertuju pada Nayla yang terpaku di ambang pintu.

Jantung Nayla berdegup kencang. Refleks, ia menoleh ke belakang, memastikan koridor kosong dan tak ada satu pun mata yang memperhatikan. Dengan gerakan cepat, ia menutup pintu kembali, menguncinya dari dalam.

“Kamu ngapain berada di ruanganku?” tanya Nayla pelan namun tegas sambil melangkah mendekat. Nada suaranya mencoba terdengar biasa, meski dadanya naik turun tak beraturan.

Adam tersenyum tipis, senyum yang membuat Nayla semakin kesal sekaligus gugup. “Aku merindukanmu, rasanya yang semalam aku masih belum puas.” jawab Adam santai.

Nayla menggeleng pelan, menarik napas dalam-dalam. “Jangan macam-macam, Adam,” ujarnya memperingatkan. “Sebentar lagi aku ada pemotretan. Kita juga tidak mungkin melakukan apa pun di sini. Bagaimana kalau kru yang lain melihat kita?”

Adam mendesah pelan, seolah menahan sesuatu. Sorot matanya menggelap sesaat, lalu ia mengangguk kecil. “Oke. Tapi jangan harap nanti di Jerman kamu bakal bebas.”katanya akhirnya. Namun sudut bibirnya kembali terangkat.

Nayla terkekeh pelan. Ketegangan di antara mereka sedikit mencair. Ia mendekat, menatap Adam dengan mata yang berkilat nakal. “Iya, sayangku, aku janji akan melayanimu sampai kamu puas.” ucapnya manja.

Ia mengerlingkan mata, membuat Adam tertawa kecil sebelum menarik Nayla dan mengecup bibirnya, cukup lama untuk membuat napas Nayla tersengal, cukup cepat untuk tidak meninggalkan jejak yang mencurigakan.

Saat itu, Adam seakan melupakan segalanya. Statusnya, tanggung jawabnya, bahkan sosok Kiandra semuanya lenyap begitu saja ketika ia bersama Nayla. Yang tersisa hanyalah perasaan candu yang semakin sulit ia kendalikan.

Nayla melangkah mundur lebih dulu, merapikan ekspresinya kembali menjadi profesional. Ia tahu permainan ini berbahaya, tetapi entah mengapa, ia tak pernah benar-benar ingin berhenti.

1
pink blossoms
ini kowh ga lanjut2 pdhal seru lho thor
Sunarmi Narmi
lnjutt thor
Sunarmi Narmi
Fi blokir Adam...ngapain cuma dimatikan...🥴🥴
Sunarmi Narmi
Demi moment ini kita memang hrs berjuang bertahan Kiandra....Semangat hempaskan pelakor 💪💪💪💪
Sunarmi Narmi
Kiadra..klo kmu pngen menang permainan Ranjangmu hrs lebih binal dri pelakor..toh suami SAH..aman ngak usah malu " Gass kan....sampai menttok dn milik suamimu kebas dn kenyang ...ngak ada wktu melirik yg lain🤣🤣🤣
Sunarmi Narmi
Perjuangan yg amat berat bagi seorang berstatus istri dan seorang ibu..klo demi ego jelas males buat kembali sama suami..tpi klo demi anak dn keluarga hrs jdi prioritas..disitulah kdang kita merasa berat buat memilih..rata" EGO yg dominan..baca kisah ini jujur jiwa dn hatiku tersentuh Thor....pokoke karyamu is the best 👍👍👍👍♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sunarmi Narmi
Kata" tulisanya keren Thor...mengena di hati dn bermakna dlm...👍👍👍👍
louis
dasar gundik tak tahu malu dan tidak ada akhlak
louis
dasar laki2 bejat. lihatlah karma akan menimpamu karena telah mengkhianati istrimu.
Sunarmi Narmi
Blm mau Coment karena cerita ino terlalu bagus..cuma satu kata untukmu Thor LANJUTKAN💪💪💪💪
Isabela Devi
laki laki gitu buat dia menyesal seumur hidup aja thor, apa lagi ga menghargai wanita gitu
Isabela Devi
lanjut thor, buat laki laki itu jadi gembel aja thor
Bunda Kevin
Lanjut
Sunarmi Narmi
Wah keren karyamu Thor..kita di sini bila berhadapan dgn pelakor balasnya hrs elegan,cantik dn kontrol emosi....berat jg ya...lanjut thor 💪💪💪💪😘😘😘😘😘😘😘😘😘🤔♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!