Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harmoni yang Dipaksakan!
Suasana di barak yang semula hanya penuh keheranan, berubah dengan cepat menjadi keributan yang hampir meledak. Lima puluh pasang mata membelalak melihat makhluk naga biru yang angkuh dan dua kembar dengan senyum lebar yang terlihat agak "tolol" di mata mereka.
"Benda apa ini?" teriak seorang pria dengan wajah panjang, Tang. "Binatang biru aneh? Dan dua kembar seperti boneka?"
Naga Biru, yang sejak tadi mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, mendengar kata binatang biru aneh. Matanya yang biru tua itu menyipit, dan asap tipis keluar dari lubang hidungnya.
"Hei para idiot idiot sekalian," suaranya bergema, penuh kesombongan alami naga. "Kalian harus mengenalku sebagai Tuan Naga Terhormat. Bukan binatang biru aneh!"
Batu, yang sudah kesal sejak kekalahannya tadi, melangkah maju dengan wajah merah. "Heiii! Naga kurang ajar! Berani sekali mulutmu berbicara kasar dengan kami!"
Naga Biru mendengus dingin, mengibaskan ekornya yang kuat sehingga menimbulkan angin kecil. "Jika punya nyali, kau bisa menyerangku. Coba lihat siapa yang akan menangis memanggil ibunya nanti."
Bukan hanya Batu yang marah. Kalimat itu seperti menyulut bensin. Wajah-wajah lain yang tadinya hanya heran, kini berubah menjadi geram.
"Serang dia! Naga itu sangat sombong!" teriak seseorang.
"Ya! Dia pikir siapa dirinya! Hanya binatang peliharaan!"
Dousi dan Douli yang tadinya hanya berdiam dengan senyum lebar, tiba-tiba berubah ekspresi. Wajah mereka menjadi dingin, mata merah mereka berkilat. Mereka melompat maju, berdiri di depan Naga Biru.
"Berani sekali kalian ingin menyerang Kakak kami!" hardik Dousi, suaranya tajam.
"Naga Hormat!" tambah Douli, mengacungkan jari telunjuknya ke arah kerumunan.
Naga Biru menoleh pada mereka dengan ekspresi sedikit kesal. "Adik-adik, Tuan Naga Yang Terhormat. Bukan Naga Hormat."
Dousi dan Douli mengangguk serempak, ekspresi mereka kembali polos sejenak. "Baik, Kakak. Kami paham."
Kembali mereka menatap kerumunan dengan tatapan melindungi.
Suasana kini benar-benar tegang. Lima puluh kultivator Soul Transformation, marah dan tersinggung, berhadapan dengan naga sombong dan dua kembar aneh. Energi mulai berkumpul, tangan-tangan meraih gagang senjata.
Xu Hao, yang dari tadi hanya mengamati dengan tenang, akhirnya menghela napas panjang. Suaranya tidak keras, tapi mengandung semacam tekanan halus yang langsung memotong ketegangan.
"Sudahlah."
Semua mata beralih padanya.
"Kalian tenangkan diri masing-masing," lanjut Xu Hao, berjalan ke tengah antara kedua pihak. "Kalian akan menjadi rekan seperjuangan. Tidak perlu bertengkar seperti anak kecil berebut mainan."
Batu masih geram. "Tapi dia yang mulai, Hei Feng! Dia menghina kami!"
Naga Biru mendengus lagi. "Mereka yang menyebutku binatang aneh!"
"Kalian sama-sama salah," potong Xu Hao, tatapannya dingin. "Kau, Batu, dan kalian semua, harus belajar menerima bahwa di tim ini akan ada anggota dengan bentuk dan sifat berbeda. Dan kau," dia menatap Naga Biru, "harus belajar menghormati rekanmu. Bukan dengan kesombongan, tapi dengan kekuatan yang dibuktikan di medan pertempuran nanti."
Baik kelompok itu maupun Naga Biru terdiam, meski ekspresi tidak puas masih jelas.
Xu Hao menunjuk Dousi dan Douli. "Dan kalian berdua, perkenalkan diri dengan benar."
Dousi dan Douli saling pandang, lalu melangkah maju. Senyum lebar mereka kembali, tapi kali ini disertai sedikit sikap formal.
"Namaku Dousi," kata yang satu.
"Dan aku Douli," sambung yang lain.
"Kami saudara kembar. Senang bertemu kalian semua," mereka berkata hampir bersamaan.
Beberapa dari lima puluh prajurit itu mengangguk pelan, meski masih penuh curiga. Yang lain masih cemberut.
Xu Hao lalu menoleh ke Naga Biru. "Dan untukmu, aku perintahkan ini. Saat berada di dekatku, atau di dalam ruangan terbatas, kau harus mengecilkan ukuranmu. Hanya di tempat terbuka atau dalam pertempuran kau boleh berukuran penuh."
Naga Biru tampak tidak senang. "Tapi, Tuan Hei Feng, ukuranku yang besar menunjukkan kewibawaanku sebagai naga!"
"Kewibawaan datang dari tindakan, bukan dari ukuran," balas Xu Hao. "Lakukan."
Naga Biru menggerutu pelan, tapi patuh. Tubuhnya yang tiga puluh meter itu mulai menyusut, berkurang hingga menjadi hanya sekitar tiga meter panjangnya, seperti ular besar dengan kaki dan sayap kecil. Meski masih terlihat gagah, sekarang tidak lagi mengintimidasi secara fisik.
"Lebih baik," kata Xu Hao. Dia lalu memandang keseluruhan kelompok. "Mulai besok, kita latihan bersama. Aku akan ajarkan kalian cara bekerja sebagai satu kesatuan. Naga Biru, Dousi, dan Douli akan menjadi bagian inti dari formasi kita. Mereka punya kekuatan unik yang bisa kita manfaatkan."
Seorang wanita dengan rambut diikat pendek, Liana, mengangkat tangan. "Apa kekuatan unik mereka selain sombong dan senyum tolol?"
Dousi dan Douli tidak tersinggung. Malah, mereka tersenyum lebih lebar. "Kami cepat," kata Dousi.
"Sangat cepat," tambah Douli.
"Dan kami bisa berkoordinasi tanpa bicara," lanjut Dousi.
"Karena kami kembar," sambung Douli.
Naga Biru yang sudah mengecil, mendongakkan kepalanya lagi. "Dan aku punya petir biru dan api. Bisa menghancurkan formasi musuh dari kejauhan."
Beberapa wajah mulai menunjukkan minat, meski masih skeptis.
"Bagus," kata Xu Hao. "Besok kita akan uji coba. Sekarang, beristirahatlah. Esok fajar, di lapangan latihan. Jangan ada yang terlambat."
Dia berbalik, memberi isyarat pada Naga Biru dan kedua kembar untuk mengikutinya ke bagian barak yang akan dia tempati bersama mereka.
Setelah mereka pergi, lima puluh prajurit itu mulai bergumam.
"Binatang aneh itu masih sombong meski sudah mengecil," gerutu seorang pria kurus.
"Tapi dia naga. Aku belum pernah lihat naga beneran sebelumnya," kata yang lain dengan nada penasaran.
Batu duduk di bangku, mengusap dagunya. "Dua kembar itu... aura mereka aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan."
Liana duduk di sampingnya. "Hei Feng sendiri juga aneh. Tapi kuat. Dan sekarang dia bawa tiga anggota baru yang juga aneh. Apa rencananya sebenarnya?"
"Apapun itu," kata pria tua dengan suara parau, "kita ikuti saja dulu. Lihat nanti di Kota Kabut. Di medan pertempuran, semua kepalsuan akan terbuka."
Di ruangan terpisah, Xu Hao duduk di lantai dengan Naga Biru yang melingkar di sudut dan Dousi Douli duduk bersila di depannya.
"Kalian harus berhati-hati," kata Xu Hao. "Mereka tidak sepenuhnya percaya pada kita. Dan kita tidak butuh kepercayaan mereka. Yang kita butuh adalah ketaatan dan koordinasi."
"Tapi mereka menghina Kakak Naga!" protes Dousi.
"Dan mereka bilang kami senyum tolol," tambah Douli.
"Lupakan itu," kata Xu Hao. "Kalian adalah bagian dari rencana besar. Pedang Tianxu butuh darah. Dan pertempuran di Kota Kabut akan menjadi kesempatan pertama. Naga Biru, kau akan jadi penyerang jarak jauh. Dousi, Douli, kalian akan jadi pembunuh cepat di tengah kekacauan. Dan aku," matanya berkilat, "akan memastikan setiap tetes darah yang tertumpah tidak sia-sia."
Naga Biru mengangguk, matanya bersinar biru. "Aku sudah lama tidak menghancurkan musuh dengan bebas. Ini akan menyenangkan."
"Tapi patuh pada perintah," ingat Xu Hao lagi. "Tidak ada aksi sendiri. Jika tidak, konsekuensinya akan berat. Bukan hanya dari Ratu, tapi juga dariku."
Ketiganya mengangguk serius. Mereka tahu, di balik penyamaran dan nama Hei Feng, adalah Xu Hao yang sebenarnya, dengan semua kekuatan dan tekadnya.
Malam itu, di Benteng Batu Hitam, dua kelompok yang berbeda dipaksa untuk mulai berharmoni. Kelompok dengan pengalaman perang yang keras, dan kelompok aneh dengan naga dan kembar misterius. Besok, latihan akan dimulai. Dan dua minggu kemudian, di Kota Kabut, darah akan berbicara lebih keras daripada semua keributan dan kesombongan.
Di ruang barak yang sempit, Xu Hao duduk bersila di atas bantalan sederhana. Dousi dan Douli sudah tertidur di sudut, tubuh mereka bergerak-gerak halus seperti sedang bermimpi berlatih. Naga Biru, yang mengecil menjadi ukuran ular besar, melingkar di dekat pintu, mendengkur pelan dengan asap tipis biru keluar dari lubang hidungnya.
Xu Hao menutup matanya, menyelam ke dalam lautan kesadarannya. Di sana, di ruang jiwa yang tak terbatas, dia tidak sendirian. Di hadapannya, berbaring dengan malas di atas sebuah platform cahaya abu-abu, adalah Rubah Abu-Abu berekor sepuluh. Bulunya berkilauan lembut, matanya setengah terbuka dengan ekspresi kantuk yang mendalam. Ekornya yang sepuluh itu bergerak-gerak lambat, menciptakan pola cahaya samar di ruang kesadaran.
Xu Hao mendekat, membungkuk sedikit. "Guru."
Rubah Tua itu menguap lebar, menunjukkan gigi-gigi tajam yang berkilau. "Jadi... kau meminta bantuanku lagi. Kali ini untuk mengajarimu cara melatih pasukanmu agar sesuai dengan nama 'Kilat Hitam' yang kau beri. Dan juga memodifikasi teknik langkah angin yang pernah kau pelajari sebagai Haoran di Paviliun Seribu Seni."
"Ya, Guru," jawab Xu Hao. "Waktu hanya dua minggu. Aku butuh cara efektif untuk membuat lima puluh orang yang keras kepala dan tiga pengikutku bisa bergerak sebagai satu kesatuan, dengan kecepatan dan ketepatan seperti kilat. Dan teknik langkah anginku sudah lama tidak kutingkatkan. Di dunia ini, kecepatan bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati."
Rubah Tua mendengus dingin, lalu duduk dengan malas. "Kau selalu punya permintaan. Dan aku selalu mengantuk. Energi di Dataran Tengah ini memang padat, bagus untuk pemulihanku, tapi juga membuatku sangat mengantuk. Rasanya seperti setelah makan besar."
"Maaf mengganggu istirahat Guru," kata Xu Hao.
"Sudahlah. Aku akan membantumu. Tapi ingat, setelah ini biarkan aku tertidur lagi. Jangan ganggu kecuali ada keadaan darurat yang benar-benar mengancam mu."
Xu Hao mengangguk.
Kemudian Rubah Tua mengangkat satu cakar depannya. "Dan untuk teknik melatih pasukan, itu bukan keahlianku. Tapi aku punya ingatan dari temanku dulu, dia pernah melatih pasukan kecil untuk pertahanan. Aku akan salurkan pengetahuan itu padamu. Untuk teknik langkah angin, itu lebih mudah. Aku akan modifikasi berdasarkan pemahamanmu tentang Dao Ruang, membuatnya bukan hanya bergerak cepat di udara, tapi juga sedikit memanipulasi jarak."
Xu Hao mengangguk, ekspresinya serius. "Terima kasih, Guru."
"Baiklah. Bersiaplah."
Rubah Tua mengangkat kesepuluh ekornya. Ekor-ekor itu bersinar dengan cahaya abu-abu pekat, lalu menyatu menjadi sebuah sinar tunggal yang langsung menembus kening Xu Hao di ruang kesadaran ini.
Zzzzt!
Getaran yang dalam mengguncang seluruh kesadaran Xu Hao. Dia merasakan banjir informasi, gambaran, dan pemahaman yang masuk ke dalam pikirannya.
Pertama, tentang melatih pasukan. Bukan teori rumit, tapi prinsip-prinsip praktis dari seorang jenderal kuno: komunikasi tanpa kata melalui isyarat sederhana, pembagian peran berdasarkan kemampuan alami, formasi bergerak cepat yang mengandalkan kejutan dan koordinasi, serta cara membangun sedikit kepercayaan di antara anggota yang saling tidak percaya melalui latihan bertahan hidup bersama. Ada juga teknik latihan intensif untuk meningkatkan reaksi dan refleks dalam waktu singkat, meski berisiko cedera.
Kedua, tentang teknik langkah angin. Xu Hao melihat versi tekniknya yang sekarang, lalu melihat bagaimana prinsip Dao Ruang bisa diintegrasikan. Bukan sekadar berlari cepat di udara, tapi membuat langkah-langkahnya memendekkan jarak yang sebenarnya dengan memanipulasi ruang di sekitarnya. Ini bukan teleportasi, tapi seperti membuat jalan di depan kaki menjadi lebih pendek untuk sesaat. Teknik ini akan menguras energi lebih banyak, tapi kecepatannya bisa meningkat beberapa kali lipat.
Namanya: Langkah Ruang Angin.
Proses penyaluran pengetahuan ini berlangsung sekitar satu jam dalam waktu kesadaran, tapi di dunia luar mungkin hanya beberapa menit. Setelah selesai, Rubah Tua terlihat lebih lelah, ekor-ekornya terkulai.
"Sudah... Sekarang pergilah. Latih mereka. Dan jangan lupa, pedang hitammu itu... aku merasakan sesuatu yang tidak biasa darinya. Hati-hati." Rubah Tua lalu merebahkan diri lagi, matanya terpejam. "Jangan bangunkan aku tanpa alasan yang sangat penting..."
Cahaya abu-abu di sekelilingnya meredup, dan dia seolah-olah tenggelam ke dalam tidur yang lebih dalam.
Xu Hao membuka mata di dunia nyata. Tubuhnya sedikit berkeringat, dan pikirannya penuh dengan informasi baru. Dia segera memprosesnya, menyusun rencana latihan untuk esok hari.
Dia melihat Dousi, Douli, dan Naga Biru yang masih tidur. Lalu dia kembali bermeditasi, kali ini untuk mengkonsolidasi pemahaman barunya tentang Langkah Ruang Angin. Di dalam dirinya, dia mulai mencoba prinsip-prinsipnya, mengalirkan Qi merah tuanya dengan pola baru, merasakan ruang di sekelilingnya dan bagaimana memanipulasinya dengan halus.
Fajar menyingsing dengan warna merah muda pucat di langit tandus di atas Benteng Batu Hitam. Suara terompet bangun pagi berbunyi nyaring, memecah kesunyian.
Di lapangan latihan, lima puluh prajurit Tim Kilat Hitam sudah berkumpul. Mereka tampak mengantuk, kesal, tapi juga penasaran. Batu, Liana, pria kurus Tang, dan yang lain, semuanya menunggu dengan ekspresi bercampur.
Tak lama kemudian, Xu Hao datang. Di belakangnya, Naga Biru dalam ukuran kecil, dan Dousi Douli dengan senyum lebar mereka yang sekarang tampak lebih waspada.
"Pagi," sapa Xu Hao, suaranya datar. "Hari ini kita mulai latihan. Dan latihan kita berbeda dari yang biasa kalian lakukan."
"Bagaimana berbeda?" tanya seorang pria dengan wajah berparut yang lain.
"Kita tidak akan berlatih teknik individu. Tidak akan berlatih kekuatan. Kita akan berlatih tiga hal: komunikasi, kecepatan reaksi, dan koordinasi." Xu Hao berjalan di depan mereka. "Untuk itu, kita akan mulai dengan latihan sederhana. Berpasangan. Satu orang memejamkan mata, yang lain menjadi pemandu dengan isyarat tangan sederhana yang akan kuajarkan, melewati rintangan yang akan kusediakan."
Batu mengerutkan kening. "Itu permainan anak-anak! Kita butuh latihan bertarung!"
"Jika kau tidak bisa mempercayai orang di sampingmu untuk membimbingmu melewati rintangan sederhana," balas Xu Hao dengan tajam, "bagaimana kau bisa mempercayainya untuk menutupi kelemahanmu dalam pertempuran hidup dan mati?"
Batu. "__"
"Baik. Pasangan bebas. Mulai."
Lima puluh orang itu terpaksa mencari pasangan. Beberapa langsung memilih teman dekat, yang lain dengan enggan berpasangan dengan orang yang tidak disukai. Dousi dan Douli tentu berpasangan. Naga Biru, karena jumlah ganjil, berpasangan dengan Xu Hao sendiri.
Xu Hao mengajari mereka lima isyarat tangan sederhana: maju, berhenti, belok kiri, belok kanan, dan waspada. Lalu, dengan kekuatannya, dia menciptakan rintangan sederhana di lapangan, berupa dinding tanah rendah, lubang dangkal, dan rintangan kayu yang harus dipanjat.
Latihan dimulai. Kekacauan.
"Kiri! Bukan, kanan! Sial, kau bikin aku jatuh ke lubang!"
"Kau tadi isyaratnya salah!"
"Aku pejam mata, mana bisa lihat tolol!"
Tertawa, gerutu, dan teriakan memenuhi lapangan. Tapi perlahan, setelah beberapa kali percobaan, mereka mulai memahami. Mereka belajar bahwa isyarat harus jelas, dan kepercayaan butuh diberikan meski dengan enggan.
Xu Hao mengamati sambil sesekali mengoreksi. Dia sendiri, dengan Naga Biru sebagai pemandu, melewati rintangan dengan sempurna karena bisa "melihat" melalui kesadarannya meski mata tertutup. Tapi itu bukan poinnya.
Setelah latihan pasangan, dia mengumpulkan mereka lagi. "Bagus. Sekarang, kita latihan kecepatan reaksi. Kita akan bermain 'tangkap kilat'."
Dia menjelaskan aturan sederhana. Mereka akan berdiri dalam lingkaran. Seseorang di tengah akan melemparkan bola energi kecil ke arah seseorang di lingkaran, dan orang itu harus menangkap atau menghindar, lalu cepat melempar ke orang lain, dan seterusnya. Bola akan semakin banyak seiring waktu. Jika ada yang terkena bola, dia dapat hukuman push up.
"Aku akan mulai," kata Xu Hao. Dia menciptakan lima bola energi merah tua sebesar kepalan tangan, lalu melemparkannya ke lima orang berbeda sekaligus.
Kekacauan lagi. Bola-bola itu bergerak cepat, memantul, dan para prajurit berebut menangkap dan melempar. Tawa dan teriakan kembali terdengar. Beberapa kena, dan dengan wajah masam mereka melakukan push up.
Setelah beberapa putaran, Xu Hao menambahkan Naga Biru, Dousi, dan Douli ke dalam permainan. Kehadiran mereka membuat segalanya lebih cepat dan lebih kacau, tapi juga lebih menantang.
Liana, setelah berhasil menangkap bola dengan gesit, tertawa. "Ini... sebenarnya menyenangkan."
Batu, yang baru saja kena bola di punggung, menggerutu. "Menyenangkan tapi melelahkan."
"Tapi lihat," kata pria kurus Tang. "Reaksiku jadi lebih cepat. Dan aku mulai memperhatikan gerakan orang lain tanpa sadar."
Itulah tujuannya.
Di akhir sesi pagi, semua orang berkeringat, lelah, tapi ada sedikit cahaya di mata beberapa dari mereka. Bukan lagi tatapan jengkel murni, tapi campuran antara lelah dan... mungkin, sedikit harapan.
Xu Hao mengumpulkan mereka untuk terakhir kali. "Bagus. Sore nanti kita lanjutkan dengan latihan koordinasi serangan. Sekarang, istirahat. Makan. Dan ingat, besok kita akan mulai integrasi teknik bertarung individu ke dalam formasi kelompok."
Dia berbalik pergi, meninggalkan lima puluh tiga prajurit yang berdiri dengan napas terengah-engah.
"Pertama kalinya aku latihan tanpa pukul-memukul," gumam seseorang.
"Tapi aku merasa lebih capek dari latihan biasa," sahut yang lain.
Dousi dan Douli mendekati kelompok itu. "Latihan tadi seru, ya?" tanya Dousi dengan senyum lebar.
"Kalian berdua cepat sekali," puji seorang prajurit perempuan. "Hampir tidak bisa kutangkap bola yang kalian lemparkan."
Douli tersenyum bangga. "Kami memang cepat."
Naga Biru, yang sudah kembali ke ukuran kecil, mendengus. "Permainan bola itu terlalu sederhana untukku. Tapi untuk kalian, mungkin sudah cukup menantang."
Kali ini, ejekannya tidak direspons dengan kemarahan. Batu malah tertawa pendek. "Kau sombong, tapi kau juga cepat. Aku lihat tadi."
Naga Biru mendongak, tapi kali ini dengan sedikit kepuasan. "Tentu saja. Aku adalah naga."
Xu Hao, dari kejauhan, melihat interaksi itu. Dia tidak berharap mereka jadi teman akrab dalam dua minggu. Tapi jika mereka bisa mulai menerima kehadiran satu sama lain, mulai sedikit percaya, itu sudah cukup untuk koordinasi dasar di medan pertempuran.
Dia memandang ke arah timur, ke arah Kota Kabut. Empat belas hari lagi. Dan pedang Tianxu di pinggangnya terasa sedikit hangat, seolah sudah mencium aroma darah yang akan datang.
up up up