laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pagi Yang Tak Lagi Sama
Sore hari membuat Zaskia semakin sibuk. Langit sudah menggelap, mendung berat menggantung seperti tanda bahwa hujan sedang menunggu waktu untuk jatuh. Namun yang paling gelap bukan cuaca—melainkan hatinya yang gelisah. Sejak tadi ia menoleh ke arah pintu, berharap Nadine cepat pulang. Ada banyak yang ingin ia ceritakan.
Petir menyambar pelan, suaranya seperti gema dari pikirannya sendiri. Adonan yang ia aduk berulang-ulang pun tak kunjung tercampur baik karena fokusnya buyar. Zaskia akhirnya berhenti, mencuci tangan, dan berjalan keluar dapur menuju ruang tamu. Duduk. Menunggu.
Ia mengecek ponsel. Pesan masih abu-abu. Nadine belum baca.
“Nih anak kejebak macet apa gimana sih...” gumamnya. “Harusnya udah sampai. Chat nggak dibalas, telepon nggak diangkat. Bikin khawatir aja.”
Tanpa aba-aba, hujan turun deras. Degup cemasnya ikut bertambah. Zaskia berdiri, keluar teras, berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya.
Hujan turun tiba-tiba, deras. Kekhawatirannya ikut meningkat. Zaskia bangkit, keluar ke teras, berjalan mondar-mandir dengan tangan sedekap, menggigit ibu jari pelan-pelan.
Rasanya langsung lega ketika ada motor berhenti di depan rumah. Nadine. Orang yang ia tunggu.
Belum juga Nadine turun, Zaskia sudah ngomel, “Alhamdulillah, Nad. Akhirnya nyampe juga. Ih, bikin khawatir. Chat nggak dibalas, ditelepon nggak diangkat.”
Itu omelan penuh kepedulian.
Nadine mendengar suara Zaskia, tapi masih pakai helm. “Kamu ngomong apa? Aku boleh masuk nggak nih?” teriaknya sedikit keras. Zaskia jelas mendengar, membuatnya mendengus kesal.
“Ya udah, cepetan masuk. Udah basah kuyup juga.”
Mereka masuk rumah.
Setelah bebersih, Nadine duduk bersila di kursi ruang tamu, menahan dingin meski jaket tebalnya sudah menempel. Tak lama, Zaskia datang dari dapur dengan dua gelas teh hangat, memberikan salah satunya kepada Nadine.
Nadine meraihnya, menyeruput, dan tersenyum kecil pada perhatian sahabatnya.
“Harusnya setengah jam lalu kamu udah sampai. Jadi nggak bakal kehujanan begini,” komentar Zaskia. Nada kesal tapi bukan marah—lebih ke khawatir.
“Maap, ya. Aku tadi habis jadi suporter temen pabrik yang berantem sama suaminya gara-gara ketauan selingkuh. Sampai dia mau kabur tadi.”
Zaskia membelalak. “Ya Allah, kasihan. Terus gimana keadaannya sekarang?”
Nadine masih fokus pada tehnya. “Mentalnya hancur lah. Udah lima tahun nikah, dua tahun diselingkuhin. Anak masih kecil. Dia kerja begini juga karena suaminya males kerja sejak di-PHK.”
Zaskia mengernyit. “Ih, kok gitu. Kenapa juga istrinya tetap bertahan sama laki-laki nggak bertanggung jawab. Mending cerai aja nggak sih.”
“Dia bucin mampus. Modal disayang dikit aja udah luluh. Dan, kamu tahu, Kia? Selingkuhannya itu jelek banget sumpah. Cantikan istrinya. Tapi selingkuhannya banyak duit. Pas banget buat mokondo kayak dia.”
Zaskia menghela napas prihatin. “Tega banget. Mental istri hancur, anak jadi korban. Kalau ada masalah harusnya diatasi berdua. Bukan lari ke yang lain. Nafsu cuma enak sesaat, nyeselnya seumur hidup.”
Nadine menaruh gelasnya. “Itu cuma berlaku buat orang yang paham hakikat pernikahan. Jangan nikah cuma modal cinta. Harus siap fisik, mental, finansial, iman. Kalau belum, jangan nikah dulu.”
“Wuih, paham banget kamu, Nad. Padahal nikah aja belum.”
“Ya kamu tahu kenapa aku kerja jauh dan ngekos. Aku korban keegoisan orang tua. Kaya sih, tapi kelakuannya bejat. Dua-duanya selingkuh. Yang penting hidupku terjamin. Cih. Mana sudi aku hidup begitu. Makanya tadi aku sebisa mungkin bantu temen kerja itu biar anaknya nggak bernasib sama kayak aku. Kalau aku nggak memutus rantai itu, nanti aku juga bakal gitu ke anakku. Dan aku nggak mau.”
Zaskia langsung memeluk Nadine. “Iya, sabar. Orang tua juga punya luka. Dan kita sebagai anak cuma bisa memaafkan dan memutus rantainya biar nggak ke anak kita.”
Nadine mengangguk. “Mungkin ini alasan Tuhan pertemukan kita. Sama-sama ditinggal orang yang kita sayang meski secara fisik mereka ada. Bedanya...ya kamu tahu lah.” Lalu ia teringat sesuatu. “Oh iya. Gimana rencana kamu soal agensi-agensi itu?”
Zaskia menggaruk pelipis. Masih bingung soal uang dan bagaimana menghubungi orang-orang seperti itu. Kasus hilangnya Erna sudah empat belas tahun. Kalau polisi nggak bisa nemuin...apa masih ada harapan?
“Aku nggak tahu, Nad. Kayak mau nyerah. Tapi—”
“Jangan dong.” Nadine langsung memotong. “Kamu lupa tinggal sendiri dan kerja banting tulang itu buat apa?” Ia menghela napas. “Demi kamu, aku mau ketemu papa buat nyari agensi penyelidik. Dia pengusaha. Biasanya pebisnis dikelilingi orang-orang kayak gitu. Dulu aku pernah lihat papa nyuruh orang nyari karyawan yang korupsi. Siapa tahu bisa.”
“Kamu yakin?”
“Yakin. Walau bokap bejat soal cewek, tapi dia nggak pernah nolak permintaan anaknya.”
“Tapi...” suara Zaskia menurun. “Uangku belum cukup buat bayar detektif.”
Bug.
“Awww! Ih, sakit tau, Nad!” Zaskia mengelus bahunya.
“Sengaja,” Nadine ngakak. “Nggak usah mikirin itu. Biar aku yang urus. Aku cuma mau kamu yakin kalau ibumu pasti ketemu. Hmm?”
Akhirnya Zaskia mengangguk, lalu terkekeh.
“Gara-gara cerita temenmu, aku sampai lupa mau bilang. Mulai besok, Bos kamu minta aku ngirim kue tiap pagi ke pabrik buat karyawan. Aku iyain. Menurutmu gimana, Nad?”
“Ya bagus dong.” Nadine menatap Zaskia lembut, kedua tangannya terulur mengelus bahu sahabatnya. “Kamu jadi punya penghasilan tetap. Dan aku bisa makan kue gratis buatanmu yang lezat itu.” Tawa Nadine pecah.
“Ih kok malah ketawa. Aku tuh sebenarnya merasa… kayak ada yang aneh sama Bos kamu.”
“Aneh? Maksudnya apa?” Ekspresi Nadine langsung bingung.
“Nggak tau...susah jelasinnya. Aku cuma agak nggak nyaman kalau ngobrol sama dia.”
“Udah ih, jangan mikir yang macem-macem. Pak Irwan baik kok. Beliau memang perhatian sama semua karyawannya. Jadi kalau kamu merasa diperhatiin, itu wajar. Kamu kan partnernya sekarang.”
Perkataan Nadine membuat dada Zaskia sedikit lega. Rasa takut yang tadi sempat timbul pun berkurang.
“Iya deh. Aku harus berterima kasih gimana lagi sama kamu, Nad. Kenapa kamu terus sih yang selalu bantu aku?” ucap Zaskia, sedikit nggak enak.
Mata Nadine membulat malas. “Mulai… mulai deh. Kayak ngomong sama tetangga ajah.”
“Eh, tapi aku punya permintaan sama kamu.”
Satu alis Nadine terangkat. “Apa?”
“Kamu tinggal sama aku, ya? Nggak usah ngekos. Kan aku bakal sering ke pabrik itu. Daripada kamu bolak-balik jemput… mending di sini aja. Mau, ya?”
“Em… gimana ya…” Nadine menatap Zaskia yang tampak penuh harap. “Enggak ah. Aku udah bayar setahun. Uangnya nanti hangus.”
Harapan Zaskia langsung merosot. “Ih, ya udah. Aku juga nggak mau nerima bantuan kamu soal detektif itu.” Ia melengos, kesal.
Nadine menghela napas berat. Ia tahu ia tak seharusnya menolak permintaan tulus sahabatnya. Lagipula ada untungnya juga tinggal bersama Zaskia—rumahnya nggak akan terasa sepi saat pulang kerja.
“Ya, ya deh. Aku mau.”
“Yee...” Zaskia langsung memeluk Nadine. Mereka saling merangkul, berbagi kehangatan, sebelum akhirnya memutuskan untuk istirahat menyambut pagi yang baru.
****************
Sementara itu, di sebuah ruangan khusus di rumahnya yang mewah. Cahaya redup dan aroma citrus memenuhi ruang, memberi kesan segar sekaligus membuat fokus. Di sanalah Irwan, empat puluh lima tahun, mendengarkan seluruh percakapan Zaskia dan Nadine.
Jack, aspri sekaligus tangan kanannya, dengan rencananya, berhasil memasang alat penyadap di rumah itu. Memudahkan Irwan mengetahui setiap detail tentang Zaskia—gadis yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.
Hanya Irwan yang tahu, apa tujuannya, dan kenapa ia begitu mengincar gadis itu.
Percakapan berhenti, suara mereka hilang. Irwan mengambil ponsel dan menelepon Jack.
“Halo, Jack. Besok setelah Zaskia nganter kue, kamu langsung ke ruangan saya. Kita bicara soal rencana selanjutnya,” perintahnya—serius dan tegas.
Zaskia telah membuat Irwan tidak sabar menunggu pagi tiba.