Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Tetap Sendirian
Sudah hampir satu bulan Hanna pulang dari Rumah Sakit. Tidak ada yang berubah, Hanna tetap saja sibuk mengurus rumah, suami dan kedua anaknya.
Seperti tidak ada waktu istirahat untuknya. Meskipun dirinya masih dalam pemulihan pasca melahirkan, tetapi Murat tidak mau atau berkeinginan menyewa ART untuk meringankan bebannya.
Pagi ini Hanna tampak lelah, dia sedang sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Murat, sedangkan anak-anak masih terlelap tidur.
Suara gesekan kursi beradu dengan lantai menyadarkan Hanna untuk segera bersiap. Murat mulai duduk sambil memainkan ponselnya.
Hanna dengan gesit menyiapkan sepiring nasi goreng dan menghidangkan untuk suaminya, tidak lupa juga dia menyajikan secangkir kopi sebagai pelengkap sarapan suaminya.
Murat meletakan ponselnya dan mulai memakan sarapannya. Tak ada kata atau pun obrolan hangat di pagi hari bagi sepasang suami istri itu.
Hanna juga mulai sibuk menyiapkan bekal untuk suaminya bawa kekantor. Meskipun Murat terkesan cuek tetapi tak bisa dipungkiri dia sangat menyukai makanan apapun yang dibuatkan oleh istrinya.
Setiap hari kerja, dia harus selalu membawa bekal yang dibuatkan oleh Hanna, karena makanan disekitar kantornya tidak ada yang cocok dengan lidahnya.
"oek..oek..oek". Suara tangis bayi memecah konsentrasi Hanna. " Zahra menangis, kau keatas saja. Biar aku yang mengemasnya". Hanna harus menahan perih di hatinya setiap hari. Karena suaminya masih kekeh memanggil bayinya dengan nama Zahra.
Ibu muda itu lalu berlari ke lantai dua. Meskipun ada rasa lelah Hanna mengabaikannya. "Oh Malika sayang, kenapa haus yah...ckckckck...anak mamah".
Biarlah suaminya memanggil bayi mereka dengan nama favoritnya tetapi Hanna akan tetap memanggil bayi kecilnya "Malika" agar hatinya tidak terlalu perih.
Tangisan kencang baby Malika ternyata membangunkan kakaknya. Keanu mengucek matanya. "Tante dedena nangis tah..". Hanna tersenyum gemas melihat Keanu.
"Hmmm... dedenya haus, kemarilah sayang". Tangan Hanna melambai untuk mengajak Keanu duduk disampingnya. Keanu takjub melihat baby Malika sedang menyusu.
"Tante ... Dedena minumna banak". Jangan heran kenapa Keanu memanggil Hanna dengan sebutan tante. Murat tidak ingin Keanu melupakan siapa ibu kandungnya oleh karena itu dia melarang keras putranya memanggil Hanna dengan sebutan "mama".
"Iya sayang, dedenya harus banyak minum, biar cepat besar". Suara lembut Hanna menanggapi bocah tampan itu. "Biar cepet besar tah tante, nanti main tama abang". Keanu menepuk dadanya dengan bangga.
"Hmmm". Hanna mengangguk. "okey, dedenya sudah kenyang sekarang abang mandi yah, biar ganteng". Hanna menggandeng tangan Keanu kekamar mandi.
Karena sibuk mengurus rumah Hanna tidak sadar waktu sudah menjelang siang hari. Dia duduk termenung di sofa. Dilihatnya Keanu yang sibuk mewarnai sambil menonton film kartun favoritnya.
Sedangkan baby cantiknya sudah dipindahkan ke dalam box diruang tv, agar dia tidak bolak balik kelantai dua.
Hanna melihat telapak tangannya yang kasar karena pekerjaan rumah tangga yang melelahkan. Tidak ada ucapan sayang atau ciuman hangat yang diberikan oleh suaminya. Atas kerja kerasnya selama ini.
"tes...tes...tes.." Air matanya keluar tanpa permisi membasahi telapak tangannya. Hanna langsung menghapus air matanya takut Keanu melihatnya.
Sore hari menjelang Magrib.
"duk...duk...duk..". Suara gedoran pintu mengagetkannya. Wanita itu terbangun dan langsung bergegas membuka pintu. " KEMANA SAJA KAMU". Wajah Murat sudah tidak bersahabat.
Sambil berjalan masuk Murat mengomelinya
" Kamu tidak dengar apa, sejak tadi Zahra menangis, suaranya terdengar sampai luar". Geramnya.
" Maaf aaaku ketiduran.." Hanna gugup karena dia memang ketiduran tadi, mungkin karena kelelahan. " Biar aku saja". dia mencoba mengambil putrinya, tetapi tangan Murat menepisnya.
"Tidak usah, lanjutkan saja tidurmu". Suara Murat masih terdengar kesal. Dia pun berlalu dan menimang nimang putrinya. " Iya anak papah yang cantik, sut...sut..sut..tenang oke, tenang ada papah".
Dengan mata berkaca kaca, Hanna lalu menyiapkan makan malam untuk mereka. Lagi lagi dia harus menekan rasa sakit dihatinya.
ternyata hari yang dijalani Hanna masih panjang, bayinya tengah malam menangis, dirinya pun harus terbangun lagi, padahal baru saja terlelap tidur.
Dengan langkah gontai dia mendekati box baby dan memeriksa kenapa babynya menangis." Oh bajumu basah lagi yah sayang, tunggu sebentar yah mamah ganti". Hanna mengambil baju baru dan pampers untuk bayinya.
Murat bukan tidak peduli pada bayinya, dia hendak bangun tadi, tetapi istrinya terlebih dulu bangun. Dia pun berbaring lagi tetapi matanya tetap awas mengikuti gerak gerik istrinya.
Murat tidak bisa tidur, kelembutan Hanna dalam mengurus bayinya mengusiknya. Hatinya jadi membandingkan Hanna dengan mendiang istrinya.
Dulu kalau baby Keanu bangun tengah malam, Zahra sama sekali tidak mau mengurusnya dia malah membangunkan suaminya, untuk menenangkan baby Keanu.
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar. " kenapa aku jadi membandingkan mereka". Batinnya. Karena kesal Murat berusaha keras memejamkan matanya.
Hanna terus saja menimang nimang baby Malika. Tetapi matanya terus menatap suaminya yang dia lihat sedang terlelap. Dia berharap Murat mau menemaninya malam ini.
Dia ingin Murat memeluknya dan menguatkannya, serta mendengarkan keluh kesahnya meskipun hanya malam ini.
Hati dan fisiknya lelah tetapi tidak ada siapa pun yang mengerti dirinya. Dia hanya ingin dimanja dan disayang sebagai seorang istri dan ibu.
Tetapi tidak ada satu pun yang mengerti kondisinya, Hanna merasa hidupnya tidak ada bedanya baik dulu maupun sekarang. Dirinya tetap sendirian.