NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Tetua Qingyun

Malam masih pekat ketika langkah berat itu berhenti di tepi desa kecil di sebuah lembah. Hujan deras telah reda, hanya menyisakan sisa tetes dari dedaunan yang jatuh berulang-ulang ke tanah basah. Kabut malam menggantung rendah, seolah hendak menutupi jejak orang asing yang baru tiba.

Tetua Qingyun menunduk, tubuhnya basah kuyup, rambut putihnya menempel di dahi. Di pelukannya, Lin Feng tidur terlelap, wajah mungilnya yang pucat kontras dengan jubah abu-abu yang basah. Meski hatinya lelah, bibir tua itu mengukir senyum tipis.

“Tidurlah, Lin Feng… malam ini kita selamat.”

***

Rumah Kepala Desa

Kepala desa, seorang pria tua dengan janggut putih tipis, memandangnya penuh curiga ketika pintu kayu berderit terbuka. Namun begitu tatapannya jatuh pada bayi dalam pelukan Qingyun, kerutan yang tampak di wajahnya perlahan melunak.

“Masuklah,” katanya akhirnya. “Api tungku masih menyala. Kau bisa menghangatkan diri di sini.”

Qingyun menunduk dalam, langkahnya pelan. Begitu masuk, kehangatan dari tungku kayu menyambutnya, membuat tubuh renta itu hampir roboh karena perbedaan suhu. Ia duduk bersila di sudut, membaringkan Lin Feng di atas kasur jerami kering. Bayi itu meringkuk, tangannya mengepal kecil.

Kepala desa menatap, lalu bertanya hati-hati.

“Orang tua, siapa kau sebenarnya? Dan bayi itu… mengapa kau membawanya menembus hujan malam?”

Tetua Qingyun terdiam lama. Sorot matanya redup, seakan menatap sesuatu jauh di luar kabut malam.

“Aku… hanyalah seorang tua yang terikat janji,” ucapnya lirih. “Janji yang tidak boleh kuingkari, meski seluruh dunia menuntut nyawaku.”

Kepala Desa yang mendengar jawaban seperti itu, segera membatalkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.

 

***

Kilas Balik – Masa Muda

Dalam keheningan malam desa itu, ingatan Tetua Qingyun perlahan menyeretnya kembali ke masa mudanya.

Dulu ia bukan siapa-siapa. Seorang anak yatim piatu yang ditemukan di tepi gunung oleh sekte besar. Tubuhnya lemah, tetapi semangatnya membara. Ia menekuni latihan lebih keras daripada siapapun, bukan demi kemuliaan, tapi demi membuktikan bahwa ia berhak hidup di dunia ini.

Suatu hari, ketika ia masih muda, ia pertama kali melihat Pedang Naga Langit.

Pedang itu diturunkan dari leluhur sekte, tersimpan dalam aula utama yang disegel. Saat cahaya matahari menembus jendela batu, pedang itu berkilau seakan menyala, memancarkan aura naga yang berdiam di dalamnya.

Semua murid terkesima, tapi bagi Qingyun muda, yang ia rasakan bukan hanya kagum—melainkan rasa takut. Aura pedang itu seakan berbisik bahwa siapapun yang mendekat tanpa layak, akan binasa.

Sejak saat itu, ia memilih jalan berbeda. Ia tidak mengejar kejayaan, tidak mengincar posisi tinggi dalam sekte. Ia memilih jalan pengabdian: menjadi penjaga, seorang yang memastikan pedang itu tidak jatuh ke tangan yang salah.

***

Murid yang Disayanginya

Waktu berlalu. Qingyun semakin tua, rambutnya memutih lebih cepat dari teman seangkatannya. Namun di usianya yang renta, ia mendapatkan seorang murid perempuan yang sangat berbakat.

Ia masih ingat hari pertama melihat gadis itu—mata cerdas, senyum bersemangat, dan tekad baja. Gadis itu kelak menjadi ibu dari Lin Feng.

“Guru,” kata gadis itu suatu hari dengan tatapan penuh api. “Aku ingin mendedikasikan hidupku untuk melindungi Pedang Naga Langit. Tidak ada hal lain yang lebih mulia dari itu.”

Qingyun tertawa kecil. “Kau bicara seperti aku dulu. Tapi kau akan sadar, tugas ini bukan kebanggaan… melainkan beban. Beban yang akan terus menghantui sampai akhir hayatmu.”

Namun murid itu tidak gentar. “Kalau begitu, aku akan memikul beban itu, sama sepertimu.”

Seiring waktu, gadis itu tumbuh semakin kuat. Ia dipercaya oleh sekte, bahkan melebihi apa yang pernah dicapai Qingyun. Dalam hatinya, Qingyun tidak pernah merasa iri. Sebaliknya, ia merasa bangga—seperti seorang ayah pada putrinya.

***

Janji yang Patah

Namun takdir kejam. Saat murid itu melahirkan Lin Feng, sekte sedang dalam kekacauan. Musuh-musuh lama muncul kembali, ingin merebut Pedang Naga Langit.

Qingyun berusaha melindungi mereka, tapi tubuhnya yang tua sudah tidak sekuat dulu. Malam itu, ia gagal. Muridnya, yang sudah seperti putri sendiri, tewas di hadapannya.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, gadis itu menggenggam tangan gurunya.

“Guru… tolong… lindungi anakku. Jangan biarkan pedang itu jatuh ke tangan mereka.”

Qingyun menggigil, menatap murid yang ia sayangi. “Aku bersumpah. Dengan hidupku, aku akan melindunginya.”

Dan malam itu, ia menepati sumpahnya—menyegel pedang, lalu membawa bayi itu lari dalam hujan badai.

***

Kembali ke Desa

Ingatan itu membuat mata tua Qingyun basah. Ia menatap Lin Feng yang tertidur pulas di kasur jerami, wajah mungilnya mirip sekali dengan ibunya.

“Lin Feng…” bisiknya lirih. “Aku sudah kehilangan ibumu. Tapi aku tidak akan kehilanganmu. Walau seluruh dunia mengejarmu, aku akan berdiri di depanmu sampai napas terakhirku.”

Kepala desa yang duduk di dekat tungku memperhatikan wajah tua itu. Ia bisa melihat jelas beban berat yang dipikul Qingyun, beban yang jauh lebih besar dari sekadar melindungi seorang bayi. Namun ia tidak bertanya lebih jauh.

***

Bayangan Musuh

Malam semakin larut. Kabut semakin tebal. Di kejauhan, samar-samar terdengar langkah kaki. Bukan langkah petani biasa—langkah itu teratur, penuh niat, menyatu dengan hawa dingin yang menusuk.

Qingyun membuka mata. Sorotnya tajam kembali. Ia tahu, mereka sudah sampai.

“Kepala desa,” katanya perlahan, “sembunyikan bayi ini. Jangan biarkan mereka menemukannya.”

Kepala desa terperanjat. “Mereka… musuhmu?”

Qingyun berdiri dengan pedang terhunus di tangannya. “Musuhku… dan musuh bayi ini. Aku akan menahan mereka.”

***

Penjaga yang Terakhir

Kabut desa bergetar ketika tiga sosok berjubah hitam muncul dari jalan setapak. Mata mereka berkilat merah, senyum kejam tersungging.

“Orang tua,” salah satu dari mereka berbicara, suaranya dingin. “Serahkan bayi itu. Kau terlalu tua untuk menjaga sesuatu yang tidak bisa kau lindungi.”

Qingyun menatap lurus. Suaranya tenang, tapi penuh tekad.

“Jika ingin menyentuhnya… langkahi mayatku lebih dulu.”

Pedang di tangannya bergerak cepat. Aura tipis, sisa dari kekuatan besar yang pernah ia miliki, bangkit sekali lagi. Meski tubuh renta itu nyaris roboh, semangatnya tak tergoyahkan.

Bagi dunia, ia hanyalah tetua rapuh.

Tapi bagi Lin Feng—ia adalah perisai terakhir.

Pertarungan pun pecah. Pedang melawan belati, aura tua melawan kekuatan muda. Setiap benturan membuat desa berguncang.

Di dalam rumah, Lin Feng menangis, tangisannya menembus malam. Bagi Tetua Qingyun, tangisan itu bukan kelemahan—melainkan alasan untuk tetap berdiri.

"Aku Qingyun… penjaga terakhir".

Selama aku bernapas, tidak ada yang boleh menyentuh pewaris Pedang Naga Langit.”

Dan malam itu, di desa kecil yang tersembunyi dalam kabut, dunia sekali lagi mendengar nama yang nyaris dilupakan: Tetua Qingyun.

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!