NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Aurora Quinn menatap wanita yang mendadak berdiri di depannya dengan perasaan bingung.

Sophia Laurent. Nama itu tentu saja tidak asing di telinganya. Hampir seluruh mahasiswa di Hudson University mengenal sosoknya. Cantik, populer, kaya raya, dan namanya selalu bertengger di dalam daftar mahasiswi paling berpengaruh di kampus.

Mencoba tetap bersikap sopan, Aurora perlahan menyambut uluran tangan wanita itu. "Hai," sapa Aurora agak canggung.

Sophia mengulas sebuah senyuman ramah. Namun di mata Aurora, senyuman itu terasa terlalu ramah hingga terkesan tidak alami.

"Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu, Aurora," ucap Sophia membuka percakapan.

Aurora mengernyitkan keningnya heran. "Maaf, kenapa kamu ingin menemuiku?" tanya Aurora.

Sophia tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar anggun namun hambar. "Oh, jangan salah paham dulu. Aku cuma penasaran saja," jawab Sophia santai.

"Penasaran?" ulang Aurora memastikan.

"Iya," sahut Sophia singkat. Mata indahnya perlahan melirik penampilan Aurora dari ujung rambut sampai ujung kaki, membuat Aurora merasa sedikit tidak nyaman karena dinilai seperti itu. "Kamu tahu, kan? Kamu sedang jadi topik hangat di seluruh penjuru kampus sekarang."

Mendengar hal itu, Aurora langsung merasa lemas dan ingin menghilang saat itu juga. "Tolong jangan ingatkan aku soal foto di forum itu lagi, Sophia," keluh Aurora pasrah.

Sophia kembali tertawa kecil. "Kamu lucu juga ya," komentar Sophia.

Aurora hanya bisa memaksakan sebuah senyuman tipis. Entah kenapa, instingnya tiba-tiba memberikan sinyal waspada bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehadiran wanita di depannya ini.

---

"Bagaimana kalau kita minum kopi sebentar? Ada yang ingin kubicarakan," Sophia tiba-tiba menawarkan.

Aurora sebenarnya ingin sekali menolak ajakan itu karena ia ingin segera pulang. Namun, menolak mentah-mentah ajakan dari orang sepopuler Sophia Laurent di tengah koridor kampus rasanya akan terlihat sangat tidak sopan.

"Baiklah," jawab Aurora akhirnya menyetujui.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah duduk berhadapan di sebuah kafe estetik yang terletak tidak jauh dari gerbang kampus. Sophia tampak begitu elegan dengan gestur tubuhnya yang tertata, sementara Aurora masih mengenakan pakaian kuliahnya yang sederhana. Setelah menghabiskan beberapa menit untuk berbasa-basi ringan, Sophia akhirnya mulai masuk ke tujuan utamanya yang sebenarnya.

"Kamu... sedang dekat dengan Alexander Kingsley?" tanya Sophia langsung sambil menatap lekat-lekat mata Aurora.

Pertanyaan frontal itu sukses membuat Aurora tersedak minuman yang baru saja diteguknya. "Nggak, nggak juga," jawab Aurora cepat setelah berhasil menguasai diri.

Sophia tersenyum tipis, seolah sedang menguji kejujuran lawan bicaranya. "Benarkah?" tanya Sophia memastikan.

Aurora mengangguk dengan cepat untuk meyakinkan wanita di depannya. "Kami cuma beberapa kali tidak sengaja bertemu dan mengobrol biasa, kok," jelas Aurora jujur.

Sophia menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sandaran kursi. "Kalau begitu baguslah," ucap Sophia dengan nada lega yang dibuat-buat.

Aurora kembali mengernyitkan alisnya bingung. "Bagus?" tanya Aurora menuntut penjelasan.

Sophia tersenyum penuh arti sebelum menjawab, "Karena Alexander itu bukan tipe pria yang cocok untuk diajak menjalin hubungan serius."

Aurora memilih untuk diam. Ia benar-benar tidak mengerti ke mana arah pembicaraan yang sedang dibangun oleh Sophia ini.

Melihat respons diam Aurora, Sophia kembali melanjutkan kalimatnya, "Kamu mungkin belum tahu banyak hal tentang dia, Aurora."

"Tahu tentang apa?" tanya Aurora terpancing.

"Alexander itu berasal dari dunia yang sangat berbeda dengan kita—terutama denganmu," ujar Sophia dengan penekanan yang halus namun menusuk.

Seketika itu juga Aurora langsung memahami maksud terselubung dari ucapan Sophia. Wanita ini sedang membicarakan kasta dan status sosial. Meskipun hatinya mulai merasa tidak nyaman, Aurora memilih untuk tetap menahan diri dan diam mendengarkan.

Sophia kembali tersenyum manis, seolah kalimat barusan bukanlah sebuah hinaan. "Jangan salah paham ya, Aurora. Aku mengatakan ini semua cuma karena aku tidak ingin kamu berharap terlalu tinggi pada pria seperti dia," ucap Sophia sok peduli.

Rasa kesal mulai merayapi dada Aurora, tetapi ia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kesopanannya. "Aku sama sekali nggak berharap apa-apa dari Mr. Kingsley, Sophia," tegas Aurora dengan nada dingin.

Sophia mengangguk puas mendengar ketegasan itu. "Bagus kalau begitu," ucap Sophia singkat, lalu ia segera berdiri dari kursinya dan merapikan tas mewahnya. "Menyenangkan sekali bisa berbicara santai denganmu hari ini, Aurora."

Aurora ikut berdiri dari kursinya sebagai bentuk formalitas. Namun, tepat sebelum Sophia membalikkan badan untuk melangkah pergi, wanita pirang itu mendadak menoleh kembali. Untuk pertama kalinya, senyuman ramah yang sejak tadi melekat di wajah cantik Sophia lenyap total, digantikan oleh sepasang mata yang menatap Aurora dengan sangat dingin dan penuh ancaman.

"Satu saran terakhir dariku," bisik Sophia dengan suara rendah.

Aurora terdiam mematung, menunggu kalimat berikutnya.

"Jangan pernah mencoba untuk terlalu dekat dengan Alexander, atau kamu sendiri yang akan terluka nantinya," ancam Sophia tajam.

Setelah menjatuhkan peringatan keras tersebut, Sophia berbalik dan berjalan pergi begitu saja meninggalkan kafe. Sementara Aurora masih berdiri terpaku di tempatnya, mencoba mencerna badai intimidasi yang baru saja ia terima.

---

Malam harinya.

Aurora sedang duduk menghadap buku-buku tebal di meja belajar apartemen kecilnya. Namun, fokusnya benar-benar pecah; pikirannya terus-menerus melayang kembali pada percakapan di kafe sore tadi. Entah kenapa, ucapan Sophia terus terngiang-ngiang dan sangat mengganggu ketenangannya.

Bzzzt... Bzzzt...

Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar nyaring. Aurora melirik layar gawainya, dan sebuah nama yang tertera di sana seketika membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tanpa ia sadari.

Alexander Kingsley

Tanpa mengulur waktu lebih lama, Aurora langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo?" sapa Aurora membuka suara.

"Kenapa suaramu terdengar lemas sekali?" tanya Alexander langsung dari ujung telepon.

Aurora mengernyitkan dahi karena terkejut dengan kepekaan pria itu. "Kamu bisa tahu kondisiku cuma dari mendengar satu kata 'halo' saja?" tanya Aurora heran.

"Tentu saja tahu, aku kan jenius," jawab Alexander percaya diri di seberang sana.

Aurora tertawa kecil mendengar kesombongan yang khas itu. "Percaya diri sekali ya, Mr. Kingsley," cibir Aurora.

Alexander terdengar tersenyum dari nada suaranya. "Jadi, katakan padaku, ada masalah apa sebenarnya?" tanya Alexander menyelidiki.

"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Aurora mencoba mengelak.

"Kamu bohong," tuduh Alexander instan.

Aurora terdiam sejenak sebelum menghela napas. "Kenapa semua orang yang kutemui hari ini selalu bilang kalau aku sedang berbohong?" keluh Aurora tanpa sadar.

Mendengar kalimat itu, Alexander langsung menangkap adanya sinyal yang tidak beres. "Tunggu dulu," potong Alexander dengan nada yang berubah serius.

"Apa?" tanya Aurora.

"Apa ada seseorang yang mengganggu atau mengatakan sesuatu yang buruk padamu hari ini?" tanya Alexander dengan nada menyelidik yang intens.

Aurora menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Haruskah ia menceritakan tentang Sophia Laurent dan peringatannya sore tadi? Setelah menimbang sejenak, Aurora memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Hubungannya dengan Alexander bahkan belum sedekat itu untuk menceritakan masalah seperti ini.

"Serius, Alex, nggak ada apa-apa yang terjadi," jawab Aurora mencoba meyakinkan.

Alexander terdengar menghela napas panjang di ujung sana. "Kamu tahu satu hal, Aurora?" tanya Alexander.

"Hm? Apa itu?" sahut Aurora.

"Kamu itu tipe orang yang sangat buruk dalam hal berbohong," tutur Alexander jujur.

Aurora tertawa mendengar penilaian itu. "Baiklah, aku akan menganggap ucapanmu itu sebagai sebuah pujian," balas Aurora jenaka.

"Itu bukan pujian, itu fakta," timpal Alexander santai.

Setelah perdebatan kecil itu, mereka berdua terdiam selama beberapa saat. Namun anehnya, keheningan di antara mereka melalui sambungan telepon ini sama sekali tidak terasa canggung. Justru sebaliknya, ada rasa nyaman yang begitu hangat yang menyelubungi hati Aurora.

"Aurora," panggil Alexander memecah keheningan dengan lembut.

"Hm? Iya?" sahut Aurora menyahut.

"Aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat pada akhir pekan ini," ajak Alexander tiba-tiba.

Seketika itu juga insting waspada Aurora kembali aktif. "Tempat apa yang kamu maksud?" tanya Aurora penuh selidik.

"Rahasia," jawab Alexander misterius.

"Kalau rahasia, aku nggak mau ikut," tolak Aurora instan.

Alexander tertawa renyah mendengar penolakan cepat itu. "Kamu bahkan belum mendengar nama tempatnya atau apa yang akan kita lakukan di sana, Aurora."

"Tetap saja aku nggak mau," tegas Aurora bersikeras.

"Kamu ini memang selalu punya kebiasaan menolak dulu baru berpikir ya?" goda Alexander sambil terkekeh pelan.

Aurora tersenyum lebar di kamarnya yang sepi. "Benar sekali tebakanmu," jawab Aurora bangga.

Alexander menggelengkan kepalanya pelan di kamarnya sendiri, kemudian ia berkata dengan nada suara yang penuh tekad, "Kalau begitu, aku akan terus mengajakmu setiap hari sampai kamu bosan dan akhirnya bilang mau pergi bersamaku."

Aurora memutar bola matanya malas, walau senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Keras kepala banget sih," gumam Aurora.

"Kamu sudah pernah mengatakan kalimat itu sebelumnya," sahut Alexander mengingatkan.

"Ya habisnya, kenyataannya kamu memang sekeras kepala itu," balas Aurora tidak mau kalah.

Alexander kembali tertawa mendengar omelan kecil itu. Dan entah sejak kapan, mendengar suara tawa renyah dari Alexander selalu berhasil membuat suasana hati Aurora yang buruk perlahan-lahan membaik. Tanpa pernah disadari oleh gadis itu, sosok Alexander Kingsley perlahan-lahan mulai menyelinap masuk dan menjadi bagian dari hari-harinya—bagian manis yang kini diam-diam mulai selalu ia tunggu kedatangannya.

---

Sementara itu, di waktu yang bersamaan.

Di dalam kamar sebuah apartemen mewah milik keluarga Laurent, suasana terasa sangat mencekam. Sophia Laurent sedang duduk tegak di depan meja kerjanya, menatap lurus ke arah layar laptop yang menyala terang.

Di layar tersebut, menampilkan foto Aurora Quinn yang dipajang bersandingan dengan foto Alexander Kingsley. Sophia mengepalkan kedua tangannya begitu erat di atas meja hingga kuku-kukunya memutih.

"Aku sudah menyukai dan mengejarnya selama dua tahun ini," desis Sophia dengan suara bergetar menahan amarah yang meluap-luap. Tatapan matanya berubah menjadi luar biasa dingin dan sarat akan kebencian saat menatap wajah Aurora di layar. "Aku nggak akan pernah membiarkan siapa pun, terutama gadis miskin seperti dia, merebut Alexander dari tanganku."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang tenang, Aurora Quinn resmi memiliki seorang musuh yang berbahaya—semuanya terjadi tanpa pernah ia sadari sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!