*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Api Cemburu???
Jarum jam di dinding sudah menunjuk ke angka empat sore lewat lima belas menit ketika Kiera akhirnya bisa menyeret kakinya keluar dari ruangan terkutuk itu. Begitu pintu kayu jati besar di belakangnya tertutup rapat dengan bunyi *klik*, Kiera langsung bersandar pada daun pintu, membiarkan tubuhnya merosot sedikit demi sedikit. Bahunya yang tegap sejak pagi kini terkulai lemas seperti sayur sawi yang layu setelah direbus.
Seluruh permintaannya hari ini—mulai dari memilah ulang klip kertas perak metalik, mencetak ulang laporan berjarak presisi dua koma satu sentimeter, hingga berburu tisu polos tanpa tekstur ke supermarket seberang gedung—akhirnya terpenuhi semua. Kiera baru bisa bernapas lega setelah sang bos tiran menyatakan ruangan dan berkasnya sudah berada dalam "kondisi higienis bin estetis" versi otaknya yang sedikit geser itu.
Kiera memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan embusan panjang yang sarat akan kepasrahan lahir batin.
"Gimana? Masih utuh jiwanya, Kiera?"
Sebuah suara bariton yang ramah diselingi kekehan kecil memecah keheningan lorong. Kiera membuka matanya dan mendapati Dani, sekretaris senior Arsenio yang mejanya berada tak jauh dari kubikalnya, sedang menatapnya penuh simpati. Dani adalah pria berkacamata dengan penampilan rapi dan pembawaan yang selalu tenang, tipe karyawan teladan yang sudah kenyang makan asam garam menghadapi kegilaan CEO mereka.
Melihat Kiera yang sudah seperti cucian basah belum diperas, Dani hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia berjalan mendekati Kiera sambil memberikan sebotol minuman cokelat dingin yang baru diambilnya dari kulkas pantri.
"Hebat kamu, ya. Rekor baru ini," ujar Dani, memberikan apresiasi setinggi-tingginya dari lubuk hati terdalam. "Biasanya asisten baru sebelum kamu, jangankan sampai jam empat sore, jam makan siang tadi pasti sudah lari ke toilet sambil nangis sesenggukan gara-gara urusan milimeter laporan."
Kiera menegakkan tubuhnya kembali, menerima botol minuman itu dengan mata berbinar tulus. "Mas Dani... sejujurnya, setengah jam yang lalu saya udah hampir khilaf mau nyumpal mulut Pak Arsen pakai sisa tisu emboss bunga, Mas. Capek mental saya bener-bener dikuras habis. Kok bisa ya ada manusia sekaku itu hidup di bumi?"
Dani tertawa renyah, menyesuaikan letak kacamata minusnya. "Kuncinya cuma satu, Kiera: anggap saja Pak Arsen itu anak balita gila hormat yang lagi tantrum, tapi kebetulan badannya tinggi tegap dan punya banyak duit. Kalau dia mulai ngamuk soal tisu atau klip kertas, iya-iyain aja dulu, kerjain sambil maki-maki dia dalam hati, abis itu lupakan."
Kiera tertegun, lalu tertawa lepas. Kedekatan instan karena nasib yang sama-sama menderita sebagai bawahan Arsenio membuat Kiera merasa sangat lega. Senyum cantiknya mengembang lebar, tulus tanpa kepura-puraan. Dani pun ikut tersenyum ramah, sesekali menepuk bahu Kiera pelan untuk memberikan semangat.
---
Sementara itu, di dalam ruangan kerja utama yang kedap suara, Arsenio sebenarnya sedang berdiri di balik dinding kaca dekat pintu. Berniat untuk keluar ruangan demi memeriksa apakah asisten barunya sudah pulang atau belum, langkah tegap Arsenio mendadak terkunci di tempat.
Sepasang mata tajamnya menyipit sempurna. Melalui celah kaca, ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Kiera sedang asyik mengobrol dengan Dani. Dan yang paling membuat darah Arsenio mendadak mendidih adalah senyuman Kiera. Gadis ugal-ugalan itu tertawa lepas hingga matanya menyipit jenaka—sebuah pemandangan manis yang sama sekali belum pernah Kiera tunjukkan di hadapannya sejak kemarin.
Arsenio melihat bagaimana tangan Dani mendarat di bahu Kiera untuk memberikan semangat, dan bagaimana Kiera menerima botol minum dari Dani dengan wajah yang begitu ceria.
Detik itu juga, ada rasa tidak suka yang teramat sangat menyergap dada Arsenio. Hatinya mendadak terasa panas. Panas dan terbakar oleh rasa kesal yang luar biasa, seolah-olah ada aset berharganya yang sedang diutak-atik oleh karyawan sendiri tanpa izin.
*“Bisa-bisanya dia tertawa selebar itu dengan laki-laki lain?! Di depan saya mukanya ditekuk-tekuk seperti keset, tapi di depan Dani dia senyum sampai matanya hilang?! Kurang ajar,”* maki Arsenio berang di dalam hatinya. Ego raksasanya meronta-meronta tidak terima. Ia merasa sangat tersinggung karena tidak bisa mendapatkan ekspresi seramah itu dari asisten pribadinya sendiri.
Tanpa sadar, cangkir porselen kosong di tangan Arsenio diremasnya dengan sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa kesal yang tidak beralasan itu membuat napasnya memburu.
Tidak tahan lagi melihat pemandangan "akrab" di luar yang merusak pemandangan matanya, Arsenio langsung berbalik dengan langkah menghentak kasar. Ia menyambar interkom di mejanya, menekannya dengan tenaga penuh seolah ingin menghancurkan tombol tersebut.
*BZZZZT!*
"Kiera! Masuk ke ruangan saya sekarang!" suara bariton Arsenio menggema lewat speaker luar dengan nada yang jauh lebih galak, dingin, dan menuntut daripada biasanya. "Ini kenapa pulpen di meja saya letaknya miring tiga derajat dari garis busur?! Masuk dan benahi sekarang juga!"
Di luar ruangan, tawa Kiera dan Dani langsung terhenti seketika. Kiera menghela napas dalam-dalam, sementara Dani memberikan tatapan 'selamat berjuang di medan perang' yang paling prihatin.
*“Tuh kan, setannya kumat lagi,”* umpat Kiera habis-habisan dalam hati di balik wajah cantiknya yang kembali ditekuk datar. Ia menyerahkan botol minumnya pada Dani, lalu melangkah kembali menuju pintu ruangan sang iblis dengan mental yang sudah siap bertempur untuk ronde kedua.