NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Lembaran Baru

...

Keheningan yang merayap di ruang tamu mewah itu terasa begitu pekat setelah Pak Anwar menyelesaikan kalimatnya. Kata verstek dan penolakan mutlak dari Pamela seolah menjadi hantaman palu gada yang menghancurkan dinding keangkuhan Zidan hingga berkeping-keping.

Zidan menatap map transparan di tangan pengacaranya dengan pandangan tak percaya. Rahangnya mengencang, urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak emosi yang mendidih di dalam dada. Sifat narsisnya menolak menerima kenyataan ini. Bagaimana bisa seorang Pamela perempuan miskin yang dulu dia nikahi tanpa restu penuh karena status sosialnya yang rendah kini membuangnya begitu saja seperti sampah yang tidak berharga? Tanpa meminta harta gono-gini, tanpa memperebutkan hak asuh anak, bahkan menolak untuk melihat wajahnya lagi.

"Tandatangani saja, Zidan! Baguslah kalau dia tahu diri dan gak minta harta kita sepeser pun!" celetuk Mama memecah kesunyian, mencoba menyembunyikan rasa keterkejutan batinnya di balik suara sengit yang dipaksakan. "Perempuan kampung begitu memang gak pantas pegang uang keluarga kita. Biar dia rasakan hidup melarat di luar sana!"

"Iya, Kak. Tandatangan aja sekarang. Biar cepat selesai urusannya dan Kak Karina bisa resmi jadi istri Kak Zidan. Keysha juga capek setiap hari denger keributan gak jelas begini," timpal Keysha sambil melirik sinis ke arah map di tangan Pak Anwar.

Namun, berbeda dengan ibu dan adiknya, Zidan justru merasakan cengkeraman dingin yang meremas jantungnya. Dia tidak langsung menyambar pena. Matanya yang tajam menatap Pak Anwar. "Di mana Pamela sekarang? Di mana dia menandatangani berkas-berkas ini?"

Pak Anwar menghela napas pendek, menunjukkan raut wajah yang kaku. "Sesuai dengan kode etik dan permintaan tegas dari klien rekan saya, keberadaan Nyonya Pamela saat ini dirahasiakan, Pak Zidan. Beliau sudah memutus semua akses komunikasi. Segala hal yang berkaitan dengan perceraian ini sepenuhnya didelegasikan kepada kuasa hukumnya."

"Sialan!" umpat Zidan kasar. Dia merebut map transparan itu dari tangan Pak Anwar dengan sentakan penuh emosi, membuat kertas-kertas di dalamnya bergemisik nyaring.

Matanya memindai lembar demi lembar dokumen hukum tersebut. Di lembar terakhir, di atas materai, tertera tanda tangan Pamela yang digoreskan dengan tinta hitam. Tanda tangan yang tampak tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Tidak ada jejak air mata atau getaran ragu yang biasa Zidan lihat ketika Pamela sedang ketakutan. Kali ini, goresan pena itu seperti sebuah pernyataan perang yang sunyi namun mematikan terhadap ego narsis Zidan.

Karina berjalan mendekati Zidan, mencoba menggelayutkan tangannya di lengan pria itu dengan manja, meski batinnya sendiri sebenarnya diliputi rasa cemas melihat reaksi Zidan yang di luar dugaannya. "Sayang... kamu kenapa sih? Bukannya ini yang kamu mau? Kita bisa nikah secepatnya tanpa ada gangguan dari perempuan itu lagi. Pikirin anak di dalam kandungan aku, Sayang..."

Zidan menepis tangan Karina dengan dingin, membuat wanita itu tersentak mundur dengan wajah merona merah karena malu di depan pengacara keluarga. "Jangan atur saya, Karina. Keluar kamu semua. Saya mau bicara berdua saja dengan Pak Anwar."

Mama yang melihat kilat kemarahan yang pekat di mata anak laki-lakinya segera menarik lengan Keysha dan memberi isyarat pada Karina untuk ikut mundur ke ruang tengah. Mereka tahu, jika Zidan sudah berada di puncak emosinya yang dingin, tidak ada satu pun dari mereka yang aman dari kekerasan verbalnya.

Setelah ruang tamu kembali sepi, Zidan mengempaskan tubuhnya ke sofa beludru. Dia melempar dokumen cerai itu ke atas meja kaca. "Pak Anwar, saya tidak akan menandatangani surat ini sekarang. Tunda prosesnya. Cari tahu di mana perempuan itu bersembunyi."

Pak Anwar menatap kliennya dengan pandangan prihatin yang disembunyikan dengan baik. "Pak Zidan, secara hukum, jika Anda menolak menandatanganinya sekarang, sidang tetap akan berjalan. Dan jika Anda tidak hadir setelah tiga kali pemanggilan resmi, hakim akan menjatuhkan putusan secara verstek. Hasilnya akan tetap sama: perceraian Anda akan disahkan. Nyonya Pamela tampaknya sudah sangat paham dengan konsekuensi ini, makanya beliau berani melepaskan segalanya demi kecepatan proses hukum."

Zidan mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. rasa penyesalan dan frustrasi yang belum pernah dia kenal sebelumnya kini mulai merayap naik, membakar dadanya dengan rasa sesak yang teramat sangat. "Dia pikir dia bisa lari dariku? Setelah mengacaukan rumah ini, dia mau pergi begitu saja menikmati kebebasannya? Gak akan saya biarkan, Pak Anwar. Gak akan pernah."

...

Sementara itu, di rumah panggung kayu di tepi pantai, suasana pagi terasa begitu damai dan kontras. Pamela baru saja menyelesaikan sarapan paginya bersama Mbok Darmi di teras rumah. Angin laut bertiup lembut, memainkan ujung-ujung rambutnya yang kini dibiarkan terurai bebas tanpa beban.

Setelah Mbok Darmi pamit pulang ke rumahnya, Pamela masuk ke dalam kamar. Dia membuka sebuah tas kain kecil yang dia bawa dari kota. Di dalamnya, tidak ada perhiasan emas berlian, tidak ada baju-baju bermerek mahal. Hanya ada beberapa lembar pakaian sehari-hari, sebuah buku tabungan atas namanya sendiri yang berisi uang hasil jerih payahnya berjualan kue kering secara sembunyi-sembunyi dua tahun lalu, dan sebuah ponsel lama yang kartunya sudah dia patahkan dan ganti dengan nomor baru.

Pamela mengambil ponsel tersebut, menyalakannya, lalu menatap layar yang bersih dari notifikasi keluarga Zidan. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Selama tujuh tahun, setiap kali ponselnya berdering, jantungnya akan berdegup kencang karena ketakutan takut mendengar makian Mama karena ada sudut rumah yang kurang bersih, takut mendengar omelan Keysha yang meminta uang saku tambahan, atau yang paling menakutkan, mendengar suara dingin Zidan yang memerintahkannya dengan nada merendahkan.

Sekarang, gawai itu begitu tenang. Sehangat sinar mentari pagi yang menerobos masuk lewat celah jendela kayu.

Pamela melangkah menuju sebuah cermin rias tua berkaki kayu yang ada di sudut kamar. Dia berdiri mematung di depannya, menatap bayangan dirinya sendiri. Garis-garis kelelahan di bawah matanya masih ada, sisa luka batin dari kata-kata kejam yang dia terima selama bertahun-tahun tidak mungkin hilang dalam hitungan hari. Namun, ada sesuatu yang berbeda di dalam binar matanya. Kilau kepatuhan yang buta dan rasa takut yang biasa mendominasi wajahnya kini telah digantikan oleh sebersit ketegasan yang dingin.

Dia menyentuh permukaan kaca cermin, tepat di bayangan keningnya sendiri. "Kamu sudah bebas, Pamela. Jangan pernah biarkan mereka menyentuh hidupmu lagi," bisiknya pada diri sendiri dengan suara yang stabil dan penuh keyakinan.

Dia tahu, Zidan dengan sifat narsis dan ego tingginya pasti sedang mengamuk di kota sana. Pria itu pasti merasa terhina karena diceraikan terlebih dahulu oleh seorang wanita yang selalu dia anggap sebagai pajangan murah di rumahnya. Namun, Pamela tidak peduli lagi. Biarlah pria itu tenggelam bersama dengan kemewahan rumahnya yang kosong, bersama ibu dan adiknya yang parasit, serta selingkuhannya yang manja. Pamela sudah selesai dengan babak penuh penderitaan itu. Hari ini, di rumah kayu yang sederhana ini, dia resmi memulai lembaran baru hidupnya sendiri.

...

Kembali ke kota, jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Zidan terpaksa pergi ke kantor untuk menghadiri rapat penting dengan investor asing, meskipun pikirannya sama sekali tidak berada di ruang rapat. Sepanjang presentasi berlangsung, matanya berulang kali melirik ke arah ponselnya, berharap ada laporan dari orang-orang suruhannya tentang keberadaan Pamela. Namun, nihil. Perempuan itu seolah lenyap ditelan bumi setelah keluar dari kantor pengacara pagi tadi.

Setelah rapat selesai dengan hasil yang kurang memuaskan karena fokus sang CEO yang buyar, Zidan kembali ke ruang kerjanya dengan langkah gusar. Dia mengempaskan tubuhnya ke kursi kerja, mengabaikan tumpukan berkas yang menuntut tanda tangannya.

Pintu ruangannya diketuk, dan Tulus, sekretaris pribadinya, masuk dengan wajah yang tampak ragu-ragu. "Maaf, Pak Zidan... ada telepon dari rumah. Nyonya Besar meminta Bapak segera pulang karena... karena Tuan Besar tiba-tiba pingsan di kamar setelah menolak makan siang."

Zidan langsung bangkit berdiri dari kursinya hingga kursi kulit itu terdorong ke belakang dan menabrak dinding dengan keras. "Apa kamu bilang?! Papa pingsan?!"

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari sekretarisnya, Zidan menyambar kunci mobilnya di atas meja dan berlari keluar dari ruang kerja dengan langkah lebar, mengabaikan seluruh tatapan bingung dari para karyawannya di koridor kantor.

Rasa panik yang bercampur dengan emosi yang tertahan sejak pagi membuat Zidan mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kepalanya, kekacauan di rumahnya seolah menjelma menjadi gulungan ombak hitam yang siap menenggelamkan seluruh kehidupan mewahnya. Satu per satu, tiang penyangga kenyamanan keluarganya mulai runtuh, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Zidan merasa benar-benar tidak berdaya menghadapi badai yang dia ciptakan sendiri akibat kesombongannya.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!