NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. ROSALINDA AY AMOR

"Rosalinda ay amor, apa kamu baik-baik saja? Saya dengar kamu mengalami kecelakaan tiga hari lalu..."

Erina mau tak mau mendongak dari pekerjaannya saat Derek Sakti, direktur PT. Dasim Sakti-- perusahaan tempatnya bekerja, berdiri di depan mejanya sembari tersenyum kelewat ramah.

Jantung Erina spontan mencelos. Ia diam-diam mengutuki diri sendiri karena lupa memantau pergerakan bos besarnya kali ini. Sebisa mungkin, Erina tak ingin berurusan atau berhadapan dengannya, apalagi hanya berdua--seperti di ruangan Marketing yang sepi ini sekarang. Dan itu bukan tanpa alasan.

"Ya, saya memang sempat diserempet motor, Pak, tapi saya baik-baik saja... karena itu, sejak kemarin saya bisa kembali bekerja...," Erina memaksakan senyum, yang membuat sepasang netra kecil Derek makin berkilat.

Derek tanpa ragu mendekat dan memegang lengan Erina yang terbalut perban.

"Astaga... bagaimana kamu bisa sampai diserempet begitu?" Ekspresi lelaki berwajah bundar, bertubuh tambun, berkulit pucat dan berbintik cokelat itu melembut, seakan prihatin. "Lihat ini... lenganmu sampai lecet begini... pasti sakit ya?"

Jujur Erina risih saat Derek berdiri di dekatnya seperti ini--terlalu dekat--dan bahkan menyentuhnya. Ia pun menggeliat pelan, berusaha dengan sopan melepaskan diri.

"Nggak begitu sakit kok, Pak... Dokter sudah memberi saya obat anti nyeri, jadi saya baik-baik saja sekarang..."

"Ooh, begitu. Syukurlah. Lain kali jangan sampai terluka lagi, Rosalinda. Untung cuma lengan yang lecet. Kalau sampai wajah cantikmu yang luka kan sayang..."

Jemari gemuk Derek dengan lancang membelai pipi Erina dan menyelipkan helai-helai rambut hitam panjangnya ke belakang telinga.

"P-Pak... maaf, tapi tolong jangan seperti ini...," pinta Erina jengah. Ia kini terang-terangan menghindar, tetapi kursinya malah membentur tembok karena mejanya terletak di sudut ruangan Marketing.

Derek yang terkenal suka merayu pegawai wanita cantik setiap ada kesempatan dan memanggil mereka dengan nama-nama tokoh telenovela jadul favoritnya, malah semakin mepet dan kini membungkuk hingga wajahnya tepat berada di depan wajah Erina.

"Ada sesuatu di wajahmu, Rosalinda... apa itu juga luka? Coba saya lihat..."

"Pak...!" Erina berusaha memalingkan muka dan memekik panik, nyaris histeris.

"PAK DEREK!"

Gelegar suara tak asing itu membuat jantung siapa saja yang mendengarnya seketika melompat tinggi, bahkan debu di plafon pun ikutan rontok.

"Pak Alvin?!"

Derek menegakkan punggung, kaget sekaligus jengkel. Tetapi ekspresinya langsung berubah kaku saat melihat Alvin berdiri dengan tatapan setajam pedang dan raut muka yang sangat garang--seperti hendak merebus orang hidup-hidup.

"Pak Alvin...?"

Erina terkejut dan mencicit lemah. Ketika Alvin menatap Erina, wajahnya seketika berubah.

"Bu Erina," balasnya pelan. "Apa Ibu baik-baik saja?"

Erina menelan ludah dan mengangguk.

"Pak Alvin... sudah membaik, ya? Saya kira hari ini masih izin kerja karena masih harus dirawat di rumah sakit... ternyata malah masuk kantor terlambat?"

Derek menegur sekaligus menyindir Alvin, seakan Alvin yang bertingkah memalukan, bukan dirinya.

"Saya sudah diizinkan keluar siang ini. Makanya saya langsung meluncur ke sini. Saya juga sudah memberitahu Anda lewat pesan WA--Anda tak membacanya?" tukas Alvin dingin.

"Oh, itu... saya belum sempat buka HP. Maklum sibuk," sahut Derek ogah-ogahan.

"Sibuk mengganggu anak buah saya, maksud Anda?" tegur Alvin tajam dan tanpa tedeng aling-aling. "Apa yang Anda lakukan pada Bu Erina?"

"Bu Erina juga anak buah saya! Dia habis mengalami kecelakaan--saya hanya ingin mengecek apa kondisinya baik-baik saja," tukas Derek lantang, tanpa merasa bersalah sama sekali.

"Memangnya Anda Dokter?" Alvin memandang Derek sinis. "Yang saya lihat Anda lancang mendekati dan menyentuhnya hingga membuatnya tak nyaman. Tolong jangan lakukan itu lagi jika Anda tak mau dilaporkan ke polisi karena tuduhan pelecehan!"

Netra Derek membesar. Wajahnya seolah-olah terbakar.

"Kamu berani menantang saya?!" bentaknya.

"Saya memperingatkan Anda--demi kebaikan Anda--bukan menantang," tegas Alvin. "Jangan lakukan hal yang melanggar batasan dan hukum jika tak ingin dipenjara. Sederhana, kan?"

"Lancang!" geram Derek. "Kalau bukan karena Dasim yang membawamu dan mengangkatmu sebagai Manajer di sini, sudah saya pecat kamu--"

Alvin tertawa keras.

"Syukurlah Anda masih ingat itu--tak ada yang bisa memecat saya selain Tuan Dasim, pemilik perusahaan ini. Jadi, sebaiknya Anda hati-hati menjaga sikap--selama saya ada di sini, sekali lagi hal seperti ini terjadi, saya tak akan segan melaporkan Anda ke polisi! Camkan itu!"

Derek kentara sangat naik darah. Tetapi ia memutuskan tak memperpanjang masalah dan kembali ke ruangannya, sembari melampiaskan emosi dengan menyumpah-nyumpah.

"Kamu sungguh tak apa-apa, Rin?"

Pertanyaan Alvin sebenarnya tak hanya merujuk pada psikis Erina, tetapi juga fisiknya. Namun Erina lebih fokus pada cara Alvin memanggilnya--hanya dengan nama, tanpa embel-embel "Bu" seperti jika ada orang lain di sekitar mereka.

"Saya baik-baik saja, terima kasih," sahut Erina cepat--dan dengan cepat juga ia kembali menekuni pekerjaan, sekaligus membuat batasan. "Saya senang Anda sudah sehat. Selamat datang kembali. Jika perlu bantuan mengenai data atau laporan Marketing, silakan panggil saya, akan saya bantu."

Alvin menatap Erina sejenak, jelas menyadari perubahan sikapnya juga yang seolah ingin menciptakan jarak.

"Ya... saya butuh bantuan kamu. Bisa ke ruangan saya, sekarang?"

Jantung Erina kembali mencelos--meski kali ini dengan alasan berbeda.

Kenapa makhluk-makhluk berjakun dan berbatang seperti pisang ini suka bikin masalah dalam hidupku, sih...? Erina menggerutu dalam hati.

"Baik, Pak..."

Mau tak mau Erina bangkit dari kursinya dan mengikuti Alvin memasuki ruangan kerjanya.

"Silakan duduk," kata Alvin seraya menunjuk salah satu kursi di depan mejanya sendiri.

"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Erina tanpa basa-basi seraya mengenyakkan diri di kursi--dalam hati berharap percakapan kali ini cepat selesai.

"Erina... kenapa kamu tidak kembali ke rumah sakit?"

Erina mengerjap, keningnya berkerut.

"Maksud Bapak...?"

"Bukannya kamu harus menjalani MRI? Kenapa sampai sekarang belum kamu lakukan juga?" tanya Alvin, pelan dan mengena.

Erina terkejut. Bagaimana dia bisa tahu?

"Harum yang memberitahu Bapak, ya...?" terka Erina kesal. "Saya baik-baik saja. Sangat sehat. Bahkan saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk, bisa masak katering, jadi--"

"Erina," tegur Alvin. "Kamu tidak baik-baik saja. Ada tumor di otakmu. Apa kamu mau pelihara itu sampai tumbuh sebesar bayi terus berharap akan keluar sendiri lewat hidungmu?"

Erina membeku saking kagetnya. Seharusnya tak ada yang tahu mengenai "bakso" di kepalanya--kecuali dia, dokter, dan Tuhan Yang Maha Esa.

"B-bagaimana Bapak bisa...?" tanya Erina gagap.

"Tahu saja," sahut Alvin, ekspresi dan tatapannya menajam sekarang. "Saya tidak tahu kenapa kamu bersikap begitu keras kepala... tapi saya tak mau kondisi seserius ini berubah jadi lebih buruk. Kamu harus kembali ke rumah sakit, sekarang."

"Tidak."

Alvin membelalak ketika Erina menggeleng tegas.

"Erina..."

"Saya tak mau," tolak Erina. "Sudah saya katakan, saya sehat dan baik-baik saja. Apa ada lagi yang ingin Bapak bicarakan--seputar pekerjaan? Kalau tidak ada lagi, saya permisi!"

Erina bangkit dengan cepat dan sudah hampir melakukan jurus kaki seribu andalannya, namun Alvin juga sudah bangkit secepat kilat dan mencegahnya dengan memegang lengannya yang tidak terluka.

"Saya sudah pernah bilang, kan, saya tak mau ada hal buruk menimpa anak buah saya! Kalau terjadi apa-apa, sayalah yang akan dimintai pertanggungjawaban! Kamu tuli atau pikun?!"

Itu pertama kalinya Alvin marah dan melontarkan kata yang agak kasar--sebab ia sangat jengkel dengan sifat batu Erina yang tak masuk akal dan membahayakan nyawa.

Terus terang itu bukan pertama kalinya Erina dimarahi atasan, tetapi tetap saja ia tak bisa menyembunyikan kaget, bahkan terguncang--sebab Alvin yang biasanya hangat dan ramah, ternyata juga bisa kasar ketika marah.

"Berhenti bersikap bodoh dan ikut saya ke rumah sakit--sekarang!"

"Tidak... Pak, saya mohon, jangan!"

Erina bertahan mati-matian, bahkan sampai menjerit dan meneteskan air mata.

"Erina!"

"Tidak! Saya tidak mau! Lepaskan saya!"

Tiba-tiba pintu ruangan menjeblak terbuka--seseorang dengan lekas masuk dan menegur marah.

"PAK ALVIN! JANGAN KURANG AJAR--LEPASKAN ROSALINDA!"

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!