"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 11
“Aku mau kita pisah dulu.”
Kalimat singkat itu membuat Ervin terpaku di tempatnya. Tatapannya lurus pada layar ponsel, seolah berharap tulisan tersebut berubah dengan sendirinya.
Namun tidak, pesan itu tetap sama. Dikirim langsung oleh istrinya—oleh Dinda. Wanita yang selama empat tahun selalu berada di sisinya.
Napas Ervin memburu. Tangannya gemetar hebat saat kembali mencoba menghubungi nomor sang istri. Satu kali, dua kali, tiga kali. Semuanya tak dijawab.
“Angkat, Din ... please,” lirihnya frustasi.
Panggilan itu kembali mati begitu saja. Saat itu juga, Ervin langsung bangkit dari sofa. Tanpa peduli penampilannya yang berantakan, pria itu mengambil kunci mobil dan dompetnya dengan terburu-buru.
Reno yang sejak tadi memperhatikannya, langsung mengernyit heran.
“Lo mau kemana?” Reno terkejut.
“Aku harus ketemu Dinda.”
Tanpa menunggu respon sahabatnya, Ervin bergegas keluar rumah. Pintu mobil dibanting cukup keras, lalu beberapa detik kemudian kendaraan itu melaju membelah jalanan malam yang mulai sepi.
Sepanjang perjalanan, pikiran Ervin benar-benar kacau. Ia takut—sangat takut. Bukan takut karena perselingkuhannya terbongkar. Bukan juga takut pada cacian orang lain.
Melainkan takut kehilangan Dinda untuk selamanya. Pria itu baru menyadari satu hal sekarang. Rumah yang ia bangun selama ini, ternyata bertumpu sepenuhnya pada wanita bernama Dinda.
Dan bodohnya, ia sendiri yang menghancurkannya.
****
Sedangkan di rumah orang tuanya, Dinda masih terduduk diam di atas ranjang. Ponselnya tergeletak di samping bantal dengan layar yang terus menyala akibat panggilan masuk dari Ervin.
Namun wanita itu tak berniat mengangkatnya. Bahkan mendengar nada deringnya saja, sudah membuat dada Dinda terasa nyeri.
“Masih nelepon?” tanya ibunya yang baru saja masuk sambil membawa segelas susu hangat.
Dinda mengangguk pelan.
“Nggak usah dipikirin dulu. Minum ini,” tutur sang ibu lembut sembari duduk di samping putrinya.
Untuk sesaat, Dinda hanya memandangi gelas di tangannya. Matanya kembali terasa panas.
“Buk ...” lirihnya pelan.
“Iya, Nak?”
“Aku gagal jadi istri, ya?”
Deg.
Wanita paruh baya itu langsung menatap putrinya tak percaya.
“Jangan ngomong begitu.”
“Tapi kenyataannya memang begitu.” Senyum pahit terukir di bibir Dinda. “Kalau aku cukup buat Mas Ervin, dia nggak mungkin nyari perempuan lain.”
Seketika sang ibu menggenggam tangan putrinya erat.
“Perselingkuhan itu pilihan, bukan kesalahan pasangan,” tegasnya. “Kamu jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Air mata Dinda jatuh lagi.
“Aku capek, Buk ...” Ucapan itu terdengar begitu rapuh.
Sang ibu langsung memeluk tubuh putrinya erat-erat. Hatinya terasa hancur melihat Dinda yang biasanya ceria, kini terlihat seperti kehilangan arah hidup.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara pagar rumah diketuk dari luar, membuat ketiganya langsung terdiam. Tak lama kemudian, sang ayah masuk ke kamar dengan wajah serius.
“Ervin datang.”
Tubuh Dinda langsung menegang. Sedangkan ibunya mengusap punggung putrinya pelan. “Mau ketemu?”
Untuk beberapa saat, Dinda hanya diam memandang lantai. Jujur saja, ia belum siap melihat wajah suaminya lagi. Namun di sisi lain, ada banyak hal yang masih mengganjal di hatinya.
“Aku keluar bentar,” putusnya akhirnya.
Ervin berdiri gelisah di teras rumah mertuanya. Rambutnya sedikit basah terkena embun malam, sementara wajahnya terlihat sangat kacau.
Begitu pintu rumah terbuka dan Dinda muncul di hadapannya, napas pria itu seketika tertahan. Wanita itu terlihat jauh lebih pucat dari biasanya, matanya sembab.
Dan itu cukup membuat hati Ervin terasa diremas kuat-kuat.
“Din ...” Suara pria itu terdengar parau. Namun Dinda hanya berdiri dengan tatapan datarnya.
“Ada apa?” Kalimat formal itu sukses membuat Ervin semakin sesak.
Biasanya Dinda akan menyambutnya dengan lembut. Menanyakan apakah dirinya sudah makan atau belum. Namun sekarang—tatapan wanita itu terasa begitu jauh.
“Aku mau ngajak kamu pulang,” lirih Ervin pelan.
Dinda tertawa kecil—tawa yang terdengar sangat hambar. “Pulang kemana?”
“Ke rumah kita..." jawab Ervin yang kemudian menunduk. Ia sangat menyesal.
“Rumah kita?” ulang Dinda dengan mata berkaca-kaca. “Mas masih berani nyebut itu rumah kita?” Ervin langsung terdiam.
“Rumah itu udah hancur sejak Mas pilih tidur sama perempuan lain,” lanjut Dinda dengan suara bergetar.
“Din, aku tahu aku salah.”
“Bukan salah lagi, Mas.” Air mata mulai mengalir di pipi wanita itu. “Kamu udah hancurin rumah tangga kita."
Deg.
Ervin menundukkan kepalanya lemah. Semua ucapan Dinda terasa seperti pisau yang menusuk tepat di dadanya. Namun ia sadar, dirinya pantas menerima semuanya.
“Aku nggak pernah berniat nyakitin kamu,” lirih suaminya berucap pelan.
“Lucu banget.” Dinda tersenyum miris. “Kalau nggak niat, kenapa kamu lakukan?” Hening, tak ada jawaban.
Karena memang tak ada satupun alasan yang bisa membenarkan perselingkuhan tersebut.
“Aku khilaf ...”
“Khilaf?” Dinda menatap tajam wajah suaminya. “Orang khilaf itu sekali, Mas. Bukan sampai punya anak.”
Kalimat itu sukses membuat Ervin membeku. Sementara Dinda, mulai menghapus air matanya kasar.
“Setiap malam aku nangis mikirin kenapa kita belum punya anak,” lirih wanita itu. “Sedangkan kamu malah bikin anak sama perempuan lain.”
“Dinda ...”
“Aku bahkan nyalahin diriku sendiri selama ini.” Tangisnya pecah semakin deras. “Aku pikir aku kurang sebagai istri.”
Tanpa sadar, Ervin langsung mendekat dan menggenggam kedua tangan istrinya. “Kamu nggak pernah kurang.” Ervin menggeleng kuat. Ia tak setuju dengan pernyataan istrinya.
“Kalau aku nggak kurang, kenapa kamu selingkuh?!” Bentakan Dinda membuat suasana mendadak hening.
Untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka, wanita itu benar-benar meluapkan emosinya. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar.
Sedangkan Ervin hanya mampu diam dengan mata memerah.
“Aku tahu kamu marah.” Suaranya terdengar lirih sekarang. “Tapi aku mohon jangan tinggalin aku.”
Dinda langsung menatap nanar wajah pria di hadapannya.
“Mas sadar nggak?” bisiknya pelan. “Yang aku butuhin sekarang bukan suami yang nangis nyesel.”
“Lalu... apa?” tanya Ervin putus asa.
“Aku butuh waktu buat nenangin diriku sendiri.” Hening kembali menyelimuti keduanya. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana dingin yang terasa menusuk.
“Kalau aku nggak datang malam ini, kamu benar-benar mau ninggalin aku?” tanya Ervin lirih.
Dinda memejamkan matanya beberapa detik.
“Aku nggak tahu.” Jawaban itu terasa seperti hukuman paling menyakitkan bagi Ervin. Karena artinya—Dinda sudah mulai ragu mempertahankan dirinya.
“Aku bakal berubah,” ucap Ervin cepat. “Aku bakal perbaiki semuanya.” Namun Dinda justru menggeleng pelan.
“Anak itu nggak bisa hilang, Mas.”
Kalimat itu langsung membuat Ervin kehilangan kata-kata lagi. Dan memang benar.
Tak peduli seberapa besar penyesalannya sekarang, kenyataan bahwa dirinya memiliki anak dari perempuan lain tidak akan pernah berubah.
“Aku mohon jangan nyerah sama aku,” lirih pria itu lagi. Dinda menatap wajah suaminya cukup lama, lalu tersenyum kecil.
Namun senyum itu terasa sangat menyakitkan.
“Aku udah terlalu capek bertahan sendirian.”
Air mata Ervin akhirnya jatuh saat mendengar ucapan tersebut. Pria itu menundukkan kepalanya dengan bahu yang mulai bergetar pelan.
Dan malam itu—untuk pertama kalinya dalam hidup, Ervin benar-benar merasakan ketakutan kehilangan seseorang yang paling ia cintai.