Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Orang Menunduk Pada Suamiku
Malam berganti pagi, pintu kontrakan tetap tertutup rapat. Puann tidak tidur semalaman; ia duduk diam di sudut ruangan hingga tubuhnya kaku dan matanya bengkak karena menangis.
Sinar matahari masuk lewat celah jendela, disusul suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka perlahan, dan Bahlil masuk dengan penampilan yang langsung memancing amarah Puann.
Baju kemarin masih dikenakannya, namun bau parfum wanita sangat menyengat, bercampur ke dalam baunya. Rambutnya berantakan dan wajahnya tampak lelah, bukan karena bekerja melainkan karena hal lain.
"Kamu dari mana aja semalam?!"
"Ada urusan mendadak, aku nginep di tempat teman, nggak sempat kabari."
Bahlil menjawab datar, lalu berjalan melewati Puann seolah tidak ada kejadian apa pun.
"Urusan apa sampai bau parfum cewek begini hah?! Jangan kira aku nggak ngerti kelakuan kamu! Kamu sama dia kan? Kamu terima tawaran dia kan?!"
Puann menarik lengan suaminya dan memaksanya untuk saling bertatapan.
Bahlil melepaskan cengkeraman itu secara perlahan. Ia menatap Puann dengan sorot mata yang sulit dimengerti, perpaduan antara rasa kasihan dan ketidakpedulian.
"Terserah kamu mau mikir apa. Aku capek, mau tidur dulu."
Sikap dingin dan jawaban seadanya itu menjadi batas akhir kesabaran Puann. Segala rasa sakit, malu, dan curiga yang menumpuk selama tiga bulan terakhir akhirnya meledak menjadi keputusan besar.
"CUKUP! Aku udah nggak kuat liat kelakuan kamu! Aku udah malu, aku udah susah, eh sekarang masih harus sakit hati gara-gara cewek lain!"
Puann mengusap air mata yang kembali menetes, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia menatap punggung suaminya dengan tajam namun hatinya terasa hancur, lalu mengucapkan kalimat itu dengan tegas.
"Kalau emang kamu milih hidup enak sama dia, kalau emang aku cuma beban buat kamu ... oke deh. Aku minta cerai."
Gerakan tubuh Bahlil terhenti seketika. Ia berbalik perlahan, raut wajahnya berubah sedikit namun tidak menunjukkan rasa kaget atau panik. Ia hanya menatap Puann diam selama beberapa detik, lalu tersenyum tipis yang terasa sangat menyakitkan.
"Kamu yakin mau minta cerai cuma gara-gara salah paham begini?"
Bahlil bertanya dengan nada bicara pelan dan sangat tenang.
"Ini bukan salah paham lagi, Mas! Ini fakta! Kamu diam aja pas dia ngajak nikah, kamu hilang semalam, pulang-pulang bau cewek! Apa lagi yang harus aku jelasin?! Aku udah cukup!"
Puann menjawab tegas sambil membuang muka agar hatinya tidak kembali luluh.
Bahlil mengangguk pelan. Ia tidak membela diri, tidak meminta maaf, dan juga tidak marah. Sikapnya yang tenang itu justru membuat Puann semakin bingung dan kesal.
"Oke deh. Kalau itu keputusanmu, aku hargai. Tapi ingat ya Puann, belum tentu apa yang kamu lihat dan denger itu semuanya bener."
Ucapan itu penuh teka-teki. Setelah mengatakannya, Bahlil berjalan kembali menuju pintu keluar.
"Kamu mau ke mana lagi?! Kuping kamu budek ya denger aku minta cerai?!"
Puann berlari kecil mengejarnya.
"Ada urusan lagi. Nanti kita omongin."
Bahlil terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Baru saja ia melangkah keluar, Puann melihat pemandangan tak terduga lewat celah dinding rumah. Di depan gerbang kontrakan yang sempit terparkir mobil sedan hitam besar dan mengkilap, sangat mewah dan bertolak belakang dengan lingkungan sekitarnya yang kumuh.
Seorang sopir berseragam rapi turun dari kendaraan itu, lalu membukakan pintu belakang dengan sikap hormat. Ia menundukkan badan dalam-dalam saat Bahlil berjalan mendekat dan masuk ke dalam mobil dengan santai.
"Pak Bahlil, silakan duduk. Semua sudah menunggu di kantor pusat."
Sopir itu berbicara dengan nada yang sangat sopan dan tertib.
Mesin mobil menderu halus, lalu kendaraan mahal itu melaju pergi sambil menerbangkan debu jalanan. Puann berdiri kaku di ambang pintu dengan mata terbelalak tak percaya. Ia sangat mengenal jenis kendaraan itu, harganya mungkin ratusan kali lipat biaya hidup mereka selama satu tahun.
"Pak Bahlil? Kantor pusat? Apa sih maksudnya semua ini ...."
Puann bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar.
Kepalanya terasa pening seketika. Siapa sebenarnya suaminya?
Laki-laki yang miskin, pengangguran, dan hanya membawa aib, mengapa bisa dijemput menggunakan kendaraan semewah itu?
Mengapa pula orang lain memanggilnya dengan panggilan hormat layaknya pejabat besar?
Pandangan Puann masih tertuju pada jalanan yang kini kosong. Mobil hitam mewah itu telah hilang di tikungan, meninggalkan rasa bingung di benaknya. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja dilihat matanya.
Rasa penasaran kini mengalahkan rasa sakit hatinya. Ia harus mengetahui kebenaran di balik semua ini. Tanpa berpikir panjang, Puann mengunci pintu kontrakan lalu berjalan cepat mengikuti arah kepergian mobil itu, bertekad sampai ke tujuan meski harus berjalan kaki cukup jauh.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, Puann tiba di kawasan pusat kota. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah gedung tinggi yang menjulang megah. Di gerbang utama, terparkir jelas mobil hitam yang tadi menjemput Bahlil.
Puann bersembunyi di balik tiang besar di seberang jalan. Matanya menatap lekat-lekat pintu masuk gedung itu tanpa berkedip. Tak lama kemudian, Bahlil terlihat turun dari kendaraan. Saat ini, sikap dan gerak-geriknya berubah total. Ia tidak lagi berjalan tertunduk lesu seperti orang yang sedang kesusahan. Ia melangkah tegap, mengangkat kepala tinggi-tinggi, dan memancarkan wibawa yang belum pernah Puann lihat sebelumnya.
Saat melangkah masuk ke area lobi, semua orang yang ada di sana langsung menghentikan aktivitasnya. Para pegawai, petugas keamanan, hingga staf resepsionis serentak menundukkan badan dan memberikan salam hormat.
"Selamat pagi, Pak Bahlil!"
Mereka berseru bersahutan dengan nada bicara yang sangat sopan dan penuh rasa segan.
Bahlil hanya mengangguk singkat sambil terus melangkah. Ia membalas sapaan itu dengan santai, seakan sudah biasa diperlakukan sebagai orang paling penting di tempat itu. Tidak ada satu pun wajah yang menatapnya rendah atau menghinanya. Justru sebaliknya, seluruh karyawan tampak takut melakukan kesalahan sedikit pun di hadapannya.
Puann menutup mulutnya dengan rapat. Kakinya terasa sangat lemas seketika. Laki-laki yang selama tiga bulan ini ia anggap pengangguran, miskin, dan hanya membawa malu, ternyata dipanggil dengan sebutan 'Pak' dan dihormati setinggi langit di gedung besar ini.