NovelToon NovelToon
The Royal Family

The Royal Family

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Keesokan harinya, matahari bersinar sangat terang dan cerah, menyinari setiap sudut pantai berpasir putih itu. Suasana pagi di vila terasa sangat damai dan menyegarkan. Setelah sarapan pagi yang lezat, rombongan keluarga besar itu membagi kegiatan sesuai keinginan masing-masing. Para ibu dan ayah memilih bersantai di teras depan vila sambil menikmati udara segar dan bercerita panjang lebar.

Sementara itu, anak-anak muda itu berlarian dengan penuh semangat menuju pantai. Jeno langsung menarik tangan Nana berlari kecil menuju pinggir air laut, tertawa riang saat ombak kecil menyapu kaki mereka. Gualin dan Renjun berjalan beriringan perlahan di sepanjang bibir pantai, menikmati keheningan dan keindahan alam berdua saja. Henderi dan Dejun asyik membuat bangunan dari pasir di bawah pohon kelapa yang rindang.

Mark terlihat berjalan sendiri agak menjauh, matanya mengawasi gerak-gerik Nana dari kejauhan. Ia menunggu momen yang tepat, menunggu saat di mana Jeno lengah atau pergi ke suatu tempat, supaya ia bisa masuk dan berbicara berdua dengan gadis itu. Di belakangnya, Haechan tak henti-hentinya mengikuti langkah Mark, berusaha selalu ada di dekatnya, berusaha mengajak bicara, berusaha membuat Mark tertawa atau sekadar menoleh sedikit saja padanya.

"Kak Mark... ayo ikutan main air yuk? Atau mau duduk di sana sama aku? Aku bawa handuk lho, mau aku bentangin? Nanti kalau panas aku kipasin ya," oceh Haechan dengan penuh perhatian, matanya tak lepas dari wajah Mark.

"Enggak. Diem aja sana. Kamu itu kayak bayangan tau, kemana-mana nempel terus. Bosen aku liatnya," jawab Mark dingin, lalu berjalan lebih jauh menjauh, mencoba menghindari Haechan.

Namun Haechan tidak pernah menyerah. Ia tetap tersenyum, tetap mengikuti, tetap berjuang.

Menjelang sore, saat matahari mulai turun perlahan ke arah barat, melukis langit dengan warna-warni jingga, merah muda, dan emas yang mempesona, Mama Xu mengajak semua orang untuk naik ke atas kapal pesiar miliknya.

"Ayo semuanya! Yuk kita naik kapal, kita lihat senja dari tengah laut. Pemandangannya paling indah lho kalau dilihat dari situ, jangan sampai kelewatan momen indah ini!" seru Mama Xu riang.

Semua orang pun bergegas naik ke atas kapal besar itu. Kapal pesiar itu begitu mewah, lantainya berkilauan, perabotannya berkelas, dan dek atasnya terbuka luas sempurna untuk menikmati pemandangan. Kapal pun perlahan bergerak meninggalkan dermaga, melaju tenang membelah air laut yang tenang dan berkilauan seperti kaca biru raksasa.

Di atas kapal, suasana begitu indah dan romantis. Jeno berdiri di dekat pagar pembatas dek atas, memeluk bahu Nana dari belakang, keduanya terpesona melihat keindahan matahari yang perlahan tenggelam ke dalam cakrawala.

"Indah banget ya, Jen... makasih ya udah bawa aku ke sini. Rasanya kayak di mimpi deh," bisik Nana lembut.

Jeno mengecup pelan puncak kepala kekasihnya itu. "Indah banget emang. Tapi tau nggak? Seindah apa pun pemandangan di dunia ini, tetep nggak ada apa-apanya dibanding keindahan kamu di mata aku. Kamu pemandangan terindah buat aku selamanya, Nana."

Ucapan manis itu membuat Nana tersenyum malu sambil memukul pelan dada Jeno.

Di sisi lain kapal, Gualin berdiri tenang sambil memeluk pinggang Renjun, menatap senja itu dalam diam namun penuh makna. Henderi dan Dejun asyik berfoto dan bercanda riang di dekat kemudi kapal.

Dan di sudut lain yang sedikit lebih sepi, Mark melihat kesempatan emasnya. Ia melihat Jeno sedang asyik bercanda dengan Nana, tapi saat Jeno berbalik badan sejenak untuk mengambil minuman yang dibawa pelayan, Mark dengan cepat dan halus bergerak mendekat ke arah Nana yang sedang berdiri sendiri menatap laut.

Mark menegakkan badannya, merapikan rambutnya sedikit, dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi jauh lebih lembut, lebih sopan, dan lebih menawan dari biasanya. Ia berjalan mendekat perlahan, lalu berdiri tepat di samping Nana.

"Indah banget ya pemandangannya, Nana..." ucap Mark pelan, suaranya rendah namun lembut, sangat berbeda dari nada bicaranya pada orang lain.

Nana sedikit terkejut, menoleh dan melihat Mark berdiri di sana. Ia segera tersenyum sopan dan mengangguk. "Iya Bang Mark, indah banget. Aku baru pertama kali liat senja seindah ini, bagus banget warnanya."

Mark menatap tajam ke arah gadis itu, matanya berkilat penuh niat tersembunyi. Ia mulai melancarkan taktiknya, taktik yang ia susun matang-matang. Ia ingin masuk ke hati Nana, ingin membuat Nana merasa bahwa ia jauh lebih dewasa, lebih mengerti, dan lebih baik dari adiknya sendiri.

"Iya... indah banget. Tapi Nana... Abang mau ngomong dikit boleh ya? Sambil nikmatin pemandangan ini," ucap Mark pelan, seolah bercerita rahasia.

Nana mengangguk sopan, menatap abang dari kekasihnya itu dengan pandangan tenang. "Boleh banget Kak Mark. Mau ngomongin apa?"

Mark menghela napas panjang, matanya menatap lekat ke arah gadis di sampingnya itu, berusaha mencari celah, berusaha sekali lagi menanamkan keraguan, berusaha menjadi sosok yang lebih baik di mata Nana.

"Abang cuma mau bilang... kamu bahagia banget ya sama Jeno? Kalian berdua kelihatan banget serasi, kelihatan banget saling sayang. Tapi Nana, kamu tau kan sifat Jeno itu gimana? Dia itu manja, dia itu ceroboh, dia itu kadang-kadang kekanak-kanakan. Kakak cuma khawatir aja... apakah dia bakal bisa jagain kamu dengan bener? Apakah dia bakal ngertiin kamu sedalem itu? Kadang Kakak mikir... mungkin kamu butuh cowok yang lebih tenang, lebih dewasa, lebih ngerti cara ngehargain cewek. Cowok yang kayak... ya kayak gitu deh," ucap Mark dengan nada halus, berusaha menyisipkan dirinya sebagai perbandingan.

Dia berharap, setidaknya ada sedikit ragu yang muncul di hati Nana, ada sedikit celah yang bisa dia masuki. Tapi sekali lagi, Mark salah besar. Nana tersenyum lembut, senyum yang begitu tulus dan penuh keyakinan, lalu menatap Mark dengan pandangan yang begitu jernih dan mantap.

"Kak Mark... makasih ya perhatian dan kekhawatirannya. Tapi aku udah jawab ini berkali-kali lho, dan aku bakal jawab lagi sekarang," ucap Nana pelan namun tegas, matanya melirik ke arah Jeno yang sedang berjalan kembali membawa dua gelas minuman sambil tersenyum lebar ke arah mereka.

"Memang Jeno nggak sempurna. Memang dia heboh, memang dia manja, memang dia kadang kelakuannya kayak anak kecil. Tapi Bang Mark harus tau satu hal yang paling penting... Jeno itu satu-satunya cowok yang bikin aku ngerasa hidup, yang bikin aku ngerasa dicintai lebih dari apa pun. Aku bukan cewek yang gampang jatuh cinta, Kak. Aku orangnya butuh waktu lama banget buat percaya sama orang, butuh waktu lama banget buat buka hati. Tapi pas aku udah jatuh hati... pas aku udah milih satu orang... aku bakal bertahan sampai kapan pun, aku bakal setia mati-matian, dan nggak ada satu pun omongan orang lain yang bisa ngubah perasaan aku. Jeno udah punya hatiku seutuhnya, Kak. Dan nggak bakal ada orang lain yang bisa gantiin posisi dia, nggak bakal ada orang lain yang bisa masuk ke sini selain dia,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!