Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Pintu ganda kamar tidur utama di sayap barat kastel ditutup dengan sentakan tegas oleh Kyle, mengunci rapat seluruh ketegangan, tatapan sinis, dan atmosfer dingin yang baru saja mereka tinggalkan di ruang makan bawah.
Begitu grendel besi berdenting mengunci, Kyle langsung membalikkan tubuh masifnya. Wajah tegas pria raksasa setinggi 190 sentimeter itu dipenuhi oleh kecemasan yang teramat sangat—sebuah ekspresi langka yang tidak akan pernah bisa dilihat oleh musuh-musuhnya di medan tempur militer hitam.
"Sayang... lihat aku. Di mana yang sakit? Apa perutmu masih bergejolak?" suara bariton Kyle bergetar rendah, sarat akan kepanikan yang coba ditahannya.
Tanpa membuang waktu, Kyle mengangkat tubuh ramping Emmeline ke dalam gendongan posesifnya, membawanya melangkah cepat menuju ranjang bertiang empat ber kelambu sutra marun.
Dia meletakkan tubuh istrinya dengan sangat perlahan, seolah-olah Emmeline adalah pualam paling rapuh di dunia ini yang bisa hancur jika tersentuh kasar.
Kyle berlutut di tepi ranjang, menangkup kedua tangan Emmeline yang terasa agak dingin dengan telapak tangan besarnya yang hangat dan kasar.
"Katakan padaku, Emme. Wajahmu pucat sekali. Apa aku harus memanggil dokter pribadi kastel kemari sekarang juga? Persetan dengan ibuku, aku akan memerintahkan pelayan membawa peralatan medis terbaik ke kamar ini."
Melihat kepanikan yang begitu murni dari suaminya, Dr. Emmeline Valerio justru mengulas sebuah senyuman manis yang teramat lembut.
Rasa mual yang sempat menyiksa tenggorokannya perlahan surut, digantikan oleh kehangatan yang menjalar hebat di dalam dadanya.
Dia membiarkan punggungnya bersandar pada tumpukan bantal sutra, lalu mengangkat satu tangannya untuk mengelus rahang kokoh Kyle yang menegang.
"Tenanglah, Kyle... tidak perlu memanggil dokter mana pun ke kamar ini. Kau lupa kalau di hadapanmu ini adalah seorang dokter bedah terbaik dari Los Angeles?" ucap Emmeline dengan nada bercanda, mencoba mengurai ketegangan suaminya.
"Tapi kau mual parah, Emme. Salmon asap itu tidak mungkin beracun, pelayan kastel tidak akan berani—"
"Ikan itu tidak beracun, K," potong Emmeline lembut. Dia menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata kelam Kyle yang menyala oleh rasa khawatir.
Emmeline membawa tangan besar Kyle yang dipenuhi jaringan parut taktis, lalu menuntunnya turun, meletakkannya tepat di atas perut ratanya yang tersembunyi di balik gaun sutra gading.
"Itu karena ada pasukanmu di dalam sini, K..." bisik Emmeline, suaranya terdengar begitu jernih dan sarat akan haru.
Kyle tertegun. Tubuhnya membeku seketika di tepi ranjang. Jemari tangannya yang besar dan kokoh mendadak bergetar tipis di bawah telapak tangan Emmeline. "Apa... apa maksudmu, Sayang?"
Emmeline terkekeh pelan, air mata kebahagiaan mulai mengambang di sudut mata indahnya. "Mereka sudah ada di sini, di dalam rahimku. Sebenarnya aku ingin memberikanmu kejutan yang sangat romantis malam nanti di kamar ini. Tapi sepertinya... anak kita yang sudah tidak sabar dan ingin memberimu kejutan lebih dulu lewat sarapan pagi tadi."
Napas Kyle tercekat di tenggorokan. Jantung di dalam dada bidangnya yang dilapisi otot keras mendadak berpacu dengan kecepatan gila-gilaan, jauh lebih hebat daripada saat dia dikepung oleh ratusan peluru kartel.
Pria itu menatap perut rata Emmeline, lalu kembali menatap mata istrinya dengan binar tak percaya yang perlahan berubah menjadi genangan air mata haru.
"Sejak kapan, Sayang? Sejak kapan darah dagingku bertumbuh di dalam sini?" tanya Kyle dengan suara yang serak, tenggorokannya mendadak tercekat oleh emosi yang meluap-luap.
Emmeline mengusap air mata yang setitik jatuh di pipi suaminya, merasa luar biasa tersentuh melihat seorang Alpha tertinggi Unit Wraith bisa menangis terharu di hadapannya.
"Tepat sepulang dari vila bulan madu kita di pulau pribadi, K. Dan sejujurnya, aku ingin langsung mengatakan tentang kehamilan ini pada orang tuamu begitu kita tiba di kastel kemarin sore. Namun... ya, karena situasinya sudah kaku dan tidak mengenakkan seperti ini sejak awal, kemarin aku sampai lupa untuk mengatakannya."
Kyle tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu langsung merangkak naik ke atas ranjang, membawa tubuh ramping Emmeline ke dalam pelukan sampingnya yang teramat erat dan posesif.
Dia menenggelamkan wajah tampannya di ceruk leher Emmeline, menghirup aroma mawar Prancis milik istrinya dengan rakus seolah itu adalah pasokan oksigen terakhirnya.
"Terima kasih, Baby... Terima kasih banyak. Aku mencintaimu, demi Tuhan, aku teramat sangat mencintaimu, Mrs. Stone," racau Kyle berulang kali, suaranya teredam di leher Emmeline, mengirimkan getaran hangat yang membuat Emmeline merinding nikmat.
Kyle menjauhkan wajahnya sedikit, lalu menatap Emmeline dengan tatapan posesif yang mendadak kembali menyala tajam, sebuah tatapan dominan yang konyol namun teramat seksi. "Dan satu hal lagi, Sayang. Jangan katakan 'anak' saja. Kumohon, katakan 'anak-anak'."
Emmeline membelalakkan matanya sedikit, lalu tertawa renyah hingga tubuhnya berguncang pelan di dalam dekapan Kyle. "Baiklah, Tuan Posesif... anak-anak kita. Puas?"
Mendengar konfirmasi itu, kegilaan seorang Kingdom Kyle Stone benar-benar meledak tanpa bisa dibendung lagi.
Pria itu langsung menyingkirkan selimut sutra yang menutupi tubuh Emmeline. Dengan gerakan yang cepat namun teramat hati-hati, dia menyibak sedikit bagian bawah gaun sutra Emmeline, mengekspos kulit perut istrinya yang masih rata, halus, dan sewarna pualam.
Kyle menurunkan tubuh masifnya hingga dia berlutut di atas kasur, menundukkan kepalanya yang dipenuhi rambut hitam pendek tepat di depan perut Emmeline. Tanpa membuang waktu, Kyle mulai menggila. Dia menghujani perut rata itu dengan ciuman-ciuman panas yang bertubi-tubi.
Cup. Cup. Cup. Cup.
Setiap kecupan yang diberikan Kyle terasa begitu dalam, basah, dan sarat akan gairah kepemilikan yang absolut. Dia menciumi pusar Emmeline, lalu bergerak turun ke arah perut bawah, membuat Emmeline menggeliat kegelian di atas sprei.
"Kyle! Hentikan... ah, itu geli sekali, K!" jerit Emmeline pelan, tangannya mencoba mendorong bahu kokoh Kyle, namun kekuatannya sama sekali tidak sebanding dengan kekerasan otot sang Alpha.
Kyle mendongak sejenak, wajah tegasnya dipenuhi oleh senyuman smirk yang sangat seksi dan bahagia.
Dia tidak berhenti. Kyle kembali menempelkan bibirnya di atas kulit perut Emmeline, lalu mulai berbicara dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar, berbicara langsung pada rahim istrinya seolah-olah para penerusnya sedang duduk mendengarkan di dalam sana.
"Halo, pasukan kecil Daddy," bisik Kyle, napasnya yang panas menggelitik kulit Emmeline, menciptakan sensasi erotis yang samar di antara keharuan mereka.
"Kalian dengar itu? Ibu kalian yang angkuh ini baru saja memanggil Daddy 'Tuan Posesif'. Kalian harus tahu, Daddy bertingkah seperti ini karena Daddy adalah kapten tertinggi kalian. Tumbuhlah yang kuat di dalam sana, dan jangan buat Ibu mual lagi seperti tadi pagi, mengerti?"
Kyle kembali mencium perut itu dengan gemas, meniupnya perlahan hingga mengeluarkan suara lucu yang membuat Emmeline kembali tertawa terpingkal-pingkal di atas ranjang.
"Kalian tidak perlu takut pada nenek tua di bawah sana," lanjut Kyle dengan nada bicara yang mendadak berubah menjadi sangat protektif dan dingin saat menyebut ibunya sendiri.
"Daddy di sini. Tidak ada satu pun manusia di dalam kastel ini yang boleh menyentuh atau membuat kalian dan Ibu kalian terluka. Jika ada yang berani, Daddy sendiri yang akan menghancurkan menara kastel ini dengan pasukan Unit Wraith."
Emmeline menatap pemandangan di depannya dengan mata yang berkaca-kaca oleh rasa bahagia yang meledak-ledak. Keangkuhan taring Valerio miliknya meleleh sepenuhnya, berganti dengan rasa aman yang mutlak.
Pria yang biasanya menembaki kepala penjahat tanpa berkedip itu kini sedang berlutut pasrah, memberikan seluruh pemujaan dan jiwanya di atas perut ratanya.