MAS BAHLIL GANTENG

MAS BAHLIL GANTENG

Ganteng Tapi Miskin

Puann sudah tiga bulan menjalani kehidupan rumah tangga bersama Bahlil. Pasangan itu selalu menjadi pusat perhatian karena ketampanan wajah dan tubuh yang dimiliki Bahlil.

"Nah, itu suamiku. Ganteng banget kan?" ujar Puann bangga pada tetangga sebelah.

"Iya sih ganteng, Puan. Tapi cuma modal cakep doang, cukup buat makan sehari-hari?" jawab tetangga sambil terkekeh.

Hati Puann terasa sesak mendengar ucapan itu. Kenyataan ekonomi rumah tangga mereka sedang berada di titik terendah dan tidak bisa disembunyikan. Mereka hanya menempati kontrakan kecil berukuran dua kali tiga meter dengan peralatan seadanya.

"Memang kami masih berjuang. Yang penting kan saling sayang," jawab Puann berusaha membela diri, meski suaranya lemah.

"Sayang nggak bikin kenyang, Puann. Nanti kalau kamu udah capek hidup pas-pasan, baru deh ngomong lagi sama aku," sahut tetangga lalu berjalan pergi.

Hari itu diadakan pertemuan arisan keluarga besar. Puann dan Bahlil hadir dengan pakaian sederhana, sangat berbeda dengan kerabat lain yang tampil rapi dan mewah.

Begitu masuk ruangan, semua pasang mata langsung tertuju pada kehadiran mereka berdua.

"Wah, ada Puann sama suaminya, katanya sih paling ganteng satu kampung," seru seorang bibi dengan nada menyindir halus.

Banyak orang tertawa pelan dan berbisik satu sama lain. Mereka menyoroti sepatu Bahlil yang sudah kusam serta baju Puann yang terlihat sudah lama dipakai.

"Kamu tuh gimana sih, Puan? Dulu kan kamu anak kesayangan, pintar, cantik pula. Kok malah pilih suami nggak punya apa-apa sih?" tanya seorang paman dengan wajah heran.

"Iya bener, lihat sepupu yang lain dong. Suaminya ada yang PNS, ada yang punya usaha. Lah suamimu ini apa? Kerjaannya aja nggak jelas, orang tua dulu nyebutnya numpang hidup," tambah kerabat lain dengan nada makin kasar.

Bahlil hanya berdiam diri di samping Puann. Wajahnya tetap tenang, bahkan ia menyunggingkan senyum tipis seolah tidak mendengar segala hinaan yang ditujukan kepadanya.

Sikap itu justru membuat hati Puann semakin panas dan perih. Ia sangat ingin membela suaminya, namun kenyataan kondisi ekonomi yang buruk membuat segala pembelaannya terasa sia-sia.

"Mas Bahlil diam aja ya kalau dihina gitu? Kamu nggak sakit hati lihat aku dipermalukan gara-gara keadaan kita?" tanya Puann pelan, berharap orang lain tidak mendengar.

"Biarin aja mereka ngomong apa aja, Puann. Mulut orang emang nggak ada yang bisa ditutup. Senyumin aja, nanti kalau kita marah malah dibilang nggak punya etika," jawab Bahlil santai sambil menepuk bahu Puann sebentar.

Ketenangan berlebihan yang ditunjukkan Bahlil membuat Puann semakin kesal. Baginya, sikap itu bukan tanda kedewasaan, melainkan bukti bahwa suaminya tidak memiliki harga diri untuk membela diri sendiri maupun istrinya.

Tak lama kemudian, ibu Puann mendekat ke arah mereka. Wajah wanita itu terlihat sangat kecewa dan malu. Ia langsung menarik tangan Puann menjauh dari kerumunan orang.

"Puann, Ibu ngomong ini demi kebaikanmu sendiri," ucap ibunya dengan nada dingin dan serius.

"Ada apa lagi, Bu? Memangnya kami berbuat salah apa?" tanya Puann, hatinya sudah dipenuhi rasa lelah dan sedih.

"Salahmu itu nikah buru-buru padahal belum kenal dia beneran. Lihat nasibmu sekarang, baru tiga bulan aja udah harus malu begini. Ibu malu banget punya menantu miskin dan nggak mapan kayak dia," jawab ibunya tegas.

Puann menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang siap menetes. Ia ingin sekali membela Bahlil, namun ia sadar ibunya memiliki pendapat yang sulit dibantah.

"Dengerin baik-baik ya. Sebelum kamu punya anak sama dia, mending kamu pikir ulang. Mending cerai aja sekarang, daripada nanti hidupmu makin susah dan menderita seumur hidup," bisik ibunya lalu pergi meninggalkan Puann yang diam terpaku.

Kalimat peringatan itu terus berputar di dalam kepala Puann.

...***...

Pintu kontrakan didorong dengan kasar saat hari masih pagi. Ibu Puann berdiri di ambang pintu dengan wajah masam, menatap seluruh isi ruangan sempit itu dengan pandangan penuh rasa tidak suka.

Puann baru saja selesai merapikan tempat tidur. Ia langsung menegakkan badan saat melihat ibunya datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Bu, kok datang pagi banget? Ngabari dulu napa," sapa Puann pelan, berusaha tersenyum meski hatinya berdebar kencang.

"Buat apa ngabari? Rumah sekecil ini, mana ada ruang buat basa-basi segala," jawab ibunya ketus lalu masuk dengan langkah berat.

Bahlil yang sedang duduk di kursi kayu tua langsung berdiri menyambut. Ia menundukkan kepala dengan sopan seperti biasa, wajahnya tetap tenang tanpa jejak kemarahan sedikit pun.

"Selamat pagi, Bu. Silakan duduk dulu," ucap Bahlil lembut sambil menarik kursi kosong di dekat meja.

Ibunya duduk di kursi itu dengan kasar. Ia menatap tajam ke arah Bahlil dari ujung kaki hingga kepala, seolah melihat benda tidak berguna di hadapannya.

"Aku nggak mau banyak omong sama kamu. Aku ke sini cuma mau bilang, kamu itu cuma numpang hidup sama anakku. Kamu sadar nggak sih, selama ini Puann yang lebih banyak berkorban buat kamu?" ucap ibunya dengan suara keras dan tajam.

Puann menoleh dengan cemas ke arah Bahlil. Ia berharap suaminya mau menjawab atau membela diri, namun Bahlil hanya diam dan tetap tersenyum tipis.

"Maaf ya kalau kami bikin Ibu kecewa. Kami lagi berusaha perbaiki keadaan pelan-pelan," jawab Bahlil tenang.

"Berusaha apaan? Kerja aja kamu nggak pernah tetap. Jangan-jangan kamu nikah sama Puann cuma nyari tempat enak doang ya?" sergah ibunya makin sengit.

"Hati-hati ngomongnya, Bu. Mas Bahlil itu suamiku, bukan sembarang orang," potong Puann, meski suaranya terdengar ragu dan lemah.

"Kamu diam aja! Ibu ngomong gini kan demi kamu juga. Kamu tuh bodoh banget, Puan. Dulu Ibu udah ingetin, jangan tergiur cuma gara-gara ganteng. Lihat sekarang hasilnya," bentak ibunya.

Setelah wanita itu pergi dengan perasaan belum puas, suasana di dalam kontrakan menjadi hening dan kaku. Puann duduk di lantai sambil memijat kening yang terasa pening. Ia sudah sangat lelah mendengar hinaan yang terus-menerus ditujukan kepada suaminya.

Belum sempat Puann menenangkan diri, ia teringat sisa uang belanja yang disimpannya di laci meja. Uang itu adalah satu-satunya bekal mereka untuk makan selama dua hari ke depan. Ia langsung membuka laci tersebut dan terkejut mendapati isinya kosong sama sekali.

Wajah Puann memerah karena menahan amarah. Ia berbalik badan dan menatap tajam ke arah Bahlil yang berdiri di dekat jendela.

"Mas, uang yang aku taruh di sini mana? Itu duit satu-satunya kita buat makan besok lho!" tanya Puann dengan suara gemetar.

Bahlil menoleh perlahan ke arahnya. Wajahnya sama sekali tidak terlihat bersalah, malah terlihat lega.

"Aku kasih ke Bu Siti tetangga sebelah, Puann. Anaknya sakit parah, mereka butuh uang buat beli obat. Kasihan kalau dibiarin gitu aja," jawab Bahlil santai.

Terpopuler

Comments

ᴹᴿˢ ᵁᴹᴵ

ᴹᴿˢ ᵁᴹᴵ

mak aii judul karyaa nya 🤣🤣🤣

2026-05-30

0

Sky

Sky

alamak judulnya 😄

2026-05-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!