Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Meja Makan Keluarga Ardian
Lampu kristal besar menggantung megah di ruang makan utama keluarga Ardian. Malam itu suasana mansion utama terlihat jauh lebih hidup dibanding rumah Leon biasanya.
Pelayan berlalu-lalang menyiapkan hidangan mewah di meja panjang yang dipenuhi anggota keluarga besar.
Alya duduk diam di samping Leon sambil menahan napas pelan.
Ini pertama kalinya ia bertemu langsung dengan keluarga Ardian sejak masuk ke tubuh Sabrina.
Dan jujur saja…
Tekanan dari keluarga kaya seperti ini benar-benar terasa menyesakkan.
“Nanti kalau Mama tanya macam-macam, jawab seperlunya aja,” bisik Leon tanpa menoleh.
Alya melirik sekilas.
Nada suaranya terdengar dingin seperti biasa, tapi entah kenapa ada sedikit nada memperingatkan di sana.
“Aku tahu.”
Leon menatap Sabrina beberapa detik.
Biasanya wanita itu akan gugup saat menghadiri acara keluarga seperti ini. Sabrina selalu takut melakukan kesalahan di depan keluarga Ardian karena ia ingin diterima dengan baik.
Namun sekarang Sabrina terlihat terlalu tenang.
Itu membuat Leon kembali merasa aneh.
“Leon, Sabrina.”
Suara berat seorang pria paruh baya terdengar dari ujung meja.
Itu adalah Edward Ardian, ayah Leon.
Aura pria itu sangat berwibawa bahkan hanya dari cara duduknya.
Leon mengangguk hormat. “Pa.”
Alya ikut tersenyum kecil. “Selamat malam, Pa.”
Edward memperhatikan Sabrina cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Duduklah.”
Tak lama kemudian, seorang wanita elegan dengan perhiasan mahal berjalan mendekat. Wajahnya cantik meski usianya tak lagi muda.
Claudia Ardian.
Ibu Leon.
Berbeda dengan Edward yang cenderung tenang, Claudia terkenal sangat perfeksionis dan sulit disenangkan.
Tatapan tajam wanita itu langsung jatuh pada Sabrina.
“Kudengar kau masuk rumah sakit?”
Nah.
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
Suasana meja makan langsung sedikit hening.
Beberapa anggota keluarga lain mulai memperhatikan diam-diam.
Alya menegakkan punggungnya pelan.
“Hanya kecelakaan kecil, Ma. Aku baik-baik saja.”
“Kecelakaan kecil?” Claudia mengerutkan kening. “Kau sedang hamil pewaris keluarga Ardian.”
Kalimat itu terdengar lebih seperti teguran dibanding kekhawatiran.
Alya tersenyum tipis.
“Aku akan lebih hati-hati.”
“Hati-hati saja tidak cukup,” lanjut Claudia tajam. “Kau sekarang membawa nama keluarga ini.”
Leon akhirnya membuka suara.
“Dokter bilang kondisi bayi sehat.”
Claudia langsung menatap putranya. “Tentu harus sehat. Jangan sampai terjadi sesuatu.”
Alya diam saja sambil menunduk pelan.
Ia bisa merasakan sekarang…
Keluarga ini memang lebih peduli pada bayi dibanding Sabrina sendiri.
“Nanti pindah saja ke mansion utama sementara,” ujar Claudia tiba-tiba. “Di sini lebih banyak pelayan.”
Leon langsung menolak datar.
“Tidak perlu.”
Claudia menghela napas kesal. “Kau selalu sibuk bekerja. Siapa yang menjaga istrimu?”
Pertanyaan itu membuat suasana sedikit canggung.
Karena semua orang tahu hubungan Leon dan Sabrina tidak pernah benar-benar baik.
Sabrina selalu mengejar.
Leon selalu menjauh.
Alya menyesap air putih pelan sebelum berkata lembut, “Aku bisa menjaga diriku sendiri, Ma.”
Semua orang sedikit terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sangat berbeda dari Sabrina biasanya.
Dulu Sabrina akan langsung setuju tinggal di mansion utama demi mendapat perhatian keluarga Ardian.
Namun sekarang…
Wanita itu terdengar seperti tidak ingin bergantung pada siapa pun.
Tatapan Leon perlahan berpindah ke wajah Sabrina.
Lagi-lagi perasaan aneh itu muncul.
“Apa dokter bilang kau harus banyak istirahat?” tanya Edward tiba-tiba.
“Iya, Pa.”
“Kalau begitu jangan terlalu banyak keluar rumah.”
Alya mengangguk kecil.
Makan malam kembali berlangsung, tetapi suasana tetap terasa tegang.
Salah satu sepupu Leon mulai membuka percakapan ringan.
“Ngomong-ngomong, calon bayinya laki-laki atau perempuan?”
“Belum tahu,” jawab Alya pelan.
“Keluarga Ardian pasti berharap laki-laki.”
Claudia tersenyum tipis mendengar itu.
Namun Alya justru memegang perutnya perlahan.
“Perempuan atau laki-laki sama saja.”
Leon yang sedang minum langsung berhenti sesaat.
Tatapannya tanpa sadar tertuju pada Sabrina.
Ada ketulusan dalam nada suara wanita itu.
Bukan ambisi.
Bukan harapan untuk menyenangkan keluarga Ardian.
Hanya ketulusan seorang ibu.
Dan anehnya…
Itu membuat Leon sulit mengalihkan pandangan.
---
Setelah makan malam selesai, Alya berdiri di balkon mansion utama untuk mencari udara segar.
Angin malam bertiup lembut menerpa wajahnya.
“Capek?”
Suara Leon tiba-tiba terdengar dari belakang.
Alya menoleh sekilas.
“Sedikit.”
Leon berdiri di sampingnya sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam memandang taman.
“Aku nggak tahu Mama bakal membahas rumah sakit terus,” ucap Leon tiba-tiba.
Alya sedikit terkejut.
Apa itu… permintaan maaf?
Ia menatap pria itu beberapa detik sebelum tersenyum kecil.
“Aku nggak terlalu peduli.”
Dan itu jujur.
Karena semakin lama Alya mulai sadar—
Ia benar-benar berhenti berharap pada keluarga ini.
Leon menatap Sabrina diam-diam.
Biasanya wanita itu akan sedih setelah makan malam keluarga. Kadang bahkan menangis diam-diam karena merasa tidak cukup baik menjadi bagian keluarga Ardian.
Namun malam ini Sabrina terlihat berbeda.
Lebih tenang.
Lebih jauh.
Dan untuk pertama kalinya…
Leon merasa istrinya perlahan menjauh darinya.