NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Umi Salma menghela napas panjang. “Jadi kalau panjenengan bersedia jadi ibu susunya, saya sangat bersyukur sekali."

Amira menunduk dalam. Kepalanya terasa berat, seperti baru saja menanggung sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami dalam satu malam.

Ia menggenggam ujung jilbabnya erat-erat, mencari pegangan agar tidak goyah. “Umi…” suaranya pelan, hampir hilang. “Saya… saya tidak tahu harus bagaimana.”

Umi Salma tidak langsung menjawab. Tatapannya masih lembut, tapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan.

Amira menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lirih, “Saya harus bicara dulu dengan suami saya.” Kalimat itu keluar seperti usaha terakhir untuk tetap berdiri di atas sesuatu yang ia kenal. “Beliau yang lebih berhak memutuskan,” tambahnya cepat, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Saya tidak bisa memutuskan sendiri.”

Umi Salma memandangnya lama. Perlahan kekaguman itu nyata pada perempuan yang batu ditemuinya itu. “Suami panjenengan…” ulangnya pelan.

Amira mengangguk kecil. “Iya, Umi.”

Umi Salma menghela napas pelan, lalu menatap bayi yang masih tertidur tenang di ranjang kecil itu. “Baik.”

Satu kata itu membuat Amira sedikit lega tapi juga tidak sepenuhnya tenang. Karena di balik kata baik itu, ada sesuatu yang belum selesai.

***

Amira kembali ke kamar rawat inap dengan langkah pelan. Begitu pintu kamar ditutup, tubuhnya langsung terasa kehilangan tenaga.bIa duduk di tepi ranjang.

Hanya suara jarum jam dinding yang bergerak pelan, dan napasnya sendiri yang belum sepenuhnya stabil. Amira menatap kedua tangannya. Tangan yang beberapa waktu lalu masih menggenggam bayi orang lain.

Bayi yang bahkan tidak ia kenal, tapi menangis di pelukannya seolah mengenalnya sejak lama. Ia menarik napas pelan. Lalu perlahan, ia memejamkan mata. Mencoba mengingat sesuatu yang terasa jauh di belakang pikirannya.

Pelajaran fiqih di Tsanawiyah. Tentang radha’ah. Tentang ibu susuan. Tentang batasan yang tidak terlihat, tapi sangat nyata. Suara ustazahnya seolah muncul kembali di kepalanya. “Jika seorang anak menyusu dari perempuan lain sampai memenuhi syarat tertentu, maka keduanya menjadi mahram karena persusuan…”

Amira membuka mata sedikit. Dadanya terasa mengencang. Ia mencoba mengingat lebih jauh. Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri, lalu langsung ditarik kembali seperti tersentak.

“Ya Allah…” Bisiknya pelan. Ia mulai menyusun ulang potongan-potongan yang tadi dijelaskan Umi Salma. Ibu susu. Konsekuensi. Tidak bisa dilepaskan begitu saja. Dan bayi itu, yang namanya Habibi.

Amira menunduk lebih dalam. Bukan hanya soal rasa iba. Bukan hanya soal naluri seorang ibu. Tapi ada hukum yang tiba-tiba menjadi sangat nyata, sangat dekat, dan tidak lagi sekadar tulisan di buku pelajaran.

Pintu kamar terbuka pelan. Namun Amira tidak langsung menoleh. Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, ia sadar bahwa hidupnya tidak lagi sesederhana sebelum malam ini. Dan suaminya akan menjadi orang pertama yang harus mendengar semuanya.

***

Pintu kamar diketuk pelan tepat ketika Mirza selesai bercerita tentang pemakaman putra mereka. “Sudah dimakamkan di samping makam Abah,” ucapnya lirih.

Amira menunduk sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Dadanya kembali sesak membayangkan tanah merah yang menutupi tubuh kecil anaknya.

Mirza mengusap wajah lelahnya pelan. “Tadi hujan sedikit waktu di kuburan.”

Kalimat sederhana itu justru membuat hati Amira semakin nyeri. Bayinya pergi di tengah hujan, sementara ia bahkan tidak bisa mengantarnya sampai liang lahat.

Tok tok.

Ketukan kedua terdengar. Mirza menoleh. “Masuk.”

Pintu terbuka perlahan. Amira langsung menegakkan duduknya saat melihat siapa yang datang. Umi Salma.

Di belakangnya ada seorang perawat yang menggendong bayi kecil berselimut putih. Itu Habibi. Bayi itu tampak tertidur lelap.

Mirza segera berdiri sopan. “Bu Nyai,” rupanya Mirza sudah mengenal siapa tamu mereka ini.

Umi Salma mengangguk pelan. “Maaf mengganggu.”

“Silakan, Bu Nyai.”

Perawat meletakkan bayi itu di baby box dekat ranjang sebelum mundur beberapa langkah. Ruangan mendadak terasa berbeda sejak kehadiran bayi kecil itu.

Amira bahkan bisa mencium samar aroma khas bayi yang tadi sempat memenuhi pelukannya.

Umi Salma duduk perlahan di kursi dekat ranjang. “Hari ini Habibi sudah diperbolehkan pulang.”

Mirza mengangguk pelan, masih belum memahami arah pembicaraan. “Alhamdulillah,” jawabnya sopan.

Umi Salma tersenyum tipis, lalu pandangannya bergantian antara Amira dan Mirza. “Saya datang untuk menanyakan kembali soal tawaran saya tadi.”

Mirza tampak bingung. “Tawaran?”

Amira langsung menegang. Jemarinya bergerak gelisah di atas selimut.

Umi Salma memperhatikannya sebentar sebelum akhirnya berkata, “Sepertinya istri panjenengan belum sempat bercerita.”

Mirza menoleh pada Amira. “Mira?”

Amira membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia sendiri belum tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya.

Akhirnya Umi Salma yang berbicara lebih dulu. “Tadi, tanpa sengaja, istri panjenengan menyusui cucu saya.”

Ruangan mendadak sunyi. Mirza membeku beberapa detik. Matanya berpindah dari Umi Salma ke Amira, lalu ke bayi kecil yang tertidur di baby box.

Amira langsung menunduk. “Saya tidak sengaja, Mas,” suaranya pelan dan penuh rasa bersalah. “Saya kira dia putra kita.” Kalimat itu tidak selesai.

Mirza menatap istrinya lama, lalu kembali pada Umi Salma.

Dan dengan tenang, Umi Salma mulai menceritakan semuanya. Tentang Habibi yang kehilangan ibunya tiga hari lalu. Tentang bayi itu yang menolak susu formula. Tentang beberapa perempuan yang sudah dicoba menjadi ibu susu tetapi gagal. Dan tentang bagaimana Habibi akhirnya tenang dalam pelukan Amira. “Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal,” ujar Umi Salma pelan, “dia mau menyusu sampai kenyang.”

Mirza mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Wajahnya sulit dibaca.

Sementara Amira semakin gelisah. Ia takut suaminya marah. Takut dianggap lancang.

Namun Umi Salma belum selesai. “Saya ingin meminta izin,” lanjutnya hati-hati, “agar Amira membantu menjadi ibu susu untuk Habibi.”

Kalimat itu membuat Mirza akhirnya benar-benar terdiam. Mirza tidak langsung menjawab. Ia duduk diam beberapa saat sambil memandangi bayi kecil di dalam baby box. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya bergerak cepat ke mana-mana.

Menjadi ibu susu cucu keluarga pesantren besar bukan perkara kecil.

Itu artinya hubungan mereka dengan ndalem tidak akan putus begitu saja.

Dan Mirza tahu persis sebesar apa pengaruh keluarga itu.

Pondok milik mereka termasuk yang paling besar di kota itu. Ribuan santri mondok di sana. Banyak ustaz muda berharap bisa mengajar di pesantren tersebut karena gajinya jauh lebih baik dibanding madrasah biasa. Mirza pun dahulu pernah melamar, sayangnya ia tidak diterima sebab tidak terlalu bagus bahasa Arabnya.

Belum lagi fasilitasnya. Tempat tinggal. Tunjangan kesehatan. Kesempatan melanjutkan pendidikan. Bahkan beberapa pengajar diberangkatkan kuliah ke luar kota dengan biaya pondok.

Mirza pernah mendengar cerita itu berkali-kali dari teman-temannya sesama ustaz. Dan sekarang kesempatan itu seperti berdiri tepat di depan matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!