NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Jadi Pacar Saya ?

...****************...

Waktu terus berlalu tanpa terasa hingga cahaya matahari di luar perlahan mulai berubah lebih redup.

Suasana kampus yang sejak tadi ramai juga mulai jauh lebih tenang dibanding siang sebelumnya. Dari jendela ruangan Arga, matahari terlihat samar memantulkan warna keemasan pucat, sementara lorong fakultas di luar mulai sepi karena sebagian besar mahasiswa sudah pulang.

Di dalam ruangan itu sendiri, suasana masih tetap tenang.

Suara ketikan keyboard terdengar pelan dari meja kerja Arga, sesekali bercampur dengan bunyi halaman dokumen yang dibalik perlahan. Aroma kopi yang tadi memenuhi ruangan mulai bercampur samar dengan hawa dingin pendingin ruangan yang membuat suasana sore terasa semakin nyaman dan mengantuk.

Sementara di sofa sudut ruangan, Rhea masih tertidur tanpa gangguan sedikit pun.

Hingga beberapa saat kemudian, alis gadis itu akhirnya bergerak samar.

Rhea menggeliat kecil sambil menarik napas panjang. Tangannya bergerak asal meraba sisi sofa sebelum perlahan matanya terbuka setengah sadar. Pandangannya sempat kosong beberapa detik menatap langit-langit ruangan, seperti otaknya belum benar-benar kembali bekerja setelah tidur cukup lama.

Baru setelah kesadarannya perlahan penuh, ia menoleh pelan ke arah meja kerja.

Dan benar saja.

Arga masih ada di sana.

Pria itu duduk di kursinya sambil menatap layar laptop dengan satu tangan menopang dagu. Cahaya dari layar laptop memantul samar di wajahnya yang terlihat lelah tetapi tetap tenang seperti biasa.

Rhea mengusap wajahnya pelan lalu duduk lebih tegak sambil merapikan rambutnya yang berantakan asal dengan jemarinya.

Arga yang sadar Rhea sudah bangun akhirnya melirik sekilas tanpa menghentikan pekerjaannya.

“Sudah bangun, tuan putri?”

Nada suaranya terdengar datar seperti biasa, tetapi cukup membuat Rhea langsung mendecih kecil sambil memeluk bantal sofa di sampingnya.

“Maaf pak…” gumamnya pelan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. “Saya ketiduran…”

Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali tertuju pada layar laptop beberapa detik sebelum akhirnya ia bersandar pelan ke kursinya.

“Kalau mengantuk, tidur di rumah.”

Rhea langsung mengerucutkan bibir kesal.

“Saya capek gara-gara bapak juga,” omelnya sambil menyipitkan mata malas. “Bapak akhir-akhir ini nyuruh saya ini itu terus.”

“Saya nyuruh ya memang itu tugas kamu.”

“Ck.”

Rhea langsung memalingkan wajah sambil memeluk bantal lebih erat seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Pemandangan itu membuat tatapan Arga tanpa sadar tertahan lebih lama di wajah Rhea.

Ekspresi kesalnya benar-benar terlihat jelas. Bibirnya mengerucut tipis, alisnya sedikit turun, sementara wajahnya masih terlihat setengah mengantuk setelah bangun tidur.

Dan entah kenapa, itu justru terlihat menggemaskan di mata Arga.

Sial.

Pria itu akhirnya mengembuskan napas panjang lalu menyandarkan punggungnya lebih dalam ke kursinya.

“Buka matamu,” ucapnya tenang. “Lalu makan itu.”

“Hm?” Rhea langsung berkedip bingung sambil menoleh ke sekeliling. “Makan apa pak?”

Arga tidak menjawab. Ia hanya menunjuk pelan ke arah meja di depan sofa menggunakan dagunya.

Rhea refleks mengikuti arah pandang itu.

Dan matanya langsung membesar.

“Wah!” tubuhnya spontan maju sedikit. “Pak Arga beliin saya sushi?”

“Hmm.”

“Beneran pak?”

“Cepat makan sebelum dingin.”

Wajah Rhea yang tadi masih lemas langsung berubah cerah begitu saja.

Ia buru-buru menarik paper bag di atas meja lalu membukanya dengan mata berbinar seperti anak kecil mendapat hadiah.

“Tumben baik banget…” gumamnya sambil menoleh curiga ke arah Arga. “Ada apa pak? Pasti mau nyuruh-nyuruh saya lagi kan?”

“Kamu ini kenapa curiga terus sama saya?” Arga mengangkat sebelah alisnya tipis sambil menatap Rhea datar. “Saya belikan makan kamu curiga. Saya tidak belikan kamu bilang saya pelit.”

Rhea langsung tertawa kecil.

“Pft… iya iya. Jangan marah,” ujarnya santai sambil membuka sumpit kayu. “Kan bercanda…”

Arga hanya menggeleng kecil sebelum kembali menatap layar laptopnya lagi, meskipun sudut bibirnya sempat bergerak tipis tanpa sadar.

Sementara itu, Rhea mulai makan sushi dengan lahap.

Sesekali gadis itu bersandar santai di sofa sambil memainkan ponselnya di sela-sela makan, membuat suasana ruangan kembali tenang seperti sebelumnya.

Hanya suara plastik makanan, ketikan keyboard, dan pendingin ruangan yang terdengar samar memenuhi sore itu.

Sampai akhirnya suara Rhea kembali terdengar pelan.

“Pak…”

“Hm…”

Rhea menoleh sedikit ke arah meja kerja Arga sambil menggigit ujung sumpitnya sendiri kecil.

“Pak Arga punya pacar?”

Tangan Arga yang sejak tadi mengetik perlahan berhenti. Tatapannya terangkat pelan ke arah Rhea, memperhatikan gadis itu beberapa detik sebelum akhirnya bersandar sedikit di kursinya.

“Kenapa tiba-tiba kamu tanya tentang hal pribadi saya?”

“Ya kan cuma tanya…” jawab Rhea santai sambil mengangkat bahu kecil.

“Tidak punya.”

“Oh…” Rhea mengangguk kecil pelan sebelum kembali mengambil sushi lain. “Tapi pernah pacaran?”

Arga langsung menatapnya datar.

“Kamu pikir saya tidak normal? Tentu saja pernah.”

“Pft…”

Rhea menahan tawanya kecil sambil buru-buru menunduk lagi.

“Pak Arga tidakk cari pacar lagi?”

Kali ini Arga tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru tertahan beberapa detik pada wajah Rhea yang masih sibuk makan tanpa sadar sedang diperhatikan.

“Kenapa?” suaranya terdengar rendah dan tenang. “Kamu mau jadi pacar saya?”

Glek.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk…!”

Rhea langsung tersedak hebat sampai tubuhnya membungkuk ke depan sambil buru-buru menutup mulutnya sendiri.

Matanya membulat sempurna tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Arga refleks berdiri dari kursinya.

“Uhuk… uhuk…”

Wajah Rhea langsung merah total sampai ke telinga. Matanya bahkan mulai berair karena tersedak mendadak.

Arga berjalan cepat mendekat lalu mengambil botol minum di meja dan memberikannya ke arah Rhea.

“Minum dulu.”

Rhea langsung menyambar botol itu tanpa banyak pikir lalu meneguk air beberapa kali sampai napasnya perlahan mulai normal kembali.

Namun wajahnya masih panas luar biasa.

“Jangan bercanda ya pak…” protesnya sambil batuk kecil sisa tersedak. “Saya kan tanya serius…”

Arga berdiri di depan sofa sambil menatapnya lurus.

“Saya juga serius,” jawabnya tenang tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. “Kamu kira saya suka bercanda?”

Dan seketika Rhea langsung diam.

Matanya membesar pelan sementara otaknya seperti mendadak berhenti bekerja beberapa detik.

“Eh… itu… saya…”

Panik sendiri, Rhea buru-buru mengalihkan pandangan sambil meraih sushi di kotaknya asal meskipun tangannya sedikit salah tingkah.

“Ah sudahlah pak…”

Wajahnya masih merah padam.

Dan entah kenapa, sekarang ia jadi tidak berani menatap Arga terlalu lama lagi.

Sementara itu, Arga masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan reaksi Rhea tanpa bicara apa pun.

Tatapannya perlahan turun pada wajah gadis itu yang jelas sedang panik sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, sudut bibir Arga benar-benar terangkat tanpa ia tahan lagi.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!