Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KALIGRAFI DAN KEBENARAN
Para sutradara masih berdiri rapi di depan pintu studio. Tangan mereka masih menangkup. Pai pai. Seperti pasukan yang menunggu komandan.
Eng Sok menatap mereka sebentar. Kipas lipat di tangannya masih terbuka—lukisan gunung di atas kertas tipis itu bergetar sedikit karena angin dari pendingin ruangan.
"Masuk," kata Eng Sok singkat.
Dan para toian itu masuk.
---
Ruang rapat studio Hok Lan Thien berukuran sedang. Meja panjang di tengah, kursi-kursi plastik warna-warni mengelilinginya. Di dinding, poster drama-drama kolosal yang pernah diproduksi: ada yang sudah tayang, ada yang batal karena kekurangan dana.
Toian Hoan, Toian Tio, dan dua sutradara lain—Toian Steve dan Toian Ayung—duduk di kursi masing-masing. Mereka masih belum sepenuhnya sadar dari "ledakan wibawa" tadi. Toian Steve, yang paling muda dan paling nekat, bahkan masih diam membisu.
“Jangan lupa jadwal Ah Me. Di Google Calendar!”, kata Sioh Bu.
Eng Sok duduk di ujung meja. Kipasnya ia lipat. Masukkan ke saku jaket.
"Baik," katanya. "Saya dengar kalian rebutan jadwal saya."
Suaranya datar. Tidak tinggi. Tapi meja panjang itu terasa kecil tiba-tiba.
Toian Hoan berdehem. "Iya, Bu... eh, Koh Bu... eh, Sioh Bu. Gini. Gue butuh lu buat mini series tiga episode. Karakter antagonis lagi. Bayaran naik."
"Gue butuh figuran khusus buat adegan perang," sela Toian Tio. "Cuma tiga hari. Tapi lu harus ajarin pasukan figuran gerak-gerak kayak tentara beneran."
Toian Ayung, yang biasanya diam, tiba-tiba angkat suara. "Gue butuh lu jadi pemeran pembuka. Cuma satu adegan di 30 episode. Tapi tokoh figuran konsisten. Bayaran sama kayak main di set gue. Tapi sebulan pasti duit jalan terus"
Toian Steve yang terakhir bicara. "Gue... gue mau kasih lu peran utama. Di 40 episode. Bayaran? Dua kali lipat mereka lah per episode."
Semua toian menoleh.
"Apa?" Toian Hoan hampir berdiri.
"Peran utama," ulang Toian Steve. Matanya tidak goyah. "Drama kolosal tujuh episode. Judulnya Pedang Terakhir Chhai Lian Hoe Po. Karakter utama adalah seorang pangeran yang dikhianati sepupunya terus jadi psikopat. Gua lihat video lu di Instagram. Gua mau ku transisi dari pria baik ke Psikopat itu."
Semua diam. Toian Steve menyambung alatnya dengan HP Sioh Bu dan membuat jadwal bersama Toian lain. Jadi gak tabrakan. Termasuk dengan jadwal ambil rapot Ah Ti dan Cek Up Ah Me.
Eng Sok tidak bereaksi. Wajahnya tetap tenang—tidak bangga, tidak terkejut. Seperti orang yang sudah mendengar tawaran seribu kali. “Baik Tauke. Ada kertas dan tinta? Nanti gua tulis kontraknya”, jawab Eng Sok pelan. “Nih udah diprint. Lu baca dah!”, jawab mereka sambil menyodorkan kertas.
Di sudut ruangan, Sioh Bu melayang. Mulutnya terbuka. Ia ingin berteriak: "TERIMA, PANGERAN! TERIMA, GOBLOK!"
“BACA DULU BEGO! NANTI KENA TIPU OO”, kata Pangeran dalam telepati matanya menyipit ke arah Sioh Bu lalu mendengus dan membaca kontrak perlahan Untung tidak ada yang mencurigakan
Untuk Kontrak Toian Ayung dia minta tambah klausul karena dianggap multitafsir. Toian Ayung mencoret kalau minta sekertaris perbaiki. Nggak lama kontrak baru datang.
Ia keluar minta tinta padat dan kuas ke kru yang lewat. Memejamkan mata, mengingat tantangan Sioh Bu dan menandatangani… pake kuas jadul. Semua Toian langsung bilang,”Kalo menjalani peran tolong jangan terlalu dalem. Sampai tanda tangan aja pake kuas!”
Pangeran lemas cuma bilang, “Maaf Toian. Tapi saya lupa cara pakai pulpen. Enam bulan loh saya dapat drama kostum terus. Dan kayaknya masih lanjut 5 bulan ke depan. Kebawa peran”
Arwah Sioh Bu hanya melayang sambil memegang kepala, “ndeso…ndeso. Tapi pas bikin klausul ciamik sih. Cengli memang.”, kata Sioh Bu lirih.
---
Kontrak sudah ditandatangani dan salinannya ia simpan di tas dalam map rapi. Lalu, Eng Sok menuju set pertama.
Ah Oan sudah menunggu di kursi rias. Tangannya gemetar memegang kuas bedak. Di lehernya, jimat giok naga menggantung. Ia sudah merogoh tas tiga kali untuk memastikan jimat itu masih ada.
"Sa-Sa-Sioh Bu," katanya terbata. "Duduk, ya."
Eng Sok duduk. Ah Oan mulai merias.
Tapi aneh. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada ledakan energi. Tidak ada kesurupan. Tidak ada mata berubah warna. Eng Sok hanya duduk diam dengan wajah tenang, sementara Ah Oan menggoreskan eyeliner di kelopak matanya.
"Walaaauuueee," pikir Ah Oan. "Udah keluar duit beli jimat ternyata gak kemasukan roh jahat. Gak ngincer gue!"
Napasnya lega. Tangannya berhenti gemetar.
"Cici, bedaknya kebanyakan di dagu," kata Eng Sok.
"Eh? Iya, iya!"
Ah Oan tersenyum. Mungkin ini masih Sioh Bu. Sioh Bu yang sedikit aneh. Tapi tetap Sioh Bu.
---
Syuting dimulai.
Setting pertama: adegan perang. Eng Sok berperan sebagai panglima musuh. Dialognya singkat, tapi tatapannya—seperti biasa—terlalu tajam untuk seorang figuran.
Pengambilan gambar pertama lancar. Tidak ada masalah.
Pengambilan gambar kedua: dialog romantis. Eng Sok susah kalo dialog gini. Zaman dulu cinta-cintaan kayak batang yang siap diukir: keras.
Tapi logat cintanya terlalu kuno. Kedengarannya seperti diplomat Kerajaan Cia Agung yang sedang berbicara dengan utusan asing.
"Cut!" teriak Toian Hoan. "Sioh Bu, itu mbok romantis gitu loh. Kayak orang biasa."
Lanjut.
Pengambilan gambar ketiga: Eng Sok mengulang. Kali ini lebih santai. Tapi tetap ada sedikit wibawa yang tidak bisa ia buang. Kali ini dia udah mulai paham dialog dengan romantis di set drama kostum.
Tapi Toian Hoan tidak complain lagi. "Lanjut. Udah cukup."
Setting berikutnya: perang tanding. Eng Sok melawan seorang aktor yang memerankan pahlawan. Pedang mereka bertemu. Ting. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Aktor lawan mainnya mulai berkeringat. Dia kagum. Kesulitan terbesar aktor-aktor itu gerakan pedang. Tapi Sioh Bu alias Eng Sok udah santai dan lemas. Seolah-olah tau gerakan apa yang diharapkan dari sekte silat itu.
"Lu main pedangnya dari mana, Bu?" bisik aktor itu di sela adegan.
"Ya pas kuliah," jawab Eng Sok.
Selesai syuting, aktor itu berkata ke asistennya: "Gue kayak lihat fosil pangeran hidup lagi, sumpah. Padahal gua adik kelas lu. Dulu lu kaku padahal kalo ginian"
Asistennya mengangkat bahu. "Dia kan sering main drama kostum. Mungkin udah hafal gerakannya."
"Mungkin."
Mereka mewajarkan. Karena akan terlalu aneh jika tidak.
---
Senja datang.
Bus jalur baru berhenti tepat di depan studio. Eng Sok naik. Kipas lipat di saku jaket. Kaos "I Love You Chhai Lian Hoa" sedikit basah oleh keringat.
Sioh Bu melayang di sampingnya.
"Sioh Bu," bisik pangeran itu. "Kalo kita ketauan Ah Me sama Ah Ti... gimana?"
Eng Sok menatap ke luar jendela. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. "Pasti ketahuan," kata Sioh Bu.
"Iya," Eng Sok menghela napas.
"Tapi Ah Me pasti diam. Ah Ti juga.”, balas Sioh Bu.
Ia berhenti sejenak. Dia melihat Sioh Bu,”kenapa?”
"Duit, Pangeran. Mereka butuh duit. Lu satu-satunya yang bisa cari nafkah sekarang."
Eng Sok tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata. Getaran bus di bawah kakinya terasa seperti getaran kuda yang berlari kencang di medan perang.
Tapi medan perang ini berbeda.
Senjatanya uang.
Musuhnya takdir.
---
Hari itu Jumat.
Ah Ti libur besok. Sabtu dan Minggu, ia tidak mau melakukan apa pun selain main—kecuali ujian tengah semester atau akhir semester. Maka PR yang jatuh tempo Senin harus diselesaikan hari ini.
Eng Sok tiba di rumah. Ah Me sedang tidur di kamar. Ah Ti duduk di meja belajar dengan wajah masam.
"Koko," katanya begitu Eng Sok masuk. "Aku ada tugas kesenian."
"Apa?"
"Bikin kaligrafi."
Ah Ti menyodorkan selembar kertas. Di sana tertulis instruksi: Buatlah satu kalimat bermakna dengan gaya kaligrafi. Boleh aksara Mandarin, boleh Latin.
"Ada tinta?" tanya Eng Sok.
Ah Ti mengeluarkan botol kecil dari tasnya. Tinta cair. Hitam pekat. Gambar naga di labelnya.
Eng Sok melongo.
Ini tinta?
Ia biasa pakai tinta padat yang diencerkan dengan air. Bukan tinta cair seperti ini. Ia mengambil kuas Ah Ti—kuas murah dengan ujung yang sudah agak bercabang. Kemudian ia mencoba di kertas bekas.
Pertama, tinta tanpa campuran air. Terlalu kental. Garisnya putus-putus, seperti ular yang kejang-kejang.
Kedua, tinta dengan sedikit air. Masih terlalu gelap. Kuasnya menyeret.
Ketiga, tinta dengan campuran air hingga encer. Garisnya pecah. Tidak beraturan.
Eng Sok menggeleng. "Gak bagus ini tintanya. Sulit diencerkan tapi pas kental juga pecah”
Ah Ti mengerjap.
Di kamar, Ah Me mendengar kalimat itu. Tangannya memegang erat selimut. Ia ingat—kakek mertuanya dulu pernah berkata: "Tinta cair cap naga itu jelek. Tidak bisa dipakai kaligrafi yang benar."
Tapi itu dulu. Itu zaman kolonial.
Siapa lagi yang tahu soal itu sekarang?
Ah Me menggigit bibir. Di samping tempat tidurnya, tiba-tiba ada sosok melayang. Lao Ma Im—penjaga gaib keluarga mereka. Wajahnya keriput, tapi matanya bening.
"Dia baik," kata Lao Ma pelan. "Cuma... kuno. Lebih-lebih kuno daripada aku."
Lao Ma tertawa kecil. Lalu ia menepuk pundak Ah Me—dingin, seperti embun pagi.
Dan hilang.
---
"Koko, anter aku ke toko alat tulis," kata Ah Ti.
Eng Sok mengecek ponsel barunya—dari Toian Steve. Ia membuka aplikasi dompet digital. Berapa saldonya? Tidak banyak. Ia melihat catatan keuangan Sioh Bu. Pengeluaran untuk obat, untuk makan, untuk uang sekolah Ah Ti.
Ia menentukan budget. Termahal untuk tinta. Kalau perlu, ia bisa berhemat yang lain.
"Baik. Ayo."
Mereka berjalan beberapa blok. Matahari sudah hampir tenggelam. Langit berwarna jingga.
Toko alat tulis "Kim Bwee" berada di pinggir jalan. Lampu neon di depannya berkedap-kedip. Di dalam, rak-rak penuh dengan buku, pulpen, pensil, dan berbagai alat tulis lainnya.
Ah Ti langsung menuju rak tinta. "Ini, Koko. Banyak."
Eng Sok mengamati. Botol-botol tinta cair berjejer rapi. Hitam, biru, merah, bahkan emas. Ada yang merk terkenal, ada yang murah.
Tapi di rak paling bawah, hampir tertutup debu...
Tinta padat.
Eng Sok berjongkok. Ia mengambil satu kotak kecil. Merk Chheng Liong. Di dalamnya, bulatan hitam pekat berwarna sabak.
"Ini," katanya.
Pemilik toko—Tauke Kim, seorang pria tua dengan kacamata tebal—berjalan mendekat. "Kokoh mau tinta padat? Jarang yang beli."
"Saya butuh," kata Eng Sok. "Saya juga butuh kuas. Yang bulunya bagus."
Ia memilih beberapa kuas. Bukan yang termahal. Tapi yang terasa benar di tangannya. Juga palet—bukan dari keramik, tapi dari plastik. Murah. Tapi bentuknya seperti palet jaman kerajaan dulu.
Dan kertas. Eng Sok hampir tersentak saat melihat harga kertas kaligrafi. Murah. Sangat murah. Di zamannya, kertas seputih porselen ini hanya bisa dimiliki bangsawan.
Ia membeli kertas cokelat juga—yang lebih murah lagi. Untuk latihan.
"Koko, mau brush pen?" Tauke Kim menyodorkan sebuah pena modern dengan ujung seperti kuas. "Ini feel kuas, Kokoh. Tapi gak usah kayak kaligrafi. Enak buat nulis sehari-hari."
Eng Sok mencoba. Goresannya... bisa diterima. Tidak sebagus kuas asli, tapi lebih praktis.
Ia membeli satu buku catatan. Dua brush pen. Dan satu cairan aneh berwarna putih untuk menghapus tulisan.
“Joyle Correction pen”, kata Tauke Kim.
Ah Ti di belakang hanya diam. Ia tidak pernah melihat Koko-nya begitu fokus memilih alat tulis. Biasanya Sioh Bu asal beli. Murah. Cepat.
Koko ini beda, pikir Ah Ti.
Tapi ia tidak mau bertanya.
---
Di rumah, Eng Sok makan malam dengan cepat. Ah Me makan di kamar—masih lebih nyaman berbaring. Setelah itu, Eng Sok mandi. Air dingin mengalir di rambut panjangnya. Minyak Sam Hok Liong ia oleskan tipis-tipis.
Lalu ia mengajak Ah Ti meditasi.
"Ngapain sih, Koh, kultivasi?" omel Ah Ti. "Nanti jadi inti emas?"
Eng Sok duduk bersila di ruang tengah. "Kaligrafi butuh tangan yang tenang. Getar sedikit saja, hasilnya jelek. Tidak proporsional."
Ah Ti melamun.
Iya. Tadi di sekolah, teman-temannya mengeluh. Kaligrafi mereka kegedean atau kekecilan. Ada yang miring. Ada yang tebal di kiri tipis di kanan. PR mereka sudah selesai semua—matematika, IPA, bahasa Indonesia. Tinggal kaligrafi.
"Baiklah," Ah Ti duduk di seberang Eng Sok. "Ajarin."
Pertama, Eng Sok mengajari Ah Ti melemaskan jari. Gerakan kecil. Memutar pergelangan tangan. Meremas-remas jari-jari.
Kedua, memegang kuas. "Tidak boleh terlalu erat. Tidak boleh terlalu longgar. Seperti memegang burung yang tidak mau terbang—tapi juga tidak mau mati."
Ah Ti mengerjap. "Perumpamaan Koko aneh. Kayak…."
"Terima saja."
Ketiga, melarutkan tinta padat. Eng Sok menuang sedikit air ke palet. Lalu ia menggosokkan tinta Chheng Liong perlahan. Hitam pekat mulai larut. Warna yang benar. Tidak keabu-abuan. Tidak keunguan. Hitam yang jernih.
"Sekarang coba," kata Eng Sok.
Ah Ti mengambil kuas. Ia mencelupkannya ke tinta. Lalu—dengan bimbingan Eng Sok—ia mulai menulis di kertas cokelat.
Ajaib.
Tangannya yang biasanya kaku menjadi lembut. Garis-garis yang keluar tidak lagi putus-putus. Tidak lagi miring. Ah Ti menulis satu kata: "Thian" — Langit.
Rapi. Sangat rapi.
Ah Me, yang mengintip dari celah pintu, menutup mulutnya dengan tangan.
Siapa orang ini? pikirnya. Bahkan aku tidak bisa menulis serapi itu.
"Bagus," kata Eng Sok. "Sekarang coba lihat contoh Koko."
Ia mengambil kuas. Kertas baru. Sekali gores—tanpa pikir panjang—ia menulis.
Aksara-aksara kuno. Bergaya. Berwibawa. Seperti ukiran di batu prasasti.
"Hidup seperti bunga krisan, mati seperti daun yang gugur."
Ah Ti membaca. Ia tidak mengerti semua aksara. Tapi ia merasa sesuatu. Berat. Sedih. Tapi indah. Dan tulisan itu pasti bukan tulisan Koko dia. Beda.
Lalu, tiba-tiba, ia meledak.
"KOKO SIAPA?!"
Air matanya jatuh. Kuas terlepas dari tangannya.
"KOKO BUKAN KOKO SIOH BU!", erangnya tertahan. Ia tidak bisa teriak
---
Ruangan menjadi sunyi.
Ah Ti menangis tersedu-sedu. Bahunya naik turun. Wajahnya merah.
"Koko... Koko gue... kemana?!", bisik anak kecil itu.
Eng Sok tidak bergerak. Ia hanya menatap anak kecil di depannya. Dadanya terasa sesak—bukan karena racun, tapi karena sesuatu yang lebih menyakitkan.
Kehilangan.
Ia tahu rasanya.
Pintu kamar Ah Me terbuka. Perempuan itu keluar dengan tongkat di tangan. Langkahnya pelan. Tapi matanya tajam.
"Ah Ti," kata Ah Me pelan. "Duduk."
"MA, KOKO—"
"Duduk."
Ah Ti duduk. Tangannya masih menggenggam ujung baju Eng Sok.
Ah Me mengambil napas panjang. Lalu ia berkata:
"Koko kamu... sudah meninggal. Hari itu. Kecelakaan kereta."
Ah Ti terdiam. Mulutnya terbuka. Tidak ada suara.
Ah Me melanjutkan. "Mama... Mama sudah tahu. Sejak semalam. Mama sudah mengumpulkan potongan bajunya di sekitar rel."
Suaranya patah. "Mama sudah bakar. Simbolis. Dan menyalakan dupa."
Ia menatap Eng Sok. "Kamu... kamu siapa?"
Eng Sok menunduk. Tangan kanannya mengepal di atas lutut.
"Nama saya Koh Eng Sok," katanya pelan. "Pangeran dari Kerajaan Chhai Lian Hoe Po. Dari zaman... seribu lima ratus tahun yang lalu."
Ah Ti terperangah. "AP—"
"Saya terlempar ke sini," Eng Sok memotong. "Ada portal. Api biru. Saya tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ketika saya sampai di dunia ini, tubuh Sioh Bu sudah... hancur. Hanya arwahnya yang tersisa."
Ia menunjuk ke udara di sampingnya. "Dia di sini. Sekarang. Sedang melayang."
Sioh Bu, yang sedari tadi terdiam, mengangkat tangan. Gelombang. Meskipun Ah Ti dan Ah Me tidak bisa melihatnya.
"Saya bisa melihatnya," kata Eng Sok. "Dia yang mengajari saya semuanya. Naik bus. Masak pakai rice cooker. Bilang 'ekstension' soal rambut."
Ah Me terdiam.
Ah Ti masih menangis. Perlahan, tangannya melepaskan baju Eng Sok. Lalu ia memeluk dirinya sendiri.
"Koko... Koko..."
Ah Me mendekat. Duduk di samping Ah Ti. Ia memeluk anak bungsunya. Wangi dupa masih menempel di pakaiannya.
"Kamu harus diam, Ti," bisik Ah Me. "Kamu tidak bisa bilang siapa-siapa. Kalau orang tahu Koko kamu sudah meninggal, tidak ada yang cari nafkah untuk kita. Obat Mama tidak ada yang bayar. Sekolah kamu—"
"TAPI DIA BUKAN KOKO GUE!" erang Ah Ti.
Diam.
Ah Me mengusap rambut Ah Ti. "Iya. Tapi dia satu-satunya yang kita punya sekarang."
Ah Ti terisak. Perlahan, kepalanya menunduk ke pangkuan ibunya.
Eng Sok hanya diam.
Di udara, Sioh Bu jongkok. Dadanya mengembang mengempis—tanpa detak, tanpa napas, tanpa air mata.
Maaf, Ti, bisiknya dalam hati. Maaf...
---
Malam itu, Ah Ti tidur di kamar Ah Me.
Eng Sok tidur di ruang tengah.
Dan arwah Sioh Bu melayang di langit-langit, menatap mereka bergantian.
Dunia ini aneh, pikir Eng Sok sebelum terlelap.
Tapi mungkin... ia mulai mengerti.
BERSAMBUNG
🪷👩❤️👨💐