NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kota para jenius

Platform Akademi Zenith dipenuhi cahaya putih kebiruan yang memantul dari lantai kaca transparan. Begitu Alya melangkah keluar dari kereta magnetik, ia langsung merasa seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda.

Udara di sekitar akademi terasa lebih sejuk dibanding Neo Jakarta.

Tidak ada suara kendaraan bising.

Tidak ada keramaian pasar sektor timur.

Yang terdengar hanya langkah para siswa, suara lembut mesin otomatis, dan pengumuman digital yang bergema pelan dari speaker tersembunyi.

Alya berdiri terpaku sambil melihat sekeliling.

Gedung-gedung akademi menjulang megah seperti menara masa depan. Dindingnya terbuat dari kaca metalik yang memantulkan langit pagi. Jembatan transparan melayang menghubungkan setiap bangunan, sementara drone kecil terbang hilir mudik membawa barang dan dokumen.

Di tengah kompleks berdiri menara spiral raksasa yang tadi ia lihat dari kereta.

“Itu Menara Zenith,” kata Hana yang berdiri di sampingnya. “Pusat seluruh sistem akademi.”

Alya masih tidak bisa mengalihkan pandangan.

“Ini lebih besar dari yang kubayangkan…”

“Semua orang bilang begitu saat pertama datang.”

Ratusan siswa baru berjalan memenuhi platform sambil membawa koper dan tas. Sebagian tampak percaya diri, sebagian lagi sama gugupnya dengan Alya.

Namun ada satu hal yang langsung disadari Alya.

Kebanyakan siswa terlihat berasal dari keluarga kaya.

Pakaian mereka mahal.

Perangkat digital mereka terbaru.

Cara bicara mereka pun berbeda.

Alya tanpa sadar menggenggam tali tasnya lebih erat.

Ia tiba-tiba merasa sangat kecil di tempat itu.

“Jangan tegang,” kata Hana sambil menyenggol lengannya pelan.

“Aku terlihat tegang?”

“Sedikit.”

Alya tertawa gugup.

Mereka berjalan mengikuti arus siswa menuju aula registrasi utama.

Di sepanjang jalan, layar hologram besar menampilkan berbagai prestasi Akademi Zenith.

Pusat penelitian terbaik Asia.

Sekolah pencetak ilmuwan dunia.

Pemenang kompetisi AI internasional selama dua belas tahun berturut-turut.

Alya membaca semuanya dengan perasaan campur aduk.

Bagian kecil dalam dirinya merasa bangga bisa berada di sana.

Namun bagian lainnya takut tidak mampu bertahan.

“Semua orang di sini pasti pintar,” gumamnya.

Hana mengangkat bahu.

“Dan sekarang kamu salah satunya.”

“Aku tidak yakin.”

“Kamu lolos beasiswa penuh, Alya. Itu sulit sekali.”

Alya terdiam.

Ia tahu Hana hanya mencoba menyemangatinya, tetapi rasa tidak percaya dirinya belum hilang.

Tak lama kemudian mereka tiba di aula registrasi.

Dan sekali lagi Alya terpukau.

Ruangan itu sangat besar dengan langit-langit tinggi yang dipenuhi cahaya hologram bergerak. Robot pelayanan berjalan rapi membantu para siswa, sementara layar digital raksasa menampilkan data akademi secara real-time.

Di bagian tengah aula terdapat bola hologram bumi yang berputar perlahan.

“Selamat datang di Akademi Zenith,” suara AI perempuan terdengar lembut di seluruh ruangan.

Alya mendongak kagum.

“Apa semua tempat di sini semewah ini?”

“Katanya bahkan ruang olahraga mereka lebih bagus dari pusat kota,” jawab Hana.

Mereka mengantre untuk registrasi.

Di depan Alya berdiri beberapa siswa yang sedang berbicara tentang proyek teknologi dan kecerdasan buatan tingkat tinggi.

Alya hampir tidak memahami setengah dari pembicaraan mereka.

“Kalau algoritma kuantumnya gagal, sistem neural bisa runtuh.”

“Makanya aku pakai chip generasi baru.”

“Ayahku membelinya langsung dari Europa Tech.”

Alya menelan ludah pelan.

Ia merasa semakin asing.

Di sektor timur, orang-orang bahkan kesulitan membeli perangkat belajar biasa.

Namun di sini, siswa seusianya membicarakan teknologi mahal seolah itu hal normal.

“Berikutnya,” kata robot registrasi.

Hana maju lebih dulu.

Beberapa detik kemudian data registrasinya selesai.

“Menara Vega, lantai tujuh,” katanya sambil tersenyum puas.

Kini giliran Alya.

Robot berbentuk manusia itu memindai gelang digitalnya.

Memproses data...

Nama: Alya Rahman

Status: Beasiswa penuh

Akses: Aktif

Asrama: Menara Orion, lantai 12

Tiba-tiba beberapa siswa di dekat sana mulai berbisik.

“Orion?”

“Serius?”

“Bukankah itu asrama ranking elit?”

Alya langsung bingung.

“Ada masalah?” tanyanya pelan.

Robot menjawab datar.

“Tidak ada masalah. Selamat datang di Akademi Zenith.”

Namun bisikan para siswa membuat Alya tidak nyaman.

Saat ia selesai registrasi, seorang siswa laki-laki berambut pirang meliriknya sinis.

“Anak beasiswa masuk Orion?” katanya pelan pada temannya.

“Mungkin sistem error.”

Mereka tertawa kecil.

Alya pura-pura tidak mendengar, tetapi dadanya terasa panas.

Hana langsung mendekat.

“Abaikan mereka.”

Alya tersenyum tipis.

Namun jauh di dalam hati, ia mulai sadar bahwa status beasiswa mungkin membuat dirinya berbeda di mata siswa lain.

Tiba-tiba lampu aula sedikit meredup.

Semua layar hologram berubah menampilkan simbol Akademi Zenith.

Dan seluruh ruangan langsung hening.

Seseorang sedang datang.

Beberapa detik kemudian, sekelompok siswa senior masuk melalui pintu utama.

Mereka mengenakan seragam hitam dengan garis perak di lengan.

Aura mereka berbeda dibanding siswa lain.

Percaya diri.

Tenang.

Dan terlihat sangat pintar.

Di barisan depan berjalan Reno.

Tatapannya tetap dingin seperti sebelumnya.

Begitu ia lewat, hampir semua siswa otomatis menyingkir memberi jalan.

“Dia lagi…” bisik Hana.

Alya memperhatikan Reno diam-diam.

Pemuda itu berjalan tanpa memedulikan siapa pun.

Namun entah kenapa, ketika melewati Alya, langkahnya melambat sesaat.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Kali ini Alya bisa melihat lebih jelas wajah Reno.

Matanya gelap dan tajam.

Ekspresinya tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Alya Rahman.”

Alya membeku.

Reno menyebut namanya.

“Hah?”

“Jangan terlalu percaya pada tempat ini.”

Sebelum Alya sempat menjawab, Reno langsung berjalan pergi bersama siswa senior lainnya.

Alya hanya bisa berdiri diam.

“Astaga…” Hana terlihat syok. “Dia tahu namamu?”

“Aku juga tidak tahu…”

“Kenapa dia bicara begitu?”

Alya teringat pesan misterius yang diterimanya sebelumnya.

Hati-hati pada apa yang akan kamu temukan di sana.

Jangan percaya siapa pun di Zenith.

Dan sekarang Reno mengatakan hal yang hampir sama.

Bulu kuduk Alya mulai meremang.

“Aneh…” gumamnya.

Namun sebelum ia bisa memikirkan lebih jauh, suara pengumuman terdengar.

“Seluruh siswa baru dimohon menuju aula orientasi.”

Arus siswa mulai bergerak lagi.

Alya dan Hana mengikuti kerumunan menuju gedung utama.

Mereka melewati taman luas dengan pohon-pohon buatan yang bercahaya lembut. Air mengalir di kanal transparan sepanjang jalan, menciptakan suasana tenang seperti kota impian.

Namun Alya tetap merasa gugup.

Semakin lama berada di Zenith, semakin ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan tempat ini.

Aula orientasi jauh lebih besar dibanding aula registrasi.

Ribuan kursi tersusun melingkar menghadap panggung hologram raksasa.

Begitu semua siswa duduk, lampu perlahan padam.

Lalu seorang pria tua muncul di tengah panggung melalui proyeksi hologram.

“Selamat datang di Akademi Zenith.”

Suaranya berat dan tenang.

“Saya Direktur Adrian.”

Nama itu langsung membuat seluruh ruangan hening.

Alya bisa merasakan aura wibawa pria tersebut bahkan hanya melalui hologram.

“Di tempat ini,” lanjut Adrian, “kalian bukan lagi anak-anak biasa.”

Layar besar menampilkan berbagai pencapaian akademi.

Ilmuwan.

Pemimpin dunia.

Penemu teknologi.

“Zenith menciptakan masa depan.”

Suasana aula terasa megah dan menegangkan sekaligus.

“Kalian telah dipilih karena memiliki kemampuan luar biasa.”

Tatapan Adrian perlahan menyapu seluruh ruangan.

“Namun ingat satu hal.”

Nada suaranya berubah lebih dingin.

“Tidak semua orang akan berhasil bertahan di sini.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Zenith tidak hanya menguji kecerdasan.”

Layar hologram berubah menjadi simulasi kota futuristik.

“Tetapi juga mental, keberanian, dan pilihan hidup kalian.”

Alya menelan ludah.

Entah kenapa kata-kata itu terasa seperti peringatan.

Setelah pidato selesai, para siswa mulai diarahkan menuju asrama masing-masing.

Hana memeluk Alya sebentar.

“Kalau sempat, hubungi aku!”

“Iya.”

“Kita harus tetap berteman.”

Alya tersenyum kecil.

“Tentu.”

Mereka berpisah di persimpangan jalur asrama.

Alya kemudian naik lift transparan menuju Menara Orion.

Lift bergerak cepat menembus sisi luar gedung sambil memperlihatkan seluruh kompleks Zenith dari ketinggian.

Pemandangannya luar biasa indah.

Namun perasaan gugup Alya kembali muncul ketika pintu lift terbuka di lantai dua belas.

Koridor asrama Orion sangat mewah dan tenang.

Lantai putih mengkilap.

Lampu biru lembut.

Pintu kamar otomatis berjajar rapi.

Saat Alya berjalan mencari nomor kamarnya, dua siswa perempuan lewat sambil meliriknya.

“Itu anak beasiswa?”

“Kenapa dia masuk Orion?”

“Aneh sekali…”

Mereka pergi sambil berbisik pelan.

Alya menunduk.

Dadanya terasa sesak.

Mungkin mereka benar.

Mungkin dirinya memang tidak cocok berada di tempat ini.

Akhirnya ia tiba di depan kamar 12-07.

Pintu terbuka otomatis saat gelang digitalnya dipindai.

Dan Alya langsung terpaku.

Kamarnya jauh lebih bagus daripada seluruh rumahnya di sektor timur.

Ada tempat tidur modern, meja belajar holografik, jendela besar menghadap kota, bahkan layar AI pribadi di dinding.

Alya melangkah masuk perlahan.

“Ini… kamarku?”

Ia hampir tidak percaya.

Namun tepat ketika pintu tertutup di belakangnya, layar hologram di dinding tiba-tiba menyala sendiri.

Sebuah pesan muncul perlahan.

SELAMAT DATANG, ALYA.

KEMBALILAH SEBELUM TERLAMBAT.

Wajah Alya langsung pucat.

“Apa…?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!