NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebakaran

Alan melangkah mendekati warung bambu beratap rumbia itu. Aroma menyengat dari gorengan yang digoreng ulang berbaur dengan bau khas minuman keras murah langsung menyergap penciumannya. Di dalam, tawa terbahak-bahak Tigor, Sastro, dan Gendon terdengar jelas, kontras dengan ketegangan yang mendera dada Alan.

​"Pokoknya tar malam kita langsung cabut, Ndut. Jogja udah nunggu, duit lima juta mah bisa buat foya-foya dua hari dua malam," suara Tigor menggelegar, disusul dentingan botol kaca yang saling beradu.

​Alan sengaja menyenggol pintu tripleks warung yang agak reyot hingga menimbulkan suara decitan keras. Langkah kakinya sengaja dibuat santai, seolah-olah dia hanyalah musafir kelaparan yang butuh segelas kopi.

​"Permisi..." ujar Alan dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengesankan sosok pria kota yang lemah seperti yang baru saja mereka bicarakan.

​Seketika, tawa di dalam warung itu terhenti. Tiga pasang mata langsung tertuju pada Alan. Sastro yang sedang memegang selembar uang seratus ribuan buru-buru memasukkannya ke dalam saku celana. Tigor menyipitkan matanya, menatap Alan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Nyari siapa, Mas? Kalau mau ngopi, ibunya lagi ke pasar. Adanya cuma gorengan sama air putih," kata Gendon dengan nada ketus, berusaha mengusir.

​Alan pura-pura tidak mendengar. Dia justru melangkah mendekati meja mereka, lalu menarik sebuah kursi plastik yang agak miring. "Nggak apa-apa, Mas. Saya cuma mau numpang duduk sebentar. Capek abis jalan jauh dari Bruno."

​Mendengar kata "Bruno", ekspresi Tigor langsung berubah. Tatapannya yang tadi santai mendadak berubah menjadi tajam dan penuh selidik. Dia menyikut lengan Sastro diam-diam.

​"Lu... orang dari Bruno?" tanya Tigor, suaranya naik satu oktav.

​"Bukan," Alan tersenyum kecut, tatapannya langsung mengunci mata Tigor. "Saya Alan. Orang yang tadi pagi rumah saudaranya kalian obrak-abrik, terus kalian fitnah punya utang sama bos kota. Inget?"

​Suasana di dalam warung mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara dengung kipas angin dinding yang sudah berkarat. Gendon dan Sastro refleks berdiri, tangan mereka sudah bersiap di atas meja, sementara Tigor mencoba tetap tenang meski guratan kaget tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang sangar.

​"Oh... jadi lu yang namanya Alan?" Tigor terkekeh, mencoba menutupi rasa terkejutnya. Dia bersandar pada sandaran kursi bambunya. "Berani juga lu nyamperin kita ke sini. Kagak takut lu kita hancurin sekalian di sini?"

​"Buat apa takut? Saya ke sini cuma mau nanya satu hal yang simpel banget," kata Alan, tangannya sengaja bersedekap di dada—memastikan mikrofon ponsel di kantong kemejanya berada dalam posisi ideal untuk menangkap suara. "Siapa yang nyuruh kalian? Riko, kan?"

​Sastro langsung melotot. "Wah, jangan sok tahu lu, Mas-Mas Kota! Kita kagak kenal yang namanya Riko-Rikoan!"

​"Halah, Sas, gausah akting," potong Alan sambil mendengus remeh. "Tadi di luar aku denger kalian nyebut-nyebut nama Riko. Katanya transferan lima juta udah masuk, kan? Buat ukuran preman pasar kayak kalian, duit segitu pasti berharga banget sampai rela jauh-jauh dari Jakarta ke pelosok Purworejo cuma buat ngerusak rumah tangga orang."

​Tigor mendengus kasar, lalu mematikan rokoknya ke dalam piring bakwan. "Kalau emang iya Bos Riko yang nyuruh, lu mau apa, hah? Mau ngaduan? Mau lapor polisi? Punya bukti apa lu?"

​"Aku nggak butuh lapor polisi, Gor," pancing Alan lagi, sengaja menyebut nama panggilan Tigor yang dia dengar tadi. "Aku cuma mau tahu, kenapa Riko sampai seniat itu? Dia bayar kalian cuma buat bikin Xarena benci sama aku, kan?"

​Tigor tertawa terbahak-bahak, merasa di atas angin karena mengira Alan tidak membawa persiapan apa pun. "Lu emang bego ya, Alan. Bos Riko itu tajir! Dia cuma pengen Xarena balik ke Jakarta dan lepas dari cowok miskin kayak lu. Makanya dia nyuruh kita bikin skenario kalau lu itu punya utang judi, utang preman, biar bini lu ilfeel! Dan terbukti kan? Tadi bini lu ngamuk-ngamuk sampai mau cerai katanya? Hahaha! Sukses besar tugas kita!"

​"Oalah, jadi beneran si Riko yang otaknya di dengkul itu," gumam Alan dengan nada puas yang tertahan.

​"Eh, jaga mulut lu ya!" Gendon menunjuk muka Alan dengan sisa bakwan di tangannya. "Bos Riko itu bos kita. Lu kalau mau protes, samperin dia ke Jakarta. Jangan sok jagoan di sini. Lu sendirian, kita bertiga. Sekali jentik juga lu tumbang!"

​"Siapa bilang gua sendirian?" Alan menaikkan sebelah alisnya.

​Sastro langsung melongok ke luar jendela warung, melihat ke arah jalan raya. Di balik pohon beringin, dia melihat Kris yang sedang mondar-mendir cemas sambil memegang sebuah kayu balok besar yang entah dia dapat dari mana.

​"Gor, di luar cuma ada satu bocah kurus naik motor bebek butut. Megang kayu sambil gemeteran," lapor Sastro sambil menahan tawa.

​Tigor ikut melirik ke luar lalu menggelengkan kepala heran. "Gila, lu mau tawuran bawa pasukan modelan begitu? Lu mau ngelawak di sini?"

​"Aku ke sini bukan mau berantem fisik, Tigor," kata Alan tenang. Dia perlahan menurunkan tangannya, lalu merogoh kantong kemeja atasnya. Dia mengeluarkan ponselnya yang layarnya masih menyala, menampilkan grafik gelombang suara yang sedang berjalan.

​"Aku cuma butuh ini," Alan menunjukkan layar ponselnya ke depan muka Tigor.

​Mata Tigor membelalak. "Bangsat! Lu ngerekam kita?!"

​"Yaps. Dari awal aku masuk, suara kamu yang pamer duit lima juta dari Riko, rencana kamu mau kabur ke Jogja, sampai pengakuan kamu tentang skenario fitnah utang judi tadi... semuanya rekam dengan sangat jernih. Formatnya .mp3 high quality, Gor," ujar Alan dengan senyum kemenangan yang sangat lebar.

​"Kurang ajar! Ambil HP-nya, Sas, Ndon! Hancurin!" teriak Tigor panik.

​Sastro dan Gendon langsung merangsek maju hendak menerkam Alan. Namun, Alan sudah mengantisipasi hal itu. Dengan gerakan cepat, dia membalikkan meja kayu di depannya hingga botol-botol miras dan piring gorengan jatuh berantakan ke lantai, menghalangi langkah kedua anak buah Tigor.

​"Kris! Kebakaran, Kris! Tolong!" teriak Alan sekencang-kencangnya sesuai rencana awal.

​Mendengar teriakan itu, Kris yang sudah tegang di luar langsung beraksi. Alih-alih berteriak acak, Kris justru memutar otak dengan cerdas. Dia menghidupkan motor bebek tua knalpot bodongnya, lalu menggeber-geber gasnya di depan warung sambil berteriak histeris, "Maling! Maling motor! Warga! Ada maling di warung!"

​Suara knalpot yang memekakkan telinga ditambah teriakan "maling" di siang bolong adalah kombinasi paling mematikan di daerah pinggiran. Dalam hitungan detik, beberapa warga yang sedang berada di ladang dan pangkalan ojek dekat situ mulai menoleh dan berlarian ke arah warung.

​Tigor yang mendengar teriakan dari luar langsung panik setengah mati. "Sialan! Warga mulai dateng! Kita bisa digebukin massa kalau ketahuan bikin rusuh di sini!"

​"Tapi HP-nya, Gor!" seru Sastro yang kakinya sempat tersandung meja.

​"Udah, tinggalin! Nyawa kita lebih penting, bego! Cabut lewat pintu belakang!" perintah Tigor panik.

​Ketiga preman bertato itu langsung berbalik arah, mendobrak pintu belakang warung yang terhubung dengan kebun singkong, lalu lari tunggang-langgang meninggalkan motor matic mereka yang terparkir di depan.

​Alan tidak mengejar. Dia menarik napas dalam-dalam, menghentikan rekaman di ponselnya, lalu menyimpannya dengan aman di saku celana. Dia melangkah keluar warung dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

​Di luar, Kris masih sibuk menggeber motornya dengan wajah super tegang sampai beberapa warga datang membawa cangkul dan arit.

​"Mana malingnya, Mas?! Mana?!" tanya seorang warga dengan napas terengah-engah.

​Alan segera menenangkan warga. "Nggak apa-apa, Pak, Ibu. Tadi cuma salah paham. Malingnya udah kabur lewat kebun belakang karena ketakutan. Maaf ya sudah bikin repot."

​Setelah warga perlahan bubar sambil bersungut-sungut, Kris langsung mematikan mesin motornya. Keringat dingin bercucuran di dahi pemuda Bruno itu. "Aduh, Mas Alan... sumpah, nyawa saya kayak udah terbang setengah tadi. Gimana? Berhasil?"

​Alan menepuk bahu Kris dengan bangga. "Berhasil besar, Kris. Kamu hebat banget tadi aktingnya." Alan mengeluarkan ponselnya dan melambaikan benda itu di depan wajah Kris. "Aku dapet rekamannya. Clear, padat, dan jelas. Sekarang, kita balik ke rumah saudaranya Xarena."

​Kris langsung tersenyum lebar, meski lututnya masih agak lemas. "Siap, Mas Alan! Wah, gila sih, ternyata Mas Alan berani juga ya gertak preman Jakarta. Yaudah yuk naik, kita gaspol lagi ke Bruno. Semoga Mbak Xarena mau dengerin ya, Mas."

​"Harus mau, Kris. Demi harga diriku," jawab Alan mantap sambil naik ke boncengan. Motor bebek tua Kris kembali menderu, kali ini membawa secercah harapan besar untuk menyelesaikan badai asmara mereka.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!