Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Rencana Penyelidikan
Roof top kembali sunyi setelah kalimat terakhir itu.
Suara angin terdengar pelan melewati pagar besi, sementara dari bawah samar-samar terdengar suara siswa lain yang masih ramai di area sekolah.
Suasana di antara mereka bertiga sekarang jauh lebih berat.
Leon masih menatap Rachael dengan rahang sedikit menegang.
Sementara Rachael sendiri terlihat jauh lebih tenang dibanding yang seharusnya.
Ia memainkan kaleng minumannya pelan sebelum akhirnya bicara lagi.
“Aku bakal ngomong ke Tuan Arthur, ayah mu nanti.”
Leon langsung mengernyit. “Apa?”
“Aku serius.”
“Kamu mau bilang soal penyadap itu?”
Rachael mengangguk kecil.
Axel langsung duduk lebih tegak sekarang. “Eh bentar, bukannya tadi kau bilang jangan bikin kekacauan tanpa bukti?”
“Iya.” Rachael tetap tenang. “Makanya aku nggak bakal asal nuduh siapa-siapa.”
“Terus?”
“Aku cuma kasih informasi.”
Tatapannya perlahan turun ke kaleng minuman di tangannya.
“Karena kalau aku diam dan ternyata itu memang penyadap beneran…” Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan lebih pelan. “Masalahnya bakal lebih besar nanti.”
Leon memperhatikannya diam-diam. Ia sadar Rachael benar-benar serius sekarang.
Tidak impulsif.
Tidak asal bertindak.
Gadis itu justru terlihat seperti seseorang yang sudah memikirkan semua kemungkinan dengan sangat hati-hati.
Rachael menyandarkan punggungnya ke pagar roof top sambil melanjutkan tenang.
“Kalau memang ada pengkhianat di mansion de Arther… itu bukan masalah kecil. Yang dalam bahaya bukan cuma kalian. Semua orang di mansion bisa kena dampaknya.”
Angin kembali bergerak pelan.
Rambut hitam Rachael sedikit berantakan tertiup angin, namun tatapannya tetap stabil sekarang.
“Aku nggak takut sama masalah beginian.”
Kalimat itu keluar begitu saja seolah memang itu kenyataannya.
Karena hidup Rachael sejak kecil memang sudah terlalu dekat dengan hal-hal seperti ini.
Orang-orang berbahaya.
Ancaman.
Pengawasan.
Perpindahan mendadak.
Ia sudah terlalu terbiasa hidup sambil selalu siap pergi kapan saja.
Namun kali ini berbeda.
Karena untuk pertama kalinya, ada tempat yang membuatnya ingin tinggal lebih lama. Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih rumit.
Leon mengusap pelan tengkuknya sendiri sebelum akhirnya bicara rendah.
“Kalau ayah ku tahu ada penyadap di mansion…”
"Beliau bakal langsung bergerak,” sambung Axel pelan.
Rachael mengangguk kecil. “Makanya harus cepat.”
Tatapannya perlahan berubah sedikit lebih tajam sekarang.
“Kalau memang ada orang dalam… Berarti mereka sudah cukup lama ada di sana.”
Kalimat itu membuat Axel merinding kecil.
Karena memang benar. Orang luar tidak mungkin bisa masuk semudah itu ke mansion keluarga de Arther tanpa bantuan seseorang dari dalam.
Leon akhirnya berjalan mendekat beberapa langkah ke arah Rachael. Tatapannya lurus ke arahnya sekarang.
“Kamu sadar ini bisa bahaya buat kamu juga?”
Rachael mengangkat bahu kecil santai.
“Aku udah keburu terlibat dari awal.”
“Itu bukan alasan.”
Rachael terdiam sebentar. Lalu akhirnya tersenyum kecil samar.
“Mungkin.”
Jawaban itu membuat Leon makin frustrasi.
Karena gadis ini benar-benar keras kepala saat sudah memutuskan sesuatu.
Tapi di saat yang sama Leon juga tahu Rachael benar.
Kalau memang ada pengkhianat di mansion...semakin lama dibiarkan, semakin berbahaya untuk semua orang di rumah itu.
Termasuk keluarganya.
Entah kenapa, membayangkan seseorang mengawasi keluarganya diam-diam dari dalam mansion membuat tatapan Leon perlahan berubah semakin dingin.
Sementara itu, Rachael menatap langit cerah di atas roof top beberapa detik.
Lalu berkata pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri juga.
“Semoga aku cuma overthinking.”
Namun jauh di dalam hatinya, Rachael sendiri sudah mulai yakin kalau instingnya kali ini tidak salah.
Roof top kembali diterpa angin siang yang cukup kencang.
Beberapa helai rambut hitam Rachael bergerak pelan menutupi sebagian wajahnya saat ia akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
Leon masih berdiri di depannya dengan ekspresi serius.
Axel duduk bersila sambil memperhatikan keduanya dengan wajah yang mulai benar-benar tegang sekarang.
Rachael membuka lockscreen ponselnya cepat.
Lalu tanpa banyak bicara, ia menyodorkannya ke arah Leon.
“Aku nggak asal mikir.”
Leon mengambil ponsel itu perlahan.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya langsung berubah.
Karena isi layar ponsel Rachael bukan sekadar catatan biasa.
Melainkan halaman penuh analisis.
Detail.
Rapi.
Dan terlalu serius.
Axel langsung ikut mendekat dari samping. “Buset…”
Di layar tertulis beberapa poin panjang dengan format yang sangat teratur.
— Lorong lantai dua mansion de Arther.
— Posisi benda mencurigakan dekat ukiran sudut.
— Kemungkinan alat penyadap model mikro.
— Tinggi pemasangan sekitar 3 meter.
— Tidak terlihat seperti bagian interior asli mansion.
Di bawahnya ada catatan lain.
— Pria paruh baya.
— Memegang ponsel.
— Bergerak seperti pengawas internal.
— Tatapan scanning ruangan terlalu sering.
— Kemungkinan staf lama / keamanan / pihak luar menyamar.
Lalu ada bagian paling bawah.
Kemungkinan:
1. Penyusupan internal.
2. Informasi keluarga de Arther sedang dibocorkan.
3. Berhubungan dengan Moretti.
4. Target utama kemungkinan Arthur atau Leon.
5. Kemungkinan ada lebih dari satu alat sadap.
Axel langsung menatap Rachael tidak percaya.
“Kau nulis beginian semalem?”
Rachael mengangguk kecil santai sambil meminum sedikit soda dinginnya.
Leon masih diam membaca ke bawah.
Dan ternyata belum selesai.
Ada bagian lain berjudul:
Langkah Selanjutnya.
— Temui Arthur de Arther langsung.
— Jangan bicara di area terbuka mansion.
— Jangan langsung tuduh siapa pun.
— Periksa ulang lorong lantai dua.
— Cari pola pergerakan staf.
— Kemungkinan pengkhianat masih aktif di dalam mansion.
Semua dicatat rapi, teliti.
Dan jujur saja, sedikit menyeramkan.
Axel menatap Rachael lama. “Kau ini sebenarnya siswa SMA atau agen intelijen?”
“Aku anomali.”
“Itu bukan jawaban yang menenangkan.”
Namun Leon sama sekali tidak bercanda sekarang.
Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel Rachael.
Dan semakin lama ia membaca— semakin jelas satu hal.
Rachael memang benar-benar memikirkan semuanya sendirian sejak tadi malam.
Bahkan kemungkinan besar, gadis itu sudah menyusun rencana investigasi lengkap di kepalanya.
Leon akhirnya mengangkat pandangan perlahan ke arah Rachael.
“Kamu serius mau masuk sejauh ini?”
Rachael mengangkat bahu kecil.
“Kalau aku udah sadar ada sesuatu yang salah, biasanya otak ku nggak bisa diem.”
Nada suaranya terdengar santai. Leon tahu itu bukan bercanda.
Rachael memang seperti itu.
Sekali pikirannya mengunci pada sesuatu, ia akan terus mencari jawabannya sampai selesai.
Dan itu yang membuat Leon semakin khawatir.
Karena gadis di depannya sekarang terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang kemungkinan sedang masuk ke masalah besar.
Rachael akhirnya mengambil kembali ponselnya pelan. Lalu berkata rendah sambil menatap layar catatannya sendiri.
“Aku nggak mau sesuatu terjadi sama keluarga kalian gara-gara semua orang telat sadar.”
Kalimat itu membuat suasana roof top kembali hening.
Entah kenapa untuk pertama kalinya sejak tadi, Leon mulai merasa kalau masalah ini mungkin memang jauh lebih besar dari yang mereka kira.
Angin roof top kembali berhembus pelan.
Kali ini suasananya terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.
Tatapan Leon belum berubah. Tetap serius.
Namun sekarang ada sesuatu yang lain di sana.
Percaya.
Karena semakin ia melihat catatan itu, semakin jelas kalau semua yang dipikirkan Rachael bukan sekadar paranoia berlebihan.
Cara gadis itu mencatat detail terlalu rapi.
Terlalu teliti. Dan yang paling penting, masuk akal.
Leon mengenal banyak orang pintar.
Tapi Rachael berbeda. Ia tidak hanya memperhatikan sesuatu. Ia menganalisis pola pergerakan dan kemungkinan risiko.
Bahkan sampai memikirkan cara bicara ke Ayahnya tanpa membocorkan terlalu banyak informasi.
Leon menghembuskan napas kecil pelan sambil menatap langit sebentar.
Sekarang ia mulai mengerti sesuatu.
Kenapa Neneknya langsung menyukai Rachael begitu cepat.
Bukan hanya karena gadis itu anak Eve Velencia.
Tapi karena Rachael sendiri memang berbeda.
Axel yang masih duduk di samping ikut bergumam pelan sambil melihat catatan terakhir tadi.
“Jujur aja ya…” Ia melirik Rachael. “Kau serem kalau lagi serius.”
Rachael berkedip kecil. “Itu pujian?”
“Aku juga nggak tahu.”
Leon akhirnya bicara rendah.
“Nenek pasti udah sadar dari awal.”
Rachael menoleh kecil. “Sadar apa?”
Leon diam sebentar sebelum menjawab.
“Kalau kamu bukan tipe orang biasa.”
Rachael langsung mengernyit kecil tidak nyaman. “Aku biasa aja.”
“Enggak.” Jawaban Leon terlalu cepat kali ini.
Rachael langsung terdiam sebentar.
Sementara Leon melanjutkan lebih tenang sekarang.
“Kamu lihat sesuatu yang bahkan nggak disadari staf mansion.”
“Kamu langsung nyusun kemungkinan. Dan kamu nggak panik.”
Tatapannya jatuh lurus ke mata Rachael.
“Itu bukan hal normal.”
Axel langsung mengangguk setuju. “Iya sih. Kalau gua yang lihat mungkin udah selfie depan penyadapnya.”
“Jangan begitu,” jawab Rachael refleks.
“Nah lihat. Langsung mikir risiko.”
Leon sedikit memijat pelipisnya sendiri sebelum akhirnya berkata pelan.
“Keluarga Velencia memang aneh.”
Rachael langsung melirik tajam kecil. “Itu terdengar menghina.”
“Aku serius. Keluarga kalian selalu misterius. Jarang muncul. Tapi selalu tahu lebih banyak dibanding yang seharusnya.”
Rachael terdiam kecil. Ia sendiri tidak benar-benar bisa membantah itu.
Tentang ibunya.
Tentang ayahnya.
Tentang cara keluarganya hidup.
Bahkan dirinya sendiri sering merasa keluarganya seperti hidup di dunia berbeda dibanding orang normal.
Leon kembali menatapnya pelan.
“Nenek senang sama kamu bukan cuma karena Eve pernah nolong beliau.”
Rachael berkedip kecil.
Leon melanjutkan rendah.
“Beliau pasti sadar kamu bisa dipercaya.”
Kalimat itu membuat Rachael diam beberapa detik.
Karena entah kenapa ucapan sederhana itu terasa jauh lebih berat dibanding yang seharusnya.
Dipercaya.
Itu bukan sesuatu yang sering ia dengar. Apalagi dari orang lain.
Rachael akhirnya mengalihkan pandangan ke langit sambil tertawa kecil samar untuk menutupi rasa aneh di dadanya.
“Wah. Tekanan hidupku nambah.”
Axel langsung menunjuknya. “Nah itu baru jawaban normal.”
Leon tetap memperhatikan Rachael diam-diam.
Dan semakin lama, semakin jelas satu hal di pikirannya sekarang.
Kalau benar ada sesuatu yang bergerak diam-diam di sekitar keluarga de Arther… maka keberadaan Rachael di sisi mereka mungkin bukan kebetulan.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe