Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN YANG TAK BISA DITOLAK (KARENA ADA PISTOL)
Pagi di penthouse mewah itu seharusnya dimulai dengan aroma croissant hangat dan selai aprikot, tapi bagi Alya, pagi ini dimulai dengan kilatan logam dingin yang diletakkan di atas meja makan tepat di samping piring nasi gorengnya yang kedua.
Lucien, sang kakak tertua yang auranya setajam silet, meletakkan sebuah map hitam tebal dan sebuah pistol jenis Beretta yang berkilau di bawah lampu kristal. Tindakan itu begitu santai, seolah dia hanya meletakkan brosur diskon minimarket.
"Pilih salah satu, Alya," suara Lucien berat, berwibawa, dan tidak menerima bantahan.
Alya, yang sedang asyik mengunyah telur dadar, tersedak. Dia buru-buru menenggak air mineral premiumnya sampai habis. "Bang... ini maksudnya apa? Pilihan menu sarapan baru? Mau nasi goreng atau mau mati kena timah panas?"
Marc, yang duduk di sebelah Lucien sambil membolak-balik tablet digitalnya, menyeringai tipis. "Jangan dramatis, Lucien. Kau membuat Chérie kita takut." Dia beralih menatap Alya. "Di dalam map itu ada kontrak pernikahan dan hak kepemilikan aset. Jika kau menandatanganinya, kau resmi menjadi Nyonya besar bagi klan De Calvi. Kau akan punya akses ke rekening tanpa batas, pengawalan ketat, dan perlindungan hukum—versi kami, tentu saja."
Alya melirik map itu, lalu melirik pistol di sebelahnya. "Terus kalau saya pilih pistolnya?"
Etienne, yang sedang bersandar di pintu dapur sambil memainkan pisau lipat (lagi), menyambar pembicaraan. "Kalau kau pilih pistolnya, artinya kau memilih jalur 'perang'. Kau menolak perlindungan kami, dan itu berarti kau siap menghadapi klan Valois sendirian di luar sana tanpa identitas. Dan sejujurnya, pistol itu isinya kosong. Itu cuma simbol bahwa jika kau menolak kami, kau sama saja menyerahkan nyawamu pada musuh tanpa senjata."
Alya mendengus, mencoba menutupi detak jantungnya yang berpacu kencang. "Walah, Bang... ini mah namanya bukan pilihan. Ini namanya pemerasan gaya baru! 'Tawaran yang tidak bisa ditolak' karena kalau ditolak, saya wassalam!"
"Tepat sekali," sahut Julien dari sudut ruangan. Dia sedang merakit teropong bidik, namun telinganya tetap menyimak. "Pintar juga kau untuk ukuran gadis yang kemarin nyasar karena lapar."
Alya menatap keempat pria itu bergantian. Mereka semua menunggu. Di Jakarta, pilihan tersulit Alya hanyalah memilih antara bubur ayam diaduk atau tidak diaduk. Sekarang, dia harus memilih antara menjadi istri empat bos mafia atau menjadi target latihan menembak klan musuh.
"Oke, oke. Gue tanda tangan," ujar Alya sambil menyambar pulpen mahal di atas meja. "Tapi gue mau revisi dikit kontraknya. Di pasal perlindungan, tambahin poin: 'Wajib melindungi Alya dari segala macam diet'. Gue nggak mau disuruh makan salad terus selama di Paris. Gue butuh asupan micin biar otak gue tetap sinkron."
Marc tertawa renyah, sebuah suara yang jarang terdengar di mansion itu. "Aku akan meminta asistenku menambahkannya sebagai addendum khusus: 'Pasal Nutrisi Nusantara'."
Alya menandatangani map itu dengan coretan yang agak berlebihan, seolah dia sedang menandatangani petisi penolakan penggusuran. Begitu selesai, Lucien mengambil kembali map tersebut, sementara Etienne menyimpan pistolnya kembali ke balik jas.
"Selamat, Alya. Sekarang kau resmi menjadi bagian dari kami," kata Lucien. Dia berdiri dan mengisyaratkan Alya untuk ikut. "Sekarang, bagian kedua dari tawaran ini. Ikut aku ke ruang bawah tanah."
"Duh, Bang... jangan bilang mau diceburin ke kolam piranha karena gue kebanyakan nanya?" keluh Alya, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti pria tinggi itu.
Mereka berlima masuk ke dalam lift pribadi yang turun jauh ke perut bumi. Ketika pintu lift terbuka, Alya ternganga. Itu bukan ruang penyiksaan, melainkan sebuah galeri persenjataan dan ruang pelatihan taktis yang sangat canggih. Ada deretan senjata dari berbagai kaliber, monitor pemantau CCTV kota Paris, dan sebuah area latihan tembak.
"Karena kau adalah istri kami, kau tidak boleh hanya menjadi beban yang dilindungi," Lucien mengambil sebuah pistol kecil berwarna perak, jenis Glock yang sudah dimodifikasi agar lebih ringan. "Kau harus bisa membela diri. Minimal, kau harus tahu cara melepaskan pengaman dan menarik pelatuk."
"Bang, saya ini megang pisau dapur aja kadang masih kegores, apalagi megang ginian!" Alya mundur selangkah.
" Écoute-moi, Alya," (Dengarkan aku) Julien mendekat, suaranya dingin tapi instruktif. Dia berdiri di belakang Alya, membimbing tangan gadis itu untuk memegang senjata dengan benar. "Pegang dengan dua tangan. Kunci pergelangan tanganmu. Jangan takut pada ledakannya. Fokus pada target."
Alya merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada bidang Julien. Dinginnya logam pistol beradu dengan hangatnya tangan sang sniper. Emosi Alya campur aduk; antara takut meledakkan diri sendiri dan perasaan aneh karena berada sedekat itu dengan pria yang biasanya sedingin es.
"Coba tembak target itu," perintah Julien.
Alya memejamkan mata. Duar!
Peluru melesat jauh ke atas, hampir mengenai lampu langit-langit. Bahu Alya terhentak ke belakang karena recoil senjata.
"Aduhhh! Kuping gue budeg, Bang! Ini mah lebih parah daripada denger knalpot brong di Jakarta!" teriak Alya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Etienne tertawa terpingkal-pingkal. "Kau mencoba membunuh malaikat di langit atau musuh di depanmu?"
"Diem lu, Bang Imut! Cobain sendiri sini kalau berani!" tantang Alya.
Lucien menghela napas, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Latihan selesai untuk hari ini. Kita punya agenda lain. Sore ini, klan De Calvi akan mengadakan jamuan kecil untuk memperkenalkanmu. Kau akan bertemu dengan 'Keluarga Besar'. Dan ingat, jangan ada sambal terasi di tasmu saat acara berlangsung."
"Yah... padahal itu rahasia kepercayaan diri gue, Bang," gumam Alya lesu.
Sore harinya, penthouse itu berubah menjadi kesibukan yang luar biasa. Tim penjahit, penata rias, dan ahli tata krama berdatangan. Alya dipaksa duduk diam selama tiga jam sementara wajahnya "didempul" (istilah Alya untuk make-up profesional) dan rambutnya ditata sedemikian rupa.
Dia dipakaikan gaun malam berwarna merah marun yang sangat elegan, dengan belahan setinggi paha yang membuatnya merasa sangat riskan terkena angin masuk angin.
"Mbak, ini nggak bisa ditambahin manset gitu? Atau pakai jaket ojek online? Dingin bener ini punggung saya," protes Alya pada penata riasnya. Penata rias itu hanya tersenyum sopan tanpa mengerti sepatah kata pun.
Saat Alya keluar dari kamar, keempat pria itu sudah menunggu di lobi. Mereka semua mengenakan tuksedo hitam yang senada. Jika sebelumnya mereka terlihat seperti penjahat kelas atas, sekarang mereka terlihat seperti pangeran dari kegelapan.
Lucien mendekat dan memberikan sebuah kalung berlian yang sangat besar. "Ini milik mendiang ibu kami. Pakai ini. Ini simbol bahwa kau adalah permaisuri Les Quatre Diables."
Alya menelan ludah melihat besarnya berlian itu. "Bang, ini kalau saya jual bisa buat beli sepertiga Jakarta nggak?"
"Jangan pernah berpikir untuk menjualnya, atau Marc akan melacakmu sampai ke ujung dunia," ancam Lucien, meski nada suaranya lebih terdengar seperti peringatan protektif.
Mereka berangkat menggunakan iring-iringan lima mobil hitam antipeluru menuju sebuah kastil tua di pinggiran Paris. Sepanjang jalan, Marc memberikan instruksi terakhir.
"Nanti, kau hanya perlu berdiri di samping kami. Jangan bicara terlalu banyak kecuali ditanya. Dan yang paling penting, jangan menyebut siapa pun dengan sebutan 'Bang', 'Mas', atau 'Curut'," Marc mengingatkan dengan serius.
"Siap, Bos. Gue bakal jadi patung cantik yang kalem. I promise," Alya mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace.
Namun, janji Alya hanyalah janji.
Begitu mereka memasuki aula besar yang dipenuhi oleh pria-pria berwajah sangar dengan jas mahal dan wanita-wanita sosialita yang tampak kaku, Alya mulai merasa gatal untuk beraksi. Suasananya terlalu serius, terlalu tegang, seolah-olah jika ada yang bersin, perang dunia ketiga akan pecah.
Seorang pria tua dengan kumis tebal—salah satu petinggi klan—mendekati mereka. Dia menatap Alya dengan tatapan meremehkan. "Jadi, ini gadis dari Timur yang kau pilih, Lucien? Dia terlihat... kecil. Apa dia bisa menghasilkan ahli waris yang kuat?"
Lucien menegang. Julien sudah meletakkan tangannya di dalam jas. Namun, sebelum para pria itu bertindak, Alya sudah melangkah maju.
"Maaf ya, Kek. Kecil-kecil begini saya ini rawit," ujar Alya dalam bahasa Inggris dengan logat Jakarta yang kental. "Soal ahli waris, tenang aja. Di keluarga saya, sekali lahiran biasanya langsung sepuluh. Kakek mau berapa lusin? Biar saya buatkan tim sepak bola sekalian!"
Aula itu mendadak hening. Si pria tua melongo. Dia tidak menyangka ada wanita yang berani menjawabnya dengan nada seperti itu di depan kembar empat.
Etienne hampir saja melepaskan tawa kerasnya jika tidak disikut oleh Marc. Lucien, bukannya marah, malah menaruh tangannya di pinggang Alya dengan posesif.
"Dia tidak hanya kuat, Jacques. Dia juga bisa membunuh anak buahmu hanya dengan sisa sup di mangkuknya," kata Lucien dengan nada bangga yang terselubung. "Jadi, jaga bicaramu."
Alya menyeringai kemenangan. Dia merasa tawaran pernikahan ini mungkin tidak seburuk itu. Menjadi istri mafia berarti punya lisensi untuk menjadi semprul secara legal.
Jamuan berlanjut dengan ketegangan yang mulai mencair (setidaknya bagi Alya, karena dia menemukan meja prasmanan yang menyajikan udang galah raksasa). Namun, di tengah pesta, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah gerbang kastil.
Lampu padam seketika.
" Attention! (Perhatian!)" teriak Marc.
Dalam kegelapan, Alya merasakan empat tubuh tinggi langsung mengepungnya dari empat sisi. Dia berada di tengah-tengah "benteng" manusia. Dia bisa mendengar suara pistol yang dikokang secara serentak di sekelilingnya. Klik-klik-klik-klik.
"Tetap di dekatku, Alya," bisik Lucien tepat di telinganya.
"Bang... ini masih bagian dari acara atau kita beneran lagi diserang?" tanya Alya pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Ini adalah bagian dari alasan kenapa kau tidak bisa menolak tawaran kami," sahut Etienne dari sisi kanan. "Selamat datang di malam pertama yang sesungguhnya, Nyonya De Calvi. C'est la guerre. (Ini adalah perang.)"
Alya menghela napas panjang, meraba kalung berlian di lehernya, lalu mengepalkan tangannya. "Ya udah kalau mau perang. Tapi habis ini, gue mau makan martabak! Titik!"
Malam itu, di tengah kegelapan kastil Prancis, Alya menyadari bahwa hidupnya bukan lagi sekadar mencari makan gratis. Dia telah resmi menjadi bagian dari permainan maut yang tidak memiliki tombol exit. Dan anehnya, dia mulai menyukai sensasi bahaya itu—terutama karena ada empat pasang mata biru yang siap melakukan apa saja untuk memastikannya tetap bernapas.