Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Badai di Puncak Dimensi dan Fajar Para Senior Agung
Hari kelima di dalam Dimensi Perburuan Langit ditandai dengan menyusutnya area aman secara drastis. Hukum ruang yang tertanam di dalam dimensi kuno ini memaksa seluruh murid yang tersisa untuk bergerak menuju pusat wilayah, sebuah dataran tinggi bernama Lembah kabut Abadi. Di tempat ini, formasi batuan besar membentuk labirin alami yang diselimuti oleh uap spiritual yang tebal, membatasi jarak pandang indra batin hingga hanya beberapa puluh meter saja.
BOOM!
Sebuah tebasan energi berwarna hitam keunguan membelah kabut tebal, menghantam dinding batu hingga hancur berkeping-keping. Dari balik kabut, melangkah sesosok pemuda dengan wajah dingin yang dipenuhi aura kegelapan yang pekat. Tangan kanannya memegang sebilah pedang besar yang memancarkan raungan tipis bagai jeritan jiwa yang tersiksa.
Dia adalah Mo Han, jenius nomor satu dari Sekte Pedang Iblis.
"Cepat keluar, Xiao Feng! Aku tahu kau bersembunyi di balik bayangan batuan itu bersama rubah betina dari Sekte Penggoda!" seru Mo Han, suaranya bergetar dengan tekanan Ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir yang sangat solid.
Di sebelah Mo Han, sesosok pemuda berpakaian jubah biksu berwarna kuning-emas melangkah dengan tenang. Sebuah tasbih kayu berukuran besar melingkari lehernya, dan setiap langkah kakinya meninggalkan jejak aksara Sansekerta murni yang bercahaya di atas tanah. Fa Hai, penerus dari Sekte Buddha. Aliansi antara Pedang Iblis dan Sekte Buddha ini adalah salah satu kombinasi yang paling ditakuti di dalam ujian kali ini, yang satu menghancurkan dengan kegelapan, sementara yang lain menekan dengan cahaya suci.
"Amitabha... Tuan Muda Xiao Feng, Nona Mei Er, ujian ini sudah mendekati akhir. Menyerahkan bola spiritual kalian secara sukarela adalah jalan terbaik untuk menghindari cedera batin yang tidak perlu," ucap Fa Hai, suaranya bergema dengan gelombang suara batin yang menenangkan namun sarat akan tekanan.
"Hihihi..."
Sebuah tawa renyah yang teramat manis dan menggoda mendadak terdengar dari arah atas tebing batu di kanan mereka. Kabut tebal perlahan-lahan menyingkir, memperlihatkan sesosok gadis yang duduk bersimpuh di atas bongkahan batu dengan posisi yang sangat provokatif. Gaun sutra ungu-merahnya yang tipis berkibar pelan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sensual.
Mei Er, sang primadona dari Sekte Penggoda.
"Aduh, Saudara Fa Hai... kau ini seorang biksu, tapi kenapa bicaranya sangat kasar pada wanita lemah sepertiku?" ucap Mei Er, jemarinya yang lentik memainkan ujung rambutnya sementara matanya memancarkan energi pink tipis.
Di belakang bayangan tubuh Mei Er, sesosok pemuda dengan pakaian hitam ketat dan topeng setengah wajah berdiri dengan sangat sunyi, seolah-olah dia adalah bagian dari bayangan batu itu sendiri. Xiao Feng, sang jenius dari Sekte Pencuri. Dia tidak berbicara sepatah kata pun, namun sepasang belati beracun di kedua tangannya sudah siap untuk menggorok leher siapa saja yang lengah.
"Jangan banyak bicara, Mei Er! Serahkan bola kalian!" bentak Mo Han, langsung melesat maju dengan pedang iblisnya yang membara.
Namun, sebelum benturan dua aliansi besar itu terjadi, sebuah langkah kaki yang sangat teratur terdengar dari arah jalan setapak labirin. Langkah kaki itu tidak cepat, namun setiap ketukan tumitnya di atas tanah berbatu seolah-olah memiliki ritme yang menekan detak jantung mereka semua.
Tap. Tap. Tap.
Sesosok pemuda berjalan keluar dari balik kepekatan kabut. Dia mengenakan jubah hitam bersulam emas yang sangat megah. Di pinggang kirinya, tergantung sebilah pedang dengan sarung giok hitam yang memancarkan riak batin murni yang teramat seimbang. Pedang Yin, sebuah pusaka tingkat tinggi pemberian langsung dari Dekan Akademi.
Yu Fan.
Kehadirannya seketika membuat atmosfer bertarung di antara keempat murid inti tersebut membeku. Sepasang mata hitam Yu Fan yang jernih menatap mereka satu per satu dengan ketenangan yang mutlak. Setelah menyegel sisa-sisa kekuatan Asura nya secara permanen di dalam dimensi jiwa, Yu Fan kini sepenuhnya bergantung pada energi alami murni hasil penyelarasan kutub Yin dan Yang di dalam tubuhnya. Pancaran aura emas cerah yang sangat tipis namun padat menyelimuti sekujur tubuhnya, menandakan bahwa dia berada di Ranah Master Tingkat 4 Tahap Akhir yang sangat sempurna tanpa ada cacat sedikit pun.
Melihat kedatangan Yu Fan, sepasang mata Mei Er seketika berbinar cerah. Dia melompat turun dari atas batu dengan gerakan yang meliuk anggun bagai ular, langsung melesat mendekati Yu Fan tanpa memedulikan keberadaan Mo Han dan Fa Hai yang langsung memasang posisi waspada.
Sret...
Mei Er mendarat tepat di samping tubuh Yu Fan. Dengan keberanian yang luar biasa, dia mencondongkan tubuh indahnya ke depan, hingga aroma harum tubuhnya yang memabukkan langsung menusuk indra penciuman Yu Fan. Dia sedikit berjinjit, mendekatkan bibirnya yang merah merekah tepat di sela-sela daun telinga Yu Fan.
"Ah... Tuan Muda Yu Fan yang agung," bisik Mei Er dengan desahan yang sangat menggoda, mengembuskan napas hangatnya yang sarat akan sasi sihir pesona batin langsung ke telinga Yu Fan. "Lama tidak bertemu semenjak malam bisnis kita di paviliun pribadi waktu itu... Apakah kau masih mengingat informasi tentang gadis es Lin Xueru yang kuberikan kepadamu? Bisnis kita saat itu benar-benar sangat memuaskan, bukan?"
Yu Fan tidak bergerak satu inci pun. Sepasang matanya tetap jernih, dingin, dan tidak terpengaruh sedikit pun oleh sihir penggoda tingkat tinggi milik Mei Er. Aliran energi emas alami di dalam meridian nya mengalir dengan sangat lancar, membentuk benteng pertahanan batin yang mutlak tidak bisa ditembus oleh ilusi fana mana pun.
Mei Er menarik kembali wajahnya sedikit, menatap Yu Fan dengan senyuman miring yang penuh misteri. "Kau tahu, Yu Fan... kami berempat sedari tadi bertarung di sini, tapi pikiran kami selalu tertuju kepadamu. Kekuatan merah pekat yang mengerikan yang kau lepaskan saat membantai tiga mayat hidup tingkat tujuh dua minggu lalu... itu benar-benar membuat kami merinding."
Mo Han yang berdiri beberapa meter di depan mereka ikut mendengus kencang, memegang erat gagang pedang iblisnya. "Mei Er benar, Yu Fan! Kami tidak bodoh. Kami tahu kekuatan asli di dalam tubuhmu itu terlalu berbahaya. Jika kau dipaksa membuka segel merah itu di tempat ini, kami semua pasti akan tereliminasi dalam sekejap!"
Fa Hai mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, matanya menatap tajam ke arah jubah Yu Fan. "Amitabha... Tuan Muda Yu Fan saat ini hanya menggunakan energi batin murni berwujud aura emas. Ini adalah kesempatan terbaik kita. Mo Han, Xiao Feng, Mei Er... bagaimana jika kita menunda pertempuran batin kita dan bersatu untuk menumbangkan sang pahlawan terlebih dahulu?"
Mendengar ajakan Fa Hai, Xiao Feng yang sedari tadi diam di dalam bayangan mendadak mengangguk setuju. Tubuhnya melesat maju bagai badai hitam, bergerak bersamaan dengan tebakan pedang iblis Mo Han dan pukulan telapak tangan swastika emas milik Fa Hai. Ketiga murid inti itu melepaskan serangan terkuat mereka dari tiga arah yang berbeda secara simultan, berniat untuk mengunci seluruh ruang gerak Yu Fan!
BOOM!
"Serangan yang bagus," ucap Yu Fan datar.
Sret!
Tangan kanan Yu Fan bergerak dengan keanggunan seorang kaisar. Dia tidak mencabut Pedang Yin dari sarungnya, sebagai gantinya, dia hanya menggunakan sarung giok hitam pedang tersebut untuk melakukan satu putaran horizontal di udara.
TINGGG! TINGGG! TINGGG!
Suara benturan logam yang teramat nyaring berdesing keras. Sarung Pedang Yin yang dialiri energi alami emas cerah milik Yu Fan berhasil menangkis ujung belati beracun Xiao Feng, membelokkan tebasan berat pedang iblis Mo Han, dan meredam hantaman telapak tangan Buddha Fa Hai dalam satu gerakan defensif yang sangat sempurna.
Kekuatan cengkeraman tangan Yu Fan begitu kokoh hingga membuat lengan ketiga penyerangnya mendadak mati rasa akibat pantulan energi batin yang sangat solid.
Mei Er yang melihat aliansi dadakan itu gagal dalam sekejap langsung menarik tubuhnya mundur dengan sangat cepat. "Aduh, Saudara-saudara sekalian! Pria baja ini terlalu kuat untuk kita sentuh! Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan bola spiritual ku di hari-hari terakhir ini!"
"Sialan! Kecepatan reaksinya berada di tingkat yang berbeda!" umpat Mo Han, merasakan sirkulasi darah di lengan kanannya menjadi kacau akibat benturan tadi.
Xiao Feng yang insting mencurinya sangat pekat segera menangkap tanda bahaya yang sangat besar. Dia melempar sebuah bom asap hitam ke atas tanah. "Mundur! Jangan bertarung sampai mati dengannya di tempat ini, atau kita tidak akan lulus!"
SHUUUT! SHUUUT!
Dalam hitungan detik, setelah menyadari bahwa posisi mereka tidak menguntungkan dan tidak ingin mengambil risiko tereliminasi secara konyol di tangan Yu Fan, keempat murid inti tersebut memilih untuk melarikan diri ke empat arah labirin kabut yang berbeda dengan kecepatan penuh. Mereka menggunakan seluruh teknik pergerakan meringankan tubuh terbaik sekte mereka untuk menghilang dari jangkauan Yu Fan demi mengamankan bola spiritual mereka sendiri hingga hari terakhir.
Yu Fan tidak mengejar mereka. Dia hanya menurunkan sarung Pedang Yin-nya kembali ke sisi pinggang, menatap ke arah kabut yang kembali menutup dengan pandangan datar. "Pilihan yang bijaksana. Mempertahankan keberadaan di dalam ujian ini jauh lebih penting daripada memuaskan ego sesaat."
...****************...
Waktu terus bergulir tanpa ampun, hingga akhirnya fajar di Hari Ketujuh terbit di langit Dimensi Perburuan Langit. Pusaran awan ungu tua di atas langit mendadak berubah warna menjadi emas, menandakan bahwa batas waktu ujian satu minggu penuh telah habis secara resmi.
Di sebuah altar batu raksasa yang terletak di puncak tertinggi Lembah Kabut, barisan murid yang berhasil bertahan hidup hingga detik-detik terakhir telah berkumpul. Jumlah mereka tidak banyak, dari ribuan murid tingkat akhir yang masuk seminggu lalu, kini yang tersisa hanya tinggal beberapa puluh orang saja. Hukum eliminasi dimensi ini benar-benar sangat kejam.
Di antara kelompok kecil yang tersisa tersebut, tampak sosok Yu Fan berdiri dengan jubah hitamnya yang masih bersih tanpa ada noda darah atau robekan sedikit pun. Di seberang altar, Lin Xueru berdiri tegak dengan pedang giok putihnya yang terhunus ke bawah. Sepasang mata gadis es itu terus menatap dingin ke arah Yu Fan, seolah-olah dia sedang merekam setiap detail dari pemuda yang gagal dia tumbangkan itu. Yu Fan membalas tatapan itu dengan pandangan yang sama datarnya, sebuah konfrontasi diam yang membuat atmosfer di atas altar terasa sangat mencekam.
Tap! Tap! Tap!
"Yu Faaannn!!! Kautahu tidak?! Aku berhasil! Aku benar-benar berhasil lulus dengan mengalahkan belasan orang luar biasa di dalam hutan!" sebuah suara cerewet yang sangat familiar mendadak memecahkan keheningan altar.
Jin Yuexin berlari kecil menuju ke arah Yu Fan dengan wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan dan kebanggaan yang meledak-ledak. Pakaian tempur kuning-merahnya tampak sedikit kotor karena abu pertempuran, namun sepasang matanya berbinar cerah saat dia menepuk-nepuk kantong spasial di pinggangnya yang tampak menggembung penuh.
"Lihat ini! Aku berhasil mengumpulkan sembilan bola spiritual secara mandiri tanpa bantuanmu! Aku adalah putri terbaik dari Kerajaan Tianwu!" sombong Yuexin, mengangkat dagunya tinggi-tinggi di depan Yu Fan, menunggu pujian yang tidak kunjung datang.
Yu Fan hanya meliriknya sekilas sebelum mengangguk pelan. "Kerja bagus. Kau tidak membuat nama Kerajaan Tianwu malu."
"Cih, hanya begitu saja responsmu? Dasar manusia batu!" gerutu Yuexin kesal, meskipun di dalam hatinya dia merasa sangat senang karena berhasil membuktikan kedewasaannya di depan Yu Fan.
Tidak jauh dari mereka, Mo Han, Fa Hai, Mei Er, dan Xiao Feng juga berdiri dengan sisa-sisa energi yang cukup terkuras. Meskipun mereka sempat melarikan diri dari Yu Fan dua hari lalu, mereka berhasil menyapu bersih murid-murid lain di sisa waktu ujian untuk mengamankan posisi kelulusan mereka.
HUMMMMMM!
Pusaran gerbang dimensi di atas altar mendadak meledak dalam cahaya benderang, langsung menyedot seluruh tubuh murid yang tersisa di atas altar. Dalam satu kedipan mata, ruang di sekeliling mereka terdistorsi, dan detik berikutnya, mereka semua telah mendarat kembali di atas lantai batu lapangan besar Akademi Langit Biru di dunia nyata.
Sorak-sorai riuh dari ribuan murid tingkat rendah dan para guru pelayan langsung menyambut kedatangan mereka. Di atas panggung utama, Dekan Akademi dan Wakil Dekan berdiri dengan senyuman megah yang teramat puas. Di atas sebuah meja batu besar di depan podium, sebuah formasi giok penghitung otomatis telah diaktifkan untuk menghitung jumlah bola spiritual yang dibawa keluar oleh para penyintas.
Wakil Dekan melangkah maju, membaca hasil pancaran tulisan cahaya yang keluar dari formasi giok tersebut dengan suara yang menggelegar ke seluruh penjuru lapangan.
"Para hadirin sekalian! Berikut adalah hasil akhir dari Ujian Kelulusan Akbar Akademi Langit Biru!" seru Wakil Dekan, membuka gulungan cahaya batin.
"Peringkat Pertama, dengan perolehan skor tertinggi yang memecahkan rekor sejarah akademi... Murid Agung Yu Fan, dengan total membawa keluar tiga puluh dua bola spiritual!"
GEMURUH!
Suara tepuk tangan dan sorakan histeris dari para murid luar langsung meledak hebat. Nama Yu Fan kembali dielu-elukan bagai dewa hidup di dalam akademi tersebut.
"Peringkat Kedua... Murid Inti Lin Xueru, dengan perolehan dua puluh satu bola spiritual!"
Lin Xueru tetap diam mendengar pengumuman itu, wajahnya tidak menunjukkan rasa senang atau kecewa sedikit pun, dia hanya melirik ke arah Yu Fan yang berada di peringkat pertama dengan tatapan yang semakin dalam.
"Dan untuk peringkat ketiga... Murid Inti Mo Han, Fa Hai, Mei Er, Xiao Feng, dan Putri Jin Yuexin, dinyatakan berada di posisi seri dengan masing-masing membawa keluar sembilan bola spiritual!"
"Hah?! Aku seri dengan para monster sekte itu?! Hahaha! Aku memang seorang jenius!" pekik Jin Yuexin kegirangan, melompat kecil di tempatnya berdiri tanpa memedulikan pandangan aneh dari Mo Han dan Fa Hai.
Dekan Akademi melangkah maju ke depan podium utama, mengangkat kedua tangannya ke udara untuk menenangkan keriuhan lautan manusia di lapangan. Tatapan matanya yang tua memancarkan rasa bangga yang teramat mendalam saat menatap barisan murid di depan panggung yang kini telah resmi menyelesaikan seluruh kewajiban akademis mereka.
"Para murid sekalian yang berdiri di depan panggung hari ini!" ucap Dekan, suaranya mengalir hangat namun penuh wibawa seorang master agung. "Hari ini, kalian telah resmi menyelesaikan ujian tersulit yang bisa diberikan oleh institusi ini. Kalian telah membuktikan bahwa kalian bukan lagi sekadar tunas muda yang membutuhkan perlindungan dinding akademi. Kalian adalah elang-elang perkasa yang siap mengepakkan sayap untuk membelah langit dunia kultivasi yang sesungguhnya!"
Dekan berhenti sejenak, menatap Yu Fan, Xueru, dan murid inti lainnya dengan senyuman hangat. "Mulai detik ini, atas nama jajaran petinggi Akademi Langit Biru, aku mengumumkan bahwa kalian semua telah Lulus Secara Resmi sebagai alumni dan dinobatkan sebagai Senior Agung Akademi Langit Biru!"
BZZZZT!
Dengan satu lambaian lengan jubah kebesaran Dekan, puluhan lencana giok berwarna emas-putih melesat turun dari atas panggung, mendarat dengan tepat di atas dada jubah masing-masing murid yang lulus. Lencana tersebut adalah simbol kehormatan tertinggi, sebuah identitas yang diakui di seluruh penjuru benua fana bahwa pembawanya adalah alumni elit dari Akademi Langit Biru.
"Sebagai Senior Agung," lanjut Wakil Dekan dengan tegas, mendampingi Dekan di depan podium. "Kalian kini memiliki hak istimewa yang absolut. Kalian bebas untuk datang dan pergi meninggalkan gerbang akademi ini kapan saja tanpa perlu meminta izin faksi.
Kalian bebas untuk menjelajahi seluruh kekaisaran, kerajaan, atau sekte mana pun di dunia luar untuk mencari jalur kultivasi kalian sendiri. Namun ingat... akademi ini akan selalu menjadi rumah bagi kalian. Jika suatu hari nanti kalian membutuhkan tempat untuk kembali, atau jika akademi ini berada di dalam bahaya... lencana di dada kalian akan selalu memanggil jiwa kepahlawanan kalian untuk kembali!"
"Kami tidak akan pernah melupakan budi akademi, Dekan!" seru Mo Han dan Fa Hai secara bersamaan, menjatuhkan diri dengan satu lutut bertumpu di atas tanah sebagai bentuk penghormatan terakhir mereka sebagai murid resmi.
Jin Yuexin menggenggam lencana giok di dadanya dengan mata yang berbinar-binar. Dia menoleh ke arah Yu Fan dengan senyuman yang sangat lebar. "Yu Fan... kita akhirnya lulus! Kita sekarang adalah Senior Agung! Ini artinya kita bisa segera kembali ke Kerajaan Tianwu untuk menunjukkan prestasi ini kepada ayahanda dan Leluhur Jin Taixu! Mereka pasti akan mengadakan pesta yang sepuluh kali lebih megah dari kemarin!"
Yu Fan menyentuh permukaan halus lencana giok di dadanya, merasakan riak energi pelindung yang tertanam di dalam benda tersebut. Pandangan matanya menatap lurus ke arah cakrawala langit luas di luar gerbang akademi yang membentang tanpa batas.
Baginya, kelulusan ini bukan sekadar akhir dari sebuah fase belajar di dunia fana, melainkan sebuah awal dari pembukaan tirai panggung yang sesungguhnya. Tanpa ada lagi belenggu aturan akademi yang mengikat langkah kakinya, Sang Asura yang kini berbalut aura emas murni penyelarasan alam telah siap untuk melangkah keluar, menjelajahi seluruh sudut benua fana, menantang setiap kekuatan absolut yang ada di dunia luar, dan bersiap untuk menghentikan setiap tradisi busuk dari sekte-sekte kuno yang mencoba mengusik kedamaian orang-orang yang ada di sekitarnya. Fajar baru telah menyingsing, dan nama Yu Fan siap untuk diukir di atas puncak tertinggi dunia fana.