Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu Stroberi
Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan kota yang mulai mencair. Di balik kemudi, rahang Alan mengeras. Bayangan Ciara—balita mungil dengan mata bulat yang seolah menatap langsung ke jiwanya—terus berputar seperti kaset rusak.
"Susu stroberi," gumam Alan getir. "Sesederhana itu kebahagiaannya sekarang?"
Saat ia membelokkan mobil ke gerbang rumah pribadinya yang megah, lampu-lampu taman yang mahal menyambutnya. Namun, kemewahan itu terasa hambar. Rumah ini terlalu besar, terlalu sepi, dan terlalu... asing.
Di ruang tengah, Monique sudah menunggu. Ia tampak elegan dengan gaun rumah berbahan sutra, duduk di sofa sambil menyesap teh aromatik. Wajahnya langsung berseri begitu melihat Alan melangkah masuk.
"Sayang! Kamu sudah pulang?" Monique bangkit, menyambut Alan dengan senyum manis yang biasanya selalu tidak berhasil membuat Alan luluh. "Kok lama banget? Aku cek GPS mobil kamu tadi sempat berhenti lama di daerah pinggiran. Ada urusan mendadak?"
Alan tidak langsung menjawab. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, menyandarkan kepala yang terasa mau pecah, lalu merenggangkan dasinya dengan kasar.
"Cuma cari angin, Mon. Capek di kantor," sahut Alan pendek, matanya terpejam.
Monique duduk di sampingnya, jemarinya yang lentur mencoba memijat bahu Alan. "Ya ampun, kasihan suamiku. Eh, tapi aku punya kabar bagus yang bakal bikin capek kamu hilang. Tadi siang aku makan bareng istrinya Pak Hendra, sahabat kamu itu lho."
Monique kembali bersikap seolah Alan mencintai dirinya.
Alan hanya bergumam tak jelas, tanda ia tidak benar-benar menyimak.
"Alan, dengerin dulu," Monique sedikit merengek. "Pak Hendra nawarin slot investasi di proyek resort barunya di Lombok. Ini pasti bakal menguntungkan banget buat kita. Dia bilang kalau kita masuk sekarang, return-nya bisa dua kali lipat dalam setahun. Aku udah bilang kalau kamu pasti tertarik. Bagus kan?"
Pikiran Alan melayang jauh. Suara Monique bagaikan dengungan lalat yang menjauh. Ia justru teringat kejadian lima tahun lalu. Saat itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Ibunya baru saja meninggal, dunianya runtuh, dan satu-satunya oksigen yang ia punya hanyalah Xarena.
Ia ingat sore itu, saat ia berlari ke rumah Xarena dengan air mata yang belum kering, ingin mencari perlindungan. Namun, ibu Xarena menghadangnya di pintu dengan wajah dingin.
"Kamu mau apa ke sini, Alan? Xarena sudah dijodohkan. Calon suaminya orang mapan, bukan anak muda yang masa depannya masih abu-abu kayak kamu. Jangan ganggu dia lagi," kata-kata ibu Xarena saat itu seperti sembilu.
Dan rasa sakit itu semakin nyata ketika tak lama kemudian, sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan rumah itu. Seorang pria paruh baya, yang usianya mungkin pantas menjadi ayah Alan, turun dan merangkul pinggang Xarena yang tampak tertunduk lesu. Alan melihat mereka pergi dengan mobil itu. Alan melihat Xarena meninggalkannya saat ia paling butuh. Tanpa mengucap satu kata pun untuk dirinya.
Kenapa dia lebih milih pria tua itu? Apa karena hartanya? batin Alan meronta.
Tapi tadi... Alan melihat pria bernama Satria. Dia muda. Dia santai. Dan ada Ciara.
"Alan! Kamu dengerin aku nggak sih?" suara Monique meninggi, membuyarkan lamunan Alan.
Alan tersentak. Ia menatap Monique dengan tatapan kosong seolah baru saja melihat hantu. "Hah? Apa? Investasi apa tadi?"
"Tuh kan! Aku dari tadi ngomong panjang lebar soal proyek Pak Hendra, kamu malah bengong! Kamu kenapa sih? Dari tadi aneh banget," Monique mulai menunjukkan gurat kekesalan di wajahnya.
"Aku cuma lagi pusing, Mon. Bisa nggak kita bahas ini besok?"
"Besok, besok terus! Setiap aku ajak ngomong soal masa depan, soal bisnis, kamu selalu begini. Apa ada masalah di kantor yang nggak aku tahu? Atau... ini soal sekretaris baru kamu itu? Siapa namanya? Xarena?" Monique menyipitkan mata, insting wanitanya mulai bekerja.
Alan menghela napas panjang. Ia merasa sesak. "Nggak ada hubungannya sama dia. Tolong, aku cuma butuh tenang."
"Tenang gimana? Kamu pulang telat, dasi berantakan, muka kusut, dan kamu nggak fokus sama istrimu sendiri!" Monique berdiri, melipat tangan di depan dada. "Apa yang kamu pikirin, Alan? Jangan bilang kamu masih kepikiran masa lalu kamu yang nggak jelas itu!"
"Arrgggghhh!" Alan tiba-tiba mengacak rambutnya dengan sangat frustrasi. Ia bangkit dari sofa dan berjalan mondar-mandir seperti singa dalam sangkar.
Rasa muak, rindu, cemburu, dan rasa bersalah bercampur menjadi satu adonan yang memuakkan di perutnya. Ia membayangkan wajah Ciara lagi. Mata itu... Kenapa mata itu mirip sekali dengan matanya saat masih kecil?
"Alan! Jawab aku! Apa yang sedang kau pikirkan sampai kayak orang gila begini?" teriak Monique emosional. Ia tidak terbiasa diabaikan, apalagi oleh suaminya sendiri.
Alan berhenti melangkah. Ia menatap Monique tajam, namun sorot matanya sebenarnya sedang menembus ruang dan waktu. "Kamu mau tahu apa yang aku pikirin? Aku lagi mikir gimana rasanya jadi pengecut, Mon. Aku lagi mikir soal waktu yang nggak bisa diputar balik."
"Maksud kamu apa?"
"Lupakan," Alan menyambar jasnya yang tadi tergeletak di sofa. "Aku mau keluar sebentar. Jangan tunggu aku."
"Keluar lagi? Ini sudah malam, Alan! Kita ada janji makan malam sama kolega!"
"Batalkan!" sahut Alan tanpa menoleh sedikit pun.
Ia melangkah keluar menuju garasi. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik: Rumah dengan pagar putih dan bunga matahari itu. Ia harus tahu. Ia harus memastikan apakah pria bernama Satria itu suaminya, atau hanya sekadar pelarian lainnya.
Di dalam mobil, Alan memukul setir lagi. "Kalau Ciara itu anakku... kalau dia benar-benar anakku... aku bersumpah nggak akan biarkan siapapun menyentuh kalian lagi. Tapi kalau dia anak pria tua itu... atau anak Satria..."
Alan menginjak gas dalam-dalam. Keheningan malam itu pecah oleh raungan mesin mobilnya, seiring dengan hatinya yang hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya. Sementara di belakang sana, Monique berdiri di depan pintu dengan kemarahan yang meluap, menyadari bahwa ada sesuatu yang besar yang mulai retak di dalam rumah tangga mereka. Sesuatu yang bernama masa lalu.