Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Riuh rendah suara siswa-siswi SMA Garuda seolah memudar, menyisakan kesunyian yang mencekam di telinga Aira. Ia terpaku, berdiri hanya tiga langkah di belakang punggung tegap Alvaro. Di tangannya, sebotol air mineral yang embun dinginnya mulai membasahi telapak tangannya yang gemetar, terasa begitu berat.
"Ai..." Alvaro menggumamkan nama itu dengan nada yang sarat akan kerinduan. Matanya menyipit, mencari-cari kilasan masa lalu di wajah cantik yang ada di hadapannya. "Namamu... aku ingat sedikit berbeda."
Detik itu, napas Airin tertahan. Ia bisa merasakan tatapan menyelidik Alvaro yang tajam, seolah sedang menguliti kebohongannya. Namun, bukan Airin namanya jika ia tidak punya ribuan topeng untuk dipakai.
Gadis itu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting lonceng namun bagi Aira terdengar seperti desis ular. Airin merapatkan jarak, jemarinya yang lentik dengan kuku yang dipoles merah muda lembut menyentuh lengan seragam Alvaro.
"Varo, kamu ini bicara apa?" Airin mengerucutkan bibirnya, berakting manja dengan sempurna. "Mungkin karena kita sudah terlalu lama berpisah. Aku Airin. Tapi kamu selalu memanggilku Ai, kan? Nama kecil yang hanya milik kita berdua."
Alvaro tampak termangu. "Airin... Ai..." Ia mengulangi nama itu, mencoba mencocokkan potongan puzzle di kepalanya yang terasa sedikit tidak pas.
"Iya, Varo. Panggil saja Ai, seperti dulu. Tidak ada yang berubah, hanya aku yang sekarang... yah, mungkin sedikit lebih cantik dari yang kamu ingat?" Airin mengedipkan matanya, memamerkan pesona yang membuat siswa-siswa di sekitar mereka menahan napas.
Aira, yang masih mematung di belakang, merasa seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya. 'Bohong, Varo. Dia bohong!' teriaknya dalam hati. Namun, tenggorokannya terasa seperti disumbat batu. Ia tidak punya keberanian. Bagaimana ia bisa maju dengan wajah kusam penuh keringat, kacamata tebal yang melorot, dan rambut yang berantakan karena habis dihukum membersihkan jendela?
Dengan sisa keberanian yang ada, Aira melangkah satu tindak. "Va—Varo..."
Suaranya yang serak nyaris tak terdengar. Namun, Alvaro rupanya cukup peka untuk menoleh.
Pemuda itu memutar tubuhnya. Untuk sesaat, mata elang itu bertemu dengan mata Aira yang bersembunyi di balik lensa kacamata yang sedikit beruap. Jantung Aira berdegup kencang, berharap ada secuil keajaiban. Berharap Alvaro mengenali binar mata yang dulu selalu menemaninya menangis di bawah pohon mangga.
Alvaro menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya dingin, datar, dan penuh penilaian. Tidak ada kilatan pengenalan. Yang ada hanyalah kerutan di dahi, seolah ia baru saja melihat serangga yang mengganggu pemandangannya.
"Siapa dia?" tanya Alvaro dingin, tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Aira yang terlihat mengenaskan.
Airin menoleh, senyum kemenangannya sekilas terlihat sebelum ia memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. "Oh, dia... dia Aira. Salah satu siswi di sini. Dia memang sedikit... unik, Varo. Mungkin dia mau menawarkan air itu padamu?"
Alvaro mendengus pelan, matanya kembali menatap botol air mineral murah di tangan Aira yang sedikit lecet. "Tidak perlu. Aku tidak haus," ucapnya datar, lalu kembali membuang muka seolah Aira hanyalah angin lalu.
Dada Aira berdenyut nyeri. Kata-kata itu lebih tajam dari sembilu. Ia menunduk dalam, menatap sepatunya yang kusam. Air mata mulai menggenang, membuat pandangannya semakin kabur.
"Lihat, Varo. Kamu membuat dia takut," Airin berbisik, lalu dengan berani ia melingkarkan tangannya di pinggang Alvaro. "Sudahlah, abaikan saja dia. Aku sangat merindukanmu. Kamu tidak tahu betapa sepinya aku selama ini tanpamu."
Alvaro terdiam sejenak. Ia menatap Airin, mencari kepastian. Entah karena rasa bersalah karena telah meninggalkan sahabatnya terlalu lama, atau karena ia memang sudah terpesona oleh kecantikan di depannya, Alvaro akhirnya tersenyum. Sebuah senyum tulus yang dulu hanya milik Aira.
"Aku juga merindukanmu, Ai," gumam Alvaro.
Lalu, di depan ratusan pasang mata yang menonton, dan tepat di depan mata Aira yang mulai meneteskan air mata, Alvaro menarik Airin ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan hangat, seolah sedang mendekap kembali masa lalunya yang hilang.
Aira hanya bisa berdiri membeku. Botol minum di tangannya jatuh ke lantai dengan suara berdebam yang pelan, menggelinding menjauh, persis seperti hatinya yang kini hancur berkeping-keping. Di pelukan itu, Alvaro telah menemukan rumahnya—rumah yang dibangun di atas pondasi kebohongan kembarannya.