Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catat Ya, Guys! Sama-Sama Ngerti Aja!
Keesokan harinya.
Bima mendapat telepon dari Rendi yang memberitahukan bahwa video promosi dan hasil foto jepretannya sudah kelar digarap.
Bima segera meluncur ke Studio Harapan Kita.
"Bim, nih cek sendiri hasilnya. Kalau ada yang kurang sreg, bilang aja, ntar biar timku yang revisi," ucap Rendi seraya memutar video cinematic promosi Vila Dima di layar monitornya.
Menonton video tersebut, Bima merasa sangat puas. Hasil garapan studio sahabatnya ini kelihatan mahal dan dikerjakan dengan sangat niat. Ia tak ragu-ragu mentransfer fee proyeknya secara lunas agar Rendi tidak canggung berurusan dengan partner bisnis di studionya.
Setelah urusan materi promosi beres, Bima mulai memutar otak memikirkan strategi marketing-nya.
Langkah pertama yang paling krusial: menjajah awareness warga lokal Kabupaten Jatiroso. Kalau pasarnya udah kebentuk, barulah melebarkan sayap narik turis dari luar daerah.
Ia segera memacu motornya menuju ke Toserba Makmur Jaya.
Di kota kecil seperti Jatiroso, masang iklan di TV lokal itu percuma, sama aja bakar duit. Zaman sekarang boro-boro nonton TV lokal, TV nasional aja jarang ada yang nyalain.
Tapi di Jatiroso, ada satu spot iklan yang dijamin bakal dilihat oleh nyaris seluruh warga kota.
Yakni layar videotron raksasa di pelataran Wetan Mall! Videotron outdoor itu disewa tahunan oleh Toserba Makmur Jaya yang menyewa lantai satu mall tersebut, khusus untuk memutar katalog promo produk dan iklan branding supermarket mereka sepanjang hari.
Wetan Mall itu jantungnya Kabupaten Jatiroso. Titik kumpul segala aktivitas nongkrong, kuliner, dan belanja warga.
Kalau video promosi taman bunganya sukses nangkring di videotron raksasa itu, bisa dipastikan awareness warga se-kabupaten bakal langsung meledak!
Setibanya di Toserba Makmur Jaya, Bima melangkah menuju ruangan Manajer Cipto, berharap bisa me-lobi jatah tayang iklan lewat jalur ordal.
Sementara itu, di dalam ruangannya.
Manajer Cipto sedang sibuk menyeduh teh dengan tangan gemetar, menyuguhkannya dengan sangat hormat kepada seorang pria paruh baya necis yang duduk di kursi kebesarannya.
"Bos Tirto, saya bener-bener mohon maaf... Saya udah nyoba maksa, tapi orang itu beneran mentok cuma setor okra spesial 2,5 Kilo doang. Ini saya udah ngalah, saya kasihin jatah saya 1,5 Kilo buat Panjenengan," keluh Manajer Cipto dengan wajah memelas.
Jelas dia nggak berani jujur kalau aslinya dia nerima jatah 5 Kilo okra Kualitas 2 dari Bima. Bos Tirto yang duduk di hadapannya ini bukan orang sembarangan. Beliau adalah Direktur Utama yang membawahi seluruh cabang Makmur Jaya di Kabupaten Jatiroso dan Kabupaten Sidoarjo! Ditambah lagi, beliau adalah adik ipar dari salah satu pemegang saham utama di kantor pusat. Sabdanya adalah titah mutlak.
Okra spesial ini emang dewa banget buat vitalitas pria, murni kunci kebahagiaan rumah tangga (dan luar rumah).
"Pak Cipto ini piye to? Masa nggak bisa maksa supplier itu buat nambah stok sedikit lagi?" tegur Bos Tirto dengan dahi berkerut tak puas.
Di usianya yang menginjak senja, mengimbangi 'kelinci putih' kesayangannya di luar plus melayani istri sah di rumah jelas bikin pinggangnya encok. Keberadaan okra gaib ini bener-bener jadi pusaka penolong nyawanya, efek greng-nya itu lho, langsung kerasa!
Manajer Cipto tersenyum getir, "Bos, saya tiap hari udah nerror dia terus. Tapi ini murni bukan soal duit. Katanya barangnya emang bener-bener langka, mutasi genetik apalah gitu."
Mendengar itu, Bos Tirto cuma bisa menghela napas kasar dengan raut frustrasi.
Tepat di saat itu, terdengar ketukan pintu dari luar.
Manajer Cipto beranjak membukakan pintu. Begitu melihat wajah Bima, senyum sumringah langsung merekah di bibirnya. "Wah, Mas Bima! Tumben banget pagi-pagi udah mampir ke mari?"
Bima tersenyum ramah, "Iya Pak, saya ada sedikit urusan. Gini, videotron raksasa di alun-alun Wetan Mall itu kan disewa full sama Makmur Jaya. Kira-kira kalau saya mau numpang nayangin iklan video barang sehari dua hari, boleh nggak ya? Kalau bisa, saya mau nyewa durasinya agak lamaan dikit."
"Waduh..." Manajer Cipto langsung ragu, ia melirik was-was ke arah Bos Tirto di belakangnya. "Soal videotron itu mutlak wewenangnya beliau, Bos Tirto."
Mood Bos Tirto lagi ambyar gara-gara urusan okra gaibnya kurang. Mendengar ocehan sok akrab dari pemuda ingusan itu, emosinya langsung naik.
"Pak Cipto, Sampeyan ngira Makmur Jaya ini perusahaan miskin tah?! Masa urusan slot tayang videotron aja mesti kita rentalin ke orang luar demi recehan?! Tolak aja, nggak ada acara sewa-menyewa!" potong Bos Tirto ketus, bahkan tanpa sudi menatap wajah Bima.
Mendengar bentakan Bos Tirto, jantung Manajer Cipto langsung copot.
Mampus! Kalau Bima sampai tersinggung terus nyetop supply okra dewa-nya, kiamat hidupnya!
Ia buru-buru maju melerai, panik. "Ehh, anu... Bos Tirto! Pemuda ini, Mas Bima ini lho, yang supplier sayur okra spesial kita!"
"Hah?! Apa?!" Bos Tirto mendadak cengo saking kagetnya. Otaknya langsung nge- hang.
Ini cowok ingusan yang suplai okra dewa itu?!
Dalam hitungan milidetik, raut arogan Bos Tirto langsung berubah drastis menjadi senyuman manis nan ramah bak dewa penolong. Ia melompat dari kursinya, berjalan cepat menghampiri Bima, lalu meraih kedua tangan pemuda itu dan menjabatnya erat-erat.
"Walah dalah! Mas Bima toh?! Salam kenal, Mas! Waduh, Mas Bima ini lho, kalau urusan slot videotron mah ngapain pake sewa-sewa segala? Perusahaan kita nggak butuh recehan gitu, Mas. Sebagai wujud terima kasih atas supply sayuran spesialnya selama ini, saya kasih slot tayang iklan itu khusus buat Sampeyan. GRATIS!"
Manajer Cipto yang melihat adegan itu cuma bisa speechless.
Wah, asu tenan. Ilmu ngejilatin muka dua Bos Tirto emang nggak ada obat. Pantesan jabatannya awet!
Bima aslinya juga lumayan syok melihat perubahan wujud Bos Tirto yang kayak bunglon.
Awalnya ia sudah siap mental buat merogoh kocek jutaan rupiah buat nyewa slot videotron Wetan Mall. Boro-boro ngarepin diskon, eh ini malah dikasih free alias gretongan!
Tapi Bima bukan bocah polos. Dia sadar betul, nggak ada makan siang gratis di dunia bisnis. Kemurahan hati Bos Tirto ini pasti ada maunya.
Masih mempertahankan senyum ramahnya, Bos Tirto lalu bertanya, "Nah, Mas Bima ini rencana mau nayangin iklan apaan nih? Sini tak aturin jadwal primetime-nya sekalian."
Bima langsung menjelaskan, "Gini Bos, saya baru aja ngakuisisi vila dan bikin taman wisata lautan bunga bugenvil. Niatnya mau nyebar materi promosi video aja sih."
Bos Tirto langsung menepuk dada antusias, "Beres! Mas Bima saya kasih slot emas jam 19.30 sampai 20.30 malam! Itu traffic manusianya lagi meledak-meledaknya di Wetan Mall. Buat sebulan ke depan, sejam di jam tayang itu khusus buat iklan Sampeyan! Gimana?"
"Wah, matur nuwun banget, Bos Tirto," sahut Bima tulus. Ia tahu Bos Tirto lagi ngalor-ngidul ngasih umpan. Tinggal tunggu strike aja.
Benar saja, Bos Tirto langsung masuk ke mode lobi-lobi mautnya dengan senyum penuh arti. "Eh, Mas Bima... ngomong-ngomong soal okra spesial itu lho... Khasiatnya beneran joss gandos! Kira-kira, saya bisa nggak ya nambah jatah orderan khususnya?"
Tebakan Bima seratus persen akurat. Si bos besar ini ketagihan khasiat sayur saktinya! Pantesan mendadak super dermawan ngasih slot videotron VIP.
"Waduh Bos, gimana ya. Tapi karena Bos Tirto udah baik banget ngasih slot iklan gratis, saya pastiin sore ini saya drop 5 Kilo khusus buat Bos Tirto deh!" Bima memasang raut seolah memberikan pengorbanan besar.
"Matur nuwun, Mas! Wah, Sampeyan emang beneran sahabat sejati!" Wajah Bos Tirto sumringah luar biasa. Ia lalu mencondongkan tubuhnya dan setengah berbisik, "Mas Bima, aslinya Makmur Jaya cabang Kabupaten Sidoarjo itu juga masih di bawah kendali saya lho. Nah, di mall terbesar Sidoarjo itu juga ada videotron raksasa kita. Kalau Sampeyan butuh, nanti bisa tak urusin sekalian slot free-nya buat Mas Bima. Yang penting, urusan pasokan okra spesial ini tolong diprioritasin buat saya terus ya, Mas!"
Mata Bima berbinar. Ini mah ibarat ketiban duren runtuh! "Wah, mantap itu Bos! Siap, urusan okra mah tenang aja, saya pasti selalu cari cara buat ngeduluin Bos Tirto."
Jujur aja, selama sebulan terakhir, stok okra Kualitas 2 miliknya udah menumpuk bejibun di Storage game yang punya fitur anti-busuk. Dia nggak pernah pusing soal stok.
Tapi prinsip ekonomi dasar harus selalu dipakai: Scarcity creates value! Kalau barangnya ditumpuk kayak kacang goreng, pamornya bakal anjlok. Makanya dia sok jaim.
"Sip! Pokoknya deal ya, Mas Bima!" Bos Tirto semringah, serasa mendapat jaminan nyawa kedua. Menaklukkan ranjang demi harga diri lelaki emang susah, apalagi posisi empuknya di Makmur Jaya ini murni giveaway dari kakak iparnya. Kalau sampai 'pelayanan' ke istrinya jeblok, jabatannya bisa digoyang!
Melihat interaksi mesra kedua bos itu, hati Manajer Cipto langsung menangis perih.
Jancuk! Kalau jatah okra spesialnya dimonopoli sama Bos Tirto semua, terus nasib kejantananku gimana?!
Bima lalu menyerahkan flashdisk berisi video promosi itu kepada Bos Tirto, dan pria itu berjanji akan langsung menginstruksikan tim IT untuk memutarnya malam ini juga.
Sore harinya, saat mengirim jadwal rutin panen regulernya, Bima tak lupa membawa titipan suci berupa 5 Kilo Okra Kualitas 2 pesanan Bos Tirto.
Bos Tirto yang sudah stand by menunggunya girang bukan kepalang. Pria paruh baya itu saking senangnya sampai menyeret Bima untuk makan malam VIP bareng. Bos satu ini emang level lobi dan tata krama bisnisnya jauh lebih mulus dan luwes dibanding Manajer Cipto yang cuma kacung.
Sepanjang sesi makan malam, Bos Tirto berkali-kali mengingatkan Bima bahwa iklannya akan mulai on air jam setengah delapan malam ini, dan Bima pun berkali-kali memberikan janji palsu akan 'mengusahakan sekuat tenaga' untuk mencari tambahan okra spesial. Hubungan win-win solution yang sangat manis.
Ketika Bima melangkah masuk ke pintu rusunnya, jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh lewat.
Dengan segala fondasi marketing yang sudah di-setup rapi, sekarang sisa duduk manis menunggu detik-detik Grand Opening Vila Dima.
Setelah membersihkan diri, Bima merebahkan tubuhnya di kasur, meraih ponselnya, dan menekan kontak sang istri.
Hari peluncuran vilanya sudah dekat, sudah waktunya memberi Dinda kejutan yang ia janjikan.
Nada sambung tak terdengar lama sebelum suara Dinda menyapanya.
Tanpa basa-basi, Bima langsung meluncurkan misinya, "Din, Sayang. Ada sesuatu yang pengen aku kasih tahu nih. Sebenernya... belakangan ini aku lagi bangun vila loh."
Terdengar dengusan halus dari seberang sana. "Mas Bima... akhirnya Sampeyan sadar buat jujur juga ya? Ibu Laras itu lho, udah cerita semuanya ke aku dari kemaren-kemaren! Aku tuh nungguin aja, seberapa lama suamiku ini bakal nyimpen rahasianya sendiri."
Bima tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Ehh... waduh, maaf Sayang. Aku tuh aslinya cuma pengen ngasih kamu kejutan epic pas vilanya udah jadi sempurna."
"Kejutan sih kejutan, tapi masa iya bangun usaha baru nggak diskusi sama istrinya sendiri?!" Dinda ngomel manja meluapkan protesnya. Sedetik kemudian nadanya berubah melembut, penuh perhatian. "Mas, Sampeyan ngira aku cewek yang nggak bakal support suaminya ngerintis usaha toh? Duit tabunganku emang nggak banyak, ada sekitar Rp 50.000.000. Kalau misal modal vilanya mepet, bilang aja, ntar langsung tak transfer. Apapun keputusannya, aku selalu di belakangmu kok."
Dada Bima seketika terasa hangat mendengarnya. Perasaan dicintai setulus ini rasanya mahal banget.
Sayangnya, ibu mertuanya (via Bu Laras) kayaknya ngasih briefing yang salah. Dinda pasti ngira Bima cuma ngerintis agrowisata saung gubuk bambu modal puluhan juta doang. Dia belum tahu wujud ngeri dari Vila Dima yang sebenarnya.
"Hehe, iya Sayang. Besok Vilanya udah siap Grand Opening lho," kekeh Bima.
"Wah, kalau gitu besok aku ngajuin cuti deh!" seru Dinda antusias. Sebagai ibu negara dari bisnis suaminya, biarpun usahanya cuma level warkop lesehan, dia wajib hadir ngasih support!
"Eh Mas, udah dulu ya. Aku lagi nemenin Mbak Ririn keliling mall nih," pamit Dinda sebelum mengakhiri panggilan.
Di pelataran Wetan Mall, Dinda memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu bergegas mengejar kakak iparnya, Mbak Ririn, yang sedang berjalan di depannya.
Mbak Ririn menatap Dinda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Din, Din... sumpah, aku heran sama kelakuanmu. Segitunya bucin sampai mau ngehabisin tabungan nabung gajimu buat modalin cowok yang masa depannya aja belum jelas?"
"Sstt, Mbak Ririn janji lho nggak bakal ember ke Ibu sama Bapak!" rajuk Dinda panik.
Modalin cowok apanya? Toh Bima itu udah sah dan legal jadi suaminya, satu atap, satu nasib! Duitnya duit Bima, duit Bima duitnya juga!
"Halah, iye iye," Mbak Ririn mendesah pasrah.
Saat mereka berdua berjalan menuju pintu keluar mall, tiba-tiba terdengar keributan kecil dan seruan takjub dari sekelompok orang di sekitar mereka.
"Wah, gila! Liat videotron gede di atas sana! Bagus banget tempatnya!"
"Sumpah, lautan bugenvilnya estetik parah! Ini di daerah mana sih?!"
Penasaran, Dinda dan Mbak Ririn kompak mendongak, mengikuti arah pandangan kerumunan tersebut.
Di layar videotron raksasa beresolusi 4K itu, terpampanglah mahakarya sinematik yang membius jutaan mata. Visual lautan bunga bugenvil warna-warni yang begitu magis, dipadukan dengan tarian kupu-kupu dan burung-burung liar yang mengitari pohon raksasa di tengah taman.
Sebuah pemandangan magis nan puitis yang keindahannya menyihir siapa pun yang memandangnya!