NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5 Phantom

"Tapi aku melihat sepatumu pagi ini. Ada bekas oli Dermaga Tujuh di solnya. Padahal menurut jadwal logistik yang kau buat sendiri, kau seharusnya sedang tidur di rumah jam sebelas malam."

Boris terkesiap. Ia lupa bahwa Marco bukan tipe pria yang bisa ditipu dengan laporan tertulis. Marco melihat fakta yang menempel pada tubuh.

Marco menyeringai, ujung sepatunya menekan sol sepatu Boris yang kotor. "Kau lupa membersihkan sepatumu, heh? Sebuah kecerobohan yang akan sangat mahal harganya."

Boris makin merasa tidak aman.

"Siapa yang memerintahkanmu?" Marco berhenti tepat di depan wajah Boris. Ia tidak berteriak, namun auranya jauh lebih mengancam daripada bentakan apa pun. "Jangan beri aku jawaban 'tidak tahu'. Aku punya waktu sepuluh menit sebelum aku mulai mematahkan jemarimu satu per satu agar kau tidak bisa lagi memalsukan laporan logistik."

Marco meraih sebuah alat dari meja besi di sampingnya. Seringai tipis muncul di wajahnya yang kasar. Di bawah sini, Marco adalah hukum yang nyata.

Bola mata Boris bergetar melihat alat di tangan Marco. Dia menyadari bahwa ia akan mati perlahan di tangan Marco sebelum Phantom sempat menyentuhnya.

"Dia tahu segalanya, Marco! Dia mengancam akan menghapus seluruh hidupku!" isak Boris, wajahnya basah oleh keringat dingin. "Tapi kau... kau akan membuatku tidak berbentuk sekarang juga, kan? Aku tidak punya pilihan!"

"Lalu?" desak Marco dengan seringai ingin menghabisi.

"Dia tidak memberiku nama. Dia hanya memberikan perintah yang tertanam otomatis di layarku. Sistem kantor kita... sistem kita langsung tunduk padanya seolah-olah dia adalah pencipta kode aslinya," Isak tangis Boris pecah. "Dia menyebut dirinya 'Phantom'."

****

Pintu ruang kerja Reigan terbuka dengan sentakan kasar. Marco melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, tangannya masih mengenakan sarung tangan kulit yang kini tampak lebih gelap di bagian buku jari.

Reigan, yang sedang berdiri di dekat jendela besar menghadap pelabuhan, menoleh sedikit. "Berapa menit?"

"Kurang dari sepuluh, Tuan," jawab Marco bangga. Ia berdiri tegak di depan meja Reigan. "Boris sudah bicara. Dia bukan otak di balik semua ini. Dia hanya pion yang ketakutan setengah mati."

"Siapa yang memerintahnya?"

"Dia menyebut sebuah nama kode: Phantom," Marco mengatakannya dengan nada jijik. "Boris bilang sistem kantor kita tunduk pada orang ini seolah-olah dia adalah penciptanya. Dia tidak meretas lewat internet, tapi lewat jalur yang tertanam di dalam gedung ini."

Reigan terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Ia kemudian melirik Nico yang sejak tadi berdiri diam di sudut ruangan. Nico tampak terkesiap, jemarinya langsung bergerak cepat di atas layar tabletnya.

"Phantom?" gumam Reigan pelan. "Ayo. Kita bahas ini sambil makan siang, Nico. Aku tidak ingin dinding kantor ini ikut mendengar."

***

Restoran privat di lantai tengah gedung Valerius terasa jauh lebih tenang. Reigan duduk di meja utama, sementara Nico berdiri di sampingnya seperti pelayan yang menunggu instruksi, tablet masih melekat di tangannya.

Reigan melirik ke arah pintu, tempat Marco berdiri dengan wajah datar namun bahu yang tampak lebih rileks dibandingkan Nico.

"Marco, duduklah. Berhenti berdiri seperti patung di depan pintu itu," ujar Reigan. "Aku tidak mau kamu terlihat payah menginterogasi orang karena kurang makan."

Marco terkekeh pelan. Sebuah gestur yang tidak akan pernah berani dilakukan oleh Nico. Ia menarik kursi di samping Reigan dengan gerakan luwes, seolah tempat itu memang miliknya. "Terima kasih, Bos. Bau steak ini mulai mengalihkan fokusku dari Boris," sahut Marco santai sambil meraih serbet.

Nico hanya melirik, tidak berkomentar.

"Makanlah, Nico. Kau tidak bisa melacak hantu dengan otak yang kekurangan nutrisi," perintah Reigan dingin.

"Maafkan saya Tuan. Terima kasih." Nico mengangguk.

Reigan kembali menatap Marco. "Jadi, menurutmu Boris jujur soal 'Phantom' ini?"

Marco mengunyah potongan dagingnya sebentar sebelum menjawab, "Instingku bilang dia jujur. Dia memang takut pada Phantom, tapi dia lebih takut pada besiku. Dia tahu kalau dia tidak bicara, aku akan menghabisinya detik itu juga. Jadi dia memilih melempar nama 'Phantom' padaku dengan harapan aku akan melepaskannya agar dia bisa lari sejauh mungkin dari sini."

Reigan mendengus. "Dia pengecut."

Nico berdeham, mencoba mengembalikan pembicaraan ke jalur teknis. "Itu masuk akal jika kita melihat jalurnya. Maaf, Tuan, tapi cara dia masuk sangat spesifik. Dia menggunakan Protokol Lama."

"Jelaskan," perintah Reigan.

"Maaf Tuan. Protokol Lama adalah arsitektur keamanan dasar dari era mendiang kakek Anda. Ini analog dan tidak terhubung ke internet. Itulah kenapa sistem modern saya tidak mendeteksinya. Bagi server kita, perintah dari Phantom dianggap sebagai otoritas pemilik utama."

Reigan menyandarkan punggungnya, menyesap red wine perlahan sambil memperhatikan kedua orang kepercayaannya.

Marco yang sedang menikmati makannya dengan tenang, dan Nico yang masih tampak gelisah dengan datanya.

"Maksudmu, Phantom ini memegang dokumen fisik gedung ini sebelum era digital kita dimulai?" tanya Reigan.

"Secara teori, iya. Mantan kontraktor atau tim arsitek awal," jawab Nico.

Marco mendengus pelan sambil meletakkan garpunya. "Kalau dia arsitek lama, dia pasti sudah tua atau setidaknya sangat mengenal cara kerja Kakek Douglas. Kita tidak hanya mencari peretas, Nico. Kita mencari orang yang tahu di mana letak setiap baut di gedung ini."

Reigan mengangguk tipis, menyetujui analisis Marco yang lebih praktis. "Nico, bedah kembali semua daftar kontraktor dari era kakekku."

"Ya, Tuan." Nico mengangguk menerima perintah.

"Dan Marco, cari tahu siapa saja orang lama di pelabuhan yang mendadak tutup mulut atau terlihat ketakutan dalam sebulan terakhir."

"Siap, Bos. Aku tidak sabar." Marco menyeringai bersemangat akan bertemu dengan lawan yang besar.

"Jika Phantom ini merasa dia bisa mengendalikan gedungku dari dalam bayangan, maka kita akan menyeretnya keluar ke bawah sinar matahari." Aura gelap Reigan menguar.

***

Reigan memasuki apartemen. Suasana apartemen terlihat berbeda. Ini lebih normal, karena tirai di jendela besar tidak ditutup rapat. Tirai itu tetap berada sisi kiri dan kanan bingkai jendela. Memperlihatkan pemandangan kota yang biasanya dia lihat untuk menenangkan pikiran.

Rupanya dia mendengarkan dengan baik apa yang aku katakan tadi malam.

Reigan melemparkan jasnya ke badan sofa dengan gerakan kasar. Lalu melangkah mendekat ke bar. Namun kakinya berhenti sejenak. Bayangan foto penembak di atap gedung yang Nico tunjukkan tadi siang terlintas begitu saja.

Bola matanya menyisir keseluruh gedung-gedung pencakar langit di depannya. Matanya awas meneliti celah kegelapan dan sudut atap. Mencari kemungkinan ada lagi penembak yang mengincar kepalanya. Dirasa aman, dia mulai mendekat ke bar yang dekat dengan jendela besar.

Denting suara pintu apartemen terdengar. Reigan menegang sesaat. Namun saat muncul Hana dari pintu itu, dia mendengus kesal.

"Oh, maaf. Aku pikir kamu belum pulang." Dia sedikit terkejut karena ternyata ada Reigan didalam. Apalagi dengan rahang mengeras hendak menerkam. Lalu mengangguk memberi sapaan. Hana memilih diam sejenak karena tatapan mata tajam Reigan.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!