NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat Terbaik

Otak Nowi belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi. Vito, orang yang sangat dikenalnya, kini ada di hadapannya. Awalnya, Nowi mengira itu hanya halusinasi. Suara pintu dibanting dan langkah kaki cepat masih terngiang di telinganya, sementara rasa takut perlahan menghilang. Ia sempat menduga hal buruk akan terjadi, sebab hanya Bass dan Agnia yang mengetahui keberadaannya di tempat itu.

Namun, tidak ada yang bisa mempersiapkan dirinya melihat Vito berdiri tepat di depan mata. Wajah pria itu menunjukkan keterkejutan yang sama besar dengan dirinya. Napas Nowi tercekat seketika.

“Halo, Kupu-kupu.”

Suara berat itu dan panggilan khasnya terus berputar di kepala Nowi. Ia menggeleng pelan sambil menatap wajah pria itu.

Vito mengalami banyak perubahan, namun matanya tetap sama. Warna biru tua yang dalam itu dulu sering membuatnya lupa segalanya. Rambut cokelatnya, dan dagu yang ditumbuhi janggut tipis. Tubuhnya yang dulu atletis kini berotot, kekar, dan jauh lebih besar dari ingatannya.

“Kita pergi. Sekarang.”

Vito langsung menggendong Nowi dengan erat. Kaki Nowi masih melingkar di pinggang pria itu, lalu ia menempelkan kepalanya di dada dan bahu Vito sambil menarik napas panjang.

Aroma tubuh Vito segera memenuhi paru-parunya. Tercium bau api, kayu aras, serta sedikit wangi manis yang khas. Aroma itu terasa hangat, menenangkan, dan sangat akrab.

Vito menopang tubuh Nowi dengan satu tangan, kemudian mengambil ponsel dan tas miliknya sebelum berjalan keluar rumah. Mereka melangkah ke udara malam, lalu Vito menutup pintu di belakangnya.

“Meskipun aku suka gendong kamu, kamu tetep harus pakai helm.”

Vito menurunkan Nowi secara perlahan. Baru saat itu Nowi menyadari bahwa mereka berdiri di depan sebuah motor yang tampak sangat gagah.

Nowi tidak memahami apa-apa soal kendaraan bermotor, namun motor itu terlihat bagus. Dulu, ia mengetahui bahwa Vito adalah orang yang menyukai tantangan. Kendaraan ini memang sangat cocok dengan kepribadiannya.

Vito mengambil helm yang ada di jok belakang, lalu memasangkannya di kepala Nowi. Ia mengikat tali helm itu dengan rapi dan aman.

“Agak kebesaran, nanti aku cariin yang pas buat kamu. Sekarang cukup pakai ini dulu.”

Nowi diam saja mengamati Vito naik ke atas motor besar itu. Pria itu duduk, menurunkan penyangga kendaraan, lalu duduk dengan posisi yang nyaman sebelum menoleh ke arah Nowi.

Meskipun pikirannya sedang kacau, pemandangan Vito di atas motor membuat perasaan di dalam dadanya bergejolak. Rasa hangat menjalar dari tulang punggung hingga ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya bereaksi sendiri, masih mengingat segala hal tentang pria ini.

“Naik, Nowi!”

Nowi menoleh ke arah rumah yang baru saja ditinggalkannya. Ia tahu dirinya tidak ingin kembali ke tempat itu.

Kenangan masa kecil yang sepi muncul kembali dengan sangat kuat. Terdapat ingatan melihat ibunya perlahan hancur akibat perlakuan ayahnya, pesan ibu agar tidak pernah mengorbankan mimpi demi seorang laki-laki, serta kenyataan bahwa ibunya menikah terlalu cepat dan meninggal dunia sebelum sempat menikmati hidupnya.

Nowi kembali menatap ke arah Vito. Suara ibunya terus terngiang di kepalanya, memperingatkan agar tidak ikut pergi bersama pria ini. Dahulu, ia meyakini bahwa nasib mereka sudah ditakdirkan untuk bersama dan Vito akan melakukan apa saja agar mereka tetap bersatu.

Vito mengulurkan tangannya ke belakang, menangkap pergelangan tangan Nowi, lalu menarik tubuh wanita itu hingga menempel rapat di punggungnya. Ia melingkarkan tangan Nowi di pinggangnya sendiri.

“Kaki taruh di tempatnya, duduk yang stabil, miring ikutin gerakan aku. Paham?”

“Kayaknya paham.”

“Pegang erat-erat ya.”

Vito menyalakan mesin motor. Suara dengungan kendaraan itu bergetar menembus tubuh Nowi saat mereka mulai bergerak keluar dari halaman rumah yang luas itu. Setelah berada di jalan raya, Vito mulai menambah kecepatan.

Tanpa disadari, Nowi semakin merapatkan tubuhnya dan memeluk perut Vito dengan lebih erat lagi. Ia baru menyadari betapa kekar tubuh pria itu.

Vito bergumam sesuatu yang terdengar seperti ‘itu dia gadis aku’, namun Nowi tidak yakin karena suara mesin dan hembusan angin terlalu bising.

Pohon-pohon di pinggir jalan melesat cepat melewati mereka. Nowi menyandarkan kepalanya di punggung Vito dan sepenuhnya menikmati momen itu. Ia bahkan tidak menyadari sudah berapa lama mereka berkendara. Rasanya sangat bebas, sebuah perasaan yang tidak pernah dialaminya sebelumnya.

Mereka tiba di sisi lain kota, kemudian melewati jalan tanah yang panjang hingga berhenti di depan sebuah rumah yang tampak asri dan indah.

Vito melepas helm yang dipakainya. Pada saat yang bersamaan, Bass berjalan tergesa-gesa turun dari tangga teras rumah tersebut. Seharusnya Nowi sudah menduga hal ini sejak awal.

“Nowi...” kata Bass sambil terus mendekat.

Vito segera bergerak dan berdiri di antara mereka berdua. “Kamu masih di sini juga?”

Bass terus berjalan mendekat. Nowi merasa tidak nyaman, lalu mundur selangkah. Vito memang memiliki badan yang besar, namun Bass jauh lebih besar dan kuat, persis seperti raksasa.

“Aku tahu ada banyak hal yang harus dibahas, tapi aku nggak ragu kalau harus nyakitin kamu kalau perlu. Minggir, Vito, biarin aku ngomong dan minta maaf,” kata Bass.

Vito mengeluarkan suara geraman rendah dari tenggorokannya. Nowi segera melangkah maju sebelum situasi menjadi semakin memanas.

“Vito, nggak apa-apa kok.”

Ia meletakkan tangannya di dada Vito tepat di atas jaket kulit yang dipakai pria itu. Vito segera menutupi tangan Nowi dengan tangannya sendiri dan menahannya di situ tanpa mengalihkan pandangan dari Bass.

“Nowi, kayaknya kamu udah kenal Bass. Sahabat baik aku yang kelakuannya aneh ini,” kata Vito.

Nowi terdiam sejenak. Jadi hubungan mereka sedekat itu hingga Bass bisa datang sesuka hati ke tempat ini?

Namun, sahabat baik?

Artinya, Bass lah yang segera memberitahu Vito mengenai keberadaannya sejak awal. Rasa kecewa yang muncul sangat kuat dan menyakitkan, padahal ia baru saja bertemu Bass.

Nowi berbalik menghadap Bass dan membelakangi Vito.

“Sahabat baik ya? Jadi dari awal aku nggak pernah punya kesempatan buat sembunyi di sini. Sial banget,” ujarnya dengan nada yang awalnya sedih namun berubah menjadi marah. “Kamu tahu kan? Selama ini? Kamu tahu siapa aku, siapa aku sebenarnya, dan apa hubungan aku sama dia dulu?”

“Nowi, tolong dengarin dulu...”

“Jawab pertanyaannya,” potong Vito dengan nada tegas dan rahang yang mengeras.

“Awalnya aku nggak tahu. Tapi pas kamu sebut nama kamu, aku langsung sadar. Iya, aku tahu banyak hal soal kamu selain soal rumah itu. Aku harus kasih tahu Vito, aku nggak bisa diam aja. Percaya sama aku ya, aku minta maaf banget,” jawab Bass.

“Masih ada apa lagi yang kamu tahu dari aku?” tanya Nowi lagi.

Vito langsung berbalik tajam ke arah Bass. Nowi segera berdiri di tengah-tengah mereka agar tidak ada yang bertengkar.

“BERHENTI! Berhenti dong! Aku nggak peduli lagi sama semua ini. Tolong ya Vito, biarin aku istirahat dulu, besok aku mau pahami semuanya pelan-pelan. Jadi kalian berdua tolong ... diem aja dulu!” teriak Nowi.

Suara teriakannya membuat kedua laki-laki itu segera berhenti dan diam. Keduanya menatap Nowi dengan ekspresi yang hampir sama, yaitu campuran rasa kasihan, khawatir, dan sakit hati.

“Kamu bener. Ayo masuk dulu,” kata Vito akhirnya dengan nada yang lebih lembut.

“Maaf ya Nowi,” tambah Bass dengan nada penuh penyesalan dan rasa bersalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!