Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ruang makan keluarga Fan dipenuhi suasana tegang yang belum juga mereda. Udara terasa berat, seolah setiap kata yang diucapkan bisa memicu ledakan berikutnya.
"Lucien, sejak kapan kau pulang, kenapa tidak beritahu kami agar kami bisa menjemputmu," ujar Jean, mencoba tersenyum, meski jelas ada kegugupan di balik nada suaranya.
Lucien melirik sekilas, tatapannya dingin dan tajam, membuat senyum Jean terasa semakin kaku.
"Kenapa, agar kau bisa bersiap mengambil tindakan?" sindir Lucien ringan, namun menusuk.
Jean sedikit tersentak, tapi tetap berusaha menjaga sikapnya.
"Lucien, kau adalah adik iparku, mana mungkin aku melakukan itu," jawabnya, meski nada suaranya tak lagi setenang sebelumnya.
Lucien tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya menyandarkan tubuhnya dengan santai, namun aura tekanannya justru semakin terasa.
"Lebih baik awasi anakmu agar jaga tingkahnya. Jangan sampai mempermalukan keluarga Fan," ucap Lucien datar, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya.
Ucapan itu membuat Darius mengerutkan kening, tapi ia menahan diri.
Mike yang duduk di ujung meja akhirnya membuka suara, nada bicaranya tegas dan tidak bisa dibantah.
"Kali ini Lucien kembali untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Dan semua urusan, kecil hingga besar, harus menunggu keputusannya."
Kalimat itu langsung mengubah ekspresi Darius.
"Kakek, aku akan belajar dengan Paman," ucapnya cepat, mencoba mengambil posisi.
Belum sempat suasana mereda, seorang pelayan melangkah masuk dengan hati-hati.
"Tuan, di luar Nona Vanessa ingin menemui Tuan Muda Darius," katanya sopan.
Darius langsung menoleh, wajahnya sedikit berubah."Dia adalah temanku, panggil saja dia masuk!" sahutnya tanpa ragu.
Brak!
Mike langsung menghentakkan tangannya ke meja, membuat semua orang terkejut.
"Keterlaluan! Istrimu masih di rumah, kau sudah membawa wanita lain ke sini!" bentaknya penuh amarah.
Jean buru-buru menimpali, mencoba membela anaknya.
"Pa, Vanessa adalah wanita cantik dan cerdas. Kalau dibandingkan dengan Alyssa yang bukan siapa-siapa, Vanessa memang jauh lebih baik," ucapnya tanpa ragu.
Kata-kata itu membuat suasana semakin dingin.
Tak lama kemudian
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Darius," seru Vanessa lembut.
Pandangan Darius dan Jean langsung tertuju ke arah pintu.
Seorang wanita masuk dengan percaya diri, mengenakan dress ketat merah yang menonjolkan penampilannya. Senyumnya manis, namun ada ambisi tersembunyi di balik sorot matanya.
Darius langsung berdiri, wajahnya berubah lebih hangat.
"Vanessa, mari ke sini. Aku perkenalkan keluargaku. Ini kakekku, mamaku, dan pamanku," ujarnya, suaranya terdengar lebih lembut dibanding sebelumnya.
Vanessa melangkah mendekat dengan anggun, lalu sedikit menunduk sopan.
"Vanessa, kau cantik sekali, silakan duduk!" sahut Jean dengan ramah, bahkan terlalu ramah.
Vanessa tersenyum, jelas merasa diterima.
Namun di sisi lain
Mike hanya menatap dingin tanpa berkata apa-apa.
Lucien bahkan tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Tatapannya sekilas saja, lalu kembali datar, seolah kehadiran Vanessa tidak berarti apa-apa.
"Bibi, terima kasih. Saya membawa hadiah sebagai pertemuan pertama kali," ucap Vanessa lembut sambil meletakkan beberapa bingkisan di atas meja dengan hati-hati.
Jean tampak semakin senang, matanya berbinar melihat sikap Vanessa.
"Vanessa, terima kasih. Kau sangat baik. Pantas saja Darius sangat menyukaimu," ucapnya penuh pujian.
Namun, Tidak ada satu pun respon dari Mike.
Dan dari Lucien… hanya keheningan yang terasa menekan, seolah badai bisa pecah kapan saja.
Beberapa saat kemudian, hidangan makan siang mulai disajikan. Pelayan keluar-masuk membawa berbagai makanan mewah, namun suasana di meja sama sekali tidak terasa hangat. Ketegangan masih menggantung di udara.
Jean berusaha mencairkan suasana. Ia tersenyum pada Vanessa dengan ramah, seolah ingin menunjukkan penerimaan penuh.
“Vanessa, kalau ada waktu sering-seringlah datang. Anggap saja ini rumahmu,” ucap Jean.
Vanessa langsung tersenyum manis, matanya berbinar.
“Terima kasih, Bibi!” jawabnya lembut.
Belum sempat suasana berubah..
Brak!
Suara keras menghantam meja.
Lucien menghentakkan sumpitnya dengan keras hingga membuat semua orang terkejut. Jean tersentak, Darius menegang, dan Vanessa refleks sedikit mundur.
Tatapan Lucien dingin, menusuk.
“Sejak kapan keluarga kita menerima orang sembarangan?” sindirnya tajam. “Kenapa aku tidak tahu rumah ini sudah tidak punya aturan lagi?”
Jean langsung mengerutkan kening, berusaha membalas.
“Lucien, Vanessa adalah calon menantu keluarga Fan. Tidak ada salahnya dia datang,” jawabnya, mencoba terdengar tegas.
Lucien tertawa dingin, sangat pelan, namun cukup membuat suasana semakin mencekam.
“Menantu keluarga Fan?” ulangnya. “Berapa orang menantu keluarga Fan sekarang?” lanjutnya tajam.
“Apakah kau ingin seluruh dunia menertawakan kita karena perbuatan keji putramu? Di saat istrinya hamil besar, kau malah menerima wanita lain sebagai pengganti?”
Setiap kata yang keluar seperti tamparan keras.
Darius langsung berdiri, emosinya terpancing.
“Paman, Vanessa adalah wanita yang akan aku nikahi. Hanya dia,” ujarnya keras.
Lucien menoleh perlahan, tatapannya semakin dingin. “Lalu bagaimana dengan istrimu… yang akan melahirkan tidak lama lagi?” tanyanya datar.
Darius menghela napas pendek, seolah sudah memikirkan semuanya.
“Kami akan bercerai setelah dia melahirkan. Kami sudah berencana merawat anak itu bersama. Vanessa juga sudah setuju. Aku akan memberi sejumlah uang untuk Alyssa,” jawabnya tanpa ragu.
Hening.
Mike menutup mata sejenak, jelas menahan amarah.
Sementara Lucien… tersenyum tipis.
“Luar biasa,” ucapnya pelan.
“Menikah sesuka hati… bercerai tanpa berpikir,” lanjutnya dingin. “Apakah kau benar-benar keturunan keluarga Fan?”
Aura tekanannya semakin kuat. “Sejak kecil kita diajarkan untuk menjadi pria yang bertanggung jawab,” katanya tajam. “Tapi aku lihat… kau tidak pernah mempelajarinya.”
Darius menggertakkan gigi, namun tidak bisa langsung membalas.
Vanessa yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, suaranya terdengar halus namun penuh keyakinan.
“Paman, Alyssa hanya di rumah dan tidak bisa melakukan apa pun,” ucapnya. “Berbeda denganku, aku bisa membantu karier Darius.”
Kalimat itu baru saja selesai..
Tap!
Sumpit di tangan Lucien melayang.
Dalam sekejap, sumpit itu memantul ke arah Vanessa dan mengenai wajahnya.
“Aahh!” Vanessa menjerit pelan, refleks memegang pipinya.
Semua orang terkejut.
Darius langsung bergerak, wajahnya marah. “Paman! Apa yang Anda lakukan?!”
Lucien menatap tajam tanpa sedikit pun penyesalan.
“Sebagai orang luar, kau tidak berhak bicara di sini,” ucapnya dingin pada Vanessa.
“Jangan lupa, keluarga ini masih ada aku.Selama aku tidak setuju,” lanjutnya tegas,“kau tidak akan pernah bisa melangkah masuk ke keluarga ini.”
“Lucien, Vanessa adalah pilihan Darius dan aku, kau tidak bisa melakukan itu,” ujar Jean, mencoba mempertahankan wibawa.
Lucien bahkan tidak berubah ekspresi. Ia berdiri tegak, lalu menoleh perlahan ke arah Jean.
“Kalau kau tidak keberatan,” ucapnya pelan, namun setiap katanya tajam, “kau juga bisa angkat kaki dari sini.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih keras.
“Keluarga Fan tidak butuh sampah untuk mengotori mata.”
Deg.
Ucapan itu seperti petir.
Jean langsung membeku. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Wajahnya pucat, jelas tidak menyangka akan dihina secara langsung seperti itu.
Darius yang berdiri di sampingnya ikut menegang. Tangannya mengepal kuat, namun ia tidak berani melangkah lebih jauh.
Lucien tidak memberi mereka waktu untuk bernapas. “Ingat baik-baik,” lanjutnya dingin, suaranya rendah namun penuh ancaman, “aku sudah kembali. Siapa saja yang berani bertindak sesuka hati,” katanya, “aku tidak akan ragu mengusirnya dari sini.”
Hening.
Lucien sedikit menunduk, lalu kembali mengangkat wajahnya, sorot matanya semakin tajam.
“Hidup kalian… bergantung padaku,” ucapnya pelan, namun jelas. “Jangan sampai aku benar-benar membuat kalian menjadi gelandangan.”
Kalimat itu jatuh seperti vonis.
Jean gemetar, untuk pertama kalinya kehilangan semua kata.
Darius menggertakkan gigi, namun kali ini… bahkan dia pun tidak berani membalas.
Sementara Vanessa...
Wajahnya pucat pasi, tangannya masih memegang pipinya yang tadi terkena sumpit.
"Kalian juga sudah tahu, aku bukan seorang pengusaha, tapi seorang ketua mafia. Caraku pasti berbeda," kecam Lucien.
ayooooo