Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Arumi
Tubuh Arumi terasa lemas saat mendengar ucapan bapaknya. Ya Arumi tidak sengaja mendengar pembicaraan bapaknya dengan seseorang. Dan yang membuat dia kaget lagi, ternyata orang yang berbicara dengan bapaknya tuan Kusuma.
" A... apa maksud ucapan bapak"
" Kamu akan ikut dengan tuan Kusuma"
" Kenapa harus aku, Pak"
" Karena cuma kamu di rumah ini yang tidak punya pasangan. Sedangkan mbak kamu sudah punya pasangan dan sebentar lagi akan menikah" kata ibu Rumi.
" Tapi ibuk harus tanya pendapat Rumi dulu"
" Kami nggak butuh pendapat kamu Rumi. Anggap saja kamu melakukan itu untuk balas budi kamu ke ibuk karena sudah melahirkan dan membesarkan kamu"
Arumi kaget mendengar ucapan ibunya. Ia tidak menyangka kalau ia harus membalas budi karena sudah di lahirkan ke dunia. Kalau tau kehadirannya ke dunia ini harus dibalas, lebih baik ia memilih untuk tidak dilahirkan.
" Bapak kamu sudah meminjam uang pada tuan Kusuma. Sebagai gantinya kami harus menyerahkan kamu pada tuan Kusuma "
" Maksud ibuk, aku sebagai jaminan untuk membayar hutang bapak "
" Iya, mulai sekarang kamu bukan tanggung jawab kami lagi"
Hati Arumi sakit mendengar ucapan ibunya. Sejak kapan ibunya bertanggung jawab atas dirinya. Selama ini dia sendiri yang bekerja untuk menghidupi keluarga ini. Tapi sekarang ia dibuang begitu saja.
" Sejak kapan ibuk bertanggung jawab sama aku"
" Apa maksud kamu bicara seperti itu"
" Bukankah selama ini aku yang menghidupi keluarga ini. Bahkan waktu aku sekolah sudah berjualan demi memenuhi kebutuhan anak kesayangan ibuk. Apa ibuk lupa "
" Oh jadi kamu mau perhitungan sama ibuk. Asal kamu tau, kamu berikan semua uang kamu sama ibuk belum bisa membayar pengorbanan dan perjuangan ibuk untuk melahirkan kamu"
" Kalau bisa memilih, aku lebih baik tidak dilahirkan ke dunia ini"
Plak.
" Dasar anak kurang ajar!. Ibu mu sudah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kamu, sudah besar seperti ini kamu malah melawan padanya" ucap bapak Arumi.
Kusuma pun marah melihat Usman menampar Arumi. Ia tidak menyangka akan melihat langsung bagaimana Arumi diperlakukan tidak baik sama keluarganya sendiri.
Tidak ada air mata yang keluar dari mata Arumi. Entah kenapa air matanya tidak mau keluar. Mungkin sudah lama bekawan dengan rasa sakit, karena itulah air matanya tidak mau keluar.
" Baiklah saya akan menerima keputusan bapak sama ibuk. Karena saya sudah membayar hutang Budi saya, berarti saya tidak ada hubungan apa-apa lagi sama keluarga ini. Tuan Kusuma, saya akan ikut dengan anda"
Setelah mengatakan itu Arumi pergi ke kamarnya untuk mengemas pakaiannya. Karena ia sudah tidak ada hak lagi untuk tinggal di rumah ini.
Pakaian Arumi tidak banyak, jadi tidak butuh waktu lama untuk mengemas semua pakaian dan juga barang-barangnya. Setelah mengemas semua barang-barangnya, Arumi menatap kamar yang sudah ia tempati selama dua puluh tahun.
Kamar yang sederhana tapi rapi dan juga bersih. Kamar itulah yang jadi saksi bagaimana ia menderita. Hanya kamar inilah yang pernah mendengar suara tangisnya. Setelah puas menatap kamarnya, Arumi pun keluar dari kamar itu.
" Saya sudah selesai berkemas. Apa kita bisa pergi sekarang, tuan"
" Baiklah "
Arumi melewati orang tuanya begitu saja. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan orang tuanya. Jika orang tuanya sudah tidak menginginkannya lagi, jadi untuk apa dia berpamitan dengan mereka.
" Di dalam amplop itu ada uang dua ratus juta. Sekarang kalian tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Arumi"
" Baik tuan" kata ibuk Arumi sambil mengambil amplop yang ada di atas meja "
Kusuma tersenyum sinis melihat ibu Arumi. Ternyata seperti inilah wajah asli ibu Arumi. Demi uang mereka mau menjual anak kandung sendiri. Sungguh menjijikan.
Arumi menatap rumah yang sudah lama memberinya luka. Sekarang ia akan pergi meninggalkan rumah itu. Mungkin ia tidak akan pernah kembali lagi ke rumah itu.
" Silakan masuk nona "
" Terima kasih Pak"
Setelah Arumi masuk ke dalam mobil. Kusuma baru keluar dari rumah Arumi. Sebelum masuk ke dalam mobil, Kusuma menghubungi istrinya.
Assalamualaikum Pa.
Terdengar suara lembut dari seberang sana.
Wa'alaikumsalam Ma. Papa pulang hari ini Ma, tolong masakin makanan yang banyak.
Apa kita akan kedatangan tamu, Pa.
Iya Ma, tamu istimewa. Sampai di rumah nanti papa akan ceritakan sama mama.
Baiklah mama akan tunggu kepulangan papa.
Setelah panggilan telepon berakhir, Kusuma menyimpan kembali ponselnya. Dan segera masuk ke dalam mobil.
Tidak ada satupun orang yang melepas kepergian Arumi. Mungkin keberadaannya memang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya. Jadi ada atau tidaknya Arumi tidak masalah bagi mereka.
Arumi menatap jalanan kampung halamannya. Sekarang ia akan meninggalkan desa yang sangat ia cintai ini. Di desa ini banyak kenangan yang tersimpan.
Entah kehidupan seperti apa yang akan ia jalani setelah ini. Apakah akan sama dengan sebelumnya atau akan lebih baik dari sebelumnya. Tapi ia berharap semoga ada sedikit kebahagiaan untuknya.
***
Anita baru saja pulang kerja, ia kaget melihat tumpukan uang di atas meja. Ia segera menghampiri ibunya yang sedang menghitung uang.
" Uang siapa nih Buk"
" Uang ibuk lha, emang uang siapa lagi"
" Ibuk dapat darimana uang sebanyak ini"
" Dari calon suami Rumi"
" Calon suami Rumi, maksud ibuk Rumi udah punya pacar"
" Bukan, dia dilamar sama laki-laki tua"
" Nita nggak ngerti maksud ibuk"
Ibuk Anita menghela nafasnya, kemudian ia menceritakan kejadian yang baru beberapa menit terjadi.
" Bapak tersipu investasi bodong"
" Iya, makanya tadi ibuk marah sama bapak kamu"
" Terus sekarang Rumi dimana Buk"
" Sudah dibawa sama calon suaminya"
" Jadi Rumi tidak ada di rumah ini lagi"
" Iya, sudah jangan membicarakan anak itu lagi. Mending kamu ganti baju, terus makan"
" Ntar lagi Buk. Terus uang ini akan diapakan Buk"
" Ibuk mau belikan ke emas, terus ibuk akan pamerkan ke teman-teman ibuk"
" Minta dong Buk untuk perawatan wajah aku"
" Iya nanti ibuk akan kasih untuk perawatan wajah kamu. Pokoknya kita akan beli semua barang-barang yang kita inginkan "
" Emang duitnya berapa juta Buk"
" Katanya sih dua ratus juta "
" Dua ratus juta?"
" Hhmmm "
Anita tidak menyangka uang yang ada di atas meja itu jumlahnya dua ratus juta. Ini pertama kali dalam hidupnya ia melihat uang sebanyak ini. Anita berpikir sekaya apa calon suami Arumi sehingga dia memberikan uang sebanyak itu.
Anita pun teringat sesuatu, kalau Arumi pergi terus yang mengerjakan semua pekerjaan rumah siapa. Terus yang memasak dan juga bersih-bersih rumah siapa. Nggak mungkin dia yang mengerjakan semua pekerjaan itu.
" Buk, kalau Rumi sudah pergi terus yang mengerjakan pekerjaan rumah siapa "
" Kamu nggak perlu khawatir, nanti ibuk yang akan mengerjakan semuanya"
" Makasih Buk"
" Kamu itu harus mempercantik tampilan kamu supaya Ardi makin klepek-klepek sama kamu"
" Iya Buk"
Anita pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Anita senang karena nanti ia akan pergi ke salon kecantikan. Tapi ia penasaran, siapa orang yang akan jadi suami Arumi.
To be continued.
Maaf telat update nya.. jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian💞💞
Happy reading guys 🤗 🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..