Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Pengakuan di Balik Pintu Terkunci
Pintu Ruang VIP 4 ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Rendra berdiri dengan tubuh gemetar di tengah ruangan yang kedap suara itu. Namun, rasa takutnya berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa ketika melihat sosok pria yang sudah duduk di sofa tunggal di ujung ruangan.
Adrian Dirgantara duduk dengan kaki tersilang memegang sebuah dokumen tebal di tangannya. Aura dominan sebagai penguasa tertinggi Dirgantara Group langsung membuat nyali Rendra ciut seketika. Pria kurus itu langsung berlutut di lantai marmer.
"T-Tuan Besar Adrian... Mengapa Anda ada di sini?" suara Rendra bergetar hebat.
Adrian melemparkan sebuah cek tunai kosong yang sudah ditandatangani olehnya ke atas meja marmer tepat di depan lutut Rendra. "Isi angka berapa pun yang kamu butuhkan untuk melunasi hutang judimu malam ini, Rendra. Lima ratus juta? Satu miliar? Aku akan melunasinya dalam hitungan detik."
Rendra menatap cek tersebut dengan mata berbinar, namun ia tahu tidak ada makan siang yang gratis dari seorang Adrian Dirgantara. "A-Apa... apa yang Anda inginkan sebagai gantinya, Tuan?"
Adrian menunjuk ke arah Renata yang kini berjalan mendekat dan berdiri di sebelah sofa Adrian dengan gerakan yang anggun, Renata melepas topeng renda hitamnya.
Begitu topeng itu terlepas, Rendra memekik pelan, memundurkan tubuhnya sambil menunjuk Renata dengan jari yang bergetar. "K-Kau! Wanita dari kantor pusat... tunangan Tuan Adrian! Bagaimana bisa—"
"Bagaimana bisa seorang pustakawati polos menjadi Papillon?" potong Renata, suaranya kini berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Ia melangkah maju menatap Rendra dengan sepasang mata yang memancarkan kilat dendam yang membara. "Rendra... lihat wajahku baik-baik. Apakah wajah ini tidak mengingatkanmu pada seseorang yang kamu hancurkan satu tahun lalu di lantai VIP bar ini? Seseorang bernama Maya!"
Mendengar nama 'Maya', memori kelam satu tahun lalu seketika menghantam kepala Rendra. Wajahnya yang semula pucat kini tampak dipenuhi oleh rasa bersalah dan ketakutan yang luar biasa. "M-Maya... kau... kau adik perempuan Maya?"
"Ya!" bentak Renata, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Malam itu, kamu yang berdiri berjaga di depan pintu kamar! Kamu yang mendengar jeritan kesakitan kakakku tapi kamu memilih diam karena uang dan kekuasaan Arsen! Katakan padaku, Rendra... apa yang sebenarnya dilakukan Arsen pada kakakku malam itu?!"
Rendra menggelengkan kepalanya dengan histeris, air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Saya tidak tahu, Nona! Saya bersumpah! Tuan Arsen menyuruh saya mengosongkan lantai VIP dan mematikan seluruh CCTV. Saya hanya berjaga di luar. Ketika saya masuk, Nona Maya sudah... sudah hancur. Tuan Arsen mengancam akan membunuh seluruh keluarga saya jika saya membuka mulut!"
Adrian mengetukkan jarinya di lengan sofa memberikan tekanan psikologis yang lebih berat. "Arsen tidak akan bisa melindungimu lagi, Rendra. Minggu depan, aku akan menyerahkan seluruh bukti penggelapan dana 'Papillon Holding' yang kamu tanda tangani kepada dewan komisaris dan pihak kepolisian. Kamu akan membusuk di penjara sebagai kaki tangan korupsi atau... kamu bisa selamat malam ini."
Adrian memajukan tubuhnya menatap Rendra dengan tatapan menuntut. "Berikan aku buku catatan keuangan rahasia penggelapan dana milik Arsen dan buat pengakuan tertulis serta rekaman video tentang apa yang terjadi pada Maya satu tahun lalu. Jika kamu melakukannya, aku tidak hanya akan melunasi hutangmu tapi aku juga akan menjamin keselamatan keluargamu dan mengirim kalian keluar negeri malam ini juga."
Rendra menatap cek di lantai lalu menatap wajah dingin Adrian dan tatapan penuh tuntutan keadilan dari Renata. Di ambang kehancurannya, Rendra menyadari bahwa kesetiaannya pada Arsen selama ini hanya akan membawanya ke liang kubur.
"B-Baik... saya akan bicara," ucap Rendra sambil menundukkan kepalanya menyerah sepenuhnya pada takdir. "Buku catatan itu... disimpan di dalam brankas tersembunyi di ruang kerja Arsen di kantor pusat. Kodenya adalah tanggal kematian Nona Maya. Dan malam itu... Tuan Arsen tidak sendirian di dalam kamar. Ada satu orang penting lagi yang menyiksa kakakmu, Nona Renata."
Renata menahan napasnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Siapa? Siapa orang itu?!"
Rendra mendongak, membisikkan satu nama yang membuat seluruh ruangan itu seketika dilanda keheningan yang luar biasa mengerikan. "Ayah Tuan Arsen... Tuan Besar Bram Dirgantara."
Mendengar fakta baru bahwa paman Adrian sendiri juga terlibat langsung dalam kehancuran kakaknya, tubuh Renata bergetar hebat hingga ia hampir terjatuh jika Adrian tidak segera berdiri dan menangkap pinggangnya dengan sigap.
Aliansi di dalam kegelapan malam ini telah membuka pintu gerbang rahasia yang jauh lebih besar dan mengerikan dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.