NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam perburuan

Brak!

Pintu kamar kembali dihantam keras dari luar.

“Keluar!”

“Zenith bukan tempat monster!”

Suara teriakan siswa bercampur dengan langkah kaki yang memenuhi koridor Menara Orion. Dari celah bawah pintu, bayangan puluhan orang terlihat bergerak gelisah.

Alya berdiri membeku di tengah kamar.

Dadanya terasa sesak.

Mereka benar-benar datang untuk dirinya.

Hana langsung mundur panik.

“Ini gila…”

Brak!

Benturan berikutnya membuat pintu bergetar lebih keras.

Beberapa suara mulai terdengar semakin emosional.

“Dia ancaman!”

“Kalau dia kehilangan kendali bagaimana?!”

“Keluarkan dia sekarang!”

Mata Alya mulai panas.

Ia tidak pernah menyangka semuanya akan berubah secepat ini.

Beberapa jam lalu ia masih hanya siswa baru biasa.

Dan sekarang…

Seluruh akademi memburunya seperti penjahat.

“Alya.”

Suara Reno memotong kepanikan itu.

Pemuda itu masih berdiri dekat pintu dengan ekspresi dingin dan fokus.

“Kita tidak bisa tetap di sini.”

“Apa mereka benar-benar mau menyerangku?” suara Alya terdengar kecil.

Reno menatapnya lurus.

“Dalam keadaan panik, manusia bisa melakukan apa saja.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Alya meremang.

Brak!

Pintu mulai retak sedikit.

Hana langsung menjerit kecil.

“Astaga! Mereka serius!”

Reno cepat berjalan menuju jendela kamar.

“Kita keluar lewat sini.”

Hana langsung membelalakkan mata.

“Itu lantai dua puluh!”

“Ada jalur servis di sisi luar menara.”

“KAMU MENYEBUT ITU DENGAN TENANG?!”

Namun Reno sudah membuka panel jendela otomatis.

Angin malam dingin langsung masuk ke kamar.

Di luar, lampu-lampu Zenith berkilauan indah di tengah gelap malam.

Kontras sekali dengan kekacauan yang sedang terjadi.

Brak!

“Buka pintunya sekarang!”

Pintu kamar mulai penyok.

Reno menoleh cepat pada Alya.

“Percaya padaku.”

Alya menatap mata pemuda itu beberapa detik.

Dan anehnya…

Di tengah semua ketakutan ini, Reno adalah satu-satunya hal yang terasa stabil.

Alya akhirnya mengangguk pelan.

“Oke.”

Reno langsung memimpin mereka keluar melalui sisi luar menara.

Begitu kaki Alya menginjak jalur logam sempit di luar gedung, lututnya langsung lemas.

“Aku akan mati…”

“Kau belum boleh mati,” jawab Reno datar.

Hana hampir menangis.

“Aku benci kalian berdua…”

Mereka bergerak perlahan di jalur servis sempit yang menempel di sisi menara. Angin malam berembus kuat dari ketinggian.

Di bawah mereka, kota futuristik Zenith bercahaya seperti lautan neon.

Namun Alya tidak bisa menikmati pemandangan itu.

Tangannya mencengkeram besi erat karena takut jatuh.

Sementara dari dalam kamar, suara pintu akhirnya jebol.

Brakkk!

“Mereka keluar lewat jendela!”

“Ada di luar!”

“Astaga…”

Lampu senter mulai menyapu sisi gedung.

“Ayo cepat,” kata Reno.

Mereka bergerak lebih cepat menyusuri jalur logam menuju area servis lain.

Namun suasana semakin kacau.

Beberapa drone keamanan mulai terbang mendekat.

Lampu merah mereka menyala terang.

Peringatan.

Akses area luar tidak diizinkan.

“Bahkan drone ikut mengejar?!” Hana panik.

“Bukan drone akademi biasa,” kata Reno serius. “Sistemnya diretas.”

“Aku mulai sangat membenci Kaizer.”

Salah satu drone tiba-tiba meluncur cepat ke arah mereka.

“Awas!”

Reno langsung menarik Alya ke samping.

Drone itu menghantam dinding logam keras.

Brak!

Percikan listrik menyebar.

Namun dua drone lain langsung muncul.

Reno mengumpat pelan.

“Pegang ini.”

Ia menyerahkan sebuah alat kecil berbentuk bola pada Hana.

“Apa ini?”

“EMP mini.”

Hana berkedip bingung.

“Kenapa kamu punya benda beginian?!”

“Lempar ke drone.”

Hana langsung melempar alat itu dengan panik.

Bzzztt!

Gelombang listrik kecil meledak di udara.

Drone-drone langsung mati dan jatuh ke bawah gedung.

Hana membelalakkan mata.

“Aku berhasil?!”

“Kebetulan,” jawab Reno santai.

“HEY!”

Namun situasi belum selesai.

Suara alarm keamanan semakin keras.

Dan dari kejauhan, beberapa siswa mulai mengejar melalui jalur servis lain.

“Alya!”

Salah satu dari mereka berteriak marah.

“Kau tidak bisa terus bersembunyi!”

Alya menunduk.

Ucapan itu terasa menusuk.

Reno melihat ekspresinya sekilas.

“Jangan dengarkan mereka.”

“Mereka membenciku…”

“Mereka takut.”

“Itu sama saja.”

Reno terdiam beberapa detik.

Lalu berkata pelan:

“Tidak.”

Tatapannya lurus ke depan.

“Orang yang takut masih bisa berubah.”

Jawaban itu membuat Alya sedikit terdiam.

Mereka akhirnya mencapai ujung jalur servis dan masuk ke area maintenance kosong di sisi lain menara.

Begitu pintu tertutup, Hana langsung jatuh terduduk.

“Aku tidak mau mati muda…”

Namun Reno tetap terlihat tegang.

“Kita belum aman.”

“Ada berita bagus sekali dari ucapanmu,” keluh Hana.

Reno mengabaikannya.

Ia membuka layar hologram kecil dari gelangnya.

Peta akademi muncul di udara.

Beberapa titik merah bergerak cepat.

“Mereka menyebar ke seluruh menara.”

Alya mulai panik lagi.

“Kalau begitu kita harus ke mana?”

Reno diam beberapa detik sebelum menjawab:

“Ada satu tempat.”

---

Beberapa menit kemudian, mereka bergerak diam-diam melewati koridor maintenance bawah akademi.

Tempat itu sempit dan gelap.

Pipa besar memenuhi langit-langit.

Suara mesin terdengar berat dari kejauhan.

Hana berjalan sambil terus mengeluh pelan.

“Kenapa hidupku berubah jadi film survival…”

Namun Alya hampir tidak mendengar.

Pikirannya masih penuh.

Tentang siswa-siswa tadi.

Tatapan takut mereka.

Dan kata monster yang terus terngiang di telinganya.

“Aku benar-benar berbeda ya…” bisiknya tanpa sadar.

Reno yang berjalan di depan berhenti sesaat.

Lalu menoleh.

“Ya.”

Jawaban jujur itu membuat Alya sedikit tersentak.

Namun Reno melanjutkan:

“Tapi berbeda bukan berarti salah.”

Suasana mendadak hening.

Hana tersenyum kecil.

“Kadang dia bisa bicara normal juga ternyata.”

Reno mendecih kecil malas.

Mereka akhirnya tiba di sebuah pintu logam tua tersembunyi di ujung lorong.

Tidak ada tanda apa pun di sana.

Hanya panel kecil berdebu.

Reno menempelkan tangannya ke sensor.

Akses diterima.

Pintu perlahan terbuka.

Dan Alya langsung membelalakkan mata.

Ruangan di balik pintu itu sangat besar.

Dipenuhi layar hologram.

Komputer tua.

Kabel neural.

Dan simbol Elysium di berbagai sudut.

“Tempat apa ini…?” bisik Hana.

Tatapan Reno berubah rumit.

“Tempat persembunyianku.”

Alya menatapnya kaget.

“Kamu tinggal di sini?”

“Kadang.”

Ruangan itu terasa seperti markas rahasia tersembunyi.

Di salah satu sisi terdapat area istirahat sederhana.

Di sisi lain ada puluhan data hologram aktif.

Hana berputar pelan sambil takjub.

“Oke… ini keren.”

Namun Alya justru merasa aneh.

Tempat ini terlalu pribadi.

Terlalu penuh rahasia.

Dan itu membuatnya sadar…

Reno selama ini hidup sendirian dengan semua beban ini.

“Aku akan mengunci sistem luar,” kata Reno sambil berjalan ke terminal utama.

“Untuk sementara tempat ini aman.”

Hana langsung menjatuhkan tubuh ke sofa kecil.

“Akhirnya…”

Sementara Alya berdiri diam memperhatikan salah satu layar hologram.

Di sana terdapat foto-foto lama Project Elysium.

Laboratorium.

Peneliti.

Dan—

Mata Alya membesar.

Ia melihat ayahnya berdiri di salah satu foto.

Di samping Reno kecil.

Senyum ayahnya terlihat hangat saat memegang pundak anak kecil itu.

Tanpa sadar Alya menyentuh layar tersebut pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Ia melihat Reno kecil tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!