NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian di Atas Kuda Besi

Deru mesin dari sedan hitam mewah yang baru datang itu terdengar lebih halus, namun justru memancarkan intimidasi yang jauh lebih pekat. Pintu-pintu mobil tersebut terbuka serentak dengan bunyi klik yang solid. Empat pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi dan tatapan mata yang kosong tanpa emosi melangkah turun. Mereka bukan lagi sekadar preman bayaran berjaket kulit seperti anak buah Kamil; pergerakan mereka yang taktis dan tenang menandakan mereka adalah profesional yang terlatih untuk menghabisi target tanpa jejak.

"Gus, sepertinya mereka bawa rombongan yang levelnya beda!" teriak Davika, mata green-gray miliknya menangkap kilatan dingin dari balik jas salah satu pria tersebut.

Gus Zayyad mencoba menegakkan tubuh tegapnya. Namun, begitu ia bertumpu pada kaki kanannya, ia mendesis tertahan. Luka hantaman balok kayu di rusuknya serta cedera memar di paha akibat keroyokan tadi mulai memanifestasikan rasa sakit yang luar biasa. Napas sang CEO memburu, wajah tampannya yang luar biasa kini dihiasi coretan darah tipis di sudut bibir dan pelipis. Tubuh kekarnya yang biasa berdiri seangkuh menara kini tampak goyah.

Sebelum komplotan baru itu melangkah lebih dekat, Davika bergerak dengan sigap yang luar biasa. Tangan mungilnya yang super kecil—yang biasanya hanya sibuk memegang sudit dapur atau gantungan kunci capybara—maju mencengkeram jemari tangan besar Gus Zayyad. Kontras antara tangan mereka begitu kentara, namun genggaman jemari Davika terasa begitu erat, hangat, dan menyalurkan daya hidup yang mendesak.

"Jangan sok tangguh dulu, Gus kaku! Naik sekarang atau kita berdua jadi sejarah di parkiran ini!" seru Davika sembari menarik paksa tubuh kekar Zayyad mendekati motor balap hitam 250cc milik Mas Gara.

Zayyad, yang seumur hidupnya tidak pernah membiarkan orang lain mendikte pergerakannya, kali ini tidak memiliki pilihan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengayunkan kakinya yang panjang melangkahi jok belakang motor balap yang tinggi itu. Tubuh besarnya yang berotot terpaksa merunduk, menempel erat pada punggung mungil Davika yang terbalut jaket oversized hitam.

"Pegangan yang kuat ke pinggang Davik kalau masih mau hidup!" perintah Davika sembari menyentak helm balapnya kembali ke kepala dan menurunkan kaca pelindungnya dengan bunyi klik yang tajam.

Zayyad mendengus kaku. Rasa risih dan harga dirinya sebagai putra mahkota pesantren sempat bergejolak saat tangannya yang besar terpaksa melingkari pinggang ramping gadis remaja di depannya. Proporsi tubuh Davika yang semok dan padat memberikan sensasi empuk yang asing sekaligus membuat Zayyad canggung setengah mati. Namun, sebelum ia sempat memikirkan muruah, Davika sudah melepaskan kopling dengan hentakan ekstrem.

Wussss! Brummm!

Motor balap itu melonjak maju bagai peluru yang lepas dari selongsongnya. Ban belakang berdecit nyaring di atas aspal pelataran hotel, meninggalkan dua pria berjas yang mencoba melompat menghadang. Davika mengarahkan kemudi langsung memotong trotoar pembatas, melompati undakan beton dengan mulus, lalu masuk ke jalur arteri jalan raya yang mulai temaram oleh pekatnya malam.

Di kursi belakang, jantung Gus Zayyad berdentum dua kali lebih cepat, dan itu bukan karena luka-lukanya. Reaksi pertamanya berada di boncengan Davika adalah keterkejutan mutlak yang bercampur horor. Sebagai pria yang terbiasa mengendalikan mobil sedan mewah dari kursi belakang atau memeriksa laporan bisnis di meja kerja yang tenang, kecepatan ini terasa gila. Davika tidak berkendara seperti anak SMA yang sedang panik; gadis itu memacu monster besi itu dengan presisi dan insting seorang pembalap profesional sungguhan.

Saat memasuki kawasan pemukiman yang padat, Davika sama sekali tidak menurunkan kecepatan. Ia justru mengarahkan setang motor menuju mulut gang-gang sempit yang lebarnya tak lebih dari dua meter.

Ckiitt! Oonggg!

Davika meliuk-liuk dengan sangat lihai. Tubuh mungilnya condong ke kiri dan ke kanan dengan sudut kemiringan yang ekstrem di setiap tikungan patah berndinding batako. Setang motor balap itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari jemuran warga, pot tanaman hias, dan pagar-pagar rumah seng yang berderit karena embusan angin kencang yang mereka hasilkan.

Zayyad terpaksa memejamkan mata sesaat ketika Davika menyelip di antara dua gerobak pedagang martabak malam dengan kecepatan tinggi tanpa menyenggol sedikit pun. Setiap kali motor miring tajam, cengkeraman tangan Zayyad di pinggang padat Davika makin mengencang secara tidak sadar, membuat tubuh kekarnya yang penuh luka ikut menempel pasrah mengikuti ritme aerodinamis sang koki genius. Udara malam yang dingin menerpa wajah terluka Zayyad, membaurkan aroma parfum kayu cendananya dengan wangi sisa rempah kunyit yang masih samar melekat di jaket kain Davika.

Di belakang mereka, lampu sorot dari dua sepeda motor matik besar milik komplotan berjas yang mencoba mengejar perlahan-lahan mulai kehilangan jejak. Mereka tidak memiliki kelincahan dan kenekatan yang dimiliki Davika dalam menaklukkan labirin gang tikus ibu kota. Setelah melewati belasan tikungan acak dan melompati jembatan kecil di atas selokan, deru mesin pengejar akhirnya lenyap sepenuhnya, digantikan oleh keheningan malam pemukiman pinggiran kota yang tenang.

Davika akhirnya memperlambat laju motornya, membawa mereka keluar di sebuah area lapangan kosong yang gelap di dekat perbatasan kota, sangat jauh dari pusaran bahaya hotel bintang lima.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keheningan di area lapangan kosong itu hancur berantakan dalam hitungan detik. Belum sempat Davika menurunkan tuas gas untuk menstabilkan napas, dari arah jalan beton di belakang mereka, raungan mesin mobil yang dipaksa bekerja melewati batas kembali terdengar. Semburat lampu sorot putih yang tajam memotong kegelapan malam, memantulkan bayangan siluet pohon-pohon pisang di tepi lapangan menjadi distorsi yang mengerikan.

Komplotan berjas itu tidak menyerah. Mereka berhasil memotong jalur lewat jalan lingkar luar.

Dor! Dor!

Dua suara letusan nyaring memecah kesunyian malam pinggiran kota, disusul bunyi desingan logam yang memotong udara tepat di atas helm yang dikenakan Davika. Peluru-peluru itu melesat hampa, menghantam batang pohon randu di kejauhan hingga kulit kayunya terkelupas rapi.

"Astaga! Mereka pakai mainan beneran, Gus!" pekik Davika dari balik kaca helmnya. Sifat random-nya lenyap seketika, digantikan oleh adrenalin yang meledak hebat di dalam darahnya.

Bukannya panik dan mengerem, jemari mungil Davika justru memutar tuas gas motor balap 250cc milik Mas Gara sedalam mungkin. Monster besi hitam itu melesat kembali, menciptakan traksi instant yang membuat ban belakangnya sedikit selip di atas tanah berumput sebelum akhirnya mencengkeram aspal kasar jalanan arteri yang terbuka lebar.

Di kursi belakang, Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari mengetatkan cengkeraman tangannya pada pinggang padat Davika. Luka tembak bukan hal yang asing dalam spektrum ancaman yang sering dihadapi bisnis logistiknya, tetapi ditembaki di atas motor sport dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam, dikemudikan oleh seorang gadis SMA bertubuh mungil, adalah skenario paling gila yang pernah dialaminya.

Dor!

Satu tembakan lagi menyalak. Peluru kali ini menghantam spion kanan motor hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kaca mininya beterbangan bagai kristal di bawah siraman lampu jalan.

"Davika, merunduk!" bentak Zayyad, suara baritonnya yang berat bergetar melawan deru angin malam yang pekat. Tubuh kekarnya dipaksa menekan punggung Davika serendah mungkin untuk memperkecil ruang tembak lawan.

"Tenang, Gus! Di depan ada tikungan S, mereka tidak akan bisa membidik dengan stabil!" balas Davika setengah berteriak.

Jalanan di depan mereka baru saja diguyur hujan lokal beberapa menit lalu. Permukaan aspal tampak hitam berkilau, basah, dan sangat licin memantulkan cahaya lampu merkuri. Di hadapan mereka terbentang sebuah tikungan tajam melingkar yang berbatasan langsung dengan pembatas jalan beton.

Reaksi Gus Zayyad malam itu adalah keterkejutan mutlak yang nyaris membuatnya menahan napas. Bukannya mengurangi kecepatan demi keamanan di atas jalanan yang basah, Davika justru menjaga putaran mesin tetap tinggi dan stabil. Gadis itu menggeser bobot tubuh mungilnya yang padat ke sisi dalam tikungan, memaksa motor balap hitam itu miring pada sudut yang tidak masuk akal untuk ukuran pengendara amatir.

"Davika! Licin .... ".

Kalimat Zayyad terputus. Tubuh kekarnya ikut terseret dalam kemiringan ekstrem tersebut. Detik itu, mata Zayyad melebar sempurna penuh horor di balik pundak Davika. Dengkul kaki kanannya yang panjang, yang dibalut celana kain formal hitam mahal, hanya berjarak beberapa milimeter dari permukaan aspal malam yang basah. Ia bahkan bisa merasakan cipratan air hujan yang dingin dari jalanan langsung menghantam lutut dan ujung sepatu pantofelnya.

Sreeeet!

Grip ban balap spek sirkuit milik Mas Gara menunjukkan kelasnya. Davika mengendalikan setang dengan ketegasan yang luar biasa rapi; tangannya tidak goyang sedikit pun saat motor meliuk membentuk sudut elips sempurna di atas aspal basah, meninggalkan garis jejak air yang terbelah.

Mobil pengejar di belakang mereka mencoba mengikuti manuver gila tersebut, namun hukum fisika tidak berpihak pada kendaraan roda empat berbobot dua ton di atas jalanan licin. Terdengar suara derit ban mobil yang kehilangan kendali, disusul bunyi hantaman keras saat bagian moncong sedan hitam mewah itu menghantam pembatas jalan beton hingga mengeluarkan percikan api dan kepulan asap dari radiator yang pecah.

Begitu berhasil keluar dari tikungan S dengan selamat, Davika kembali menegakkan posisi motor dengan sentakan pinggangnya yang semok dan padat. Ia melirik sisa spion kirinya; lampu sorot pengejar sudah mandek di tempat, terhalang oleh kecelakaan mereka sendiri.

Napas Davika memburu halus di dalam helm, meninggalkan embun tipis di kaca pelindung. Sementara di belakangnya, Gus Zayyad perlahan melonggarkan cengkeraman tangannya yang bergetar halus karena sisa ketegangan. Semburan angin malam yang dingin menerpa wajah terluka sang CEO, membuyarkan sisa rasa tidak percayanya atas apa yang baru saja dilakukan oleh si "Jerry" di dalam keluarga Mwohan ini.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!