Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 SWMU
Seharian itu, Nadia merasa seperti bayangan yang bergentayangan di dalam mansion. Ia mencoba menyibukkan diri dengan membaca buku di perpustakaan raksasa milik Bramantya, namun matanya terus-menerus melirik ke arah pintu. Rasa tidak nyaman setelah kejadian liontin pagi tadi terus menghantui pikirannya. Setiap kali ia mendengar langkah pelayan di kejauhan, bahunya menegang, mengira itu adalah Bramantya yang datang untuk memberikan aturan baru lainnya.
Matahari mulai tenggelam, digantikan oleh semburat warna ungu kemerahan yang perlahan ditelan oleh kegelapan malam. Dan bersamaan dengan itu, Bi Inah muncul kembali dengan wajah datarnya yang seolah terbuat dari batu.
"Nona Nadia, Tuan Bramantya meminta Anda segera turun ke ruang makan untuk jamuan makan malam formal. Beliau tidak suka menunggu," ucap Bi Inah singkat.
Nadia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Formal? Hanya ada aku dan pamanmu, bukan? Kenapa harus formal?"
"Itu adalah tradisi keluarga Mahendra, Nona. Silakan bersiap."
Sepuluh menit kemudian, Nadia melangkah menuju ruang makan utama. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang disediakan di lemarinya. Gaun itu pas di tubuhnya, memperlihatkan betapa ia telah kehilangan sedikit berat badan dalam beberapa hari terakhir akibat duka dan stres. Liontin gembok pemberian Bramantya menggantung di lehernya, terasa dingin dan berat, seolah mengingatkannya pada rantai yang tak kasat mata.
Ruang makan malam itu diterangi oleh lilin-lilin tinggi di atas kandelar perak, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Bramantya sudah duduk di kepala meja. Ia mengenakan kemeja putih bersih dengan rompi hitam yang sangat pas, tampak sangat berwibawa sekaligus misterius.
"Duduklah, Nadia," suara Bramantya bergema di ruangan yang luas itu.
Nadia duduk di kursi yang berada cukup jauh dari Bramantya, namun di meja sepanjang itu, jarak tersebut terasa seperti sebuah jurang. Pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka—sup krim jamur yang aromanya sangat menggoda, namun perut Nadia terasa mulas.
Jamuan makan malam itu dimulai dalam kesunyian yang mencekam.
Ting.
Suara sendok perak Nadia yang beradu dengan pinggiran mangkuk porselen terdengar sangat nyaring, hampir seperti ledakan kecil di tengah keheningan. Nadia segera memperbaiki gerakannya, mencoba tidak menimbulkan suara sedikit pun. Namun, sunyi di ruangan ini bukan sunyi yang damai. Ini adalah sunyi yang menekan, sunyi yang membuat seseorang bisa mendengar aliran darahnya sendiri di telinga.
Nadia merasa setiap gerakannya diawasi. Dan benar saja, saat ia memberanikan diri mendongak, ia menemukan mata tajam Bramantya sedang memperhatikannya. Pria itu tidak menyentuh makanannya. Ia hanya duduk bersandar sambil menautkan jemarinya, mengamati Nadia seolah gadis itu adalah sebuah pertunjukan seni yang menarik.
"Kau tidak suka supnya?" tanya Bramantya tiba-tiba.
Nadia tersentak, hampir menjatuhkan sendoknya. "Su-suka, Paman. Hanya saja... aku tidak terlalu lapar."
"Makanlah. Kau butuh tenaga untuk menghadapi hari-harimu di sini. Aku tidak suka melihat keponakanku terlihat lemah dan tidak berdaya."
Nadia memaksakan satu suap lagi. "Boleh aku bertanya sesuatu, Paman?"
Bramantya menyesap anggur merah dari gelas kristalnya sebelum menjawab. "Tanyakanlah."
"Kenapa rumah ini begitu sepi? Paman bilang ini rumah kakek, tapi tidak ada satu pun jejak keluarga di sini. Tidak ada foto ayah, tidak ada foto bibi, atau siapa pun."
Bramantya meletakkan gelasnya. Matanya meredup, seolah sebuah awan gelap baru saja melintas di pikirannya. "Masa lalu adalah tempat yang menyakitkan, Nadia. Aku lebih suka hidup di masa sekarang. Foto hanya akan mengingatkan kita pada orang-orang yang telah mengkhianati atau meninggalkan kita."
"Termasuk ayahku? Apakah dia mengkhianatimu?"
Suasana di ruangan itu seketika mendingin beberapa derajat. Bramantya memajukan tubuhnya, menatap Nadia dengan intens yang membuat gadis itu ingin menghilang dari kursi.
"Ayahmu mengambil sesuatu yang sangat berharga dariku dulu. Dan dia menghabiskan sisa hidupnya untuk memastikan aku tidak pernah mendapatkannya kembali. Tapi takdir punya caranya sendiri untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku, bukan?"
Nadia tidak mengerti arah pembicaraan itu, namun ia merasa ada ancaman yang tersirat di sana. "Maksud Paman... aku?"
Bramantya tidak menjawab secara langsung. Ia justru bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan mengitari meja panjang itu. Suara langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar ritmis, seperti detak jam yang menghitung mundur sesuatu.
Tap. Tap. Tap.
Setiap langkah itu terasa seperti pukulan pada jantung Nadia. Detak jantungnya berpacu cepat, begitu keras hingga ia yakin Bramantya bisa mendengarnya di tengah kesunyian ini. Pria itu berhenti tepat di belakang kursi Nadia.
Nadia membeku. Ia bisa merasakan kehadiran Bramantya yang begitu dekat di punggungnya. Aroma cendana dan tembakau itu kembali menyergap indranya, memicu ingatan samar tentang sosok yang masuk ke kamarnya semalam.
"Kau jantungmu berdetak sangat kencang, Nadia," bisik Bramantya. Suaranya rendah, tepat di samping telinga Nadia. "Kenapa? Apa kau takut padaku?"
Nadia mencengkeram serbet di pangkuannya. "Tempat ini... suasananya... membuatku gugup."
Bramantya meletakkan tangannya di sandaran kursi Nadia, mengurung gadis itu dalam ruang geraknya yang terbatas. "Ketakutan adalah reaksi yang wajar bagi seseorang yang baru saja kehilangan dunianya. Tapi kau harus belajar membedakan mana bahaya yang nyata dan mana perlindungan yang sebenarnya."
Bramantya mengulurkan tangannya, jemarinya yang panjang menyentuh liontin gembok di leher Nadia. Ia memutar-mutar liontin itu perlahan, membuat kulit leher Nadia bersentuhan dengan jari-jarinya yang hangat.
"Gembok ini... adalah simbol," ucap Bramantya pelan. "Hanya pemegang kuncinya yang bisa membukanya. Dan di dunia ini, hanya aku yang memegang kunci untuk keselamatanmu."
Nadia memberanikan diri untuk berbalik sedikit. "Dan siapa yang memegang kunci untuk kebebasanku, Paman?"
Bramantya menatap mata Nadia dalam-dalam. Untuk sesaat, Nadia melihat sebuah luka yang dalam di balik mata hitam yang dominan itu, sebuah obsesi yang telah berkarat selama bertahun-tahun.
"Kebebasan hanyalah ilusi bagi orang-orang seperti kita, Nadia. Di luar sana, kau akan hancur. Di sini, kau akan abadi. Tidakkah itu lebih baik?"
Bramantya menjauhkan tangannya dan kembali berdiri tegak. Ketegangan yang tadi memuncak seolah mengendur sedikit, namun rasa sesak di dada Nadia tidak menghilang.
"Selesaikan makanmu. Besok aku akan membawamu ke kota untuk mengurus beberapa dokumen legalitasmu di bawah perwalianku," ujar Bramantya sambil berjalan kembali menuju pintu keluar ruang makan.
Sebelum menghilang di balik pintu kayu raksasa, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Dan Nadia... jangan coba-coba membuang susu yang diberikan Bi Inah malam ini. Aku tahu apa yang kau lakukan semalam dengan menuangnya ke pot tanaman di balkon. Aku tidak suka pemborosan."
Nadia terpaku. Wajahnya memucat seketika. Bagaimana dia bisa tahu? Nadia yakin ia melakukannya dengan sangat diam-diam saat lampu sudah dimatikan.
Setelah Bramantya pergi, Nadia terduduk lemas di kursinya. Suara denting sendok tadi kini digantikan oleh suara detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Ia menatap hidangan mewah di depannya yang kini terasa seperti racun.
Mansion ini bukan sekadar rumah besar. Mansion ini adalah sebuah lingkungan hidup yang memiliki mata dan telinga di setiap sudutnya, dan semua informasi itu ada pada satu orang: Bramantya Mahendra.
Nadia menyentuh liontin di lehernya dengan gemetar. Jamuan makan malam yang sunyi itu telah memberinya satu pelajaran berharga: Di bawah atap ini, tidak ada rahasia yang bisa ia sembunyikan. Dan tidak ada pintu yang benar-benar bisa melindunginya dari sang pemilik kunci.
Satu-satunya suara yang tersisa di ruangan itu adalah detak jantung Nadia yang seolah berteriak; meminta pertolongan yang entah akan datang dari mana.