Alexandra Quina tak punya pilihan selain menerima tawaran gila Nenek Evelyn, majikannya yang lumpuh. Sebagai perawat yatim piatu, hidupnya berubah total saat diminta menikahi Nicholas—cucu Evelyn yang koma selama dua tahun hanya demi memberikan keturunan bagi keluarga Rich melalui prosedur medis.
Harta dan kehidupan layak sudah di depan mata. Namun, saat janin mulai tumbuh, Evelyn meninggal. Di tengah ancaman pembunuhan dari keluarga Nicholas, Alexa memilih lari dan menghilang tanpa jejak.
Lima tahun kemudian, Nicholas terbangun sebagai—Presiden Gila—yang arogan dan tak tersentuh. Hingga di sebuah kompetisi renang, seorang gadis kecil menarik jas mahalnya dengan berani.
“Om Plesdil, mau ndak jadi Daddy kita?”
“Aku sudah punya istri,” jawab Nicholas dingin.
“Buang aja istlinya, Om itu Daddy kita.”
Nicholas mengira itu lelucon, sampai empat anak lainnya muncul dengan wajah yang merupakan jiplakan dirinya. Saat ia berhasil menemukan Alexa, Nicholas mengira ia bisa mengatur wanita itu dengan mudah. Tapi ia salah.
“Kalau mereka anakmu, apa yang kau mau? Hak asuh?” tantang Alexa.
“Ayo menikah!” titah Nicholas.
“Jadi istri kedua? No way! Lebih baik aku menjanda selamanya daripada jadi madumu. Jangan kira aku lemah seperti dulu!”
Alexa yang dulu penurut telah berubah menjadi wanita cerdas dan tangguh. Itu membuat Nicholas justru makin tergila-gila.
Akankah Nicholas berhasil menaklukkan hati Alexa yang sedingin es dan sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Tanggung Jawab!
Sinar matahari tipis menerobos masuk melalui celah gorden, membelai wajah Alexa yang masih terbuai mimpi. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Alexa menggeliat kecil. Tangannya bergerak tanpa sadar, meraba sesuatu yang terasa hangat dan... keras?
Padat, berotot, dan terasa sangat kokoh.
Tunggu... gulingku sejak kapan punya tekstur seperti ini?
Alexa mengerutkan kening, jemarinya secara naluriah menelusuri permukaan yang terasa seperti pahatan otot dada itu. Namun, saat indra penciumannya menangkap aroma maskulin perpaduan sandalwood dan sedikit sisa bau obat, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia membuka matanya lebar-lebar.
"AAA—"
Teriakan Alexa tertahan di tenggorokan saat ia menyadari wajah Nicholas hanya berjarak beberapa senti dari hidungnya. Pria itu tengah berbaring menyamping, menatapnya dengan mata yang ternyata sudah terbuka sempurna sejak tadi.
"Sudah puas merabanya?" Suara Nicholas terdengar serak khas orang baru bangun tidur, morning voice yang terdengar sangat seksi sekaligus menyebalkan.
Alexa tersentak, segera menarik tangannya seperti baru saja menyentuh bara api. Ia berusaha bangkit, tapi menyadari posisi mereka sangat tidak menguntungkan. Entah sejak kapan, lengan kekar Nicholas sudah melingkar di pinggangnya, mengunci Alexa di tempat.
"Tu-Tuan Nicholas! Kenapa Anda... kenapa bisa di sini?!" pekik Alexa dengan wajah yang mendadak merah padam sampai ke telinga.
Nicholas tidak melepaskannya. Alih-alih menjauh, ia justru semakin mendekatkan wajahnya, menghirup aroma rambut Alexa dengan santai. "Semalam aku kedinginan. Bukankah Nenek harus menemani cucunya yang sedang sakit?"
Alexa melotot. "Tapi sekarang Anda sudah bangun! Dan saya bukan Nenek Anda!"
Nicholas tersenyum miring, senyum tipis yang mematikan. Akting semalam sepertinya sudah berganti dengan mode Nicholas sang Hunter.
"Benarkah? Kalau begitu, Ms. Lexa... jelaskan padaku," bisik Nicholas dengan nada rendah yang menggetarkan.
"Kenapa jantungmu berdetak sekeras ini jika aku hanya orang asing bagimu?"
Alexa mematung. Sial, dia terjebak. Nicholas tidak sedang mengigau lagi. Pria ini sedang memerangkapnya dengan kesadaran penuh.
“Ini wajar karena aku bangun dengan seekor serigala,” jawab Alexa segera bangkit berdiri, tak seperti Nicholas yang tersenyum kecut.
“Karena kamu sepertinya sudah sembuh, aku pergi—”
Kalimat Alexa mendadak terputus. Matanya terbelalak hebat karena Nicholas tiba-tiba melompat dari tempat tidur dan memeluknya erat dari belakang.
“Kau mau ke mana, Ms. Lexa? Bukankah kau punya utang penjelasan padaku?” Nicholas berbisik tepat di daun telinga Alexa. Bisikan itu membuat Alexa bergidik di sekujur tubuhnya.
“Pe-penjelasan apa? Aku tidak punya rahasia denganmu,” elak Alexa. Ia berusaha keras menyembunyikan rasa gugup dan takut jika pria itu akan melemparkannya kembali ke tempat tidur.
“Oh… masa kau lupa pada anak-anak itu? Maksudku, anak-anak kita berdua?”
Alexa langsung tertunduk. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Kau jangan bicara sembarangan. Aku belum pernah melahirkan anakmu. Mereka bukan anakmu,” bantah Alexa tanpa berani menatap wajah Nicholas yang kini sudah berubah masam.
“Apa ada seseorang yang mengancammu sehingga kau tidak mau jujur juga? Katakan padaku, siapa dia? Siapa orang yang berani mengancammu?” tanya Nicholas sambil semakin mempererat dekapannya hingga Alexa sulit bergerak.
Alexa terdiam sesaat, lalu menyikut perut Nicholas dengan keras sampai pelukan itu terlepas. Ia berbalik dan menatap tajam pria di depannya.
“Tidak ada yang mengancamku, Tuan Nicholas Rich yang terhormat. Aku hanya ingin kau menjauh dari hidupku dan anak-anakku! Sekali lagi, mereka bukan anakmu. Kita tidak pernah melewatkan malam bersama, jangan mimpi!”
Nicholas tidak mundur. Ia justru melangkah maju hingga Alexa terhimpit di antara meja rias dan tubuh besarnya.
“Kalau mereka bukan anakku, kenapa wajah mereka sangat mirip denganku? Bahkan salah satu anak memiliki tanda lahir yang sama di pundaknya. Mau mengelak apa lagi?”
Hening. Alexa bungkam seribu bahasa. Nicholas terlalu keras kepala dan teliti untuk bisa dikelabui dengan kebohongan receh.
"Ms. Lexa, kita memang tidak pernah melewatkan malam bersama, tapi kau mengandung anakku lewat prosedur bayi tabung," ungkap Nicholas. Ia menarik dagu Alexa dengan tegas, memaksa mata wanita itu beradu dengan tatapan tajamnya.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Alexa lirih, suaranya nyaris hilang.
"Aku menanyakan benih yang kusimpan di bank sperma. Nenek menanamnya ke rahim seorang gadis bernama Alexa. Gadis yang selalu muncul dalam mimpiku dengan wajah tertutup kabut. Dan sekarang, aku melihat wajah aslinya. Itu kau, kan?" Nicholas menekan kalimat terakhirnya, mengunci harga diri Alexa.
Dia tidak melupakanku? Dia memimpikanku? Batin Alexa bergejolak. Ada rasa hangat yang menyelinap, meski tertutup oleh rasa kesal karena pria ini baru ingat sekarang.
Kalau aku jujur, apa dia akan merampas anak-anak lalu membuangku? Nenek Evelyn sudah tiada, siapa yang akan menjamin nasibku?
"Apa yang kau takutkan?" tegur Nicholas membuyarkan lamunan Alexa.
Alexa menelan ludah. Ia mengumpulkan sisa keberaniannya, menatap lekat sepasang mata elang itu.
"Kalau mereka anakmu, kau mau apa? Hak asuh?" tantang Alexa.
"Ayo menikah!" titah Nicholas tanpa ragu.
"Jadi istri kedua? No way! Aku lebih baik menjanda selamanya daripada jadi madumu!" sentak Alexa.
Nicholas tertegun. Matanya tak berkedip, seolah baru saja mendengar ledakan besar.
"Menjanda? Maksudmu… kau pernah menikah sebelumnya?"
"Iya, sudah pernah. Tapi sudah kubuang karena dia pria tidak berguna," jawab Alexa berani. Ia berharap Nicholas akan jijik dan melepaskannya. Namun, Nicholas justru menyeringai dan mengulurkan telapak tangannya.
"Kamu mau apa? Minta sembako?" tanya Alexa heran.
"Bukti. Beri aku bukti foto pernikahanmu kalau kau memang sudah pernah menikah," desak Nicholas. Tatapannya menajam setajam silet.
"Aku tidak butuh kau percaya! Lepaskan aku!"
"Tapi aku... BUTUH!" Nicholas menekan kedua bahu Alexa ke tembok dengan kuat.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tantang Alexa, mencoba tegar meski lututnya lemas.
Bukannya menjawab, Nicholas justru menarik lengan Alexa dan menghempaskannya ke tempat tidur. Alexa meringis saat tubuhnya membal di atas kasur empuk itu. Belum sempat ia bangkit, Nicholas sudah melompat dan mengurung tubuhnya. Mengunci ruang gerak Alexa sepenuhnya.
"Ka-kau mau apa? Jangan macam-macam! Aku teriak nih!" ancam Alexa merinding hebat melihat tatapan liar Nicholas.
"Karena kau tak mau kasih bukti, biar aku yang mengeceknya sendiri."
"Cek sendiri? Caranya?"
"Jangan pura-pura polos, Ms. Lexa. Kita berdua sudah dewasa," Nicholas menyeringai. Ia meraih beberapa helai rambut Alexa, lalu menciumnya perlahan. "Aku bukan dukun, tapi aku tahu kau sebenarnya masih 'ting-ting', kan?"
"Siapa bilang? Aku sudah tidak suci! Aku sudah berpengalaman dengan banyak laki-laki! Kau pasti jijik, kan?" bohong Alexa agar Nicholas menjauh.
Nicholas justru tertawa rendah.
"Dari bentuk tubuhmu, apalagi dadamu yang masih kencang, kau masih gadis. Apalagi bibir ini... pasti belum pernah mengeluarkan suara merdunya di bawah pria mana pun, kan?" Nicholas menggenggam kedua tangan Alexa ke atas kepala.
Alexa menelan ludah kasar. Sial, tebakan pria ini benar semua.
"Kamu salah! Aku bukan wanita baik-baik. Kalau kau menikah denganku, aku hanya akan menghabiskan uangmu!"
"Justru itu yang kumau. Aku senang jika kau memeras hartaku, bahkan jika perlu... miliki tubuhku."
Alexa bergidik geli. "Kau sudah gila. Kau bukan tipeku!"
"Oh ya? Bagaimana kalau kau mencobanya sendiri?" bisik Nicholas. Ia menjilat daun telinga Alexa, membuat wanita itu tersentak kaget dengan sensasi aneh yang menjalar ke perutnya.
"Apa yang mau dicoba? Kau sudah tua. Milikmu pasti sudah loyo!" maki Alexa asal.
Nicholas tersenyum miring. Tantangan itu membuatnya makin gemas.
"Kyaaa! Mau apa? Lepaskan!"
"Nggak! Kau harus tanggung jawab, Ms. Lexa!"
"Tanggung jawab karena apa?!"
"Karena kau sudah mengambil ciuman pertamaku!"
"Hanya karena ciuman itu?"
"Itu bukan ciuman biasa. Itu bernilai sepuluh miliar!"
Jleb.
Alexa tertegun. Matanya mengerjap tak percaya.
Sepuluh miliar? Bibir dia dilapisi emas atau bagaimana?
_______
Mahal amat…
To be continued….