Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. 5 Big Boss Marunda
Begitu pintu terbuka, mataku langsung ke perawat itu dan aku perintahkan, “Masukin lagi semua organ itu ke dalam tubuhnya!”
Wajahnya langsung pucat. Dia geleng-geleng kepala, tapi tetap masuk ke dalam truk dengan hati-hati.
Gustav ikut masuk, wajahnya kaku antara cemas dan sedih. “Ini kacau, Braun.”
“Lazuar orang pertama yang sampai sini?” tanyaku, mataku tajam dan fokus ke anak buahku.
Lazuar maju, mengangguk, lalu menunjuk ke mayat-mayat di lantai.
“Aku refleks, Bos. Aku biarin satu dari mereka hidup lebih lama buat dapatin info. Maaf.”
“Ceritain semuanya,” perintahku. “Jangan ada yang kamu lewatin.”
Dia tunjuk lagi ke mayat itu.
“Aku nemuin bajingan-bajingan itu lagi ngeluarin organ Naveen. Aku bunuh mereka semua, baru nelpon Gustav.”
Pandanganku pindah ke Nabilla yang sedang membuka luka di dada Naveen, lalu kembali lagi ke Lazuar.
“Salah satu ginjalnya udah diambil buat transplantasi,” kata Nabilla.
Dia menatapku.
“Saya diminta tanda tangan dokumen sama dokternya, jadi semuanya kelihatan sah.”
Amarahku meledak jadi badai. Yang keluar dari mulutku cuma dua kata. "Dokter siapa?"
Matanya membelalak ketakutan waktu dia menjawab, “Dr. Nolan.”
“Siapa yang terima ginjal itu?” tanyaku lagi, suaraku makin gelap.
"Seorang perempuan," jawab Lazuar mewakili sepupunya. “Setelah Nabilla selesai di sini, dia bakal dapat semua info buat kita.”
Dia menengok sepupunya, lalu balik menatapku.
“Aku butuh perlindungan buat Nabilla. Cuma sampai semuanya beres.”
Hantaman rasa kehilangan adikku menyerang lagi. Aku menyilangkan tangan di dada, pandanganku jatuh ke tubuh Naveen.
Nabilla memegang tiap organ dengan super hati-hati, air mata mengalir di pipinya.
Waktu dia menutup lukanya dan berhenti sebentar untuk menyeka dada Naveen, aku bilang, “Gustav, tempatkan penjaga buat lindungin Nabilla. Bawa dia ke rumah di Dalton. Pastiin dia aman dan nyaman!”
Mata Nabilla naik ke aku.
“Makasih, Tuan Baek. Maaf saya tidak bisa melakukan lebih.”
Aku geleng kepala pelan.
“Jagain kamu itu, hal paling kecil yang bisa aku lakuin buat membalas kesetiaan kamu ke keluargaku.”
Aku mengangguk ke arah pintu.
“Lazuar, carikan dua orang buat temenin Nabilla cari tahu info soal transplantasi. Aku mau ada orang yang ngawasin dokter itu setiap saat.”
Begitu mereka pergi, aku menengok ke Marius.
“Hubungin kontak kita yang ada di ruang jenazah buat pindahin Naveen. Siapin dia buat—”
Aku enggak sanggup mengucapkan kata pemakaman. Aku cuma bisa geleng kepala.
“Siap, Bos,” jawab Marius, suaranya serak.
Semua orang yang kenal Naveen akan merasakan kehilangan ini.
"Perlu kita taruh satuan operasi buat kelilingin tempat ini?" tanya Gustav. “Mungkin kita bisa nemuin sesuatu buat melacak jaringan Human Trafficking di Jakarta.”
Saat aku sedang melambaikan tangan, tiba-tiba ada suara ribut di luar. Sedetik kemudian, seorang pria diseret masuk oleh Vloo dan Larron, dua prajurit aku.
“Kami nemuin bajingan itu lagi ngendus-endus, Bos,” jelas Vloo.
Amarahku masih mendidih waktu aku mengeluarkan perintah, “Bawa dia ke gudang. Aku urus dia nanti, setelah semua di sini kelar.”
“Siap, Bos,” jawab Vloo sebelum mereka menyeret pria itu pergi.
Gustav angkat suara, “Kita harus ngasih peringatan ke Tully dan yang lain.”
Terlalu banyak yang harus dibereskan. Pikiranku kacau, susah fokus, tapi aku tetap mengeluarkan HP dari saku.
Aku buka grup chat para bos Marunda, lalu pencet ikon video call.
Satu per satu wajah muncul di layar.
Farris yang pertama buka suara.
...📞...
^^^“Gimana?”^^^
Pandanganku jatuh lagi ke tubuh Naveen. Tenggorokanku tercekat.
“Naveen udah meninggal.”
Semua wajah di layar langsung membeku.
^^^“Ya Tuhan, Braun. Aku otw,”^^^
Farris tampak sudah mulai jalan di rumahnya.
"Jangan."
"Tetap di depan komputermu. Begitu aku dapat info lebih lanjut, aku butuh kamu buat mulai gali semuanya."
Baru, setelah itu Tully kelihatan cukup pulih dari keterkejutannya.
^^^“Aku turut berduka, Braun.”^^^
Remy dan Cavell juga sampaikan belasungkawa, sebelum Cavell bertanya.
^^^“Kamu tahu siapa yang membunuh dia?”^^^
Aku menggeleng pelan.
“Ini soal perdagangan organ.”
^^^"Sialan."^^^
Remy bergumam.
"Itu bukan wilayah kita."
^^^“Dan seandainya iya pun, kita enggak pernah main di situ!”^^^
Farris menggerutu.
Cavell ... Bos dari para Big Bosss, wajahnya tampak kelam.
^^^“Cari tahu siapa yang jalanin perdagangan manusia di wilayah kita. Singkirin mereka.”^^^
Aku mengangguk tipis, lalu menatap Naveen lagi.
“Aku bakal hubungin kalian lagi kalau ada info baru.”
Sebelum ada yang sempat bicara lagi, aku matikan panggilan dan melangkah kembali ke meja operasi.
Aku menunduk, kecup keningnya, dan berbisik pelan, “Selamat tinggal, saudaraku.”
Aku berdiri tegak, menjauh dari Naveen, lalu menatap mata Gustav. “Tetap di sini sampai semuanya beres.”
“Kamu mau ke mana?” tanyanya.
"Ke gudang," jawabku sambil jalan ke pintu. "Langsung kabarin aku kalau kamu nemuin apa pun."
“Oke.”
Dengan Chooper dan Marius di sisiku, kami lanjut menyusuri gang.
Naveen enggak pantas mati kayak begini.
Dipreteli di mobil bedah sialan itu.
Diperlakukan kayak hewan ternak.
Amarah di dadaku berubah jadi sesuatu yang dingin, mematikan, dan tanpa ampun saat kami sampai di trotoar tempat Bentley diparkir. Para pejalan kaki buru-buru minggir. Ketakutan terukir jelas di wajah mereka, waktu mata mereka bertemu mataku.
Aku akan memburu setiap orang yang bertanggung jawab atas kematian Naveen.
Enggak ada satu pun yang bisa lolos dari murkaku.