Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Ambang Batas Kesabaran
Seminggu telah berlalu sejak pengakuan jujur Wawan di atap sekolah. Seolah menepati janjinya untuk menjadi pelindung, Wawan tetap menjadi "tembok" yang menyenangkan bagi Ella. Ia selalu punya seribu cara konyol untuk mengalihkan perhatian seisi kelas setiap kali Lia and friends mulai melancarkan sindiran tajam. Wawan memberikan rasa aman yang belum pernah Ella rasakan, namun ketenangan itu hanyalah permukaan dari badai yang siap meledak.
Badai itu akhirnya meledak di bawah terik matahari yang membakar lapangan olahraga sekolah.
Siang itu, udara terasa begitu pengap. Ella sedang duduk di pinggir lapangan basket yang berdebu, berusaha mengabaikan hawa panas dengan mencatat materi biologi di buku saku kecilnya. Tiba-tiba, sebuah bola basket melesat dengan kecepatan tinggi dan menghantam botol minum plastik di samping kaki Ella hingga pecah. Air dingin di dalamnya tumpah ruah seketika, membasahi sepatu dan buku catatan kesayangannya hingga tinta penanya meluber tak terbaca.
"Ups, sori. Sengaja," celetuk Lia yang berdiri tak jauh dari sana bersama teman-teman gengnya. Mereka tertawa puas melihat Ella yang panik menyelamatkan catatannya.
Di tengah lapangan, Rizki berdiri mematung memegang bola basket. Matanya tertuju pada Ella, memperlihatkan gurat kekhawatiran yang amat dalam, namun ia segera menekannya kembali raut wajah tenang. Yang membuat hati Ella perih adalah saat Rizki justru meraih jemari Lia, mengajak gadis itu pergi seolah tidak terjadi apa-apa. Langkah Rizki terhenti saat Wawan tiba-tiba muncul dari arah samping dan berdiri tegak menghalangi pandangan Lia terhadap Ella..
"Lia, lo punya masalah apa sih? Sini, kalau mau main bola sama gue saja, jangan pengecut menyerang buku orang!" suara Wawan tenang, namun nadanya sedingin es yang mampu membekukan suasana lapangan yang panas.
"Ayo, Wan, nggak usah diladeni," bisik Ella dengan suara bergetar sambil menarik ujung seragam olahraga Wawan, mencoba meredam pertengkaran yang ia tahu akan berakibat buruk bagi mereka.
Melihat jemari Ella menyentuh baju Wawan, sesuatu di dalam diri Rizki seolah meledak. Genggaman tangannya pada Lia terlepas begitu saja. Ia melempar bola di tangannya ke sembarang arah dengan kasar, menciptakan bunyi dentuman keras di lantai semen lapangan. Rizki berjalan cepat menghampiri mereka dengan langkah yang mengintimidasi dan wajahnya mengeras seperti batu karang. "Wawan, balik ke barisanmu. Ella, ikut aku sekarang," perintah Rizki mutlak.
"Dia lagi sama gue, Ki," balas Wawan santai.
"Aku ketua kelasmu, dan aku bilang... ikut aku sekarang!"
Tanpa menunggu persetujuan, Rizki langsung menyambar pergelangan tangan Ella dengan cengkeraman yang sangat kuat—cukup kuat untuk menunjukkan bahwa egonya sedang terluka hebat dan ia tidak akan menerima penolakan. Mengabaikan teriakan Lia yang memanggil namanya dengan nada kesal, Rizki menarik Ella menjauh dari lapangan, melewati koridor yang sepi dengan langkah-langkah besar.
Rizki menyeretnya masuk ke dalam gudang peralatan olahraga. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi seberkas cahaya dari ventilasi kecil di atas. Udara di dalamnya beraroma debu, karet bola yang lama, dan kayu tua yang lembap. Begitu mereka masuk, Rizki membanting pintu kayu itu hingga menimbulkan dentuman keras yang menggema di seluruh ruangan, lalu ia memutar kunci dengan gerakan kasar.
Ella terpojok. Rizki menyudutkan tubuhnya ke dinding kayu yang dingin, mengurung Ella di antara kedua lengannya yang kekar. Napas Rizki memburu, naik-turun dengan tidak teratur, menunjukkan betapa hebatnya pergolakan emosi yang ia rasakan. Keringat sisa latihan basket tadi membasahi pelipis dan lehernya, memberikan kesan maskulin yang begitu mengintimidasi sekaligus menyesakkan bagi Ella.
"Lepas, Ki! Sakit!" seru Ella, mencoba memberontak. Namun, semakin Ella bergerak, Rizki justru semakin merapatkan tubuhnya hingga tak ada celah lagi. Ella bisa merasakan setiap hembusan napas Rizki di permukaan kulitnya.
"Kenapa kamu selalu menurut pada dia, Ella? Kenapa?!" desis Rizki. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan nada kepemilikan yang berbahaya.
"Memangnya kenapa kalau aku menurut pada Wawan? Dia baik! Dia tidak seperti kamu yang hobinya cuma membuatku malu di depan orang! Jika kamu memang mencintai Lia, pergi saja padanya! Jangan malah menyeretku kesini!" Ella berteriak balik dengan air mata yang mulai pecah.
Mendengar kejujuran yang menyayat hati itu, pertahanan Rizki hancur total. Ia menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di bahu Ella. Bahunya bergetar pelan, dan Ella bisa mendengar nada kerapuhan dalam suara sang ketua kelas.
"Maaf... Maafkan aku, Ella," bisik Rizki, suaranya kini serak dan penuh penyesalan.
Ella tertegun, napasnya yang tadi memburu kini tertahan.
"Aku memacari Lia bukan karena aku menginginkannya. Aku melakukannya demi melindungimu, Ella. Aku tahu betapa jahatnya Lia padamu, betapa tidak sukanya dia padamu. Aku pikir dengan menjadi pacarnya, aku bisa mengawasi gerak-geriknya dan mencegahnya untuk menyakitimu lebih jauh. Aku pikir, jika aku berada di dekatnya, aku bisa menahan tangannya setiap kali dia ingin menindasmu."
Rizki mendongak, menatap mata Ella dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh penderitaan. "Aku sadar... cara yang kupilih itu salah. Aku ingin melindungimu, tapi aku justru menjadi orang yang paling melukaimu setiap kali kamu melihatku bersamanya. Aku begitu bodoh karena berpikir bisa menjagamu dari jauh sambil berdiri di sisi orang lain."
Air mata Rizki hampir jatuh saat ia mengusap pipi Ella dengan ibu jarinya. "Aku sangat menyukaimu, Ella. Sangat menyukaimu sampai aku kehilangan akal sehatku."
Namun, kelembutan itu perlahan berganti dengan intensitas yang lebih dalam—sebuah kejujuran yang keluar dari rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian. Rizki mencengkeram bahu Ella sedikit lebih kuat, bukan untuk menyakiti, tapi seolah ia sedang berpegangan pada satu-satunya harapannya agar tidak tenggelam.
"Tapi melihatmu bersama si berandalan itu... itu jauh lebih menyakitkan daripada sandiwara yang kujalani dengan Lia," desis Rizki, suaranya kini bergetar karena emosi yang meluap. "Kamu tahu betapa hancurnya aku setiap kali melihat Wawan berlagak menjadi pahlawanmu di depan mataku? Setiap kali dia menyentuh bahumu, atau saat kamu tertawa karena leluconnya... aku merasa perasaanku seperti sedang diinjak-injak oleh kalian berdua."
Rizki menatap tangan Ella yang tadi sempat menyentuh baju Wawan. "Tadi... saat kamu menyentuh ujung bajunya untuk memintanya pergi... rasanya jantungku diremas sampai habis. Aku cemburu, Ella. Aku sangat cemburu sampai aku merasa akan gila jika membiarkanmu sedetik saja lebih lama bersamanya."
Sifat posesif Rizki meluap bukan karena ia ingin berkuasa, melainkan karena ia terlalu takut kehilangan pusat dunianya. Baginya, Ella adalah segalanya, dan melihat Ella mulai menggantungkan rasa aman pada pria lain adalah ketakutan terbesarnya.
"Jangan minta aku untuk membiarkanmu pergi, karena aku tidak akan pernah sanggup melakukannya," bisik Rizki lagi, kini suaranya lebih terdengar seperti sebuah permohonan yang amat sangat egois namun tulus. "Aku mungkin salah, aku mungkin bodoh karena menggunakan Lia sebagai tameng, tapi kamu harus tahu bahwa semua itu kulakukan karena aku tidak ingin kehilanganmu. Dan sekarang, melihatmu mulai terbiasa dengan Wawan, aku sadar aku hampir kehilanganmu dengan caraku yang salah."
Rizki semakin mendekatkan wajahnya, membuat Ella terhimpit sepenuhnya. "Kamu mungkin membenciku sekarang, tapi tolong... ingat satu hal. Kamu milikku. Hanya boleh menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun—terutama Wawan—mengambil tempat yang seharusnya menjadi milikku di sisimu."
Jarak wajah mereka kini hanya tersisa satu sentimeter. Ella bisa merasakan panas yang meradiasi dari tubuh Rizki dan deru napasnya yang mengenai bibirnya. Suasana di gudang itu mendadak terasa sangat panas dan menyesakkan, seolah oksigen di ruangan sempit itu telah habis terbakar oleh kejujuran Rizki yang meluap-luap.
"Jangan pernah... sekali pun... melihat cowok lain lagi selain aku," bisiknya tepat di depan bibir Ella, sebuah perintah yang bercampur dengan keputusasaan yang amat sangat dalam.
Rizki memejamkan matanya, perlahan ia mulai menghilangkan jarak terakhir yang tersisa. Ella bisa merasakan kehangatan yang luar biasa saat bibir Rizki nyaris mendarat di miliknya—sebuah momen puncak di mana semua gengsi, luka, permohonan maaf, dan api cemburu akhirnya melebur menjadi satu ketegangan yang tak tertahankan di balik pintu gudang yang terkunci.