Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara dari Kegelapan
Ruang bawah tanah itu bergetar hebat. Cahaya merah yang memancar dari mata Li Hua mulai meretakkan dinding-dinding batu kuno. Setiap detak jantungnya kini terasa seperti hantaman palu yang sinkron dengan detak jantung sosok misterius di luar sana.
"Tian Long... jangan bunuh Penatua Gwan dulu," suara Li Hua terdengar parau, teredam oleh energi yang meluap dari tubuhnya. "Dia... dia memegang kunci untuk mengetahui di mana dia berada."
Tian Long, yang sudah menempelkan ujung pedangnya ke leher Penatua Gwan, mendesis marah. "Dia mengkhianatimu, Li Hua! Dia menjebakmu dalam ritual terkutuk ini!"
"Memang," Penatua Gwan tertawa meski nyawanya di ujung tanduk. "Tapi kalian terlambat. Pangeran Mu Feng telah bangkit. Dialah putra sejati yang disembunyikan ibumu sebelum dia dibuang. Sementara kau menderita di jalanan, Mu Feng dilatih di kegelapan untuk menjadi senjata penghancur."
Serangan Bayangan di Gerbang Kota
Di luar istana, suasana berubah menjadi horor. Pasukan yang dibawa oleh Mu Feng bukan sekadar tentara biasa. Mereka adalah "Pasukan Bayangan" yang bergerak tanpa suara, mengenakan topeng besi yang tidak menunjukkan ekspresi.
Mu Feng berdiri di atas kuda hitam legam di depan gerbang utama. Wajahnya adalah cermin dari wajah Li Hua,tulang pipi yang tinggi dan mata yang tajam namun matanya bukan emas, melainkan perak dingin yang mematikan.
"Kakakku tersayang," gumam Mu Feng, suaranya terkirim melalui ikatan darah yang terhubung lewat ritual Cawan Leluhur. "Berikan takhta itu padaku, atau aku akan membiarkan setiap bayi di kota ini merasakan dinginnya pedangku."
Li Hua, yang masih berada di ruang bawah tanah, menjerit kesakitan. Ia bisa merasakan haus darah Mu Feng merambat masuk ke dalam pikirannya.
Strategi Pemutusan Hubungan
"Tian Long! Dia menggunakan darahku sebagai kompas!" Li Hua mencengkeram jubah kaisar Tian Long. "Selama ritual ini aktif, dia bisa masuk ke dalam pikiranku dan melumpuhkan pertahanan istana melalui aku!"
Mo Ran, yang jiwanya ternyata masih tersisa sedikit di dalam liontin bunga melati di leher Li Hua, memberikan bisikan gaib: "Li Hua, kau harus membalikkan aliran darahmu. Kau harus membekukan cawan itu dengan emosi yang paling murni, atau dia akan mengendalikan tubuhmu sepenuhnya."
Li Hua menatap kaisar Tian Long. "Aku harus melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Aku harus masuk ke dalam keadaan 'Mati Suri' sesaat untuk memutus aliran energi ini. Jika jantungku berhenti, ikatannya akan putus, dan dia akan kehilangan kekuatannya."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mati lagi!" teriak kaisar Tian Long.
"Hanya sesaat, Tian Long! Kau harus menggunakan teknik pijat nadi yang diajarkan Tabib Zale dulu untuk menghidupkanku kembali dalam hitungan sepuluh detik. Jika lebih dari itu... aku tidak akan kembali."
Duel Batin di Ambang Kematian
Li Hua duduk bersila. Ia memejamkan matanya dan mulai menekan titik syaraf di dadanya sendiri. Perlahan, cahaya merah di matanya meredup. Suhu tubuhnya turun drastis.
Di luar sana, Mu Feng yang sedang bersiap menghancurkan gerbang tiba-tiba tersedak. Ia memegangi dadanya, matanya yang perak membelalak. "Apa... apa yang kau lakukan, Kakak?! Kau gila! Kau membunuh diri sendiri?!"
Di dalam kegelapan kesadarannya, Li Hua bertemu dengan Mu Feng. Mereka berdiri di sebuah ruang hampa yang luas.
"Kenapa kau melakukan ini, Mu Feng?" tanya Li Hua. "Kita berasal dari rahim yang sama. Kita berdua adalah korban kekejaman klan Mu."
"Kau mendapatkan cinta Kaisar! Kau mendapatkan takhta!" teriak Mu Feng, menyerang bayangan Li Hua. "Sedangkan aku? Aku dibesarkan di dalam gua, dipukuli setiap hari agar menjadi senjata! Aku tidak ingin kedamaian, aku ingin kehancuran!"
Li Hua memeluk bayangan adiknya itu dengan penuh kesedihan. "Maka biarlah aku membawamu ke dalam kegelapan bersamaku, agar kau tahu bahwa kau tidak sendirian."
Detik-Detik Menegangkan
Di ruang bawah tanah, jantung Li Hua berhenti berdetak. Tubuhnya menjadi sedingin es.
Penatua Gwan ternganga. "Dia... dia benar-benar melakukannya. Dia memutus hukum kuno itu dengan kematian."
"Satu... dua... tiga..." Tian Long menghitung dengan air mata mengalir, tangannya menekan nadi di leher dan dada Li Hua dengan teknik yang sangat presisi.
Empat... lima... enam...
Di luar gerbang, Pasukan Bayangan Mu Feng mendadak hancur menjadi abu karena sumber energi mereka yaitu hubungan darah dengan Li Hua telah lenyap. Mu Feng sendiri jatuh tersungkur, kekuatannya tersedot habis ke dalam tanah.
Tujuh... delapan... sembilan...
"LI HUA! KEMBALILAH!" teriak Tian Long, memberikan tekanan terakhir yang sangat kuat ke hulu hati Li Hua.
Sepuluh...
Li Hua tersedak, menghirup udara dengan sangat keras. Matanya terbuka, kembali menjadi hitam pekat yang jernih. Cahaya emasnya kini tersimpan jauh di dalam lubuk jiwanya, terkendali sepenuhnya.
Akhir dari Sang Saudara
Kaisar Tian Long segera memerintahkan pengawal untuk menangkap Mu Feng yang kini sudah tidak berdaya di depan gerbang. Saat Mu Feng dibawa masuk ke dalam istana dalam keadaan terantai, Li Hua menunggunya di singgasana.
Mu Feng menatap kakaknya dengan pandangan kosong. "Kenapa kau tidak membiarkan aku mati di sana?"
Li Hua turun dari takhtanya, mendekati adiknya, dan melepaskan rantai di tangannya—tindakan yang membuat seluruh menteri terkejut.
"Karena aku sudah cukup melihat darah tertumpah dari keluarga kita," ucap Li Hua. "Kau akan tinggal di istana ini, bukan sebagai pangeran, tapi sebagai rakyat biasa yang akan belajar bagaimana rasanya dicintai. Jika kau ingin membalas dendam, lakukanlah dengan cara membangun kembali desa-desa yang kau hancurkan tadi."
Mu Feng tertegun. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang menatapnya bukan sebagai senjata, melainkan sebagai manusia.
Penatua Gwan dan Dewan Penatua lainnya langsung dijebloskan ke penjara seumur hidup atas pengkhianatan mereka. Hukum yang kuno itu dibakar di depan umum oleh kaisar Tian Long, menyatakan bahwa mulai hari ini, yang menentukan hak waris adalah kebajikan, bukan kemurnian darah.