Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIBURAN KELUARGA YANG TIDAK BERJALAN LANCAR
Hari Sabtu pagi, Rizky bangun lebih awal dari biasanya. Hidungnya berair dan suhu tubuh sedikit naik – tanda dia mulai terkena flu akibat terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat.
Namun dia tidak mau membatalkan rencana liburan keluarga yang sudah dijanjikan sejak lama.
"Ini adalah kesempatan saya untuk memperbaiki hubungan dengan Arini dan Tara," ujarnya dalam hati saat membersihkan hidungnya dengan tisu.
Arini sudah siap menunggu di ruang tamu bersama Tara yang mengenakan baju renang warna biru muda dengan motif ikan paus.
Anak perempuan mereka sudah tidak sabar untuk pergi ke kolam renang taman bermain yang baru saja dibuka di pinggiran kota.
"Papa sudah siap belum?" Tara melompat-lompat dengan senang. "Kita mau cepat-cepat ya, biar bisa dapat tempat yang bagus di kolam renang!"
"Sudah siap nak, tunggu Papa sebentar ya." Rizky mengambil tas besar yang berisi perlengkapan liburan, sementara Arini membawa keranjang makanan yang sudah dia siapkan semalam – nasi bakar, ayam goreng, buah potong, dan jus buah segar.
Perjalanan ke taman bermain memakan waktu sekitar satu jam. Tara terus bercerita dengan penuh semangat tentang teman-temannya di taman kanak-kanak yang sudah pernah pergi ke sana.
Arini melihat ke arah Rizky yang sedang mengemudi dengan wajah pucat, dan merasa khawatir.
"Kamu benar-benar baik-baik saja kan, sayang? Kalau kamu merasa tidak enak badan, kita bisa balik saja dan beristirahat di rumah."
"Saya baik-baik saja, sayang. Jangan khawatir." Rizky mencoba memberikan senyum yang meyakinkan, meskipun dia merasa kepalanya mulai berputar dan tubuhnya terasa sangat lelah.
Ketika mereka sampai di taman bermain, tempat itu sudah ramai dengan keluarga lain yang sedang berlibur.
Mereka berhasil menemukan tempat teduh di bawah pepohonan besar dekat kolam renang anak-anak.
Arini segera menyebarkan tikar dan meletakkan makanan di atasnya, sementara Tara sudah tidak sabar untuk masuk ke kolam.
"Ayo Papa, main bareng sama saya!" Tara menggegam lengan Rizky dengan penuh semangat.
Rizky berdiri dengan susah payah dan mulai membuka bajunya.
Namun ketika dia akan melangkah ke kolam, dia merasa kepalanya berputar sangat parah dan tubuhnya hampir pingsan. Arini segera menangkapnya sebelum dia jatuh.
"Rizky! Apa kamu benar-benar tidak enak badan!"
"Saya... saya hanya sedikit pusing saja." Rizky mencoba berdiri tegak, tapi kaki nya sudah tidak bisa menopang berat badan.
Arini segera membantu suaminya untuk duduk kembali di tikar. "Kita harus pulang sekarang, sayang. Kamu perlu istirahat dan minum obat."
Tara melihat kedua orang tuanya dengan wajah khawatir. "Papa sakit ya? Kita tidak bisa main kolam renang lagi?"
"Maaf nak," ujar Rizky dengan suara yang lemah. "Papa tidak sengaja sakit. Kita akan main kolam lain aja ya, ketika Papa sudah sehat kembali."
Perjalanan pulang terasa sangat sunyi. Tara sudah tidak bersuara lagi dan hanya melihat ke luar jendela dengan wajah sedih.
Arini terus memegang tangan Rizky yang dingin, merasa campur aduk antara khawatir dan sedikit marah – mengapa suaminya tidak mengakuinya ketika sudah merasa tidak enak badan dari awal?
Setelah sampai di rumah, Arini segera membantu Rizky ke kamar tidur dan memberinya obat penurun panas.
Dia juga membuatkan air hangat dengan madu untuk membantu hidungnya yang tersumbat.
"Saya benar-benar menyesal, sayang," ujar Rizky ketika sedang berbaring di ranjang. "Saya ingin memberikan waktu yang baik untuk kamu dan Tara, tapi malah membuatmu khawatir."
"Yang penting kamu bisa cepat sembuh, sayang." Arini mengelus dahinya dengan lembut. "Kamu sudah terlalu banyak bekerja dan tidak cukup istirahat. Ini adalah peringatan bagi kamu untuk lebih memperhatikan kesehatanmu."
Ketika Rizky tertidur karena efek obat, Arini keluar kamar untuk mengurus Tara yang sedang bermain dengan boneka di ruang tamu.
Dia memasak makanan yang mudah dicerna untuk suaminya, namun pikirannya kembali terganggu dengan berbagai hal yang terjadi belakangan ini.
Sore itu, ketika dia sedang membersihkan kamar mandi, dia menemukan handuk kecil yang tidak pernah dia gunakan dengan aroma parfum yang sama dengan yang dia temukan di laci Rizky beberapa hari lalu.
Aroma itu sangat kuat dan jelas bukan miliknya. Arini merasa dada nya terasa sesak dan mata nya mulai berkaca-kaca.
"Apakah yang saya takuti benar-benar terjadi?"
Dia segera menyembunyikan handuk itu dan keluar kamar mandi dengan hati yang berdebar-debar. Tara sedang menonton kartun di televisi, dan melihat ibunya dengan wajah sedih.
"Mama sedih ya?" Tara mendekat dan memeluk kaki Arini. "Jangan sedih Mama, nanti Papa akan cepat sehat dan kita bisa main kolam renang besok lagi."
Arini mengangkat anaknya dan memeluknya erat. "Tidak apa-apa nak. Mama hanya sedikit lelah saja."
Malam itu, ketika Rizky sudah terbangun dan merasa sedikit lebih baik, Arini memutuskan untuk tidak menyebutkan tentang handuk yang dia temukan.
Dia takut tahu jawabannya – takut bahwa semua rasa khawatirnya adalah benar dan keluarga yang dia cintai akan hancur berkeping-keping.
Sementara itu, di rumahnya sendiri, Lina sedang melihat foto liburan keluarga Rizky yang dia temukan di media sosial. Wajahnya menunjukkan ekspresi campur aduk antara iri dan bersalah.
Dia tahu bahwa apa yang dia rasakan kepada Rizky adalah salah, tapi dia tidak bisa menghentikannya. Bahkan ketika dia tahu bahwa dia sedang merusak kebahagiaan seorang istri dan seorang anak kecil.
"Maafkan saya, Bu Arini," bisiknya pelan sambil melihat foto Tara yang sedang tertawa bahagia di pangkuan Rizky. "Tapi saya juga mencintainya dan tidak bisa hidup tanpa dia."
Kedua wanita itu berada di sisi yang berbeda dari sebuah masalah yang semakin besar, dan kedua-duanya tidak tahu bahwa perjuangan untuk cinta yang mereka rasakan akan membawa kerusakan yang lebih dalam dari yang mereka bayangkan.